ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Tidur satu ranjang dengannya


__ADS_3

"Seira, Borbone itu nama anak anjing," ucapnya membuatku berdecak seraya menoleh ke belakang.


"Kau bisa diam tidak!"


Sepertinya Rey tahu cara membuatku tidak diam. Dengan terus meledek namaku, tentu saja.


"Aku serius, Seira. Itu nama anak anjing."


"Lalu kenapa kalau nama anak anjing? Masalahnya apa denganmu. Itu namaku!"


"Tidak apa-apa. Hanya terdengar lucu saja, Seira." Dia tersenyum tipis seraya menatapku.


Aku kembali membelakangi dia. Dan dia kembali bertanya.


"What is your sister name, Seira?" (Siapa nama adikmu, Seira)


"Kenapa kau bertanya? Kau menyukai dia? Mau mengurungnya juga?"


"Aku hanya menyukaimu. Bagaimana mungkin aku menyukai Shiren."


Lihat, bukankah tadi dia bertanya nama adikku dan sekarang dia mengucapkan jelas nama Shiren. Dia bukan tidak tahu, tapi mulutnya gatal ingin terus berbicara.


***


Entah kapan aku tidur, aku pun tidak tahu, kini aku membuka mata dan melihat dia tidak ada di sampingku. Aku mencoba melihat jam dinding dan ternyata sekarang pukul sebelas malam.


Aku duduk dan mengedarkan pandangan, hanya penasaran kemana perginya pria itu. Apa dia tidak jadi tidur satu ranjang denganku dan dia sudah kembali ke kamarnya dari tadi.


Ah kalau benar, aku sangat senang.


Aku turun dari ranjang, keluar dari kamar dengan memeluk tubuhku sendiri, malam ini sangat amat dingin, angin malam cukup kencang. Aku tidak tahu kapan kapal ini akan berlabuh.


Seseorang menyampirkan mantel tebal dipundakku dan ketika aku menoleh ternyata itu Rey.


"Kenapa kau keluar malam-malam, Seira."


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin keluar saja," ucapku dengan merapatkan mantel ke tubuhku yang kedinginan.


"Anginnya sangat kencang, masuklah." Dia memegang kedua lenganku dari belakang, menggosok-gosokan tangannya di lenganku seakan mencoba memberikan kehangatan bagi tubuhku.


Aku sebenarnya penasaran kemana dia pergi tadi tapi aku malas bertanya.


"Aku masih mau di sini."


Dia tidak menjawab, dia terus menggosok tangannya di lenganku.


"Seira, aku punya sesuatu untukmu."


"Apa?"

__ADS_1


Dia yang tadi di belakangku kini berpindah ke sampingku dan meraih tangan kananku.


"Ini apa?" tanyaku melihat gelang kupu-kupu yang dia pakaikan di tangan kananku.


"Kau tau itu gelang, Seira."


Aku berdecak. Ya, aku tidak bodoh, aku tahu ini gelang.


"Aku tau, maksudku kenapa kau memberikan gelang ini kepadaku."


"Hanya ingin memberimu hadiah."


Aku memperhatikan gelang yang cantik di tanganku, gelang kupu-kupu yang sangat cantik karena ada beberapa berlian kecil yang menghiasinya.


Sebenarnya aku ingin menolak tapi gelang ini terlalu cantik dan aku menyukainya. Biarlah aku terima saja, toh ini hanya gelang.


"Masuk dan tidurlah. Kita berlabuh besok dan ke rumah Elena."


Aku hanya mengangguk samar dan masuk kembali ke dalam kapal. Dia juga mengikutiku ternyata dan ikut merebahkan diri di sampingku. Aku seperti biasa, tidur membelakangi dia.


"Mungkin aku akan khilaf dan memelukmu, Seira."


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya berbicara untuk kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin besok kau bangun dalam pelukanku, jadi anggap saja aku sekarang sedang meminta izin kepadamu."


"Jangan berani-berani memelukku. Kau tidak lihat sudah ada guling di antara kita."


"Hei, apa maksudmu membuangnya!"


"Kau tidak butuh guling, Seira. Ada aku yang bisa kau peluk," ucapnya menatapku dengan senyuman.


