ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Mencoba meminta tolong kpd Tuan Reagan


__ADS_3

"Seira ---"


Aku menepis tangannya yang berusaha menyentuhku. Aku menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian. "Keluar, aku tidak mau melihatmu!"


"Seira ---"


"Aku bilang keluar!" bentakku. "Atau aku akan menyakiti diriku sendiri lagi! Aku butuh waktu sendiri ..."


Dia menatapku sejenak kemudian beranjak pergi dan akhirnya menghilang dari kamar.


Aku hanya memeluk lututku sendiri seraya terisak. Dia benar-benar jahat, membawaku masuk ke dalam trauma masa kecilnya. Dia trauma karena kejadian yang menimpa kedua Ibunya dan dia mengurungku karena alasan itu.


Aku tidak tahu berapa lama aku terisak sampai kembali tidur. Aktivitasku ketika bersama dia hanyalah diam, bertengkar dan tidur. Itulah yang menyebabkan wajahku seperti mayat hidup dan dia seperti tidak perduli. Dia akan terus mengatakan aku cantik. Bualannya sangat menjijikan di telingaku.


Kali ini, aku mencium aroma mint yang sangat kuat. Aku juga merasakan seseorang tengah memelukku, perlahan aku membuka mata dan hal pertama yang aku dapati adalah dada bidang seorang pria.


Aku terkejut dan segera menjauh. Ternyata aroma mint itu berasal dari tubuh Rey.


"Kau ---- kenapa kau memelukku."


"Kau demam," ucapnya.


Aku sontak memegang keningku sendiri dan ternyata benar, aku demam.


"Aku sudah menyuntikan obat ke tubuhmu, Seira."


Aku tidak tahu kapan dia menyuntikan obat ke tubuhku sebab aku tidak merasakan ada jarum masuk ke tubuhku.


Dia bangun, membawa buah-buahan di meja.


"Jika tidak mau makan, makan buah saja." Dia hendak menyuapi mangga kepadaku.


Sontak aku menepis sendok di tangannya sampai sepotong mangga itu jatuh ke ranjang. Rey menatap mangga di ranjang itu lalu beralih menatapku, aku tahu dia sedang menahan marah.


"Kau mau makan apa? Katakan."


"Aku tidak mau makan."


"Jangan keras kepala, Seira. Apa kau tidak lelah kita berdebat terus menerus."


"Maka keluarkan aku dari sini. Dengan begitu kita tidak akan berdebat lagi!"


Dia menghela nafas kasar. "Itu lagi yang kau bahas. Aku sudah muak, Seira!"

__ADS_1


"Kau pikir aku tidak muak hah!"


Di sela-sela perdebatan kami, ponsel Rey berdering, dia menyimpan piring berisi buah-buahan di tangannya lalu beranjak pergi dari ranjang untuk mengangkat telpon.


Aku tidak akan membiarkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja. Aku mengikuti Rey berniat untuk merebut ponselnya atau mungkin aku bisa berteriak dari jarak jauh dan aku yakin seseorang yang menelpon Rey pasti mendengar teriakanku.


Rey pergi keluar, mengangkat panggilan telponnya sambil memperhatikan laut. Aku bisa tahu jika yang menelpon Rey adalah Ayahnya, sebab dia memanggil 'Dad.'


Aku ada di belakangnya, mengumpulkan nyali untuk berteriak dan berusaha siap jika setelah ini Rey akan memarahiku.


"TUAN TOLONG AKU DI KURUNG OLEH REY DI KAPAL PESIAR."


Rey sontak berbalik dan aku bisa melihat raut wajahnya yang terkejut sebab dia mungkin tidak tahu jika aku ada di belakangnya.


"Kau ---"


"TUAN AKU DI KURUNG OLEH REY!" Aku berteriak kembali, Rey masih memegang ponsel yang menempel di telinganya.


Rey menurunkan ponselnya dan menekan tombol loudspeaker.


"Rey, siapa dia? Siapa yang kau kurung?"


Aku sedikit aneh, kenapa Rey terlihat tenang sekarang dengan menloudspeaker panggilan telponnya.


"Rey, kau yang menculik Seira? Bukankah kau sendiri yang mengulurkan bantuan kepada Borbone grup untuk mencari putrinya yang hilang?"


