ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Rey menolak membantuku


__ADS_3

Aku berada di kamar, duduk di ranjang menatap nomor Rey di ponsel. Aku malas mendengar suaranya tapi ada dua hal yang ingin aku bahas, pertama soal aku yang menjadi asisten dia dan yang kedua soal tanda tangan J.F Rolling yang harus aku dapatkan agar Edward memberikan nomor Nyonya Diandra.


Aku berdecak, mendengus kasar, ini menyebalkan tapi aku harus melakukannya. Akhirnya mau tidak mau aku menelpon pria itu.


Hanya satu kali berdering, dia langsung mengangkat panggilan dariku.


"Hallo, Seira. You miss me?" (Kau merindukanku)


Aku berdecak. "Tidak, ada hal penting yang ingin aku tanyakan."


"Apa?"


"Ayahku bilang, aku akan menjadi asistenmu. Apa itu benar?"


"Ya, itu benar."


"Kau tau sendiri aku tidak bisa berbisnis dan tidak suka itu!"


"Aku tau. Ini hanya formalitas saja agar Ayahmu membiarkanmu selalu dekat denganku. Bagus, bukan?"


Aku mencengkram kuat ponsel di telingaku seraya menghela nafas kasar. Dasar bajing*n ini.


"Kau tidak mau bertanya aku sedang apa, Seira? Aku sedang di kamar, memikirkanmu. Padahal yang lain berada di bawah bersama orang tuaku."


Dia aneh, aku padahal tidak mau tahu dia sedang apa tapi dia malah mengatakannya.


"Ada hal lain yang ingin aku bahas."


"Apa?" tanya Rey.


Aku sebenarnya ragu jika Rey akan mendapatkan apa yang aku inginkan sebab sikap jutekku terhadap dia. Tapi tetap aku mengatakannya.


"Kau tau aku suka baca buku, bukan?"


"Hm."


"Kau tau J.F Rolling?" tanyaku.


"Tidak."


"D-dia, dia penulis terkenal. Aku sangat suka karyanya, aku sangat berharap aku mempunyai novel The Crown yang sudah di tanda tandagani oleh dia."


"Lalu?" tanya Rey.


Aku menghela nafas, kenapa Rey tidak langsung mengerti maksudku kalau aku meminta bantuan dia untuk mendapatkan tanda tangan J.F Rolling.


"Bisakah kau membantuku agar aku bisa mendapatkan tanda tangannya?kau seorang pembisnis kaya raya, aku yakin tidak sulit bagimu mendapatkan tanda tangan dia."


"Tunggu sebentar, aku akan melihat wajahnya dulu di laptopku."


Aku yakin dia sedang mengetik nama J.F Rolling di google.


"Ah, dia cukup tampan, Seira. Aku tidak mau membantumu mendapatkan tanda tangannya!"


Aku membulatkan mata, aku lupa Rey sangat cemburuan.

__ADS_1


"T-tapi ini hanya tanda tangan."


"Apa yang akan kau lakukan setelah mendapatkan tanda tangan dari dia? Kau akan menyembah tanda tangannya, Seira? Lagi pula, aku lebih tampan dari pada dia. Lebih baik kau mendapatkan tanda tangan dariku saja."


Aku berdecak. "Aku tidak butuh. Tanda tanganmu untuk apa!"


"Kau akan membutuhkannya, Seira. Surat nikah harus ada tanda tangan."


Aku mengerutkan dahiku. "Siapa juga yang mau menikah denganmu!"


"Kau."


"Tidak."


"Harus mau."


"Aku bilang tidak."


Dia terkekeh, padahal menurutku tidak ada yang lucu.


"Apa yang kau tertawakan?" tanyaku.


"Membayangkanmu sangat mencintaiku nanti. Bukankah itu sangat lucu?"


"In your dream, Sir!" (Hanya di mimpimu saja, Tuan)


Aku langsung mematikan telpon dengan kesal. Tidak menunggu satu menit dia kembali menelponku, aku menolak panggilan dari pria itu tapi lagi-lagi dia menghubungiku kembali.


Aku mendesis kesal dan menolak panggilan dari Rey kembali hingga sebuah pesan masuk.


Aku tidak membalas, aku memilih keluar dari kamar dan menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku.


