
"Tell me anything you want, Seira." (Katakan apapun yang kau inginkan, Seira)
"Aku sudah bilang aku tidak mau apa-apa!" jawabku.
Tiba-tiba aku melihat seorang pria menghampiri kami. Pria dengan stelan jas berwarna abu dan dasi hitam.
"Kak."
"Kau datang sendiri?" tanya Rey kepada pria itu. Aku hanya bergantian menatap mereka, siapa pria di depanku ini.
"Ya, aku tidak tau Edward ada dimana," ucapnya.
Tunggu, apa pria di depanku ini Edgar adik Rey? Aku menelisik dia dari atas sampai bawah, benar kata Nani, dia sangat mirip dengan Rey.
Bukan dari segi wajah, tapi dari penampilan yang terlihat sangat rapih bak seorang pemimpin. Dan wajah yang sama datarnya dengan Rey.
Rey berdecak. "Anak itu!"
"Seira, dia Edgar. Adikku," ucap Rey.
Aku mengulurkan tanganku hendak berkenalan tapi Rey langsung menurunkan tanganku. "Tidak perlu berkenalan, aku sudah mengatakan dia Edgar adikku. Dan kau ..." Rey menatap Edgar.
"Kau tidak tertarik berkenalan dengan kakak iparmu, bukan?"
"Tidak," sahut Edgar.
"Bagus," ucap Rey.
"Bisa bicara berdua?" ucap Edgar seraya menatap sejenak ke arahku seakan memintaku memberi ruang untuk mereka berdua.
Ah, tentu saja aku mau menjauh dari Rey. Ini kesempatan emas, aku akan berterimakasih kepada Edgar nanti.
"Bicaralah, aku mau berkeliling."
Ketika aku hendak pergi, Rey mencengkram tanganku membuatku menoleh.
"Jangan berani pergi dariku lagi, Seira!" ucapannya penuh ancaman membuat bulu kudukku merinding seketika.
Aku menganggukan kepala sebagai jawaban. Tapi tentu aku akan melanggar perintah Rey yang menyuruhku tidak pergi.
__ADS_1
Aku pura-pura tengah memilih minuman dan Rey berbicara bersama Edgar tapi matanya sesekali menoleh ke arahku hanya untuk memastikan aku masih ada di pesta.
Orang-orang tengah berjoged ketika ada musik dj memenuhi seisi ruangan. Sepertinya orang yang bertunangan di pesta ini suka sekali musik jedag-jedug.
Padahal musik dj sangat menganggu di indra pendengaranku. Kenapa mereka bisa suka?
Dengan memegang segelas minuman aku diam-diam menoleh ke arah Rey hanya untuk memastikan dia masih memperhatikanku atau tidak. Dan ternyata dia tengah fokus mengobrol dengan Edgar.
Aku mundur selangkah demi selangkah dengan mata yang fokus menatap punggung Rey. Jika dia tiba-tiba menoleh, aku bisa langsung bergeming di tempat.
Kini, aku masuk ke kerumunan mereka yang tengah berjoged. Masih aku awasi Rey dari kejauhan, jantungku benar-benar berdebar ketakutan. Tapi aku tidak boleh menyerah.
Aku langsung lari dan keluar dari area pesta. Dengan nafas terengah-engah aku berlari di lorong hotel untuk kabur dari pria tidak waras itu.
Kakiku melangkah begitu cepat sampai aku berhasil keluar dari hotel. Aku berlari sepanjang jalan seorang diri, jalanan kenapa begitu sepi malam ini, aku jadi tidak bisa meminta bantuan.
Padahal aku harap bisa bertemu siapa saja di jalan untuk aku meminjam ponsel dan menelpon Ayahku.
Aku masih berlari dengan heels tinggi yang aku kenakan ini. Sesekali aku menoleh ke belakang, jalanan begitu gelap. G*la, kenapa bisa hotel semewah itu berada di kawasan yang sepi seperti ini.
"Akhh!" Aku tersandung dan jatuh.
