ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Selamat dari bunuh d*ri


__ADS_3

Percobaan bunuh diri yang ketiga ini, aku seakan kehilangan semangat hidup. Perset*n dengan bekerja di perusahaan penerbit, impianku tidak akan terwujud, aku sulit pergi dari Rey si pria jahat ini. Lebih baik aku pergi dari dunia ini.


Aku mengarahkan beling itu ke pergelangan tangan. Tanganku memegang beling dengan gemetar, aku menangis dengan perasaan sesak di dada. Ayah, Mama, Shiren, maafkan aku. Aku harus memilih jalan yang salah.


Sreeett.


***


"Aku mohon ... aku mohon biarkan aku mati ..." lirihku menangis seraya menarik-narik kerah baju Rey.


Aku berada di Rumah Sakit sekarang, Rey lagi-lagi berhasil menyelamatkanku, bahkan Rey mendonorkan darahnya untukku ketika aku hampir kehabisan darah.


"Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja. Kenapa terus menyiksaku seperti ini." suaraku gemetar dengan tangis yang tiada henti.


"Hentikan, Seira." Dia memegang tanganku. "Aku sudah mengatakan selama kau berada di dekatku, kematian tidak akan menghampirimu."


"Aku terkurung selama dua hari di ruangan sempit itu. Kau tidak menemuiku selama dua hari, aku tidak berada di dekatmu tapi kenapa aku masih hidup ... hiks."


"Seira, aku terus memperhatikanmu walaupun kau tidak melihatku!"


Aku menangis dan menangis. Si bedeb*h ini hatinya benar-benar keras.


"Tidakkah kau berpikir aku akan gila suatu saat nanti ... hiks."


"Itu tidak akan terjadi," ucap Rey.


Dia memegang kedua pundakku. "Berjanjilah untuk tidak kabur lagi agar aku tidak menghukummu. Aku takut menyakitimu karena kemarahanku Seira, jadi aku mengurungmu di ruangan itu."


"Aku minta maaf ..."


Dia memelukku, aku bukan tidak mau memberontak tapi aku benar-benar merasa lemah sekarang. Tenagaku seakan terkuras habis sampai mendorong tubuh Rey untuk menjauh saja aku tidak bisa.


Mungkin dia merasa bersalah kepadaku hingga dia menawari aku untuk bisa bertemu dengan Ayahku. Aku benar-benar tidak percaya dengan tawarannya.


Tapi tentu saja itu semua tidak jauh dari ancaman. Rey mengancamku jika aku sampai memberitahu semua yang terjadi kepada Ayahku maka nyawa keluargaku yang akan menjadi ancamannya.


Meminta bantuan kepada keluargaku tidak bisa sebab Rey mengancam, sekarang aku berpikir meminta bantuan kepada Ibunya Rey alias Nyonya Diandra.


Tapi bagaimana caranya?


Aku terdiam memikirkan itu sampai aku ingat Edward. Apa Edward bisa membantuku agar aku bisa berbicara dengan Nyonya Diandra.


Tapi dimana Edward?

__ADS_1


"Kau bisa bertemu Ayahmu setelah keluar dari sini," ucap Rey.


Aku hanya mengangguk samar. Karena otakku berputar untuk memikirkan cara bagaimana aku bisa bertemu dengan Edward kembali setelah pertemuan pertama kami di toko pakaian hari itu.


"Sekarang, makanlah dulu." Dia mengelus anak rambut yang menghalangi wajahku.


Aku mengangguk lagi membuat dia tersenyum. Rey mengambil makanan di meja lalu menyuapiku makan.


Aku menjadi gadis yang baik agar dia tidak curiga jika di kepalaku masih ada rencana untuk kabur selanjutnya.


Dia menatap perban di pergelangan tanganku. "Aku menyesal, Seira ..." ucapnya.


"Menyesal untuk apa?" tanyaku.


"Karena membuatmu menyakiti dirimu sendiri. Seandainya aku tidak mengurungmu di ruangan itu, mungkin kau tidak akan berakhir di sini."


"Tidak apa-apa," sahutku.


Jangan berpikir aku berubah menjadi baik, aku hanya sedang berusaha agar rencana kaburku tidak tercium oleh Rey lagi.


