ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Bertemu Elena


__ADS_3

Aku menoleh, Rey berjalan ke arahku dan pelayan ini. Dia sudah memakai pakaian formal, jas hitam dan kemeja putih, lengkap dengan dasi merah di lehernya.


"Cepat sekali kau mandi."


"Aku takut kau kabur, Seira."


Aku berdecak mendengarnya. Kabur bagaimana, satu-satunya cara kabur dari sini yaitu meloncat dari kapal dan aku tidak mungkin melakukan itu. Aku masih sayang nyawaku yang berharga ini.


"Seira, dia Nani. Dia yang akan menemanimu ke rumah Elena. Ada pekerjaan yang harus aku urus, aku tidak bisa ikut bersamamu."


Aku melebarkan mata, terkejut bukan karena dia tidak bisa ikut. Tapi ucapannya seakan memberikan harapan besar kepadaku, kalau dia tidak ada di dekatku. Itu artinya aku bisa kabur.


Dia berjalan selangkah lebih dekat ke arahku dan berbisik. "Kau pasti mengerti kenapa bukan pria yang menjagamu ketika aku pergi. Aku tidak menyuruh Nani menjagamu, tapi jika kau berani kabur, aku akan mengambil nyawa Nani. Kau menjaga satu nyawa hari ini, Seira. Bersikap baiklah, mengerti?"


Aku sontak menelan salivaku susah payah. Harapanku pupus sudah, jadi Nani dijadikan taruhan agar aku tidak kabur? Padahal aku sudah senang sebab yang menjagaku bukan pria. Ah, aku bodoh. Seharusnya aku tahu Rey tidak mungkin membiarkan pria lain berada di dekatku atau berbicara denganku. Itu yang dia katakan.


Aku menatap wajah Nani yang menunduk semenjak kedatangan Rey. Nani, aku mengenggam nyawamu hari ini. Tapi sungguh, aku juga ingin pergi dari pria gila ini.


Setelah kapal berlabuh di dermaga, aku dan Rey berpisah. Rey pergi bersama beberapa anak buahnya, menaiki mobil mewah mengurus pekerjaannya.


Dan aku pun kini berada di dalam mobil bersama Nani dan satu pria yang menjadi supir di depan.


"Elena, is very pleased to meet you, Mam." (Nona Elena sangat senang akan bertemu denganmu, Mam)


Nani berkata dengan senyuman di wajahnya. Aku seakan bisa menebak jika Nani orang yang sangat baik dan lugu. Aku tidak mungkin membiarkan Nani celaka dengan sikap cerobohku jika aku kabur.


Aku hanya tersenyum seraya menganggukan kepala padahal dalam benakku, aku sedang berpikir keras bagaimana caranya aku pergi dari Rey bersama Nani.


Ya, jika aku bisa kabur maka aku harus kabur bersama Nani. Agar kami berdua sama-sama terlepas dari pria gila itu.


Sepanjang perjalanan Nani terus menceritakan sosok Elena. Bukan Rey yang dia ceritakan, sepertinya dia tidak berani jika harus menceritakan soal Rey.


"She is very nice and smart girl. the only daughter of Mr. Reagan." (Dia gadis yang baik dan pintar. Satu-satunya anak perempuan dari Tuan Reagan)


"Everyone love her so much." (Semua orang sangat menyayanginya)


"How about Edgar and Edward?" (Bagaimana dengan Edgar dan Edward)


Otakku yang tadi terus memikirkan cara kabur akhirnya tertarik oleh cerita Nani yang menceritakan soal sosok Elena. Aku jadi penasaran dengan Edgar dan Edward.

__ADS_1


"Edgar looks a lot like Mr Rey. discipline and hard worker while edwar he still likes to play around." (Edgar sangat mirip dengan Tuan Rey. Disiplin dan pekerja keras sedangkan Edwar masih suka bermain-main)


"They have their own house?" (Mereka punya rumah masing-masing)


"Yes, Mam. But they would get together when there was an important dinner from Mr. Reagan." (Iya, Mam. Tapi mereka akan berkumpul ketika ada makan malam penting dari Tuan Reagan)


Aku mengerti maksudnya, mereka berkumpul ketika ada sesuatu penting yang harus dibahas setelah makan malam. Seperti membahas pekerjaan mungkin.


