ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Rey mengajakku ke pesta pertunangan


__ADS_3

"Have you met Elena?" (Kau sudah bertemu Elena) "Bagaimana dia menurutmu?"


"Perfect." (Sempurna) "Kind, smart, beautiful." (Baik, pintar, cantik)


"You are the most beautiful, Seira." (Kau yang paling cantik, Seira)


Aku berdecih, ucapannya terdengar menggelikan di telingaku.


"Aku belum bertemu dengan Edgar dan Edward."


"Edgar mirip denganku, dia tidak terlalu banyak bicara dan pekerja keras, kau mungkin akan kurang nyaman dengan sikapnya yang acuh. Tapi itu bukan masalah besar, masalah besarmu jika aku yang sudah acuh dan tidak perduli kepadamu lagi, Seira."


Mendengar ucapannya barusan, apa akan ada moment dimana Rey mengacuhkanku dan tidak perduli lagi kepadaku? Kalau iya, justru itu yang aku harapkan. Aku berharap dia secepatnya acuh kepadaku.


"Justru aku senang kalau kau sudah tidak perduli lagi kepadaku."


"Itu tidak akan terjadi Seira, aku akan membiasakan hidupmu agar bergantung kepadaku, Seira."


"Jangan harap!"


"Lihat saja nanti!"


"Bagaimana dengan Edward? Sebebas apa dia?" tanyaku penasaran.


"Edward terlalu banyak bicara, tingkahnya seperti anak punk. Penampilannya berantakan, suka sekali memakai celana robek dan suka berkumpul dengan anak-anak jalanan."


Edward, aku penasaran dengan dia. Membayangkan sikap Edgar mungkin sangat mudah, lihat saja Rey bagaimana. Tapi Edward, dia sepertinya yang paling unik.


"Seira ..."


"Hm?"


"Jangan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu lagi."


Aku kembali menjawab dengan deheman.


"Aku serius Seira. Kau tidak tau seberapa takutnya aku kehilanganmu."


"Aku juga tidak mau mati, asal kau tau itu. Aku punya mimpi."


"Mimpi apa?"


"Bekerja di perusahaan penerbit. Aku ingin menjadi editor buku, aku ingin bertemu dengan para penulis terkenal."


Rey terdiam, dia tidak menjawab apapun lagi setelah aku mengutarakan mimpiku itu. Aku harap, dia mengerti. Mengerti apa yang aku inginkan, mengerti jika terus mengurungku akan membuat mimpiku tidak terwujud. Aku harap dia ada sedikit saja belas kasihan kepadaku.


"Kemana kau akan pergi jika aku tadi tidak datang, Seira?" tanyanya mengalihkan pembahasan kami soal mimpiku.

__ADS_1


"Pulau Elena."


"Itu sangat mudah ditemukan. Elena tidak cukup pintar membantumu."


"Aku tau, aku hanya mencoba berusaha saja."


"Hanya untukmu usaha akan mengkhianati hasil, Seira. Sejauh apapun kau pergi, kau akan berakhir di dekatku lagi."


Aku berdecak dan memilih diam tidak menanggapi ucapannya lagi sekalipun Rey terus berusaha mengajakku berbicara sampai aku tidak sadar, aku ketiduran di pelukan pria ini.


***


Aku membuka mata perlahan sebab mendengar suara Rey yang tengah berbicara dengan seseorang.


Ketika aku menoleh, ternyata pria itu tengah berbincang di telpon, berdiri di balik jendela seraya memperhatikan ombak.


"Ya, aku akan datang bersama Seira. Aku harap acara itu sangat tertutup. Jika ada satu pun media di sana, aku akan pergi."


Itu kalimat yang aku dengar, entahlah dia berbicara dengan siapa aku pun tidak tahu. Yang jelas dia bilang akan datang bersamaku. Kemana dia akan membawaku pergi?


Dia kembali mengantungi ponselnya ke saku celana dan berbalik. Aku dapat melihat dia sedikit terkejut karena aku sudah bangun dan duduk di ranjang.


"Kau sudah bangun rupanya ..." ucapnya dengan tersenyum, berjalan menghampiriku.


"Kemana kau akan membawaku?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Pertunangan sepupuku."


"Apa itu di Indonesia?" tanyaku. Aku berharap acaranya di Indonesia dan aku berharap masih ada ayahku di Negara itu.