Aku akan pura-pura menjadi gadis penurut dan baik saja sekarang. Dan semoga harapanku bisa bertemu atau berbincang di telpon bersama Nyonya Diandra bisa terwujud.


"Berjanjilah menjadi gadis yang baik, Seira. Jangan suka melawanku, mengerti?" Dia membelai pipiku.


***


Keluar dari Rumah Sakit, Rey hendak membawaku kembali ke rumahnya. Kami sedang berada di perjalanan dan aku hanya memalingkan wajahku ke luar jendela.


"Aku bosan, bisa jalan-jalan sebentar?"


"Mau kemana?" Rey balik bertanya.


"Aku ingin membeli pakaian, terlalu banyak pakaian terbuka di rumahmu."


"Oke, kita ke mall."


"Tidak, aku ingin ke toko pakaian malam itu. Ada pakaian yang aku suka di sana, semoga belum terjual habis."


Rey menganggukan kepala dan mobilpun melaju menuju toko pakaian tempat dimana aku bertemu dengan Edward.


Edward terlihat sosok yang ramah dibandingkan Edgar, dia sepertinya pria yang mudah bergaul dengan siapapun. Setelah meminta bantuan Elena untuk aku kabur dan gagal, aku akan mencoba meminta bantuan kepada Edward kali ini.


Kami sampai di toko tersebut, aku dan Rey keluar dari mobil. Sebelum masuk aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, siapa tahu ada Edward di sekitar sini. Tapi ternyata tidak ada sama sekali.

__ADS_1


"Ayo masuk, Seira."


Aku mengangguk dan masuk ke toko bersama Rey. Saat di toko aku pura-pura memilih baju yang aku inginkan padahal sebenarnya aku tengah mengulur waktu berharap tiba-tiba Edward masuk ke toko ini.


Sesekali aku melihat ke arah jendela tapi tidak ada siapapun di luar hingga aku terperanjat kaget dengan suara Rey yang berbicara di belakangku.


"Toko pakaian ini sangat kecil, bagaimana kalau kita pergi ke mall saja, Seira."


Aku berbalik. "Tidak, aku mau di sini saja."


"Lalu pakaian apa yang ingin kau beli. Dari tadi kau terus memilih."


"A-aku belum menemukan pakaian yang aku suka malam itu."


"Tanyakan kepada dia." Rey menunjuk perempuan yang berdiri di kasir. "Mungkin stoknya sudah habis, Seira."


Aku mengangguk dan berjalan menghampiri perempuan di kasir lalu menanyakan pakaian yang tentunya tidak ada di toko ini. Lagi pula Rey tidak mengikutiku, dia kembali duduk.


"Sorry,miss. The clothes you want are not in this shop." (Maaf, Nona. Pakaian yang anda inginkan tidak ada di toko ini."


Aku mengangguk, ketika aku berbalik, mataku masih saja melihat ke arah luar berharap ada Edward di sana.


Kakiku berjalan menghampiri Rey. "Can we go to Elena's house?" (Bisakah kita pergi ke rumah Elena)


Rey berdiri dengan tersenyum. "Kau mau meminta tolong dia untuk kabur lagi, hm?" Dia mencubit pipiku.


"Tidak. Aku bilang kita yang pergi ke rumah Elena, bukan aku saja. Kalau datang untuk meminta tolong kepada Elena, kenapa aku harus mengajakmu?"


Rey terdiam sejenak, bola matanya bergerak, menatapku penuh intimidasi. Sepertinya dia curiga kepadaku.


"Tidak. Aku tidak mau," sahut Rey.


"Ayolah ... aku ingin menanyakan soal fashion kepada Elena. Pakaian yang aku suka sudah terjual habis di sini, aku ingin membeli pakaian baru tapi aku tidak tahu model seperti apa yang cocok untukku. Sepertinya Elena bisa membantu soal itu, karena fashion dia sangat bagus."


Saking inginnya aku ke rumah Elena aku sampai memegang tangan Rey sebagai bentuk permohonan dengan wajah memelas.


Rey menatapku lalu beralih menatap tanganku yang mengenggam tangannya. Sepertinya dia tengah heran sebab tiba-tiba aku mau mengenggam tangannya.


"Baiklah," ucapnya menganggukan kepala membuatku tersenyum senang.


Keluar dari toko, aku masih saja mengedarkan pandangan mencari pria punk rock itu dan hasilnya tetap nihil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2