ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Rey yang terus mengoceh


__ADS_3

"Lalu mereka bertiga dimana?"


"Mereka tinggal di sini. Elena menjadi Dokter muda di salah satu Rumah Sakit sementara Edgar mengurus cabang perusahaan di sini dan Edward ..."


Dia terdiam sejenak.


"Dia tidak tau jadi apa. Hanya sering bernyanyi di cafe dan bermain-main di klub. Dia tidak punya masa depan."


"Bagaimana bisa kau mengatakan dia tidak punya masa depan?"


"Dia satu-satunya yang sulit diatur, Seira. Dia terlalu bebas."


Dia kembali makan setelah mengatakan itu, membuatku penasaran dengan ketiga adiknya apalagi dia bilang, mereka seumuran denganku.


Selesai makan. Aku kembali memperhatikan lautan bersamanya.


"Tidakkah kau mau mencoba mengenalku. Aku tidak sejahat yang kau pikirkan, Seira."


Aku menoleh. "Hampir memperkosaku, kau bilang itu tidak jahat?"


"Asal kau tidak memakiku, itu tidak akan terjadi. Satu lagi, aku tidak suka kau dekat dengan pria selain aku."


"Bisakah kau menjelaskan hubungan kita seperti apa sampai kau berani mengaturku?"


"Hubungan kita akan berakhir dengan pernikahan. Itu saja yang harus kau tau."


"Bagaimana jika tidak berakhir di pernikahan?"


"Tidak ada kata tidak untukku, Seira!"


"Kau terlalu percaya diri!" Aku memutar bola mataku malas.


Dia yang semula berada di sampingku kini berpindah di belakangku. Memelukku dari belakang, aku sempat terkejut tapi dia menahan tubuhku yang hendak memberontak, hingga aku terkurung dipelukannya sekarang.


"Aku hanya memelukmu, kenapa begitu terkejut?"


"Enyahlah! Kita bukan sepasang kekasih!"


"Tapi kau sudah menjadi milikku."


"Kau mengakui itu sepihak."


"Aku yakin kau akan merasakan apa yang aku rasakan nanti, Seira."


"Memangnya kau merasakan apa?"


"Menginginkanmu seutuhnya."


"Bagaimana caranya membuatku menginginkanmu sementara berada di dekatmu saja aku seakan tidak bisa bernafas dengan baik."


"Kau akan terbiasa berada di dekatku, Seira. Itu yang akan membuatmu menginginkanku."


"Itu tidak akan terjadi."


"Lihat saja nanti."

__ADS_1


Dia meletakan dagunya di pundak kecilku seraya terus memelukku erat. Anggap saja aku sedang dipeluk beruang besar, itu yang aku pikirkan.


Entah berapa lama kami saling diam memperhatikan ombak dengan posisi dia yang terus memelukku. Aku hanya terus berpikir, akankah suatu saat nanti aku pergi darinya atau terkurung bersamanya selamanya.


Sementara dia, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.


"Aku sangat bosan, setiap hari aku hanya melihat wajahmu dan para pelayan yang tidak mengajakku berbicara."


"Kau tidak pantas berbicara dengan pelayan, Seira. Berbicaralah denganku sebanyak mungkin."


"Aku bilang aku sangat bosan melihat wajahmu."


"Kau ingin melihat wajah siapa?"


"Adikmu. Aku ingin bertemu dengan mereka, setidaknya mereka bisa jadi teman mengobrol."


"Aku teman mengobrol untukmu, Seira. Jangan cari yang lain."


"Astaga ... aku tidak tahu harus berkata apa lagi!" Aku menghela nafas frustasi.


"Baiklah, kau boleh bertemu dengan mereka. Kita akan pergi ke rumah Elena."


Dia mengenggam tanganku dan membawaku kembali masuk ke dalam kapal.


"Aku akan tidur bersamamu mulai malam ini."


Aku spontan melepas genggam tangannya. Dia yang berada di depanku pun berbalik menatapku.


"Kenapa?" tanya Rey.


"Aku tidak mau!"


Aku takut terjadi sesuatu. Ranjang adalah hal sensitif untuk kami berdua, bisa saja dia khilaf.


"Seira ---"


"Aku bilang aku tidak mau, tidur saja di kamarmu sendiri, jangan ganggu aku."


