
"A-aku sedang berlibur bersama teman-temanku. Tolong jangan marah ya." Aku berbicara dengan nada hati-hati seolah-olah aku benat-benar takut ayahku marah. Padahal aku tengah berbohong.
"Lalu mengapa kau menggunakan ponsel Tuan Rey dan kenapa kau tidak menghubungiku sebelum pergi. Kau membuat Dad malu Seira, karena kepergianmu hari itu kita semua gagal meeting bersama De Willson group."
Aku ingin sekali mengatakan yang sejujurnya. Tapi aku tidak bisa, klan De Willson terlalu kejam dan berkuasa. Aku takut keluargaku dalam bahaya.
"Aku minta maaf, Dad. Aku tidak berani izin kepadamu karena takut kau marah. Dan Tuan Rey, dia berhasil menemukan dimana tempat aku berlibur bersama teman-temanku. Dia memaksaku untuk menelponmu."
Saat aku mengatakan itu, aku dapat melihat Rey mengulas senyum di wajahnya. Mungkin dia senang sebab aku pintar mencari alasan.
"Ah, syukurlah. Tuan Rey memang sangat baik dan hebat. Dia bisa menemukanmu. Katakan terimakasih Dad kepadanya, Seira."
"Iya, Dad."
Berterimakasih kepada pria yang mengurungku? Astaga gila sekali.
Rey mengambil ponselnya tiba-tiba. "Tenanglah, putrimu dalam pengawasan anak buahku. Dia akan aman berlibur bersama teman-temannya. Mereka ingin pergi ke pulau milikku, jadi selama beberapa hari kau tidak bisa menghubunginya karena tidak akan ada sinyal di sana."
"Astaga dia sangat memalukan. Sudah merepotkan anda dan sekarang ingin pergi ke pulau milik anda, Tuan. Aku benar-benar minta maaf, aku harus mendidiknya lebih keras lagi."
Aku benar-benar kesal mendengar ucapan Rey. Dan lebih kesal mendengar Ayahku meminta maaf padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak perlu terlalu keras, seperti ini sudah cukup," ucap Rey sembari menatapku dengan senyuman meledeknya.
"Tuan, aku berjanji akan mengganti rugi jika ada fasilitas yang dirusak oleh putriku."
"Santai saja. Aku ada urusan lain, Seira dan teman-temannya sudah harus berangkat. Semoga istrimu lekas sembuh."
"Iya Tuan. Terimakasih."
Panggilan pun berakhir.
"Kau senang?" ucapnya seraya mengacak-ngacak rambutku.
"Tidak seharusnya kau bilang aku pergi ke pulau dan tidak ada sinyal di sana. Sepertinya kau memang tidak suka aku berkomunikasi dengan keluargaku sendiri."
"Bukan begitu, Seira. Aku butuh waktu lebih banyak denganmu untuk kita saling mengenal satu sama lain. Jadi, kau harus lebih banyak berbicara denganku dibanding orang lain. Termasuk keluargamu sendiri."
"Apa berbicara denganmu itu sangat penting?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku belum tau banyak tentang dirimu. Tell me about your life, your hobby, your favorite food and all of you, Seira." (Ceritakan soal hidupmu, hobbymu, makanan favoritmu dan semuanya tentangmu, Seira)
"Aku tidak mau berbicara banyak denganmu, Tuan!"
"Bertengkar denganmu seperti ini sangat menyenangkan sebenarnya, Seira. Because i like your voice." (Karena aku suka suaramu)
Aku menelusupkan jari-jemariku ke dalam rambut, menekan kepalaku yang rasanya hendak meledak karena mendengar ucapan Rey. Aku menghela nafas dengan menahan amarah. Dia suka mendengar suaraku dan aku justru benci suaranya.
"Aku ingin istirahat sekarang."
"Bagaimana kau tidak seperti mayat hidup. Kau terlalu banyak tidur tapi sulit untuk makan, Seira."
Berapa kali? Berapa kali aku harus menjelaskan kepada dia jika dia lah yang membuatku seperti ini. Aku sering tidur karena tidak mau melihat wajahnya.
