ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Kembali ke rumah Elena


__ADS_3

Setibanya di rumah Elena. Elena langsung memelukku dengan tersenyum sementara Rey menerobos masuk ke rumah adiknya itu.


Elena menoleh ke dalam rumahnya, memastikan Rey tidak berada di dekatku dan Elena.


"Heh, kenapa kau kembali ke sini? Aku tidak bisa membantumu lagi ya. Kau tidak tau semarah apa Kak Rey ketika tahu kau berusaha kabur! Dia marah besar kepadaku!"


Aku mengerutkan dahiku. "Apa? Dia marah kepadamu juga? Aku pikir hanya Nani yang hampir dihukum."


"Nah itu, kau sendiri tahu kan Nani hampit dihukum. Jadi jangan berharap aku mau membantumu lagi, mengerti!"


Aku benar-benar tidak tahu jika Rey memarahi Elena juga. Untung Elena tidak dihukum seperti Nani.


"Ayo masuk ..." dia menarik tanganku dan membawaku masuk ke rumahnya.


Rey terlihat minum sesuatu di ruang tamu. Entahlah, itu teh atau coffe.


"Kalian mau kemana?" tanya Rey tanpa menoleh ke belakang. Kepadaku dan Elena yang hendak menaiki anak tangga.


"Ke kamarku, Kak. Seira memintaku mencarikan pakaian yang cocok untuknya."


"Satu jam," seru Rey.


"Oke kak," sahut Elena lalu menarik tanganku menaiki anak tangga.


Setibanya di kamar Elena yang luas, aku duduk di ranjang sementara Elena tengah mengeluarkan beberapa majalah di lemari.


Aku menunggu seraya mengedarkan pandangan pada kamar yang bernuansa putih dan coklat dengan satu figura di meja samping ranjang, foto keluarga mereka. Tuan Reagan, Nyonya Diandra, Rey, Edgar, Edward dan Elena.


"Oke, ini dia," serunya lalu berjalan mendekatiku dengan dua majalah di tangannya.


"Ini...." dia memberikan salah satu majalah itu kepadaku. "Ada beberapa model pakaian di sana, kau bisa memilih yang menurutmu cocok dengan bentuk tubuhmu. Tapi tenang saja, kalau tidak bisa, aku akan membantumu."


Dia duduk di sofa yang berada di hadapanku. Aku menatap majalah di tangaku dan beralih menatap Elena.


"You think, i really need this, Elena?" (Kau pikir aku benar-benar membutuhkan ini, Elena)


Elena yang tengah membuka majalah di tangannya pun sontak mendongak menatapku. "Maksudmu? Bukankah kau meminta bantuanku mencari model pakaian?"


Aku menggeleng. "Tidak, Elena. Itu hanya omong kosong, aku kesini untuk memintamu menelpon Edward, dan katakan aku ingin bertemu dengan dia."

__ADS_1


Mata Elena sontak membulat sempurna mendengar ucapanku. "A-apa? Untuk apa kau memintaku menelpon Edward dan kenapa kau ingin bertemu dengannya?"


"Elena, aku ingin meminta bantuan kepada Edward setelah kau tidak bisa membantuku."


Elena menghembuskan nafas lalu berdecak. "Aku gagal membantumu dan sekarang kau hendak meminta bantuan kepada Edward. Jika Edward juga gagal membantumu apa kau akan meminta bantuan kepada Edgar? Eh tapi jangan berharap, Edgar tidak suka ikut campur urusan siapapun."


"Edgar terlalu dingin. Aku tidak yakin dia bisa menolongku."


"Seharusnya kau berpikir yang sama kepadaku dan juga Edward. Kami juga tidak bisa membantumu, Seira. Walaupun aku terlihat ramah kepadamu tapi aku tidak mau memposisikan diriku dalam bahaya."


Aku menghembuskan nafas kecewa. "Kalau begitu, bisakah aku memintamu menelpon Ibumu? Nyonya Diandra. Aku ingin berbicara dengan dia."


"Kau mau meminta bantuan kepada Mommyku?"


Aku mengangguk.


"Bukankah aku sudah bilang, mungkin nomorku sudah disadap oleh Kak Rey, dia bisa tahu aku menelpon siapa saja dari pagi sampai malam dan dia bisa tahu apa yang aku bicarakan dengan siapapun itu, Seira."