Dia menarik ujung bibirnya tersenyum seraya menyipitkan mata. "Jangan bilang kau takut dengan godaanku, Seira."


Ya, godaan dia adalah sering mengelus pahaku, membuat rangsangan-rangsangan kecil yang menggelikan.


"A-aku --- tidak." Aku dengan cepat menggelengkan kepala. Dia tidak boleh menebak apa yang tengah aku pikirkan sekarang.


Dia terkekeh kecil lalu mengacak-ngacak rambutku gemas. "Tidak apa, Seira. Kalau tergoda jangan ditahan, aku siap melayanimu sampai pagi!"


"Tutup mulutmu, Tuan! Tidur satu ranjang denganmu saja aku tidak mau!"


Dengan kesal aku berjalan melewati dia, naik ke ranjang. Dan dia ternyata dia ikut menyusulku, aku sudah tahu dia memang tidak mudah mengalah.


Dia merebahkan dirinya di sampingku padahal aku sudah menolaknya.


Aku yang semula tidur membelakanginya pun berbalik.


"Bukankah aku sudah menolakmu?"

__ADS_1


"Ini kapalku, Seira. Terserah aku mau tidur dimana," sahut Rey yang tidur dengan kedua tangan di bawah kepalanya.


Aku berdecak, memang benar ucapannya. Ini kapal dia.


Aku kembali tidur membelakangi dia, setelah sebelumnya menaruh guling di tengah antara kami berdua.


"Seira, jika kau tidak bisa tidur, ajaklah aku berbicara. Aku suka suaramu."


Aku diam, sengaja membiarkan dia mengoceh sendirian. Malas sekali aku menanggapinya.


"Aku tau kau belum tidur, Seira."


Aku tetap diam.


"Seira, dari banyaknya warna, warna apa yang kau suka?"


"Hitam," sahutku yang tiba-tiba menjawab entah kenapa aku tertarik dengan pertanyaannya.


"Kenapa?"


"Karena setelah bertemu denganmu duniaku menjadi hitam tanpa warna. Dan aku harus terbiasa dengan warna hitam itu."


"Padahal aku hendak memberimu banyak warna, Seira. Seperti pelangi. Tapi kau sendiri yang menolaknya."


"Kalau begitu, biarkan aku merasakan warna itu dengan cara membebaskanku dari sini. Jangan mengurungku."


"Besok, kau boleh bertemu dengan adikku. Edgar dan Elena. Tapi jangan terlalu dekat dengan Edwar, dia terlalu bebas."


Mendengar perkataannya, justru aku sangat penasaran dengan sosok Edward. Seperti apa dia, terlalu bebas bagaimana.


Aku hanya menjawab dengan deheman saja sebab tidak mau berdebat dengannya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu," ucapku tanpa menoleh ke belakang.


"Tanyakan apapun."


"Apa kau pintar berakting. Maksudku, aku pernah beberapa kali melihatmu di tv, kau tampak dingin dan irit bicara."


"Aku tidak suka suara mereka. Menganggu telingaku, jadi aku menjawab seadanya saja."


"Kau benar-benar aneh, Tuan."


"Jangan memanggilku Tuan. Itu terlalu formal, panggil aku nama saja atau kau boleh memanggilku sayang."


"Cih! Tidak s*di!"


"Darimana kau belajar kata-kata kasar itu, Seira!"


"Spontan saja otakku menyuruhku mengeluarkan kata-kata kasar saat bersamamu. Mungkin karena aku sudah menyetting otakku untuk membencimu."


"Jangan berbicara kasar lagi, kau sangat tidak cocok saat mengatakannya."


"Its up to me!" (Terserah aku saja)


Aku mendengar dia menghela nafas. Bersamanya aku selalu berdebat, bayangkan saja jika aku hidup bersama dia selamanya. Mungkin mulutku akan berbusa setiap hari.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu, aku masih tidur membelakanginya, aku hanya melamun. Dari tadi dia berusaha mengajakku berbicara, bertanya tentang apa aku suka binatang atau tidak, siapa saja teman dekatku, makanan dan minuman apa yang aku suka. Sungguh, aku tidak mau menjawab sama sekali, biarkan saja dia mengoceh sampai kelelahan. Aku sama sekali tidak berminat menanggapinya.


Bersambung


__ADS_2