
"You are beautiful when you are afraid, Seira ..." (Kau cantik ketika ketakutan, Seira."
Dia tersenyum dengan mata cabulnya. Aku mencengkram seprai dengan kuat, terus berusaha menjauh sampai Rey memegang pahaku. Aku melebarkan mata sempurna. Apa dia akan berhasil melecehkanku? Apa dia akan melanggar ucapannya yang tidak akan menyentuhku tanpa seizinku.
"Dont afraid, i will not kill you, Seira ..." (Jangan takut, aku tidak akan membunuhmu, Seira ...)
Dia mengelus pahaku memberikan rangsangan-rangsangan kecil di pahaku. Aku tidak bisa menahannya lagi, aku menendang perutnya sekuat yang aku bisa, dia memekik kesakitan dan aku mengambil kesempatan itu untuk meloncat dari ranjang.
Aku segera mengambil lampu tidur yang terbuat dari kaca kemudian melemparnya ke lantai. Kepingan beling itu aku ambil untuk dijadikan senjata.
Aku mengulurkan tanganku yang memegang beling itu kepada Rey. "Berani kau mendekat, aku tidak segan-segan untuk menusukmu!"
Dia yang sekarang sudah berdiri tegak hanya tertawa mendengar ucapanku yang mungkin hanya terdengar lelucon di telinganya. Mungkin beling ini tidak ada apa-apanya dengan senjata yang dia punya, aku yakin dia punya pistol.
"Jangan anggap ucapanku ini lelucon sial*n!"
"Tidak, Seira. Jelas ini bukan lelucon darimu, ini kebodohanmu Seira. Cobalah bunuh aku kalau kau bisa!"
Aku terdiam, aku melupakan bagaimana hebatnya klan De Willson dalam bela diri. Mungkin sebelum aku menusuk lehernya dia lebih dulu menangkap tanganku.
Ukuran tubuh kami juga terlampau jauh, aku tidak yakin tanganku bisa menyentuh lehernya. Mungkin aku harus sedikit berjinjit dan itu sudah pasti membuang-buang waktu.
"Kenapa diam?" tanyanya dengan senyuman di wajahnya. Senyuman meledek yang dia tujukan kepadaku.
Aku menatap bola matanya sejenak seraya terus berpikir. Oke, jika aku tidak bisa membunuhnya, aku bisa melukai tanganku sendiri agar dia melepaskanku.
Aku menghela nafas dengan jantung yang memburu. Apa aku bisa melakukan ini? Bagaimana jika aku mati dan akhirnya mimpiku bekerja di perusahaan penerbit juga ikut mati, aku hanya ingin mengancam dia bukan ingin bunuh diri.
Aku mengangkat tanganku yang lain dan sepertinya Rey menyadari hal itu.
"What the f*ck are u doing, Seira." (Apa yang kau lakukan Seira)
"Buang beling itu, Seira!"
Aku menatap matanya sejenak. Ketika dia berlari ke arahku, aku langsung menyayat tanganku.
__ADS_1
Sreeet.
****
Dua hari kemudian, setelah aku menyayat tanganku sendiri dan berakhir dengan pingsan, aku akhirnya masih selamat.
Tentu saja Rey yang menyelamatkanku. Aku tidak tahu jika dia ternyata seorang Dokter yang hanya aktif menjadi pengusaha saja.
Pasien mana yang mau berobat kepadanya? Aku pikir sebelum diperiksa mereka sudah lebih dulu takut. Kecuali ada wanita gila yang terpesona dengan wajah tampannya.
Rey mengatakan aku pingsan karena terlalu panik, tentu saja aku panik karena takut mati. Dia juga tahu kalau aku tidak menginginkan kematian, aku hanya ingin lepas darinya.
Tapi nyatanya, dia masih mengurungku. Dia tidak membebaskanku sekalipun aku sudah melukai tanganku.
Dan sekarang, aku sudah tidak ada di rumah Rey lagi. Aku berada di sebuah kamar yang ada di kapal pesiar.
Aku berada di laut Marmara, Turki. Setelah aku pingsan, Rey langsung membawaku terbang ke Turki.
Kita tidak dalam perjalanan menuju manapun. Rey bilang, dia hanya ingin membawaku jalan-jalan di pantai. Kapal pesiar terus melaju tanpa arah tujuan dan sudah dua hari berlalu aku bahkan tidak minat keluar kapal hanya untuk menyaksikan deburan ombak, aku hanya diam d kamar dengan frustasi.