"Tidak, Seira. Pertunangan akan dilakukan nanti malam dan tidak jauh dari rumah Elena. Kita akan datang, bukankah kau bosan, hm?"


Aku terdiam, dia mengajakku ke pesta pertunangan, apa di sana banyak orang? Apa aku bisa meminta bantuan salah satu dari mereka? Mungkin ada orang tua Rey juga di pesta.


Ya, aku tidak boleh menyianyiakan ini semua. Walaupun kata Rey, usahaku akan mengkhianati hasil, tapi aku yakin usahaku akan membuahkan hasil yang baik.


Aku akan terbebas dari kurungan pria gila ini dan menjalani hidupku seperti biasa.


"Jika kau tidak ---"


"I want." (Aku mau)


Dia tersenyum tipis dengan menganggukan kepalanya.


"Ayahku, apa dia ada menghubungimu lagi?"


"Ada," kata Rey.

__ADS_1


Mataku melebar sempurna.. "Apa? Dia menghubungimu lagi untuk menanyakan kabarku, bukan?"


"Ya, aku bilang kau belum mau pulang. Itu saja."


"Apa kau tau, aku ahli waris Borbone group, aku seharusnya mempelajari banyak hal tentang bisnis. Ketika aku pulang nanti Ayah pasti marah besar karena berpikir aku terlalu banyak bermain-main."


"Seira, kau tidak suka bisnis. Jangan melakukan sesuatu yang tidak kau suka atau kau akan tertekan ketika mengerjakannya."


"Aku tidak punya pilihan lain. Aku anak pertama! Shiren tidak mungkin menggantikanku."


"Urusan perusahaan Ayahmu biar aku yang urus. Kau tidak perlu memikirkannya."


"Kau mengurusnya dengan cara apa? Mengambil alih perusahaan keluargaku, begitu?"


Dia tersenyum seraya mengelus kepala. "Tidak, Ms Borbone. Aku tidak mungkin mengambil perusahaan keluargamu. Aku hanya akan sering bertemu dengan Ayahmu dan membantu dia mengendalikan perusahaan dengan baik. Caranya menyerahkan perusahaan kepada anak yang belum siap menjadi pemimpin sangatlah salah. Apalagi kau bukan hanya belum siap tapi tidak mau menjadi pemimpin di perusahaan keluargamu."


Aku terdiam mendengar ucapan panjang lebar pria ini. Dia kembali menarik ujung bibirnya tersenyum seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Jika kau berpikir bisa kabur ketika aku pergi menemui Ayahmu maka kau salah, Seira. Kaburnya kau dari rumah Elena menjadi pelajaran berharga untukku bahwa mengurungmu itu sudah cara yang benar."


Aku diam, biarkan saja dia berbicara sesuka hatinya. Toh aku akan berusaha meminta tolong kepada siapapun di pesta nanti.


***


Aku mematut diriku di depan cermin. Sebelum berangkat ke pesta pertunangan, aku dirias terlebih dahulu oleh dua pelayan yang ada di kapal.


Aku terdiam melihat wajah dan tubuhku, kenapa sekarang wajahku kusam sekali dan juga pucat dengan lingkar hitam di bawah mata.


Aku bertemu Elena dan Nani, tapi mereka tidak berkata apa-apa soal wajahku. Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika wajahku sangat jelek sekarang, tubuhku juga terlihat lebih kurus.


Rey, si kepar*t itu selalu bilang aku cantik dan cantik tapi nyatanya aku sangat jelek.


Dua pelayan terus memoles wajahku dengan make up dan aku hanya bisa pasrah saja. Setidaknya wajah pucatku tertutupi.


Dua pelayan ini, si*lnya mereka tidak bisa diajak berbicara sebab mereka tidak mengerti bahasaku dan aku pun tidak mengerti bahasa mereka. Selama mereka merias wajahku, tidak ada dari mereka yang mengeluarkan ponsel. Aku yakin, Rey tidak mengizinkan mereka masuk ke kamarku dengan membawa ponsel.


Setelah cukup lama merias wajah, akhirnya selesai. Dan Rey pun masuk ke kamar, dia berdiri dengan senyuman tipis di wajahnya dan kedua tangan di masukan ke saku celana. Rey memakai jas rapih sementara aku memakai dress berwarna merah.


Dia memandangku dengan tatapan takjub.


"Kenapa? Aku terlihat cantik?"


"Tentu saja," sahut Rey berjalan lebih dekat ke arahku.


Bersambung


***

__ADS_1


__ADS_2