
"Oh jadi dia hanya meminta bantuan mu mengambil nilai setiap anak di kampus?"tanya Farhan lagi.
Aku hanya mengangguk terpaksa berbohong karena tidak ingin masalah ini di ketahui oleh Farhan, untung saja Farhan beda kampus jika tidak akan cepat ketahuan kalau aku berbohong padanya.
Farhan akhirnya melanjutkan makan yang sempat tertunda dan aku pergi meninggalkan Farhan yang masih makan.
Keesokan harinya di kampus, aku melihat Efendi berjalan sambil bersenda gurau dengan salsa tepat di depannya. Entah mengapa aku tidak terlalu suka dengan pemandangan ini, aku menghampiri mereka dengan wajah datar.
Efendi yang merasakan kedatangan seseorang dikenal di sampingnya merasa senang."Halo Arielle selamat pagi"sapa Efendi ramah.
"Hm"aku hanya ber-dehem meliriknya sedikit.
"Arielle apa kamu mau ke perpustakaan bersamaku nanti saat jam istirahat?"tanya salsa yang kini membuka pembicaraan.
"Untuk?"
"Ya bantu mencari buku sejarah untuk di pinjam"jawab nya.
"Oh baiklah"
Efendi yang mendengar menjadi ingin ikut jika Arielle juga ikut ke perpustakaan.
"Bolehkah aku ikut juga?"tanya Efendi.
"Tentu saja tidak ada yang melarang mu"jawab Salsa.
Efendi tersenyum dan melirik Arielle sedikit.
"Apa kamu ingin jika aku ikut Arielle?"tanya Efendi lagi.
"Terserah"jawabku singkat langsung berlalu meninggalkan Salsa dan Efendi.
Efendi yang ditinggalkan oleh Arielle mengejarnya sambil meneriaki namanya sehingga menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitarnya, tetapi Efendi tidak peduli ia tetap mengejar sehingga sudah menyamai langkah Arielle.
Salsa melihat Efendi seperti punya perasaan pada Arielle hingga mengejarnya terus tanpa mempedulikan dia.
"Ha..apa yang ku takutkan Arielle tidak mungkin jatuh cinta pada Efendi"ucapnya semangat lalu langsung mengejar Arielle dan Efendi yang sudah jauh di depannya.
Sesampainya di kelas Efendi dan Arielle cukup menarik perhatian semua orang, tuan muda kaya raya seperti berita yang beredar di TV ternyata adalah Efendi calon pemimpin perusahaan terkenal.
Tetapi karena sifat Efendi yang terkenal dingin, keras kepala, sombong sepertinya hanya omongan palsu media saja.
__ADS_1
Buktinya sekarang seorang tuan muda Efendi mengejar anak perempuan hingga sampai ke kelasnya.
"Hosh..kalian kenapa sih..hosh"ucap Salsa terengah-engah karena berlari mengejar Arielle dan Efendi.
"Gak papah" jawabku singkat.
"Maksud nya kenapa meninggalkanku Arielle."
"Memang salah kalau aku duluan?"
Salsa terdiam mendengar penuturan Arielle yang terdengar dingin. Memang Arielle selalu bersifat dingin tapi entah mengapa kata-kata Arielle sedikit membuatnya tidak nyaman.
Aku kembali berjalan menuju tempat duduk dimana aku dan Salsa bersampingan.
Salsa menyusul ku lalu duduk di sampingku.
Keadaan hening hingga pelajaran di kampus selesai dan istirahat 30 menit, sesuai kesepakatan Arielle akan membantu Salsa mencari buku sejarah yang di inginkannya.
Tetapi sebelum aku angkat bicara Efendi telah menggebrak mejaku agak kencang hingga Salsa kaget.
"Ayo tadi katanya mau ke perpustakaan"ucap Efendi girang.
Seketika wajah Efendi berubah dingin ketika Salsa mengumpatnya. Salsa yang salah akan ucapannya tergagap dan kembali memperbaiki kata-katanya.
"Ma..maksud ku tuan mu..muda Efendi pin..pintar a..aku telah salah bi..bicara"
Efendi tidak peduli tetapi berhubung Salsa adalah teman Arielle ia tidak terlalu mempermasalahkannya."Tidak apa-apa wajar kamu kaget karena aku memukul meja agak keras"ucap Efendi kembali tersenyum.
Salsa menghela nafas lega, jika membuat Efendi marah habis lah sudah nasib keluarganya.
