ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Meloncat dari kapal


__ADS_3

"Begini, Seira ... aku bukannya tidak mau ---"


"Tolong, Elena. Aku mohon ..." lirihku.


Elena kembali terdiam menatapku. Dari raut wajahnya aku tahu dia benar-benar kebingungan. Tuan Reagan dan Elena, apa mereka takut kepada Rey? Oke, jika Elena takut aku masih bisa memaklumi karena dia seorang adik tapi bagaimana dengan Tuan Reagan? Bukankah dia seharusnya membantuku.


"Ayahku saja tidak membantumu dan kau meminta bantuan kepadaku." Dia berdecak.


"Tapi aku akan mencobanya. Semoga berhasil," lanjut Elena.


Kata semoga berhasil yang dia utarakan terdengar seperti keraguan yang terucap. Apa Elena seragu itu membantuku? Apa sesusah itu menjauhkan aku dari Rey?


"Apa Kak Rey bilang sesuatu. Kemana dia pergi?"


"Dia bilang ada pekerjaan," jawabku.


"Baguslah, mungkin dia akan datang kemari malam hari. Jadi kau harus pergi dari sini sekarang juga. Dengar, aku punya pulau terpencil--"


"Tidak, aku ingin ke rumah orang tuaku, bukan ke pulau milikmu!"


"Orang tuamu aku yakin tidak di sini, kau tidak bisa pergi ke bandara, Seira. Satu-satunya cara naiklah kapal pesiar milikku dan pergi ke pulau, diam di sana sampai keadaan aman."


"Tapi sampai kapan, Elena? Sampai kapan aku di pulau itu?"


"Ketika Kak Rey putus asa mencarimu di Turki. Dia akan mengirim semua anak buahnya ke tempat yang lain, kau hanya perlu menunggu waktu sampai bandara tidak dijaga oleh anak buah Kak Rey. Itu saja."


Aku terdiam, mencoba berpikir apa aku harus mengikuti saran Elena. Apa sesusah ini kabur dari Rey? Sampai-sampai bandara saja dijaga oleh anak buah Rey. Berkuasa sekali De Willson itu. Menyebalkan.


"Bagaimana? Kau mau mengikuti saranku?" tanya Elena.


Aku akhirnya menganggukan kepala. Dan aku baru ingat sesuatu. Kenapa aku tidak meminjam ponsel Elena untuk menelpon Ayahku. Ah bodohnya aku.


"Elena, apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku bisa menelpon Ayahku dan meminta dia datang ke sini untuk menjemputku. Bukankah itu ide yang bagus? Dengan begitu aku tidak perlu pergi ke pulaumu."


"Dan apa yang kau yakin itu akan berhasil, Seira?" ucapannya terdengar seperti dia mengatakan ideku sangat buruk.


"Dengar, Kakakku mungkin sudah menyadap ponselku, dia bisa tahu aku menghubungi siapa. Sebelum Ayahmu datang kemari, aku yakin kau sudah dibawa pergi oleh Kak Rey. Aku akan pergi ke dermaga tanpa membawa ponsel, jadi dia tidak akan tahu."


Aku menghela nafas panjang mendengarnya.


"Dan Seira ... Aku tidak janji ini akan berhasil. Kakakku punya banyak cara, dia cukup pintar."

__ADS_1


Aku hanya bisa menganggukan kepala dengan pasrah. Dengan segala kemungkinan yang terjadi aku harus siap sekarang. Dan Nani, aku yakin Nani akan baik-baik saja karena yang membantuku pergi Elena.


***


Kini, aku berada di dalam mobil, bersama Elena. Dia mengendarai mobilnya sangat cepat, rasa takut dalam diriku bukan karena kecepatan mobil. Tapi aku takut jika di jalan bertemu dengan mobil Rey.


Elena terlihat fokus menatap jalanan di depannya tanpa mengurangi kecepatan laju mobil. Harus kuakui, caranya mengendarai mobil sangat hebat, dia seorang perempuan dan seorang Dokter tapi cocok juga menjadi pembalap.


Aku menoleh menatap Elena kemudian menghela nafas, semoga aku baik-baik saja sampai ke tujuan. Semoga Rey tidak dapat menemukanku.


Semesta sedang baik kepadakku, perjalanan kami lancar sampai ke dermaga. Tidak ada Rey, tidak ada anak buahnya.


