
Aku berusaha mendorong tubuh Efendi untuk menjauh tetapi tenaganya sangat kuat sehingga tidak membuatku bergerak sama sekali, aku hanya bisa pasrah dengan perlakuan Efendi terhadapku.
"A..aku juga ti..tidak bisa berdansa."ucapku tidak terlalu jelas karena pelukan Efendi bahkan dia juga sulit bernafas.
"Astaga maaf A..arielle aku lupa melepaskan pelukanku"Efendi melihat Arielle seperti orang yang kehabisan nafas.
Aku mengatur nafasku supaya normal kembali, aku tidak habis pikir Efendi akan melupakan aku yang di peluknya memangnya aku boneka yang bisa di peluk sepuasnya.
"Hah... sudah lah aku hanya ingin menikmati pesta dengan tenang"
"Aku tidak ingin berdansa karena tidak bisa, lebih baik kamu bersama dengan Salsa saja"ucapku dan berlalu pergi.
"Heii Arielle tungguu!"teriak Efendi sambil berlari mengejar Arielle yang pergi.
Hati Salsa terasa nyeri melihat Efendi yang lebih memilih Arielle di banding dengannya, tetapi dia tidak terlalu mempedulikannya dan menyusul Efendi yang sudah berlari agak jauh.
Aku melihat banyak orang di dalam ruangan yang mengadakan pesta minum teh, aku melihat-lihat sekeliling tanpa sadar aku menabrak seorang pria di depannya.
"Ma..maafkan aku tuan"ucapku sedikit merunduk.
"Oh tidak apa-apa cantik"ucap seorang pria tersebut sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan"ucapku yang sudah mengangkat kepala sepenuhnya, aku melihat ke arah wajah pria yang ku tabrak tadi.
Wajahnya benar-benar tampan, mungkin jika di bandingkan dengan Efendi pria ini hanya melebihi 5 persen dari ketampanan Efendi menurut penilaian ku.
Pria yang di tabrak Arielle itu melihat wajah Arielle yang menampakkan kekagumannya pada nya.
Bukannya menyadarkan Arielle yang masih bengong melihat wajahnya, dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Arielle.
"Heii apa yang mau kamu lakukan pada Arielle br*ngs*k!"ucap Efendi yang sudah datang menyusul Arielle.
Pria itu kembali menegakkan tubuhnya saat melihat Efendi. Aku yang mendengar suara Efendi memarahi seseorang tersadar dari lamunan ku.
"Kenapa tuan, saya hanya ingin menyadarkan gadis ini dari lamunannya"pria tersebut melipat kedua tangannya menampakkan wajah yang angkuh pada Efendi.
"Menyadarkan Arielle?"Efendi tersenyum sinis.
"Jelas-jelas kau ingin menciumnya di depan umum!!"teriak Efendi yang masih emosi, sehingga membuat banyak orang mengalihkan perhatian pada pertengkaran tersebut.
'Dia menyelamatkanku?!'ucapku dalam hati.
Aku memperhatikan sekitar, banyak orang yang berbisik-bisik saat melihat Efendi bertengkar dengan pria asing tersebut.Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja.
Sebelum aku merelai mereka berdua Salsa telah memisahkan pertengkaran antara Efendi dan pria asing tersebut.
__ADS_1
"Sudah cukup!ini masih dalam acara, jika kalian ingin menyelesaikannya, selesaikan sehabis pesta dengan kepala dingin!"
"N-nyonya muda maafkan saya telah mengacaukan pesta anda"pria tersebut menundukkan sedikit badan sebagai bentuk penghormatan dan permintaan maafnya. Siapapun akan tahu jika Salsa adalah anak dari pengusaha kaya yang sedang menyelenggarakan pesta ini.
"Ya baiklah aku hanya tidak ingin kalian mengacaukan pesta ayahku"ucap Salsa lagi berlalu pergi.
Setelah kepergian Salsa, Efendi langsung menghampiriku.
"Kamu gak papah Arielle?"tanya Efendi dengan raut wajah khawatir karena sedari tadi aku tidak berbicara apapun.
"Iyah gak papah, apa yang terjadi sebenarnya?"tanyaku pada Efendi.
"Tadi kamu hampir saja di cium oleh pria asing tadi, benar-benar tidak sopan mengambil kesempatan di saat kau lengah dasar pria br*ngs*k!"umpat Efendi masih kesal mengingat kejadian tadi.
