
"Leonard Horowitz, sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat--"
"Arielle!!"teriak seseorang dari luar.
"Itu seperti suara Efendi,aku harus cepat keluar."
Aku membuka pintu dan terlihatlah Efendi yang sedari tadi memanggil namanya.
"Arielle!"Efendi langsung berlari dan memelukku saat melihatku habis dari ruang seperti gudang itu.
Deg!deg!
Jantungku berdegup kencang saat Efendi memelukku.
"Le-lepaskan aku"aku mendorong tubuh Efendi yang memang tidak memelukku dengan tenaga sebelumnya.
Efendi melihat wajah Arielle yang menunduk kelantai, untuk menyembunyikan wajah malunya.
"Arielle kenapa kamu menunduk?"tanya Efendi penasaran.
Aku tidak menjawab pertanyaan Efendi masih dengan wajah menunduk.
"Ti-tidak apa-apa"aku kembali berekspresi normal dan mengangkat kepalaku untuk melihat wajah Efendi.
"Maaf telah membuatmu khawatir"ucapku merasa tidak enak karena Efendi sudah susah payah mencari ku.
"Tidak apa-apa, baiklah ayo kita kembali"ajak Efendi sambil menarik tanganku untuk mengikutinya.
Aku memandang tanganku yang di genggam olehnya, entah mengapa aku tidak menolak saat tanganku di genggam dengannya.
"Kenapa kamu tidak berpesta saja dan malah mencari ku?"
Efendi menoleh melihat wajah Arielle yang bingung.
"Karena aku menunggumu untuk menjadi pasangan di pesta, tanpamu aku tidak akan berpesta"
"Padahal Salsa sudah menanti ingin berdansa denganmu, kasihan dia."
"Tidak katanya aku bebas ingin berdansa dengan siapa saja, dia hanya menawarkan jika aku ingin berdansa dengannya dengan senang hati akan siap kapanpun"
Aku menepuk dahi dengan sebelah tanganku yang tidak di genggam.
'Hadeuh-- peka lah sedikit dasar'ucapnya dalam pikiran.
"Kenapa?"tanya Efendi.
"Tidak apa-apa, tapi aku tidak ingin berdansa"ucapku.
"Lalu kamu mau apa?"tanyanya lagi.
"Hm- sepertinya aku akan menunggu acara pesta minum teh dan menunggu hadiah yang akan ku dapatkan nanti"jawab ku.
Aku mendengar suara aneh saat menuju kembali ke tempat pesta sebelumnya. Aku memperhatikan sekitar tapi tidak ada siapapun.
"Hei apa kamu mendengar sesuatu?"tanyaku pada Efendi.
"Iyah aku mendengarnya, sepertinya dari arah gang sempit sekitar sana mari kita lihat apa yang terjadi"ucap Efendi kembali menarik tangan ku.
__ADS_1
"Ya sabar dulu ngapa, jangan buru-buru"aku sedikit kesal pada Efendi yang buru-buru.
Aku sudah sampai pada asal muasal suara aneh itu, terdengar suara itu yang makin keras di telingaku.
"Sayang-- ehm---"
"Sstt jangan keras-keras, nanti ada yang dengar"ucap seseorang.
"Ehmm-- ya bagaimana tidak-- aku sangat puas jangan pernah pergi dari sisiku."
"Tentu saja aku akan tetap bersamamu"
Aku dan Efendi yang melihat adegan itu secara diam-diam menjadi malu.
"Ke- kenapa mereka berciuman di sini"gumam ku dengan wajah yang sudah memerah.
"Apa kamu mau juga seperti itu?"tanya Efendi yang sudah sedikit hilang akal saat mengatakan itu.
"A- apa kamu gila ya. "
Efendi langsung menjulurkan satu tangan ke tembok dan memojokkan ku.
"Itu adalah hal yang normal, apa kamu yakin tidak ingin melakukannya?"tanyanya lagi.
"Kamu benar-benar sudah gila ya s*alan"ucapku mulai emosi.
Aku mengajukan tanganku ingin mendorongnya, tetapi Efendi telah menangkap kedua tanganku duluan dan mengunci pergelangan tanganku agar aku tidak bisa berbuat apapun.
"K-kamu apa yang mau kamu lakukan, lepaskan aku"
Efendi tidak mendengar ucapan ku dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Tinggal 1 cm dari jarak wajahku dan wajahnya dia langsung memundurkan wajahnya lagi.