Mobil memasuki kawasan elit mirip perumahan sampai dimana mobil yang aku naiki masuk ke gerbang berwarna abu-abu. Di tengah-tengah gerbang bertuliskan De Willson.


Mungkin sengaja, agar orang-orang tahu si pemilik rumah keturunan De Willson.


Rumahnya cukup besar dengan desain warna putih dari luar.


Aku keluar dari mobil bersama Nani dan tepat ketika kakiku menginjakkan aspal, beberapa orang dari rumah berlarian menyambutku, mereka berseragam bak seorang pelayan, ada sekitar empat lelaki dan empat perempuan yang menyambutku.


Sampai seorang perempuan tinggi berjalan keluar dengan dress ketat berwarna maroon. Aku akui, perempuan itu sangat cantik dengan bentuk tubuh sempurna, rambut panjang, kulit putih, hidung mancung bernetra coklat.


"Mam ..." Nani menganggukan kepalanya memintaku menghampiri perempuan itu yang kini berdiri di depan pelayan.


Perempuan itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dengan sedikit gugup, dia sepertinya perempuan hebat dan mandiri, auranya membuat nyaliku menciut seakan aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia.


Aku menaikan alisku, benar bukan? Aku tidak salah menebak, dia Elena. Adik Rey.


"A-aku ... Seira."


"Seira, senang bertemu denganmu. Tidak perlu menjelaskan apapun, aku sudah tau kau siapa. Kak Rey sudah menceritakan semuanya kepadaku. Ayo masuk."


Elena terlihat sangat ramah dan juga penampilannya sangat elegan. Percayalah, walaupun kami seumuran dia lebih terlihat dewasa dibanding aku.


"Kenapa diam? Ayo ..." dia menarik tanganku dan Nani mengikutiku dari belakang.


Dia membawaku masuk ke rumahnya yang sangat besar dan membawaku duduk di salah satu ruangan.


Nani ternyata tidak bergabung bersama kami, dia pergi entah kemana dan seorang pelayan wanita membawakan dua minuman lalu menyimpannya di meja.


Elena tersenyum ke arahku, lalu pandangannya jatuh pada gelang kupu-kupu di tanganku.


"Dari Kak Rey?"

__ADS_1


"Iya. Kenapa kau tau?"


"Gelang itu, dia sendiri yang membuatnya, dulu aku penasaran siapa yang akan memakainya. Ternyata kau."


Aku tersenyum samar. Apakah aku harus meminta bantuan kepada Elena? Tentang aku yang terkurung oleh Rey, apa dia bisa membantuku?


Aku ragu, sebab Tuan Reagan saja tidak membantu sama sekali.


"Kau kenapa? Apa kau kelelahan? Mau istirahat? Nani sedang menyiapkan kamar untukmu."


"Ah, tidak ..." aku menggeleng.


"A-aku ..." jantungku berdebar, takut tiba-tiba Rey datang ketika aku hendak berbicara kepada Elena.


Elena menaikan alisnya. "Ada apa? Bicaralah."


"Aku dikurung oleh Rey."


Elena terlihat terkejut, aku tidak tahu apa yang Rey katakan kepada dia. Tapi aku yakin Rey tidak mengatakan dia mengurungku.


Buktinya Elena terlihat tidak tahu apa-apa.


"Kau tidak tahu, bukan? Rey tidak mengatakannya kepadamu, iya kan?"


"A-aku ..."


"Aku benar-benar ingin pergi dari dia. Ayahmu tidak membantuku sama sekali, bisakah kau membantuku Elena?" suaraku terdengar memelas dan penuh harap.


"Ayahku tau soal ini?" tanya Elena.


Aku menganggukan kepala.


"Seira, kakakku hanya mengatakan bahwa kau akan datang ke rumahku. Dia bilang kau kekasihnya, aku benar-benar tidak menyangka kalau kau terkurung oleh Kak Rey."


"Aku tidak berbohong, Elena. Dan aku bukan kekasihnya. Aku bahkan hanya bertemu dengannya satu kali ketika meeting dan dia langsung mengurungku di rumahnya."


Elena terlihat kebingungan. Aku tidak mengerti kenapa dia tidak langsung membantuku. Malah terlihat sedang berpikir.


Apa Elena takut dengan Rey?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2