
Sesampainya di Turki, Rey dan adik-adiknya berpisah, ini membuat aku sedih sebab saat di pesawat aku tidak punya waktu mengobrol bersama Edward untuk membujuk anak itu memberikan nomor Ibunya.
Bahkan ketika aku hendak ke kamar mandi saja, Rey mengikutiku dan menjaga di depan. Ini benar-benar menyebalkan, dia tidak memberiku ruang sama sekali untuk mendekati Edward.
Dan si menyebalkan Edward malah asik mondar-mandir dan makan. Sesekali membahas soal Jessica yang hampir membuat macan mengamuk dalam diri Rey sebab kesal dengan celotehan Edward.
Selama di dalam mobil menuju rumah Rey, aku menekuk wajahku, tidak bersemangat sama sekali.
Aku pikir ketika pulang ke Indonesia aku tidak berakhir bersama Rey lagi, nyatanya aku masih terkurung di dekat pria gila ini.
"Selama aku bekerja, kau tidak perlu ikut ke kantor, Seira. Diamlah di rumah, mengerti?"
Aku berdecak. "Pusat De Willson group di Indonesia kenapa jauh-jauh ke sini."
"Aku sudah bilang, aku sedang membesarkan nama perusahaan keluargamu di sini."
"Sungguh, perusahaan keluargaku tidak berada diambang kebangkrutan. Jika kau tidak membantu pun, kami tidak akan miskin!"
"Apa salahnya membantu perusahaan mertua?" ucap Rey menatap ke arahku dengan senyuman menyebalkan di wajahnya.
Aku menoleh sejenak, menatapnya kesal kemudian kembali memalingkan mataku ke luar jendela.
Bukan hanya hidupku yang berusaha dikuasai oleh Rey. Tapi ponsel baru milikku juga sudah dikuasai pria itu, aku tidak bisa bermain sosial media sama sekali.
Ponsel ini hanya boleh digunakan ketika aku hendak menelpon atau mengirim pesan kepada Rey saja. Rey menyadap ponsel di tanganku ini, sudah pasti jika aku menelpon Nyonya Diandra menggunakan ponsel ini maka akan ketahuan Rey.
Maka jalan satu-satunya adalah Edward.
Sesampainya di mansion, aku melangkahkah kakiku dengan kesal, menaiki anak tangga dan segera masuk ke kamar.
Rey menggedor pintu sebab aku mengunci pintu kamar.
"Seira, ini kamarku." Dia berteriak dan aku mengacuhkan teriakannya dan menyumpal kedua telinga menggunakan bantal sambil berbaring di ranjang.
Bodo amat, aku tidak akan membukakan pintu.
"Seira."
"Seira, buka pintunya!"
Teriakan dia masih aku acuhkan. Hingga aku mendengar suara pintu terbuka, aku pun menoleh dan terbelalak ternyata dia bisa masuk dengan senyuman meledek di wajahnya.
"Tidak mungkin aku tidak punya kunci cadangan, iya kan?" Dia berjalan ke arahku.
Aku berdecak. "Lalu kenapa kau menggedor pintu begitu keras."
"Hanya ingin tau, berapa lama anak anjing ini merajuk." Kini dia duduk di sampingku.
Aku pun bangun dan duduk menghadap ke arahnya. "Aku tidak suka dikurung seperti ini. Jika aku asistenmu, berarti aku harus ikut bersamamu ke kantor."
Setidaknya juka di kantor aku masih bisa memikirkan cara bagaimana bertemu dengan Edward diam-diam.
"Katamu tidak suka bisnis, hm?" Dia mengacak-ngacak rambutku dan aku pun menepis tangannya dengan kesal tapi dia malah terkekeh seolah kekesalanku terlihat lelucon baginya.
"Aku serius, aku tidak suka dirumah terus menerus. Biarkan aku ikut bersamamu ke kantor."
__ADS_1
"Kau tidak mau jauh dariku, hm?" Dia menggodaku dengan senyuman di wajahnya.
Untuk membuat dia membiarkan aku ikut ke kantor aku pun berbohong dengan menganggukan kepala. Padahal sebenarnya siapa juga yang suka dekat dengan dia.
Dia kembali terkekeh. "I know you're lying, Seira." (Aku tau kau berbohong, Seira) "Kau tidak mungkin mau terus berada di dekatku."
"Kalau kau tau, tidak perlu berbicara! Aku hanya bosan di sini terus!"
"Baiklah. Kau boleh ikut ke kantor bersamaku, setidaknya untuk membuatmu terbiasa berada di dekatku setiap hari."
Dia mencubit gemas pipiku dan tanganku selalu sigap menepis tangan Rey.
Dia beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi. Aku hanya mendengus kasar, mengeluarkan ponsel di saku celana.
Apa yang bisa aku lakukan dari ponsel yang disadap ini? Menghubungi siapapun selalu dalam pengawasan Rey.
Aku terdiam sejenak dan akhirnya aku ingat tentang AFC group. Kematian Eza yang menurutku janggal, aku mencoba mencari artikel tentang Eza dan ada beberapa artikel yang muncul dengan judul yang berbeda-beda.
Reza Afriansyah, ahli waris AFC group meninggal karena tragedi kecelakaan.
Menguak kematian ahli waris AFC group, Reza Afriansyah.
Kematian Reza Afriansyah yang meninggalkan tanda tanya besar. Benarkah pembunuhan berencana?