***


Malamnya, ketika aku sedang menonton film bersama Shiren. Ponselku bergetar, aku merogoh ponsel di saku celana dan menempelkan benda pipih itu di telingaku karena lagi-lagi si kepar*t Rey menelpon dan Shiren terlihat memperhatikanku. Sepertinya dia penasaran.


"Hallo."


"Seira, besok pagi katakan kepada Ayahmu kau harus ke Turki lagi bersamaku. Dia pasti mengizinkan sebab kau asistenku sekarang."


"Borbone group berdiri di Italy, untuk apa ke Turki."


"Seira, kau tidak mengerti bisnis. Aku sedang memasarkan nama perusahaan anak anjing itu."


"Heh, apa maksudmu anak anjing!" seruku menyolot tidak terima. Enak sekali dia menghina nama perusahaan keluargaku.


Dia tertawa. "Borbone itu nama anak anjing, Seira."


Aku berdecak lagi-lagi kalimat itu yang aku dengar, benar-benar menyebalkan.


"Besok aku akan menjemputmu. Jangan membantah, kau tau konsekuensinya, bukan."


Rey mematikan panggilan telponnya tanpa menunggu jawaban dariku. Padahal aku tidak mau pergi bersamanya lagi.


"Ponsel baru ya?" tanya Shiren. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk samar.

__ADS_1


"Tumben sekali ganti ponsel. Biasanya kau tidak akan mengganti ponselmu sebelum rusak parah."


Ingin sekali aku mengatakan ponselku entah dimana. Mungkin sudah dibuang oleh Rey, padahal banyak nomor teman-temanku di sana. Pasti dia tidak suka sebab nomor di sana bukan nomor perempuan saja tapi nomor teman lelaki juga.


"Eh, apa yang kau lakukan saat di pulau? Ayah bilang itu pulau milik Tuan Rey? Apa di sana indah? Aku mau juga dong liburan bersama teman-temanku di sana."


Aku menggeram kesal seraya mengacak-ngacak rambutku frustasi mendengar ocehan Shiren. Yang benar saja, mana aku tahu soal pulau. Kesana saja tidak.


Aku memilih masuk ke kamar menghiraukan teriakan Shiren yang masih penasaran dengan pulau Rey.


Membanting pintu kamar menunjukan kekesalanku, aku langsung telungkup di ranjang, sekalipun aku menolak pergi besok, aku yakin Rey akan memaksa dan lagi dia sudah berhasil mencuci otak Ayah.


Bagaimana ini? Ah, menyebalkan sekali. Aku terus berguling-guling di ranjang dengan tidak jelas.


**


Waktu kenapa berlalu begitu cepat, rasanya aku tidur baru lima menit tapi sekarang sudah pagi hari saja. Aku berada di meja makan bersama Ayah, Mama dan Shiren.


Aku tidak berselera sarapan, aku hanya memainkan makananku.


"Sarapan yang benar, sebelum Tuan Rey menjemput," ucap Ayah.


Aku mendongak menatap Ayah. "Apa Ayah, Mama dan Shiren akan kembali ke Italy?" tanyaku.


"Iya, kita akan kembali ke Italy. Perusahaan kita kan ada di sana," sahut Mama.


Aku berdecak, aku rindu kampung halamanku. Aku tidak suka tempat dimana ada Rey di sana.


"Seira, tolong katakan kepada Tuan Rey, aku pinjam pulaunya sebentar saja," ucap Shiren membuatku berdecak menatapnya.


"Diam bisa tidak? Pulau terus yang kau bahas!"


Dia mengerucutkan bibirnya membuat Ayah menatap kami bergantian.


"Ada apa?"


"Aku minta Seira meminta izin kepada Tuan Rey agar aku bisa berliburan di pulau Tuan Rey bersama teman-temanku."


"Sudahlah, jangan membuat Ayah malu. Pergi saja ke pulau yang lain."


"Tapi sepertinya pulau Tuan Rey indah, Ayah." Shiren masih merengek hingga kami mendengar suara bel berbunyi.


Mama beranjak dari duduknya untuk membuka pintu dan terlihat seorang pria berdiri di depan apartemen.


"Cari siapa?" tanya Mama.


"Maaf, Nyonya. Tuan Rey sudah menunggu Nona Seira di bawah."


Aku tebak, dia pasti salah satu anak buah Rey.


"O-oh, iya. Tunggu ya, kami ke bawah sekarang."


Pria itu mengangguk dan pergi.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2