
Kami berpisah di bandara, Rey pergi bersama ketiga adiknya menuju mansion Ayahnya sementara aku berada di mobil bersama seorang perempuan yang menyetir di depan. Gaya perempuan itu mirip laki-laki.
Rey bilang, dia tidak akan membiarkan anak buah laki-lakinya yang berada satu mobil denganku. Apalagi berdua.
Kini aku juga mempunyai ponsel baru dengan nomor yang baru pula tentunya. Di dalamnya hanya ada nomor Rey saja.
Baru tiga menit perjalanan ponsel di tanganku sudah bergetar, pesan masuk yang tidak lain dari Rey.
"Take care, Seira." (Hati-hati Seira)
Aku tidak membalas dan memalingkan wajahku ke luar jendela hingga Rey kembali mengirim pesan.
"Why didn't you reply my message!" (Kenapa tidak membalas pesanku)
Aku hanya mendengus kasar tanpa berniat membalas pesannya sampai lagi-lagi dia mengirimiku pesan.
"Hei, Seira!"
Aku berdecak dan akhirnya membalas dengan kesal.
"Iya iya iya. Aku akan hati-hati!"
Sebenarnya apa yang harus dia khawatirkan padahal kejahatan yang sesungguhnya adalah di dekat dia. Aku merasa aman ketika jauh darinya dan aku malah senang sebab sekarang bisa bertemu Ayah, Mama dan Shiren.
Selama di perjalanan aku hanya membayangkan wajah kesal Ayah yang berpikir aku main-main bersaman teman-temanku padahal aku dikurung oleh Rey.
Satu jam kemudian akhirnya aku sampai di sebuah apartemen. Tempat dimana keluargaku tinggal. Ayahku belum berencana membuat rumah di sini karena awal niat datang hanya untuk menjalin kerjasama bisnis. Aku pun tidak tahu mengapa Ayah belum kembali ke Italy dan malah betah di sini.
Aku menekan bel dan tidak lama kemudian pintu terbuka. Shiren terbelalak dengan kedatanganku lalu berteriak.
"Ayah ... Seira pulang!"
"Astaga kau ... kemana saja kau baru pulang!" hardik Shiren kepadaku.
"Aku ---"
"Seira!"
Belum sempat aku berkata, kedua orang tuaku sudah muncul. Dan tatapan Ayahku tidak bersahabat kepadaku, aku tahu dia marah besar karena berpikir aku main-main.
"Ayah."
"Masuk!" titah Ayahku.
Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu bersama Ayah, Mama dan Shiren.
__ADS_1
"Kau benar-benar membuat Ayah malu, Seira! Meeting hari itu tidak jadi karena ulahmu!"
"M-maksud Ayah?"
"Seira, Ayahmu cerita, kalau kau kabur saat meeting bersama De Willson. Kau sudah membuat Ayahmu malu," timpal Mama.
"Tapi walau begitu, perusahaan kita yang terpilih bekerja sama dengan mereka. Iya kan?" sambung Shiren menatap kedua orang tuaku.
Aku semakin terbelalak, aku tidak tahu jika Borbone group yang terpilih menyambung kerja sama bisnis bersama De Willson. Pantas saja hari itu Rey bilang perusahaan Borbone group biar menjadi urusan dia. Aku pikir dia hanya ingin membantu perusahaan Ayahku saja.
"Ya, we are lucky!" ucap Ayahku (Ya, kita beruntung)
"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi hari itu?"
Mereka bertiga langsung melotot ke arahku, mungkin heran kenapa aku bisa-bisanya bertanya.
"Seira kau --- kau hilang ingatan?" tanya Mama.
"Kau ini aneh sekali!" hardik Shiren.
Aku hanya diam, aku tidak mungkin menjelaskan semuanya sebab Rey mengancam akan menyakiti keluargaku. Tapi di sisi lain aku penasaran, apa yang terjadi hari itu.
"Kau izin ke kamar mandi tapi ternyata kabur dan malah asik liburan bersama teman-temanmu."
"K-kabur," gumamku pelan.
"Tapi Ayah, tadi Ayah bilang meeting tidak jadi. Lalu bagaimana perusahaan kita bisa terpilih?" tanyaku.
"Dua hari setelah meeting itu, Tuan Rey menelpon dan mengatakan dia setuju menjalin kerja sama bisnis bersama kita."