Aku tidak peduli dengan perdebatan mereka, buat apa takut dengan kemarahan Efendi memang dia kira dia orang terkaya nomor satu di Indonesia. Walau orang tua Efendi sudah di akui negara karena kehebatannya tetapi ayah ku lebih hebat dan kaya.
"Huh banyak bicara."
Efendi melihat ke arah Arielle lalu tersenyum"Maaf kalau membuang-buang waktu ayo kita langsung saja ke perpustakaan"ajak Efendi yang sudah berjalan memimpin di depan.
Sebagian orang terkejut bukan hanya berteman dengan orang yang dibawah statusnya tetapi ia juga murah hati karena peduli dengan kesalahan nya. Dimana anak berandal yang di kenal hingga berita tentang anak dari pak Wibowo Supriadi seorang pengusaha sukses di dunia perekonomian (Pasar Internasional).
Negara lain telah mempercayai kinerja pak Wibowo sehingga banyak pengusaha luar negri bekerja sama agar mendapatkan keuntungan lebih banyak dan memperluas daerah secara keseluruhan. Anaknya yang bernama Irham Efendi atau dipanggil Efendi bertolak belakang dengan sifat sang ayah membuat karyawan perusahaan pak Wibowo kurang mempercayai pengganti bos perusahaan nya bisa melanjutkan kinerja pak Wibowo yang menurutnya sangat sempurna.
Kami berdua pun hanya mengikuti Efendi pergi ke perpustakaan dari belakang.
__ADS_1
Sesampainya di perpustakaan yang besar, banyak buku yang tebal penuh dengan ilmu pengetahuan berjejer rapi di rak buku, bahkan rak buku telah membedakan tema buku yang ada seperti Sejarah, Kimia, Teknologi, Informatika, Akuntansi, Kosakata Bahasa, Kisi-kisi, Tutorial dan masih banyak lagi.
"Buku apa yang mau kamu cari?"tanyaku pada Salsa.
"Aku mau mencari buku tentang misteri Atlantis karya Plato Lost Civi"
"Oh bukankah buku itu telah lama hilang?"tanya Efendi menyela.
"Ya makanya itu aku akan mencarinya hingga ketemu, mungkin tersempil"ucapnya.
"Ha..gak mungkin"jawabku.
Salsa hanya tersenyum kecut saat mendengar ucapan ku yang seperti tidak niat untuk membantunya.
"Karya Plato adalah sejarah terlengkap tentang Atlantis dan ter-detail maka dari itu jika tidak bertemu setidaknya kita telah berusaha"
Aku hanya menghela nafas dan berlalu untuk mencarinya tanpa membuang waktu lebih lama lagi.
Efendi dan Salsa pun ikut berlalu untuk mencari buku yang mereka inginkan, Efendi pergi ke rak lain karena judul buku yang ia ingin pinjam bukan di rak sejarah.
Waktu telah berlalu tetapi tidak ada yang menemukan buku karya Plato. Kecuali Efendi yang sudah bertemu dengan buku yang diinginkan. Diapun berjalan kearah petugas peminjam buku dan membawanya pergi ke kelas.
"Nanti aku akan ada kelas ke dua kalian pulang duluan saja"ucap Efendi di sela keheningan.
"Siapa yang nanya?"tanyaku mengangkat sebelah alis heran karena tidak ada seorangpun yang menanyai kegiatannya hari ini setelah selesai jam paket.
"Jangan begitu Arielle, kita ini teman wajar saja jika Efendi memberitahukan kegiatannya lada kita"ucap Salsa membela Efendi.
"Hm..terserah"siapa yang peduli aku hanya menggeleng pelan dan berlalu ke kelas lebih dulu.
"Ha.. Arielle memang sangat dingin dan acuh maklumi saja dia ya"ucap Salsa dengan wajah sedih.
"Makanya itu aku merasa tertantang"gumam Efendi dengan suara kecil tapi sedikit kurang jelas di telinga Salsa
"Kamu bilang apa?"tanya Salsa.
"Tidak, aku bilang mungkin memang sifat bawaan sejak kecil aku akan memakluminya"jawab Efendi
Mereka tidak tahu menahu tentang masa lalu Arielle, padahal jika di nilai dengan masa lalu Arielle adalah gadis yang mudah tersenyum walau banyak yang tidak menyukai dirinya karena wajahnya.
Sekarang ia telah tumbuh cantik, dingin dan dewasa oleh keadaan.
__ADS_1