"Semoga kau selamat sampai pulau. Seira ..." Elena mengenggam tanganku dengan tersenyum.


Aku mengangguk. "Terimakasih Elena, aku tidak akan melupakan kebaikanmu."


"Pergilah sebelum ada yang melihat kita."


Aku meloncat masuk ke kapal pesiar yang akan membawaku menuju pulau. Aku melambaikan tangan pada Elena ketika kapal ini berjalan.


Elena terlihat tersenyum membalas lambaian tanganku. Aku tidak kenal orang-orang di kapal ini, aku tidak tahu apa mereka mengerti bahasaku atau tidak.


Aku mencoba masuk ke dalam dan mereka menganggukan kepala dengan tersenyum ke arahku, mereka menyapaku dengan baik tapi tidak berbicara kepadaku.


"Hallo ..." sapaku pada seorang perempuan yang tengah sibuk di dapur.


Dia menoleh. "Hallo."


"Can you speak english?"


Dia menggelengkan kepala membuatku menghembuskan nafas kecewa. Dari wajahnya seharusnya aku tahu, dia ini asli Turki.


Aku pergi dari sana dengan perasaan kecewa. Aku memilih memperhatikan ombak saja di luar.


Cukup lama aku memperhatikan ombak sendirian sampai dimana aku melihat kapal lain berlayar ke arahku.


Aku menyipitkan mataku mencoba melihat siapa yang berdiri di kapal itu dan seketika aku melebarkan mata.


Rey.


Pria itu berdiri di kapal tersebut dengan tatapan tajam dan menusuk. Darimana dia tahu aku hendak pergi. Apa Elena memberitahu?

__ADS_1


Ah, aku segera masuk dengan tergesa-gesa, berlari menghampiri nakhoda kapal, aku harus meminta dia untuk menggerakan kapalnya lebih cepat agar menjauh dari kapal Rey.


Si*lnya, aku terlalu percaya diri. Nakhoda itu tentu saja tidak mengikuti ucapanku sebab aku bukan Tuan nya. Dia malah menghentikan kapal.


"Tuan, aku mohon ... aku harus pergi dari Tuan gilamu itu!"


Nakhoda itu beranjak dari duduknya pergi meninggalkanku begitu saja seolah permintaanku barusan hanyalah angin lalu di telinganya. Aku tahu, dia pasti tidak mengerti bahasaku.


Aku menggaruk kepalaku frustasi, bagaimana ini, aku melihat ke jendela dan kapal Rey semakin mendekat.


Dengan segala kebingungan di kepalaku, aku memilih kembali berlari keluar.


Rey masih menatapku dengan wajah datar dan sorot mata yang tajam. Dia tidak berkata apa-apa. Di belakang Rey ada dua pria yang sama tingginya dengan dia, aku tebak, mereka pasti anak buahnya.


Otakku berpikir sangat keras, aku memang tidak punya jalan lain selain meloncat dari kapal. Tapi, bukankah itu akan berakhir sia-sia sebab Rey pasti menyelamatkanku.


Tapi sungguh, jika dibandingkan meloncat dari kapal ke lautan, berada di dekat Rey jauh lebih menyeramkan. Dia pasti marah besar mengetahui aku pergi dari rumah Elena.


"Seira!" teriak Rey ketika dia melihat aku tengah bersiap untuk meloncat.


Aku menoleh sejenak dan aku melihat wajahnya merah padam dengan amarah.


Dia berteriak. "Dont do that, Seira!" (Jangan lakukan itu, Seira!)


Ombak sangat menyeramkan dipenglihatanku, aku tidak tahu apa di bawah sana ada hiu atau tidak. Sekali lagi aku bilang, Rey lebih menyeramkan dibanding hiu atau spesies lainnya di bawah sana.


Aku menghela nafas panjang untuk mengumpulkan keberanian.


"Seira!"


Rey kembali berteriak, bahkan aku mendengar dia meminta Nakhoda untuk melajukan kapal lebih cepat.


Aku memejamkan mata sejenak sampai akhirnya.


BYUR.


"SEIRA!"


Aku panik, takut dan tidak bisa bernafas. Parahnya lagi, aku tidak bisa berenang. Dadaku sakit, aku berusaha naik ke permukaan tapi sangat amat sulit.


Kakiku tiba-tiba keram, air masuk ke mulutku ketika aku sudah tidak bisa menahan nafas lagi. Aku pasrah dan menyerah pada takdirku.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2