ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Kembali ke turki


__ADS_3

Mama dan Ayah langsung grasak-grusuk meminta aku dan Shiren menyudahi sarapan padahal aku belum makan sama sekali.


Kami semua turun ke bawah menghampiri mobil Rey. Terlihat Rey bersandar di depan kap mobil lalu menoleh melihat kedatangan kami.


"Tuan Rey," sapa Ayah menyalami tangan pria itu diikuti Mama dan Shiren.


"Seira, sudah siap?" tanya Rey.


"Tidak, aku tidak siap sial*n!" Tapi sayangnya kalimat itu hanya ada di dalam hatiku saja, nyatanya aku tidak berani melawan selain menganggukan kepala.


Rey mengangguk, dia melangkah masuk ke mobil tapi suara Shiren menghentikan langkah pria itu.


"Tuan Rey, boleh berbicara sebentar."


Rey kembali berbalik. Aku, Ayah dan Mama langsung menoleh ke arah Shiren yang terlihat gugup.


"Kenapa?" tanya Rey berjalan kembali ke arah kami.


"A-aku ..."


Ayah mencubit pinggang Shiren, seakan Ayah tahu apa yang hendak Shiren katakan. Pasti soal pulau.


"Ish, Ayah sakit!" Shiren menyikut lengan Ayah.


"Katakan saja," ucap Rey.


"Aku boleh tidak liburan bersama teman-temanku ke pulau Tuan Rey seperti Seira."


Ayah dan Mama menghembuskan nafas. Mereka seakan sangat malu dengan permintaan Shiren. Sampai Ayah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Shiren.


"Boleh," sahut Rey membuat Shiren, Ayah dan Mama melebarkan matanya.


"B-beneran boleh?" tanya Shiren menahan kesenangan di wajahnya.


Rey mengangguk lalu mengambil kartu nama di saku jas yang dia kenakan lalu memberikannya kepada Shiren.


"Ini kartu namaku. Beritahu aku kapan kau dan teman-temanmu akan berangkat. Sekalian aku akan menyiapkan pesawat dan kapal pesiar untuk keberangkatan kalian."


Shiren terlihat sangat senang sampai matanya berbinar. Aku lebih dulu mengambil kartu nama itu.


"Tidak, tidak perlu berangkat."


"Ih, apa sih!" Shiren merebut paksa kartu nama Rey di tanganku.


"Tuan Rey saja bilang boleh, kenapa kau melarang!"


Rey terlihat tersenyum dan aku mendelik kesal ke arahnya. Sepertinya dia memang sedang berusaha mencuri hati keluargaku agar dianggap baik.


"Tuan, kami benar-benar minta maaf atas sikap putri kami berdua. Sudah Seira yang berlibur di pulau anda, sekarang Shiren juga," ucap Mama sedikit canggung.


"Tidak apa-apa. Aku sudah menganggap Shiren seperti adikku sendiri."


Aku tercengang mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya barusan. Ingin sekali aku melempar kepalanya dengan batu.


"Terimakasih Tuan, anda sangat murah hati," puji Ayah.


"Kalau begitu, aku dan Seira berangkat dulu."


Ayah dan Mama menganggukan kepala. Rey pun masuk ke mobil, sebelum aku masuk, aku berpamitan kepada Ayah, Mama dan Shiren terlebih dahulu.


Ketika mobil melaju, aku masih mendengar teriakan Shiren yang begitu bahagia.

__ADS_1


"Hati-hati ya."


"Adikmu sepertinya sangat senang," ucap Rey.


Aku tidak menjawab, selain memalingkan wajahku ke luar jendela.


"Why, Seira?" (Kenapa, Seira) "Sepertinya kau yang tidak senang."


"Tidak ada alasan yang membuatku bisa senang," sahutku.


"Berada di sampingku, seharusnya kau sudah sangat senang, sebab tidak semua perempuan seberuntung dirimu," sahut Rey seraya tersenyum menatapku.


"Jika ada, aku ingin menukar posisiku dengan perempuan yang ingin berada di dekatmu."


"Sayangnya, aku tidak mau kau ditukar, Seira."


Aku kembali terdiam, dia sesekali menoleh ke arahku dengan tersenyum. Entah apa yang membuat dia terus tersenyum, dasar orang gila.


Mobil berhenti di lampu merah.


"Dari kemarin, aku sangat merindukanmu, Seira." Dia mengelus kepalaku dan aku langsung menepis tangannya.


"Jangan pegang-pegang!" ucapku sinis.


Dia malah terkekeh. "Nanti, jika kau sudah menyukaiku, aku akan merindukan sikapmu ini. Sikap perempuan so jual mahal."