Aku sedikit terkesiap mendengar ucapan Tuan Reagan. Jadi, Rey mengulurkan bantuan kepada keluargaku untuk mencariku? Padahal dia sendiri yang mengurungku. Lelucon macam apa yang dibuat si bedeb*h sial*n ini.


Ah, aku tidak tahu soal itu sebab tidak ada televisi atau ponsel yang aku genggam sekarang. Jika benar, mungkin hal itu akan menjadi berita besar.


"Tuan ---"


"Dad, aku pikir ini bukan urusanmu," ucap Rey.


"Ya. Dad tau. Dad hanya berpesan jangan sakiti dia."


"Tuan ---"


Tut.


Rey langsung mematikan panggilan telponnya. Aku menatap Rey dengan raut wajah tidak percaya sementara dia hanya tersenyum penuh kemenangan melihat aku gagal mencari bantuan.


Permainan apa yang sedang Rey jalankan sekarang. Dia mengurungku dan berpura-pura baik dengan ikut membantu keluargaku untuk mencariku.

__ADS_1


Dan Tuan Reagan, mengapa dia tidak membantuku dan malah bersikap tenang. Sungguh, klan De Willson benar-benar menyebalkan dan jahat.


"Itu cara kami mendapatkan apa yang kami suka, Seira. Jadi jangan terkejut, keluargaku tidak akan membantumu."


"Kalian semua sakit jiwa, tidak waras!" hardikku dengan geram lalu kembali masuk ke kamar dengan langkah sangat kesal sampai menutup pintu kamar sangat keras.


Dia menyusulku ke kamar, berjalan dengan santainya seakan kemarahanku tadi dianggap biasa saja.


"Kau mau berbicara dengan Ayahmu, Seira?"


Aku yang duduk di ranjang pun sontak menoleh ke arahnya. Apa tawarannya asli atau main-main.


"Aku tidak akan menawari sesuatu untuk kedua kalinya." Dia mengulurkan ponsel miliknya. "Hubungi Ayahmu dan katakan kau sedang berlibur bersama teman-temanmu. Jika kau berteriak meminta tolong, maka nyawa keluargamu ada pada genggamanku."


Aku terdiam sejenak, ucapannya terdengar santai tapi raut wajahnya sangat serius. Aku tahu, yang Rey takutkan bukan keluargaku, tapi dia takut namanya tercoreng sebab mengurung ahli waris Borbone group.


"Baiklah kalau tidak ---"


"Aku mau." Aku segera meloncat dari ranjang dan mengambil ponsel di tangannya.


Kau tau apa yang si bedeb*h itu lakukan sekarang? Dia berada di belakangku, melingkarkan tangan kekarnya di leherku sementara tangan yang lain melingkar di perutku lalu dia berbisik. "Jika aku mendengar kata tolong, maka aku akan membuatmu pingsan, Seira."


Entah apa yang akan dia lakukan, mungkin dia akan mencekikku jika aku berani meminta tolong.


Aku hanya mengangguk samar lalu menempelkan ponsel di telinga setelah menemukan kontak Ayahku di ponsel Rey. Dia menamai kontak Ayahku dengan nama 'ayah mertua.' Si bedeb*h ini memang gila.


Panggilan berdering, aku sangat senang. Ketika ayahku mengangkatnya, aku segera menloudspeaker panggilan itu agar si gila yang ada di belakangku ini bisa mendengar.


"Hallo Tuan Rey."


"Daddy, ini aku, Seira ..." ucapku dengan antusias senang.


"S-Seira--- kau ---"


"Daddy, aku sangat merindukanmu. Daddy apa kabar, bagaimana dengan Mommy dan Shiren?"


Aku hampir berkaca-kaca menanyakan kabar orang tua dan adikku.


"Kita semua khawatir dengan keadaanmu, Seira. Kau pergi kemana Seira, Ibumu jatuh sakit karena menunggumu pulang."


"Dad aku minta maaf," lirihku.


Saat aku dan Ayahku saling berkomunikasi menyalurkan rasa rindu dan perasaan khawatir kami satu sama lain. Rey malah menunduk, menempelkan dagunya di pundakku, dia malah bermanja di sana dengan tangan yang erat memeluk perutku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2