ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Bertemu Edward


__ADS_3

"A-aku ... aku mau menjemput pacarku."


Edward tiba-tiba berjalan ke arahku dan spontan aku kembali memalingkan wajahku pura-pura memilih pakaian lagi.


Tapi Edward malah menarik tanganku membuatku terkejut.


"Apa ada pakaian yang kau suka di sini?" tanya Edward kepadaku seraya merangkulku.


Aneh sekali, padahal kita baru bertemu tapi Edward sudah so akrab kepadaku dan seakan dia tahu aku sedang butuh bantuan.


"Hei, kenapa kau diam?" tanya Edward kembali dengan senyuman di wajahnya.


Di balik kacamata yang aku kenakan aku dapat melihat Rey tengah menatapku dengan tatapan mengintimidasi.


"Kekasihmu memakai masker. Apa dia terkena virus mematikan?" tanya Rey.


Edward berdecak. "Jangan seperti itu kak. Kekasihku ini pemalu."


Aku mendengar Rey berdecih seraya tersenyum miring.


"Ayo sayang, kalau tidak ada kita cari di toko yang lain."


Edward mengajakku berjalan dan baru saja dua langkah Rey tiba-tiba menarik kacamataku membuat aku dan Edwar menghentikan langkah dengan terkejut.


"Seira. Aku kenal matamu," ucap Rey dengan senyuman mematikan di wajahnya.


Aku menatap pria itu dengan mata membulat sempurna. Bagaimana ini? Apa aku akan terkurung lagi.


"Kak!" Edward menepis tangan Rey yang hendak menarik tanganku.


Rey terlihat marah dengan sikap Edward.


"Bersikaplah seperti Edgar, Edward! Jangan menyentuh sesuatu yang bukan milikmu!"


"Memangnya dia milikmu?" tanya Edward seraya menatapku.


Rey seakan tidak mau menanggapi adiknya, dia menarik tanganku dengan kasar hingga aku masuk ke pelukan pria itu.


"Kak, jangan bersikap kasar kepada perempuan!"


Rey tidak menanggapi lagi ucapan Edward. Dia malah menarikku keluar dari toko dan mengacuhkan teriakan adiknya.


Aku dipaksa masuk ke dalam mobil dan Rey menutup pintu mobil dengan sangat keras membuatku terperanjat kaget.


Dia mengitari mobil dan masuk ke balik kemudi. Tubuhku seakan menciut ketika dia menatapku tajam.

__ADS_1


"Akh!" Aku meringis ketika dia menarik kasar masker di wajahku.


"Aku sangat mengenal matamu, Seira!" desisnya. "Beraninya kau kabur lagi! Haruskah aku mengurungmu di ruangan yang sangat kecil!"


"Lakukan! Lakukan jika itu bisa membuatmu puas!" kesalku.


Lihat, terkadang aku ketakutan dan terkadang aku berani melawan pria itu.


Rey menganggukan kepala samar dengan leher yang masih menegang marah.


"Aku tidak suka kau menantangku seperti itu!"


Kemudian dia menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat dadaku naik karena ketakutan, aku seakan menahan nafas ketika aku duduk tapi seperti melayang dan aku hanya bisa mencengkram kuat seatbelt yang aku kenakan.


G*la, si kepar*t ini seperti mengajakku mati.


Lima belas menit perjalanan, aku sampai di rumah mewah dengan nuansa gold.


Rey menarik tanganku keluar dari mobil. Dia berjalan cepat seraya mengenggam tanganku dan aku harus menyeimbangi langkah kaki pria itu dengan satu kakiku yang terkilir tadi.


"Pelan-pelan ..." lirihku sebab merasakan sakit di kaki.


Rey mengacuhkan ucapanku.


"Kakiku sakit, aku jatuh tadi."


Sepertinya pria itu baru sadar kalau dari tadi aku tidak memakai alas kaki sebab dia terlalu marah.


Rey spontan berjongkok dan kemudian menghela nafas melihat kakiku yang memar.


"Ceroboh!" hardiknya.


"Apa yang kau lakukan, turunkan aku!" jeritku ketika dia tiba-tiba menggendongku masuk ke rumah itu.