"Guling itu bukan untuk dipeluk, itu untuk menjadi penghalang antara aku dan kau. Kau tidak boleh melewati batas yang sudah aku buat!"


"Tidak ada batasan antara kau dan aku, Seira."


"Kau benar-benar sint*ng!" Dengan kesal aku kembali merebahkan diriku dan tentunya membelakangi dia.


***


Aku mengerjapkan mataku perlahan ketika aroma mint menyeruak masuk ke indra penciuman. Aroma mint yang menenangkan dan wanginya terasa begitu dekat.


Ketika aku membuka mata perlahan, aku benar-benar tak percaya, ucapan Rey benar. Aku bangun di dalam pelukannya, si bedeb*h itu tengah memelukku sekarang. Dan lagi, dia tidak memakai baju.


Aku sontak terbelalak dan segera bangun membuat dia juga ikut bangun, mungkin karena terkejut.


"Seira, kau sudah bangun ..." ucapnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


Aku bergeming dengan memeluk tubuhku. Mencoba meneliti apa pakaianku masih lengkap atau tidak dan seketika aku menghembuskan nafas lega, pakaianku masih lengkap ternyata.

__ADS_1


Rey perlahan bangun dan menatapku dengan mata yang baru terbuka setengah.


"Ada apa, hm?"


"Berani sekali kau memelukku!" hardikku seraya melempar bantal ke wajahnya.


Dia mendengus kasar setelah matanya terbuka sempurna. "Seira, di luar kapal aku pernah memelukmu juga. Apa kau lupa?"


"Iya, tapi jangan di ranjang!"


"Kenapa?" tanyanya mengerutkan dahi.


"Pokoknya jangan!"


Rey terkekeh. "Sepertinya bukan aku yang takut khilaf. Tapi kau, Seira. Kau takut aku menggodamu dan kau tidak bisa lari dari godaanku begitu, bukan?"


Aku sontak melebarkan mata mendengar ucapannya. Apa hanya aku yang menganggap ranjang adalah hal sensitif untuk dua manusia berbeda kelamin.


Dan bukankah seharusnya dia yang lebih takut khilaf kepadaku. Tapi kenapa dia membuat seolah-olah akulah yang ketakutan di sini.


"Dengar, Seira. Aku sudah mengatakannya kepadamu, aku tidak akan melakukannya tanpa seizinmu. Terkecuali kau menjadi wanita pembangkang dan suka memakiku. Itu beda lagi, aku terpaksa akan melakukannya sebagai bentuk hukuman. Jadi, jadilah wanita yang baik hm." Dia mencubit pipiku gemas.


"Aku mandi dulu."


Pria itu turun dari ranjang. Kepar*t sekali, dia menurunkan celana pendeknya tepat di depanku. Aku langsung mengalihkan pandanganku, walaupun yang terlihat bagian belakang tubuhnya saja tapi sikap itu sangat kurang ajar, bukan?


Tidakkah dia punya rasa malu sedikit saja. Aku menghembuskan nafas lega mendengar pintu kamar mandi tertutup. Aku harap dia keluar dengan menggenakan pakaian lengkap nanti.


Selagi dia mandi, aku memilih keluar dari kamar dan bertemu salah satu pelayan di kapal.


"Good morning, Mam." (Selamat pagi, Mam)


"Morning." (Pagi)


"Where are you go, Mam?" (Kemana anda hendak pergi, Mam)


"Wait, can you speak english?" (Tunggu, apa kau bisa berbahasa english)


Aku menanyakan itu sebab yang aku tahu semua pelayan dan anak buah di sini berbahasa mandarin dan yang lainnya.


Wanita itu menganggukan kepala dengan tersenyum.


"I think everyone here speaks Mandarin." (Aku pikir semua orang di sini berbicara Mandarin)


"Sorry, Mam. Actually I just got here last night." (Maaf, Mam. Sebenarnya saya baru sampai di sini tadi malam)


Aku mengerutkan dahi, bukankah kapal ini akan berlabuh hari ini dan kenapa pelayan wanita ini datang ke sini.


"Who told you to come here?" (Siapa yang menyuruhmu datang kemari)

__ADS_1


"Aku."


Bersambung


__ADS_2