Kakiku rasanya sakit, aku memegang mata kakiku yang perih dan melepas heels yang aku kenakan. Tidak lama kemudian aku melihat memar di kakiku, aku berdecak sebal. Malang sekali nasibku ini.
Mataku mendapati toko pakaian tak jauh dari tempatku berdiri, mataku berbinar senang. Akhirnya ada seseorang yang bisa aku mintai bantuan.
Aku segera berjalan ke toko itu tapi tiba-tiba lampu menyorot wajahku entah darimana, aku sontak menutupi wajah dengan tangan karena silau dari lampu itu.
Dan ternyata lampu itu berasal dari mobil yang aku kenal. Ya, itu mobil Rey. Mataku terbelalak seketika, dengan kakiku yang sakit aku berusaha berlari menahan rasa perih di kakiku ini.
Jantungku seakan berada diujung tanduk menuju kematian, aku tidak bisa membayangkan semarah apa dia nanti.
Aku memutuskan masuk ke toko pakaian itu dan berteriak.
"Excusme ... there are people here? Hallo ..." (Permisi ... Apa ada orang di sini) teriakku seraya terus mencari penjaga toko. Aku sampai membuka dua ruangan ganti untuk menemukan si penjaga toko.
Dan ah si*lnya, tidak ada siapa-siapa di toko ini. Pikiranku sudah kacau membayangkan kemarahan Rey dan otakku seakan menyuruhku untuk berganti pakaian.
Aku mengambil pakaian kasual, topi, kacamata dan masker lalu masuk ke ruang ganti, dress merah sial*n ini tidak boleh diketahui oleh Rey.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku keluar dari ruang ganti dengan pakaian kasual berwarna biru, topi berwarna senada, kacamata hitam, masker dan juga syal di leher.
Penampilanku benar-benar aneh. Aku pura-pura menjadi pelanggan yang tengah memilih pakaian.
Sampai aku mendengar decitan pintu terbuka. Aku seakan menahan nafasku sesaat sebab berpikir yang masuk Rey tapi ternyata seorang perempuan.
"Hallo Ms .. can i help you?" ( Hallo Nona ... ada yang bisa saya bantu)
Aku sontak terdiam, astaga ... ini yang aku cari-cari, seseorang yang bisa bahasa english. Dia pasti bisa membantuku.
Tapi ketika aku berbalik sontak aku terkejut sebab bersamaan dengan itu Rey masuk ke toko ini. Aku spontan kembali membalikan badan dan pura-pura kembali memilih pakaian.
"Can i help you, Sir?" tanya perempuan itu kepada Rey.
"I am looking for a woman wearing a red dress to enter this shop." (Saya mencari seorang perempuan yang memakai dress merah masuk ke toko ini)
Jangan tanya seberapa gemetar tanganku sekarang mendengar suara Rey.
"Wait a minute." (Tunggu sebentar)
Perempuan yang aku yakini si penjaga toko ini mencoba mengecek ke ruang ganti untuk menemukan perempuan yang dimaksud Rey. Yang tak lain adalah aku.
"Sorry, Sir. the woman you are looking for is not here." (Maaf Tuan, perempuan yang anda cari tidak ada di sini)
"May i ask this women?" (Boleh bertanya kepada perempuan ini)
Aku tahu, Rey pasti menunjuk ke arahku. Mataku membulat sempurna di balik kacamata, apalagi ketika aku mendengar suara langkah kaki perlahan mendekat ke arahku.
Jantungku berpacu dengan cepat, tanganku gemetar, aku takut bukan main sampai aku kembali mendengar suara decitan pintu yang terbuka.
"Kak Rey ..."
Rey menoleh ke arah suara itu. Suara pria yang baru masuk.
"Kakak sedang apa di sini? Ini toko perempuan."
"Kau sendiri kenapa masuk ke sini?"
Aku diam-diam menoleh ke belakang dan astaga kenapa tiba-tiba ada Edgar. Tapi tunggu, mengapa Edgar memakai celana robek dan jaket jeans? Bukankah tadi dia ada di pesta dengan pakaian rapih bahkan memakai dasi.
__ADS_1
Apa itu ... Edward?
Bersambung