Aku mendengar pintu kamar terbuka, walaupun aku tidak menoleh, aku tahu yang datang pasti Rey sebab tidak ada satu pun pelayan atau anak buah yang boleh masuk ke kamarku.
"Keluarlah, jangan di kamar terus." Dia mengelus lenganku.
Aku menghela nafas. "Tidakkah kau berpikir aku seperti mayat hidup sekarang," ucapku yang tadi melihat wajahku di cermin. Pucat dan terlihat lesu. Tidak seperti biasanya.
"Tidak, Seira. Kau sangat cantik."
"Wajahku berubah jelek seperti ini karena aku stress. Tidakkah kau berpikir seperti itu?" Aku masih berbicara tanpa mau menatap wajahnya.
"Wajahmu cantik dan akan sangat cantik jika kau mencoba menerimaku dalam hidupmu, Seira."
"Baiklah, aku menerimamu."
Rey terkekeh. "Aku bisa membedakan mana kejujuran dan kebohongan, Seira."
__ADS_1
"Kalau begitu, kenapa aku tidak bisa membedakan yang mana kejujuran dan kebohongan ketika kau mengatakan kau sangat menginginkanku."
Dia mengelus kepalaku yang membuatku merinding karena elusannya.
"Itu karena kau sangat membenciku, jadi semua kejujuranku pun, kau tidak bisa percaya. Aku memang menginginkanmu, Seira. Sangat menginginkanmu."
"Dan kau tidak memberitahu alasan kenapa menginginkanku dan kenapa mengurungku."
Aku menepis tangannya di kepalaku.
"Bangunlah, aku akan menceritakan sesuatu. Itu pun jika kau ingin mendengarnya, Seira."
Aku tidak bangun sebab tidak mau menuruti perintahnya. Untuk apa aku menjadi penurut kepadanya.
"Baiklah, jika kau tidak mau mendengarkan. Aku akan menyiapkan makan siang."
Dia berdiri dari duduknya dan aku pun bangun karena penasaran. Dia terkekeh kecil dan kembali duduk.
Kami duduk saling berhadapan sekarang. Dia menatapku tapi aku membuang muka ke arah lain.
"Apa yang akan kau ceritakan. Cepatlah!"
"Aku punya dua Ibu, Seira. Yang pertama Mommy Levia, dia meninggal karena dibunuh oleh sahabatnya sendiri dengan cara mobilnya ditabrak truk dari belakang. Menurutku yang paling salah adalah Ayahku, dia tidak menjaga Ibuku dengan baik karena membiarkannya menyetir mobil sendirian. Dan kedua Mommy Dee. Dia sangat menyayangiku, tapi sebelum bertemu dengan Ayahku, dia hampir diperkosa seseorang. Sama sepertimu."
"Lalu hubungannya denganku apa?" tanyaku.
"Itu menunjukan dunia luar sangat bahaya, Seira. Aku tidak mau kau jauh dariku dan aku berharap kau tidak terlalu percaya kepada siapapun, selain aku."
Aku tertawa jengkel mendengarnya. "Apa aku sedang mendengarkan trauma dari seorang anak karena kematian Ibunya? Jadi itu alasan kau mengurungku di sini? Kau takut aku di lukai orang lain atau bahkan di perkosa pria lain, sedangkan di sinilah aku dilukai dan hampir diperkosa. Tidakkah kau mengerti itu bajing*n!" Kesalku dengan amarah berapi-api.
Rey menghela nafas. "Aku selalu tidak suka ketika kau memakiku, Seira."
"Aku lebih tidak suka ketika kau tidak mengerti ucapanku! Tolong cerna ucapanku dengan baik. Kau lah yang melukai dan hampir memperkosaku sekarang!"
"Seira, jika aku memperkosamu, aku akan bertanggung jawab dengan menikahimu. Tapi belum tentu dengan pria lain."
__ADS_1
Sakit, kepalaku sangat sakit mendengar ucapannya. Aku menghela nafas, memejamkan mata seraya memegang kepalaku. Aku benar-benar stress menghadapi Rey. Aku takut gila jika terlalu lama seperti ini.
Bersambung