IPA VS IPS (Anak Kalem VS Anak Berandal)!

IPA VS IPS (Anak Kalem VS Anak Berandal)!
Enam


__ADS_3

Aku berkeringat dingin setelah mendengar perkataan Dermawan, aku bisa membayangkan bagaimana jadinya jika pria itu setiap hari ke tempat kerjaku.


"Gak..gak..Arielle jangan panik kamu hanya perlu melayani dan menyudahinya secepat mungkin"aku mengingatkan diriku sendiri.


Waktu pun terus berlalu hingga malam hari tiba, aku akan berganti sif dengan orang lain. Aku berjalan ke ruang ganti seusai itu aku berpamitan sebentar pada teman se-pekerja ku.


"Aku pulang."pamit ku sambil melambaikan tangan lalu hanya di angguki oleh mereka semua.


Aku mendongakkan kepala melihat langit malam yang indah, bintang dan bulan bersinar tanpa sadar aku mengeluarkan air mata.


"Aku merindukan mu ibu.." orang lain menatapku yang menangis tetapi aku tidak peduli, orang yang menatapnya itu pun tidak ingin bertanya mereka berfikir bagi anak muda menangis adalah hal biasa saat seseorang sedang patah hati, padahal Arielle hanya merindukan sosok ibu nya di masa lalu.


Saat dia jatuh cinta dengan Farhan pun sama sekali tidak pernah melihat ibunya lagi, entah apa yang terjadi pada ibunya terakhir aku melihat ibu saat berumur 5 tahun itu pun ayah memaksa ibu meninggalkan ku sendiri di rumah yang sekarang ku pakai untuk tinggal bersama Farhan.


Setiap kali aku bertanya tentang ibu pasti ayah mencoba mengalihkan topik pembicaraan, ia sama sekali tidak ingin memberitahukannya pada ku.


Akhirnya aku sampai di rumah melihat Farhan sudah ingin ke kampus.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"jawab Farhan dan Ema yang kebetulan sedang ingin keluar.


"Kamu kerja?"tanya Ema pada Arielle.


"Iya Ma"


Ema tersenyum lembut lalu melayangkan tangan ke Arielle supaya bisa di cium olehnya dan bergantian mencium tangan Farhan.


"Bukankah kamu masih masa cuti?"tanya Ema lagi.


"Iya tapi tidak apa-apa aku udah bilang kok sama bos. Aku gak betah libur lama-lama"


Ema hanya mengangguk lalu menyerahkan tangan pada Farhan agar di cium,berpamitan untuk pergi ke kampus.


"Ema,Arielle aku pergi dulu ya Assalamulaikum"


"Waalaikumsalam"jawab ku dan Ema bersamaan.


"Yasudah kamu istirahat gih" Aku mengangguk dan beranjak masuk ke dalam rumah.


Aku langsung membuka kamar tanpa menanyakan Abah, aku terlalu lelah sehingga tidak sempat mengganti pakaian aku berbaring di kasur sambil membuka ponsel yang terus berdering sedari tadi.


"Notif apa sih ganggu sekali!"umpatku kesal lalu menyalakan ponsel.


Aku melihat ratusan pesan WhatsApp dari seseorang."Apa ini!"


Aku membuka pesan yang dikirim orang tersebut dengan kesal.


Efendi!


Pukul 16.00 waktu Indonesia barat:


p


p


p


p


p


p


Kenapa gak online-online


Ayolah


Aku rindu tauu❤️

__ADS_1


❤️


❤️


❤️


pukul 18.30:


Belom online juga😥


Arielleeeeee


Kemana sihh?😥


Isi pesan itu terus berlanjut hingga ke bawah pada pukul 19.00 saat aku pulang kerja.


Aku


Pukul 19.00:


Berisik!


Ganggu orang ajh sih.


Efendi!


Cuma kangen doang gak boleh kah😭.


Aku


Gak😒


Efendi!


Pukul 19.01:


Hehe😘


Aku


Kerja lah.


Efendi!


Ouhh bukankah orang tua mu banyak uang kenapa harus kerja tanpa kerjapun kebutuhanmu tercukupi kan?


Aku


Pukul 19.03:


Harus mandiri 👍🏻✨


Jangan ngandelin orang tua😒👍🏻


Efendi!


Salut sama kamu🤩


Love you❤️.


Aku


Pukul 19.05:


Hm..mis u tu sebagai tmn.