Aku langsung mendelik ke arahnya ketika dia mengatakan sikapku so jual mahal.


"Eh, dengar ya. Tidak semua perempuan mau disentuh oleh pria sepertimu. Kau terlalu membanggakan diri seolah-olah kau sempurna. Padahal di mataku, kau hanya pria jahat tidak punya hati."


"Ya, aku memang tidak punya hati Seira. Sebab seluruh hatiku sudah aku berikan kepadamu," ucapnya dengan tersenyum miring.


***


Kami sampai di bandara dan segera naik pesawat.


"Seira." Elena melambaikan tangan ke arahku, aku membalas dengan senyuman.


Mataku pun beralih menatap Edward yang lagi-lagi dia sedang makan kemudian aku pun menggelengkan kepala. Semoga dia mengerti jika aku tidak berhasil membujuk Rey untuk mendapatkan tanda tangan J.F Rolling seperti yang dia minta.


Edward hanya memutar bola matanya dan aku pun duduk di samping Rey.


Edgar, tadi aku lihat dia sedang asik dengan ponselnya.


Pesawat pun akhirnya take off. Aku masih bergeming seraya menatap ke luar jendela.


Mau pindah duduk ke samping Edward sudah pasti Rey tidak akan mengizinkan.


"Seira, apa kau sudah sarapan tadi?"


Aku menoleh lalu menggelengkan kepala dan kembali menatap ke luar jendela.


"Kenapa kau tidak bilang!" Dia berbicara dengan nada meninggi kemudian Rey memanggil pramugari dan meminta disajikan makanan.


Tidak lama kemudian pramugari datang menyajikan beberapa menu makanan.


"Ini makan dulu."


"Aku tidak lapar."


"Kau harus makan, Seira. Jangan menolak!"

__ADS_1


"Aku bilang aku tidak mau!"


"Seira, ini perintah. Menurutlah!"


Aku berdecak sebal dan akhirnya aku pun makan.


Saat aku makan, Edward berjalan melewati kursi kami hanya untuk pindah tempat duduk yang tadinya di belakang dia pindah ke depan.


Lima menit kemudian, Edwar kembali berjalan ke belakang lalu duduk di depan kursi Edgar. Kursi Edgar berada di samping aku dan Rey.


Edward menoleh ke belakang. "Gar, kau sedang apa?" tanya Edward kepada Edgar yang tengah membaca buku.


"Menurutmu?" sahut Edgar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Edward.


"Baca buku."


"Hm."


Aku yakin, Edward sedang gabut, dia tidak ada kerjaan lain sampai harus menganggu kembarannya.


"Gar, perempuan yang semalam cantik ya, kakak ipar kita."


Ucapan Edward berhasil membuat Rey menoleh ke arahnya. Sementara Edgar tidak menjawab apapun seakan tidak tertarik dengan topik yang Edward bicarakan.


Justru yang tertarik adalah aku, siapa perempuan yang dimaksud Edward? Aku menatap bergantian Rey dan Edward.


"Eh Gar, siapa semalam namanya? Jessica ya kalau tidak salah, cocoklah jadi istrinya Kak Rey."


"Diam!" seru Rey kepada Edward.


Apa Edward tengah memberi kode kepadaku jika ada perempuan lain yang mendekati Rey? Kalau benar, aku bukan cemburu, justru malah senang.


"Memangnya dia siapa?" tanyaku kemudian.


"Bukan siapa-siapa," sahut Rey.


"Mommy mengenalkan anak sahabatnya kepada Kak Rey, kayanya sih dia calon kakak ipar!"


"Tutup mulutmu, Edward! Calon kakak iparmu ada di sampingku!"


"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak berniat menjadi kakak ipar adikmu," sahutku.


Edward tertawa. "Lihatlah, Kak. Seira menolak, lebih baik bersama Jessica saja, lagi pula Jessica kan anaknya sahabat Mommy. Mommy pasti sudah kenal Jessica lama."


"Aku tidak perduli dia anak siapa!"


Aku sekarang mengerti mengapa ada acara makan malam dari orang tua Rey, alasannya mereka ingin mengenalkan Rey dengan seorang perempuan.


"Elena, cantikan Seira atau Jessica?" teriak Edward kepada Elena yang duduk di belakang.


"Cantikan aku," sahut Elena berteriak membuat Edward berdecak.


"Kau cocok dengan Jessica," bisikku kepada Rey.


Rey terlihat marah dengan ucapanku, dia mencengkram kuat tanganku membuatku mendesis kesakitan.


"Tutup mulutmu, Seira! Kau bahkan belum pernah bertemu dengannya!"


Bersambung


'

__ADS_1


__ADS_2