"Huft-- aku tidak ingin mencium mu sebelum aku menikahi mu"ucapnya tiba-tiba yang sudah kembali normal.
"Baguslah tapi kenapa kamu belum melepaskan tanganku"ucapku lagi.
"Tapi--"
Efendi menutup bibirku dengan tangan satunya, hal yang tidak pernah ku duga terjadi. Dia mencium tangannya sendiri yang tepat menutup bibirku.
'Dia benar-benar ingin mencium ku ya'pikirku yang juga menutup mata, walau tidak terasa apapun yang menempel di bibirku aku tetap menutup mata karena Efendi pun menganggap ini sebuah ciuman tanpa menyentuh.
Beberapa menit melakukan hal itu, Efendi kembali membuka mata sambil memundurkan wajahnya serta melepaskan cengkeraman yang mengunci tangan Arielle.
"M- maaf aku melakukannya walau tanpa menyentuh" ucap Efendi dengan wajah yang sudah memerah karena malu, dia membuang wajahnya kesamping karena tidak ingin Arielle menatapnya.
"Pft--"
"Kamu benar-benar lucu ya"ucapku tersenyum.
"I- itu a- aku benar-benar terbawa perasaan tadi😣"
"Iya-iya aku tidak terlalu mempermasalahkan soal itu"ucapku masih tersenyum.
"Oh ya aku masih ingat tentang kamu yang menawariku untuk menikah dengan mu"
__ADS_1
"A- apa?"
"Jadi, aku akan menerima tawaranmu"jelasku.
"Hah!"Efendi kaget saat mendengar penuturan ku yang menerima tawarannya saat itu.
"K- kamu tidak harus memaksakan diri untuk menikah denganku"ucap Efendi dengan wajah sedih. Dia tidak ingin Arielle tidak bahagia karena menerima penawaran menikah dengannya.
"Tapi dengan dua syarat, kamu tidak diizinkan menyentuhku selain berciuman. Karena aku belum jatuh cinta padamu, kamu harus membuatku jatuh cinta dulu"
"L- lalu yang ke dua?"
"Kamu harus membuatku jatuh cinta selama 1 tahun, jika aku tidak mencintaimu kita akan sudahi pernikahan kita"ucapku kembali berekspresi dingin.
"Aku akan berusaha agar membuatmu jatuh cinta Arielle, terima kasih kamu sudah mau menerimanya"
Efendi memeluk Arielle dengan erat, akhirnya dia bisa membuat Arielle terikat di hidupnya.
"Iyah"aku mengangkat kedua tanganku dan membalas pelukan Efendi untuk pertama kalinya.
******
Salsa dan Fauzi mereka berdansa untuk mengikuti pesta karena Efendi dan Arielle tidak kunjung datang.
"Apa Arielle belum di temukan Efendi ya kenapa lama sekali sih"
"Mungkin memang belum ketemu"jawab Fauzi.
Selesai Fauzi dan Salsa berdansa, Salsa melihat Arielle yang tersenyum sambil mengobrol dengan Efendi.
Salsa menghampiri Arielle dan Efendi begitu juga dengan Fauzi yang melihatnya.
"Kenapa kalian sampai lama sekali?"tanya Salsa.
"Ya, maaf ada hal penting yang perlu di bicarakan tadi."ucapku.
"Penting?"tanya Fauzi.
"Iyah penting sekali"ucap Efendi menatap tajam wajah Fauzi.
"Baiklah-- sebentar lagi acara pesta minum teh dan hadiah akan di adakan"ucap Salsa tersenyum.
"Efendi kamu akan duduk semeja dengan siapa?"tanya Salsa.
Dia tersenyum dan langsung merangkul bahuku.
"Tentu saja dengan tuan putri cantik yang ada di sebelahku ini"Efendi tersenyum sambil menaik turunkan alisnya terkesan menggoda Arielle.
Aku tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah, Fauzi yang melihat hal tersebut mengetahui bahwa Arielle sudah mulai menyukai Efendi.
Apa untuk kedua kalinya dia akan menyerah pada Arielle begitu saja, walau wajah Fauzi jarang tersenyum dan terlihat dingin tetapi dia pintar menyembunyikan perasaannya sehingga tidak ada yang mengetahui arti ekspresinya.
Jadi kalian akan dukung yang mana? Fauzi atau Efendi?pasti bingung kan sama author juga bingung lagi😂.
__ADS_1
Maaf ya readers author jarang banget up, karena banyak banget kegiatan ini juga author up sebisanya🙂.