"Harapanku sekarang hanya Edward dan Nyonya Diandra, Elena. Aku mohon tolong aku lagi Elena, aku hanya memintamu menelpon Edward atau Nyonya Diandra."


"Seira, astaga ... aku sudah bilang, nomorku mungkin sudah disadap!"


"Kata siapa? Aku tidak punya!" Dia mengalihkan pandangan dariku dan kembali membuka majalahnya.


"Elena, aku tahu kau bohong!"


Elena mengacuhkanku, sepertinya dia tidak tertarik membantuku walaupun hanya menelpon Edward atau Nyonya Diandra. Padahal di bawah tadi dia sangat semangat ketika aku mengatakan aku meminta bantuan dia dalam hal fashion. Yang nyatanya itu hanya kebohongan dariku saja agar aku bisa mendapatkan privasi bersama Elena.


Setelah terus memohon pun Elena masih saja menolak bantuanku dengan alasan takut kepada Rey.


Aku keluar dari rumah Elena dengan tangan kosong. Aku tidak mendapatkan nomor Edward atau Nyonya Diandra. Aku terlihat lesu sepanjang jalan pulang hingga Rey bertanya.


"Kenapa, Seira? Elena doesn't want to help you?" (Elena tidak mau membantumu)


Aku menoleh ke arahnya lalu menggelengkan kepala. Mungkin yang Rey pikir Elena tidak mau membantuku dalam hal fashion sementara yang sebenarnya terjadi Elena tidak mau membantuku kabur dari pria yang mengurungku ini.


Rey menghela nafas. "Its okay." (Tidak apa-apa) "Aku akan meminta desainer langsung yang mengatur fashionmu."


"T-tidak, tidak perlu!" sergahku.

__ADS_1


Jelas aku menolak, sebab desainer untuk apa, aku tidak butuh itu. Aku butuh nomor Edwar atau Nyonya Diandra.


"Kenapa? Katamu Elena tidak mau membantumu. Tidak seperti biasanya dia seperti itu."


"Tidak apa-apa, biarkan saja," jawabku.


"Kau sakit hati?" tanya Rey membuatku menautkan alisku heran.


"Kenapa memangnya?" Aku balik bertanya.


"Kalau sakit hati, aku tidak akan mengajakmu bertemu dengan Elena lagi dan aku juga tidak akan bertemu dengannya lagi."


Aku melotot tidak percaya mendengar ucapannya. Dia serius atau tidak mengatakan itu? Elena adiknya. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu, dasar pria tidak punya hati.


"Dia adikmu. Bagaimana bisa kau mengatakan itu?"


"Dia adikku tapi tidak selamanya dia bersamaku, Seira. Sebab dia punya hidupnya sendiri, dia akan menikah dan kami akan berpisah. Tapi bersamamu ... kita menua bersama dan hanya akan dipisahkan oleh kematian saja."


Dia tersenyum ketika mengatakan itu. Aku pun tersenyum tipis seolah-olah terpukau dengan setiap kata yang dia ucapkan padahal telingaku sangat gatal mendengarnya walaupun ucapan Rey ada benarnya juga. Tapi, siapa yang mau menua sampai mati dengan pria itu? Jelas aku tidak mau!


Mobil sampai di rumah Rey, aku dan dan Rey keluar dari mobil dan langkah kami terhenti di ruang tamu.


Aku tercengang bukan main melihat orang yang aku cari-cari ada di hadapanku sekarang.


Edward.


Ya, dia duduk santai di ruang tamu seraya makan apel dengan kedua kaki di angkat ke sofa.


"Kau ..." Rey berjalan menghampiri Edward dan duduk di seberang pria berpenampilan punk rock itu.


Aku duduk di samping Rey memperhatikan Edward lebih jelas sebab saat di toko aku hanya memperhatikan dia sekilas.


Kaos hitan dibalut jaket jeans, celana panjang robek-robek, kalung perak melingkar di leher dan kulit yang lebih gelap dibanding Rey dan Edgar.


Apa karena dia lebih sering berada di jalanan seperti kata Rey?


Untungnya, rambut Edward tidak seperti bulu landak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2