Kematian ahli waris AFC group ada hubungannya dengan pembisnis terkenal De Willson group. Benarkah De Willson group penyebabnya?
Aku terbelalak membaca judul artikel ke empat. Kenapa nama De Willson group harus dibawa-bawa segala.
Karena penasaran aku pun membuka artikel itu dan aku membacanya.
Mobil yang ditumpangi Reza bersama sang Ayah masuk ke jurang setelah ditabrak oleh truk hijau yang melaju kencang dari belakang. Sang Ayah, Handrik Handugo kritis selama tujuh hari di Rumah Sakit X.
Beberapa orang mengatakan mereka melihat anak buah De Willson berkeliaran di tempat kejadian satu jam sebelum kecelakaan itu terjadi.
Banyak orang yang menduga-duga jika kematian Reza ada hubungannya dengan keluarga mafia besar De Willson. Meskipun demikian, tidak ada yang berani bertanya kepada klan De Willson mengenai kematian Reza Afriansyah yang turut meninggalkan tanda tanya besar tersebut dan De Willson sendiri tidak membuka suara atau mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga AFC group terutama Reyhan Louis De Willson sebagai ahli waris saat ini.
Tanganku gemetar membaca isi artikel tersebut, aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi Ayah bilang Eza meninggal setelah meeting bersama De Willson yang gagal hari itu.
Dan benarkah anak buah De Willson berkeliaran di tempat kejadian? Tapi untuk apa?
Pintu kamar mandi terbuka membuatku terlonjak kaget, apalagi saat aku melihat Rey keluar dari kamar mandi.
Jika benar ini ada hubungannya dengan De Willson. Apakag Rey pelakunya? Tapi kenapa?
"Seira."
Aku membisu menatap Rey yang memanggilku. Rasanya sulit dipercaya tapi sulit ditepis juga jika pria itu tidak melakukannya secara Rey bukan pria biasa. Keturunan De Willson tidak ada yang biasa.
"Seira."
Dia berjalan ke arahku dan aku masih menatap Rey dengan wajah sedikit takut.
"Seira."
Aku langsung mengerjapkan mata ketika Rey berdiri di dekatku.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Rey terdengar khawatir.
"T-tidak," sahutku pelan seraya memalingkan wajah ke arah lain.
Dia duduk di dekatku dan entah mengapa setelah membaca artikel itu aku justru tidak tenang ketika Rey duduk di dekatku. Aku merasa takut, jujur saja.
"Katakan, ada apa Seira? Kau terlihat tidak baik-baik saja."
"Tidak, aku tidak apa-apa."
Mata Rey yang semula memperhatikan wajahku kini berpindah menatap ponsel di tanganku. Dia langsung mengambil ponselku begitu saja, aku hendak mengambilnya kembali tapi Rey mengangkat tangannya menjauhkan ponsel itu.
"Kembalikan!" aku berseru dengan terus berusaha mengambil ponsel itu tapi Rey berdiri dari duduknya, dia tahu aku pendek jadi dia berdiri agar aku tidak berhasil mengambil ponsel itu.
Aku berjinjit dan Rey menengadah membaca artikel yang aku buka kemudian dia berdecih dan memberikan ponsel itu kepadaku.
"Tidak ada gunanya kau membaca artikel itu, Seira."
Aku menatapnya, kenapa dia berbicara seperti itu padahal Eza kecelakaan sepulang dari meeting hari itu.
"Kenapa tidak ada gunanya? Dia sama pembisnis sepertimu."
"Kami berbeda sangat jauh, jangan bandingkan aku dengan dia."
"Dia mati, aku baru tau dari Ayah dan Shiren."
"Lalu?" Dia menaikan alisnya. "Jika dia mati urusannya denganmu apa? Kau bahkan tidak dekat dengan dia."
"Memang tidak ada urusannya denganku. Tapi di artikel itu bilang--"
"Anak buahku ada dimana-mana, Seira. Anak buahku ada di bandara, Rumah Sakit, tempat makan, mall, jika di tempat-tempat seperti itu ada anak buahku, apakah harus selalu dikaitkan dengan keluargaku jika ada kematian terjadi di sana?"
Aku terdiam, ucapan Rey membungkam mulutku. Benar kata dia, De Willson anak buahnya ada dimana-mana, aku pun tidak tahu alasan sebenarnya mengapa anak buah De Willson tersebar dimana-mana.
Mungkin hanya untuk melindungi klan mafia tersebut saja.
"Sudah, pergi mandi," titah Rey.
***
Keesokan harinya, ini menjadi hari pertama aku pergi ke kantor bersama Rey.
Rey sudah menyiapkan baju khusus sekretaris untukku dengan rok span yang panjangnya di bawah lutut padahal outfit sekretaris biasanya selalu sexy. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untukku.
Aku menyisir rambutku seraya mematut diri di depan cermin dan Rey berada di belakangku, dia tengah mengancingi kemejanya seraya terus memandangiku.
Kami seperti pasangan suami istri yang elegan, bukan? Ah tapi itu hanya anggan-anggan saja, aku bahkan tidak bahagia sama sekali walaupun hanya membayangkannya saja.
Setelah selesai kami pun turun ke bawah untuk sarapan.
"Tidak ada tugas khusus untukmu selain terus berada di sampingku, Seira." Rey berseru seraya memotong makanan miliknya.
Aku hanya menjawab dengan deheman dan sibuk dengan makananku sendiri.
Bersambung
__ADS_1