"Telat sedetik saja aku menyusul mu, keadaan mungkin akan berbeda"Efendi kembali berbicara lembut sambil mengelus kepala Arielle.
"T-terima kasih"aku menjauhkan diri dari Efendi, jantungku sudah berdetak tidak
karuan saat berada di dekatnya. Entah mengapa setiap Efendi memperlakukanku seperti itu membuat jantungku berdetak tidak normal.
"Kenapa kamu menjauh Arielle?"tanya Efendi bingung.
"I-itu..itu aku harus pergi ke toilet"ucapku terbata dan langsung berlari untuk mencari toilet.
'Memangnya di sana arah ke toilet ya?'tanya Efendi dalam hati.
*****
"Eh terlihatnya ini bukan toilet deh, tapi kenapa disini bertuliskan toilet untuk wanita?"
Aku masuk ke dalam toilet tersebut dan melihat di dalam toilet tersebut, kenapa hanya berisi kardus-kardus seperti di gudang.
Seorang pria yang sudah menunggu Arielle memasuki perangkap itu menyeringai dan memasuki gudang itu ketika Arielle belum menyadari situasi tersebut.
Pria asing tersebut langsung mengunci pintu tersebut dari dalam.
Aku menyadari ada suara dari belakangku refleks menoleh.
"Ka-kau pria yang tadi?!"
"Ma-mau apa kamu!"ucap ku panik memundurkan langkah saat pria itu mendekat ke arahku.
"Halo kita bertemu lagi ya"ucap pria itu dengan wajah yang sudah memerah.
Aku tersudut di pojokan gudang tersebut, aku panik dan langsung berteriak minta tolong agar seseorang datang menyelamatkanku.
__ADS_1
"Percuma saja nona Arielle gudang ini kedap suara tidak akan ada yang bisa mendengar mu"ucap pria itu tersenyum.
"B-bagaimana kamu bisa tahu, si-siapa kamu?!" aku segera berlari ke arah pintu, tetapi pria itu telah menangkap ku bahkan mencengkram kedua tanganku agar aku tidak bisa berbuat apapun.
"Lepaskan dasar gila, apa yang ingin kamu lakukan!"
"Kamu akan tahu nanti"
Pria itu kembali menudutkan ku di tembok dan mendekatkan wajahnya ke arahku.
"T-tidak j-jangan kumohon ini adalah ciuman pertamaku aku tidak ingin kamu mengambilnya"ucapku dengan tubuh yang gemetar, air mataku mulai jatuh dari pelupuk mataku.
"Huftt..."pria tersebut menghela nafas kasar.
Dia tersenyum dan mencium keningku dengan lembut.
"K-kamu tidak jadi merebut ciuman pertama ku?!"
Pria itu melepaskan cengkraman di kedua tanganku.
"Pftt.. kamu sangat imut"pria itu mengelus kepalaku lembut.
"Jadi beginilah gadis di dalam mimpiku"ucapnya lagi sambil tersenyum.
"M-mimpi, apa maksudnya?"tanyaku bingung.
"Tidak bukan apa-apa"dia kembali tersenyum lembut, ekspresinya 180° berubah drastis dari ekspresi mengerikan sebelumnya, entah apa yang di maksud perkataannya.
"Jadi intinya kamu tidak akan menciumku kan?"tanya ku lagi untuk memastikan.
Pria itu menoyor dahi ku agak kencang.
"Tidak, aku tidak akan mencium mu karena aku hanya mengetesnya saja dan asal kamu tahu aku bukanlah pria tidak tahu diri mel*c*hkan wanita saat ada kesempatan"
"Oh ya aku tidak akan mencium seseorang jika dia melakukannya dengan terpaksa, baiklah jaga dirimu baik-baik aku akan pergi"ucapnya mulai berlalu dan melambaikan tangan ke arahku.
"T-tunggu sebentar aku masih punya banyak pertanyaan untukmu!"
Pria itu berhenti dan berbalik ke arah Arielle, dia merogoh sesuatu di kantungnya.
"Ini adalah kartu namaku, jika kamu ingin mengajukan pertanyaan kamu bisa menghubungiku"
Dia menyerahkan kartu namanya dan sekali lagi ia mengecup kening Arielle untuk salam perpisahan.
"Kita akan bertemu lagi ketika takdir mempertemukan kita lain kali"pria tersebut mengedipkan sebelah mata lalu keluar.
__ADS_1
"Leonard Horowitz!"