ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Di pesta pertunangan


__ADS_3

"Tentu saja kau bilang aku cantik sebab kemarin-kemarin aku terlihat sangat buruk rupa dan kau tidak mengatakannya kepadaku!" kesalku dengan amarah berapi-api.


"Seira, ada apa ..." dia hendak menyentuh wajahku dan aku segera menepisnya.


"Wajahku sangat jelek, semua orang melihatnya tapi tidak berani mengatakannya. Termasuk kau, Rey!"


"Kau tidak jelek, Seira ..." ucapnya lembut. "You are the most beautiful." (Kau sangat cantik)


"Bahkan tubuhku sangat kurus, tidakkah kau melihat itu!" hardikku.


"Kau kurus karena sulit makan."


"Aku kurus karena kau mengurungku di sini bedeb*h!"


"Seira, jangan memakiku. Kau tau, aku sangat benci itu!" desisnya dengan dahi mengkerut. Aku tahu dia mulai kesal karena aku menyebutnya bedeb*h tapi itu kata yang cocok untuk dia bukan.


"Dan kau tau, aku sangat benci penampilanku yang sekarang!"


Rey menghela nafas panjang berusaha menetralisir amarahnya.


"Penampilanmu bisa diubah, Seira. Kau bisa perawatan dan makan yang banyak. Tapi yang paling penting, kau harus mencoba menerima aku."


Aku mengerti, sebanyak apapun aku makan dan perawatan apapun yang aku lakukan, jika aku masih stress, semuanya akan sia-sia.


Tapi pemicu stressku setiap hari ada di depanku sekarang. Bagaimana aku bisa menghindarinya.


"We have to go right now, Seira ..." (kita harus pergi sekarang, Seira ...)


Ucapnya dengan tersenyum seraya mencubit pelan pipiku. Dia berusaha merayuku yang sedang marah, aku tau.


Aku berdecak dan berjalan melewati dia keluar dari kamar. Dia mengikutiku dari belakang.


Kami berlabuh di dermaga seperti biasa. Padahal dermaga ini belum lama aku tinggalkan saat Elena mengantarku naik kapal pesiar sekarang aku malah kembali ke dermaga ini lagi. Padahal yang aku harapkan aku sampai di pulau Elena.


Aku dan Rey masuk mobil. Sepanjang perjalanan dia terus mengenggam tanganku, mungkin dia takut aku benar-benar kabur. Aku hanya mengalihkan pandanganku ke luar jendela seraya terus berusaha melepaskan genggaman tangan Rey, walaupun itu sulit.


Ingin sekali aku cepat-cepat sampai di pesta dan melihat berapa banyak orang yang bisa aku mintai pertolongan agar bisa pergi jauh dari Rey.


Kita sampai di sebuah hotel mewah, aku dan Rey keluar dari mobil. Rey mengitari mobil hanya untuk mendapatkan tanganku. Dia benar-benar tidak mau jauh dariku. Aku hanya berdecak sebal.


Kami masuk ke hotel tersebut, aku menghela nafas, semoga harapanku terwujud, semoga aku bisa lepas dari Rey.


Saat masuk aku melihat banyak sekali orang, kebanyakan mereka asli Turki. Aku tidak bisa berbahasa Turki jadi aku harus pintar menemukan mereka yang bisa berbahasa english.


Mataku terhenti pada sosok yang aku kenali. Elena, dia memandangku dengan mengerutkan alisnya. Aku tahu apa yang sedang dia pikirkan, mungkin dia heran aku tiba-tiba ada di pesta ini.

__ADS_1


Elena, aku gagal ...


Aku berucap dalam hati.


"Merhaba."


"Merhaba."


Seorang pria menyapa Rey dan Rey membalas sapaan pria itu. Sementara aku masih berdiri di samping Rey dengan terus mengedarkan pandangan, meminta bantuan lagi kepada Elena rasanya tidak mungkin berhasil sebab aku sedikit curiga jika Elena yang mengatakan aku kabur kepada Rey sampai pria itu bisa menyusul ke tengah laut.


Aku akan mencoba meminta bantuan kepada yang lain tapi aku pun masih bisa mendengar percakapan mereka walaupun aku tidak mengerti apa yang tengah mereka bahas.


"Nasılsın?"


"Iyi," sahut Rey.