Rey berjalan melewati para pelayan yang menyambut kami di teras depan. Dia langsung menaiki anak tangga dan membawaku ke sebuah kamar yang luas, aku yakin ini kamar Rey.


Aku pikir dia akan menurunkanku di ranjang tapi ternyata tidak. Di kamar itu ada ruangan yang lain, ruangan yang sangat sempit dan pengap dengan satu ranjang kecil.


Dia menurunkanku di sana, sepertinya ancaman Rey yang hendak mengurungku di ruangan kecil tidak main-main.


Rey keluar sejenak hanya untuk mengambil kotak p3k. Aku duduk dengan memeluk lututku.


"Tidak perlu diobati," ucapku ketika dia duduk dengan memegang kotak p3k.


Dia diam dan sibuk mengeluarkan obat di kotak itu.

__ADS_1


"Aku bilang tidak perlu diobati!" Aku menepis tangannya yang hendak meneteskan cairan desinfektan untuk membersihkan lukaku.


"Diam. Bisa?"


"Kau mau mengurungku di sini, bukan? Kalau kau mau menghukumku, tidak perlu bersikap baik dengan mengobati lukaku! Aku tidak butuh itu! Lagi pula lukaku ini tidak seberapa dengan aku yang terkurung terus bersamamu!"


"Lebih sakit terkurung bersamamu dibanding luka di kakiku ini! Tidakkah kau mengerti itu Tuan Rey!"


Dia menghela nafas kasar dengan kilatan amarah di wajahnya.


"Mulai sekarang, kau terkurung sendirian. Tidak bersamaku lagi. Ini hukuman untukmu!"


Dia pergi dari ruangan kecil ini dan mengunciku dari luar. Aku terbelalak, aku segera turun dari ranjang, menggedor pintu dengan keras.


"Buka! Buka! Bedeb*h kau mau aku mati di ruangan kecil dan pengap ini!"


Aku menangis seraya terus menggedor pintu hingga suaraku melemah, tenagaku habis dan aku pun terduduk di lantai.


Ruangan ini sangat kecil, saking kecilnya ujung ranjang bersentuhan langsung dengan tembok dan juga ruangan ini gelap tanpa jendela, jika siang mungkin ruangan ini tetap gelap karena sinar matahari tidak bisa masuk.


Hanya ada satu lampu tidur kecil yang membuat ruangan temaram. Aku tidak mengerti, mengapa Rey sejahat ini.


***


Dua hari berlalu, aku benar-benar tidak keluar dari ruangan kecil ini. Pelayan wanita beberapa kali masuk hanya untuk mengantarkan makanan dan mereka tidak berbicara sama sekali bahkan ketika aku bertanya, mereka hanya diam.


Aku tahu, pasti Rey yang menyuruh mereka untuk diam.


Dan percaya atau tidak, sudah dua hari berlalu aku tidak melihat Rey. Aku seakan depresi berat, yang aku lakukan hanya melamun di ruangan ini, menatap kosong tembok di depanku.


Aku hanya makan sedikit makanan yang dibawa pelayan. Mataku selama dua hari terus sembab karena menangis, aku tidak tahu apa Rey mendengar tangisanku atau tidak.


Aku tidak percaya Rey sekejam ini, aku seperti tahanan yang diasingkan sendirian.


Apa mempertahankan hidup hanya karena ingin bekerja di perusahaan penerbit itu salah? Jika terus menderita seperti ini, apa mati jauh lebih baik?


Aku bimbang, aku ingin kehidupan yang normal tapi nyatanya aku seperti hidup di neraka sekarang.


Aku menoleh menatap makanan yang ada di lantai. Dengan lemah aku mengambil gelas dan melempar gelas itu ke tembok. Seperti biasa, beling dari pecahan gelas itu aku ambil.


Ini mungkin yang ketiga kalinya aku berusaha mengakhiri hidup setelah dua kali aku memposisikan diri dalam bahaya.


Yang pertama ketika aku menyayat lenganku sebagai bentuk ancaman agar aku bisa bebas, yang kedua ketika aku meloncat dari kapal pesiar.


Dan sekarang, aku kembali melakukannya lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2