"Aku akan makan nanti. Sekarang, aku ingin istirahat," ucapku dengan menahan gejolak amarah yang terasa sesak di dada.
"Baiklah. Aku akan membangunkanmu satu jam lagi, kau hanya boleh tidur satu jam. Jangan terlalu lama."
Aku hanya mengangguk karena tidak mau berdebat lagi. Dia pun akhirnya keluar dari kamar.
Aku merebahkan diriku di ranjang kembali, satu-satunya tempat yang sangat nyaman jika Rey tidak ada di dekatku.
Aku tidak berbicara omong kosong, aku benar-benar tidur. Waktu satu jam seperti lima menit, Rey sudah kembali ke kamar dan membangunkanku dia memaksaku untuk makan.
Aku bangun, tapi tidak langsung pergi ke meja makan. Aku berada di luar kapal, memperhatikan ombak dan membiarkan rambutku bergerak tertiup angin, sedikit membungkuk dengan memegang pagar kapal. Aku hanya diam dengan sesekali memakan apel merah di tanganku.
"Seira, makanan sudah jadi."
Rey menghampiriku. Aku hanya menoleh sejenak ke belakang.
"Tunggu sampai apelku habis."
"Oke."
Dia berada di sampingku, memperhatikan wajahku dari samping sementara aku tetap mengalihkan pandanganku ke lautan.
"Seira ..."
Aku menoleh menatap wajahnya ketika dia memanggilku.
__ADS_1
"Kau tau, Borbone itu nama anak anjing."
Aku sontak berhenti mengunyah dengan mata membulat. Apa dia sedang menghina namaku? Dan berani sekali dia menyamakan namaku dengan anak anjing.
"Apa maksudmu? Kau menghinaku!"
Rey tertawa. "Aku serius Seira. Ketika aku membaca nama perusahaan keluargamu, aku teringat anak anjing."
Aku berdecak, memberikan apel di tanganku kepadanya dengan kasar lalu masuk ke dalam. Dia mengikuti langkahku dan aku masih bisa mendengar tawanya.
Satu hal yang membuat kapal besar ini terasa sepi. Aku tidak pernah berbicara dengan siapapun di kapal ini selain Rey. Aku tidak berbicara dengan anak buahnya, aku tidak berbicara dengan pelayannya, aku juga tidak berbicara dengan koki yang memasak di kapal ini.
Bukan hanya karena Rey melarangku berbicara dengan yang lain saja alasannya. Tapi mereka semua tidak pandai berbahasa english, mereka berbahasa mandarin, Spanyol dan Prancis.
Aku jelas tidak mengerti bahasa mereka. Jadi ketika berjalan melewati mereka, kami tidak pernah bertegur sapa selain saling melempar senyuman.
Kini, aku duduk di meja makan bersama Rey. Seorang koki tengah menuangkan coklat ke salah satu cake.
"¿Es esto suficiente, señor?" (Apa ini sudah cukup, Tuan?)
Rey mengangkat lengannya membuat koki itu membungkukan badan sejenak lalu pergi meninggalkan kami berdua.
"Apa yang dia katakan?" tanyaku.
"Hanya bertanya coklatnya cukup atau tidak."
"Oh."
Aku mulai makan makananku. Begitupula dengan Rey. Kami hening dengan makanan masing-masing tapi sesekali aku menatap ke arahnya.
Aku jadi penasaran, apa Rey punya adik atau tidak.
"Apa kau punya adik?" tanyaku.
Dia menatapku sejenak, mengambil segelas air, meneguknya sedikit dan kembali menyimpannya lalu mengelap bibirnya dengan tissue.
"Punya. Aku punya tiga adik. Edgar, Edward dan Elena. Mereka seumuran denganmu."
Aku membulatkan mata tak percaya. Aku malah berpikir dia anak semata wayang. Ternyata adiknya cukup banyak. Aku penasaran, bagaimana ketiga adiknya menghadapi kakak gila seperti dia.
__ADS_1
Bersambung