Aku mendengus kasar, tidak tahu mereka berbincang soal apa. Tapi tiba-tiba Rey menarik pinggangku membuatku kaget.


"Bu benim sevgim," ucap Rey yang aku sendiri tidak tahu artinya apa.


Aku menoleh ke arah Rey. "Apa yang kau katakan?"


"Aku sedang memperkenalkanmu sebagai cintaku," bisik Rey membuat mataku melebar sempurna.


Ketika aku hendak menerima uluran tangannya, Rey lebih dulu menjabat tangan pria itu.


"Mustafa, adını bilmene gerek yok!" (Mustafa, kau tidak perlu tau namanya!"


Entah apa lagi yang Rey katakan, tapi dari sorot matanya dia terlihat tidak suka ketika Mustafa hendak bersalaman denganku.


"Kak Rey ..."


Elena tiba-tiba datang membuat kami semua menoleh ke arahnya dan Mustafa memilih menjauh dari kami, mungkin karena tidak suka dengan sikap tidak ramah Rey.


"Kau mau membantunya kabur lagi, Elena?" sembur Rey tanpa mau basa-basi kepada Elena.


Elena menoleh ke arahku sejenak, mulutnya bergerak tapi tidak mengeluarkan suara. Sepertinya dia tengah gugup sebab tatapan intimidasi dari kakanya.


"A-aku ..."


"Itu ideku!"


Aku tidak mau Elena disalahkan. Dan sepertinya aku yang tadi curiga Elena membocorkan kepergianku kepada Rey sepertinya tebakanku salah. Elena terlihat takut kepada kakaknya sekarang.


"Aku minta maaf kak," ucap Elena.

__ADS_1


Rey menghela nafas. "Kau tau Kakak tidak suka dengan orang yang suka ikut campur. Kakak hanya memintamu menjadi teman mengobrol Seira. Itu saja!"


"Aku sudah bilang, itu ideku! Jangan salahkan Elena!" hardikku kesal. Kebiasaan Rey sulit sekali mencerna ucapanku dengan baik, masih saja dia menyalahkan Elena.


"Dan kau." Rey menatap ke arahku. "Jangan mengeluarkan ide yang mengancam nyawa orang lain!"


Elena terlihat menatap bergantian aku dan Rey.


"Mengancam siapa?" tanya Elena.


"Nani," sahutku pelan membuat Elena melebarkan mata.


"Kak, Nani itu bekerja denganku. Kakak jangan seenaknya melibatkan orang-orangku untuk dijadikan ancaman!"


"Nani bekerja denganmu tapi siapa yang membayar Nani?" tanya Rey.


"K-kakak ..." sahut Elena pelan membuat ujung bibir Rey tertarik ke atas.


Pantas saja saat di rumah Elena, Nani terlihat tidak canggung lagi.


Rey benar-benar tidak memberikan kesempatan untukku sedikit saja untuk menjauh darinya. Bahkan ketika aku berdalih ingin ke kamar mandi, Rey bilang akan mengantarku. Dia benar-benar manusia tidak waras.


Dan Elena, dia sudah asik bergabung dengan yang lain. Ketika aku terus menatapnya, Elena seakan tahu aku tengah meminta pertolongan dan dia malah menggelengkan kepala sebagai jawaban dia tidak mau membantuku lagi.


Dan lagi, dimana Tuan Reagan. Kenapa orang tua Rey tidak ada di sini. Aku masih ingat wajah Ibunya Rey, walaupun aku hanya melihat satu kali di majalah hari itu.


Tapi kedua orang tuanya tidak ada di sini. Mungkin mereka ada di Indonesia.


"You want to eat?" (Mau makan?)


Aku menggelengkan kepala.


"You like cake, Seira? Or salad?" (Kau suka kue, Seira? Atau salad?)


Aku menggeleng lagi dan Rey menawari makanan yang lain. Lagi-lagi aku menggelengkan kepala setiap Rey menawari makanan dan minuman di pesta.


Seandainya Rey menawari orang yang bisa membantuku kabur darinya, aku sudah menganggukan kepala dari tadi. Tapi itu mustahil.


"Bagaimana dengan kebab? Kau suka?"


"Aku bilang tidak mau! Berhentilah menawariku makanan. Makan sendiri saja kalau lapar!"


Rey hanya menghela nafas mendengar ocehanku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2