"Sudahlah ... semuanya sudah berlalu. Perusahaan kita sudah menang juga dari perusahaan yang lain untuk bekerjasama dengan De Willson group," ucap Mamaku. "Sekarang, kita makan saja. Untungnya Mama sudah masak."
"Seira!" seru Ayahku yang melihatku melamun, aku mengerjap, mengangguk dan mengikuti mereka untuk makan.
Saat di meja makan awalnya kami makan santai, tidak ada yang berbicara sampai Shiren membuka topik tentang AFC group.
"Ayah, AFC group ahli warisnya kan sudah meninggal --"
Uhuk uhuk.
Aku langsung tersedak mendengar ucapan Shiren. Mama memberikan tissue kepadaku, aku mengelap mulutku seraya menatap Shiren.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Loh, kau belum tau? Ah iya ... kau keenakan liburan di pulau sih, jadinya tidak melihat berita."
__ADS_1
"Berita apa memangnya?" tanyaku menatap bergantian mereka semua dengan tatapan tidak mengerti.
Ayahku menghembuskan nafas, menyimpan sendok dan garpuh di tangannya, menyenderkan punggungnya di sandaran kursi lalu menatapku.
"Eza, ahli waris AFC group meninggal karena kecelakaan saat pulang dari meeting hari itu."
Mataku membulat tidak percaya mendengar kabar itu. "A-apa?"
"Untungnya Ayahnya selamat, dia koma selama beberapa hari tapi sekarang sudah sadarkan diri."
"Dia pasti benar-benar terpuruk dengan meninggalnya Eza. Apalagi Eza ahli waris yang sudah sangat dipersiapkan dari dulu," timpal Mama.
"Kecelakaan bagaimana, Ayah?"
"Mobilnya ditabrak truk dari belakang dan jatuh ke jurang."
"Ayahnya benar-benar beruntung ya masih bisa selamat padahal kecelakaan itu sangat tragis," ucap Shiren.
Aku hanya terdiam, aku benar-benar shock mendengar kabar ini. Terkurung bersama Rey membuatku kesulitan menonton berita sebab tidak ada ponsel dan juga Rey tidak membiarkanku menonton tv.
Bukan aku tidak mau menonton tv tapi memang di kamar yang ada di rumah Rey dan juga kapal pesiar tidak ada tv sama sekali. Dan aku juga sibuk memikirkan cara kabur ketimbang memikirkan berita-berita diluar sana.
"Seira, kau tidak membuat ulah di pulau Tuan Rey, kan?" tanya Ayah, membuatku yang melamun kini menoleh ke arahnya lalu menggelengkan kepala.
"Lain kali, kalau mau pergi bilang dulu sama Ayah, kamu sudah dewasa Seira, jangan membuat malu perusahaan kita," timpal Mama.
Aku hanya mengangguk. "Maaf Ma ..."
"Kemarin, Ayah berbicara dengan Tuan Rey di telpon, dia bilang, jika Seira tidak mau memimpin perusahaan maka jangan diberikan kepada Seira."
"Lalu diberikan kepada siapa, Ayah? Jangan aku ya, Ayah." Shiren langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda tidak sanggup.
"Kepada Tuan Rey."
"Hah?" Aku dan Shiren terkejut.
"Loh, Ayah. Masa perusahaan keluarga kita diberikan kepada orang asing sih," ucap Shiren yang disambung anggukan setuju dariku.
"Bukan diberikan, dengarkan Ayah dulu. Tuan Rey hanya membantu mengelola perusahan kita saja, tidak akan menjadi milik beliau sebab tidak ada tanda kepemilikan hitam di atas putih. Jadi tenang saja."
"Ini misalkan ya Ayah, kalau Ayah mati perusahaan Ayah siapa yang urus? Tidak ada kan? Otomatis jadi milik dia," ucapku.
"Tuan Rey bilang, kau akan menjadi asistennya. Jadi walaupun perusahaan dikelola oleh Tuan Rey, setidaknya kau akan belajar dan mendapatkan ilmu berbisnis sebab terus ada di samping Tuan Rey."
Aku membulatkan mata mendengar ucapan Ayahku. S*l, Rey pintar sekali membuat aku terus berada di samping dia. Apalagi Ayahku malah mendukung dengan alasan perusahaan.
__ADS_1
Bersambung