Setelah mengatakan itu aku langsung offline dan menaruh ponsel di samping tubuhku, aku menyetel lagu barat kesukaan ku dan mulai memejamkan mata secara perlahan.


Sejujurnya Aku sempat malu untuk mengetik kata barusan tetapi aku berfikir dia tidak akan baper jika aku menambahkannya sebagai teman.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain...


"Wahhh akhirnyaaa!"Efendi berteriak kegirangan di kamar sehingga membuat ayah dan ibu kaget saat mendengar teriakannya menghampiri kamar sang anak.


Ceklek..


Efendi yang menyadari dirinya sudah membuat ayah dan ibunya berpacu ke kamar langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


"Ada apa nak,kenapa malam-malam teriak?"tanya ibu Efendi penasaran.


"Ehh eng..enggak aku gak sengaja teriak karena mimpi tapi aku lupa mimpi apa,aku sendiri juga sadar dan terbangun"Efendi menggaruk pipiknya yang tidak gatal lalu menguap agar orang tuanya percaya.


Kedua orang tua Efendi menatap anaknya dengan intens laku mengangguk percaya dengan kebohongan anaknya.


"Baiklah lain kali baca doa kalau mau tidur biar gak ke ganggu sama mimpi"ayahnya mengingatkan Efendi.


Efendi hanya mengangguk,akhirnya kedua orang tuanya kembali keluar kamar.


"Huft..hampir saja jika ketahuan mereka pasti akan menjodohkan ku!"Efendi mengusap dadanya lega.


Memang bagus jika Efendi di jodohkan dengan Arielle tetapi bila Arielle belum mencintainya maka akan sulit untuk membujuknya apa lagi dia tidak ada kendala apapun yang bisa menjadi persyaratan untuk menikah.


"Sabar jodoh gak akan kemana Efendi."


Dia tersenyum lalu kembali berbaring di ranjangnya yang mewah dan empuk.


"Haa..akhirnya dia mengakui ku walau cuma teman"gumamnya tersenyum dan memejamkan matanya untuk tidur.


Walau Efendi dianggap teman berarti ia bisa mendekati Arielle sedikit lebih mudah, ada kemungkinan dia bisa membuat Arielle jatuh cinta suatu saat lagi.


Jika tuhan berkehendak maka terjadilah, yang bisa di harapkan untuk sekarang semoga tuhan bisa membalikkan hati Arielle yang keras seperti batu,ini adalah kedua kalinya hati Efendi di kukuhkan oleh seorang wanita. Wanita pertama yang ia harapkan telah meninggal bersama orang tuanya karena kecelakaan pesawat menuju Paris.


****


Keesokan hari...


"Hello prend selamat pagi"Salsa melompat untuk mengejutkan Arielle.


"Ya pagi"tidak terkejut dan tidak menoleh.


"Kenapa kamu gak terkejut?"tanya Salsa bingung.


"Jika aku terkejut maka aku akan memukulmu!"jawabku dingin.


"Wuihh galak amat neng"


Aku menoleh ke arah wajah Salsa lalu menoyor dahinya pelan"No Komen"


Aku merasa ada sesuatu yang kurang, aku seperti merasa nyaman dan tenteram hari ini.


"Apa ada sesuatu yang kurang?"tanyaku.


"Maksud kamu apa Arielle?"Salsa balik bertanya.


"Gak papah"


Salsa hanya memutar bola matanya malas, temannya ini seperti orang yang malas menjelaskan padahal pertanyaannya kurang jelas.


Saat aku dan Salsa memasuki kelas aku terkejut saat segerombolan perempuan mengerumuni seorang pria yang sedang menyapu.


"Kyaa tuan muda sangat rajin"


"Iyah benar tidak seperti rumor yaa"


Perkataan itu terdengar jelas di telingaku dan Salsa, sudah bisa di tebak yang dimaksud segerombol perempuan itu adalah Efendi.


Pantas saja tadi terasa tenang ternyata dia telah datang lebih dahulu dan membersihkan seluruh kelas padahal seharusnya yang membersihkan ruang kelas adalah petugas kebersihan kelas.


Efendi yang melihat Arielle dan Salsa mematung memanggil nama mereka.

__ADS_1


"Arielle,Salsa sedang apa di situ"


Para perempuan yang mendengar teriakan Efendi memanggil nama dua orang langsung menoleh ke belakang, mereka semua tersenyum tidak suka saat Efendi memanggil nama Arielle dan Salsa.


__ADS_2