
Aku terbatuk dan mengeluarkan banyak air dari mulutku, sebelumnya aku merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirku hingga aku sadar Rey beberapa kali memberiku nafas buatan.
Aku sontak mendorong dadanya seraya terus terbatuk. Rey menarik dan memelukku.
"Seira ..." suaranya terdengar panik.
"Apa yang kau lakukan," ucapku lemah. Tentu saja aku berpikir dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena pelukannya terlalu erat, aku kesulitan mendorong pria ini.
Aku sudah berada di kapal kembali, entah bagaimana bisa aku ada di kapal lagi. Tapi aku yakin, Rey tidak membiarkan aku mati. Pasti dia meloncat ke laut dan menyelamatkanku.
Dia mengangkat tubuhku, menggendongku masuk ke dalam kapal, membawaku ke sebuah kamar.
Aku masih lemah dan aku masih bisa melihat banyaknya orang di kapal ini, mereka yang tidak mengerti bahasaku.
Rey menidurkanku di ranjang, aku langsung mencegah tangannya yang hendak membuka kancing bajuku.
"Pakaianmu basah, Seira."
"Pergilah, aku bisa mengganti pakaianku sendiri."
Aku berusaha duduk dan menatapnya.
"Aku memberimu kesempatan untuk bebas dan kau menyianyiakan kesempatan itu, Seira!" desisnya. Wajah paniknya tadi berubah menjadi marah.
"Kenapa kau bisa tahu aku pergi? Apa Elena memberitahumu?"
"Aku punya banyak cara untuk menemukanmu. Kau tidak bisa lari. Dan Nani ..."
Mataku sontak melebar mendengar nama Nani. "Nani, dimana Nani?" tanyaku panik.
"Bukankah aku sudah bilang kau mengenggam satu nyawa hari ini. Kenapa kau gegabah!"
"Aku tanya dimana Nani?!" kesalku.
Rey diam tidak menjawab apapun membuat pikiranku melayang bahwa Nani mati. Aku menggelengkan kepala. "T-tidak ... kau tidak membunuhnya, kan?"
"Jawab sial*n! Kau tidak membunuhnya kan! Jangan bersikap gegabah kepar*t! Nani manusia dan kau bukan Tuhan yang bisa mengambil nyawa seseorang seenaknya!" Aku berteriak marah dengan nafas menggebu-gebu.
"Kau yang bersikap gegabah, bukan aku, Seira."
"Katakan dengan jelas, dimana Nani?"
Aku ingat Nani terlihat dekat dengan Elena tadi. Aku yakin Elena tidak akan membiarkan Nani mati.
Tapi pikiranku pupus seketika kala Rey mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memperlihatkan sebuah foto. Aku terbelalak, difoto itu Nani berdiri di atas kursi dengan tali di lehernya, jika kursi itu ditendang sudah pasti Nani akan mati karena tercekik.
"K-kau menghukumnya dengan gantung diri?" tanyaku dengan suara gemetar tak percaya.
__ADS_1
Bahkan difoto itu Nani terlihat ketakutan dan menangis. Aku tidak tahu apa foto itu foto sebelum Nani mati atau Nani sebenarnya masih di sana, berdiri di kursi itu.
"Dia hanya punya waktu lima menit lagi untuk hidup, Seira. Gantilah pakaianmu, aku tidak mau membahas ini lagi!"
Dia berbalik pergi dan aku segera meloncat dari kasur lalu menarik tangan Rey. "Tolong jangan hukum Nani ..." lirihku.
Setidaknya aku tahu Nani masih hidup dan dalam waktu lima menit ini aku harus berhasil membujuk Rey agar tidak menghukum Nani.
Rey kembali berbalik menatapku, dia menjatuhkan pandangannya pada tanganku yang memegang tangannya kemudian dia beralih menatapku kembali.
"Aku mohon ... jangan hukum Nani ..." ulangku. "Ini salahku, tidak ada hubungannya dengan Nani. Aku meminta Elena membantuku agar bisa kabur darimu. Semuanya salahku, Nani dan Elena tidak salah."
Aku hanya khawatir Elena juga disalahkan, walaupun tidak mungkin Elena akan berakhir dengan hukuman dari Rey.
"Ganti pakaianmu, Seira. Jangan membantah lagi."
"Aku ingin kau melepaskan Nani!"
"Berhentilah membahas itu. Anggap saja umurnya memang sampai di sini."
Aku tidak perduli dengan umur seseorang tapi aku tidak mau seseorang mati karena aku.
"Tidak, ini salahku. Dia tidak boleh mati karena aku! Aku bisa gila karena merasa bersalah seumur hidup kalau Nani sampai mati."
Rey menghela nafas lalu menganggukan kepala samar. "Ini harus menjadi pelajarsn penting untukmu, Seira! Aku tidak main-main dengan ucapanku!"
Aku mengangguk, mengiyakan ucapan Rey. Yang terpenting Nani selamat. Kemudian dia menelpon seseorang.
Aku menghembuskan nafas lega dan melepaskan tangannya.
"Aku akan masuk lagi setelah kau mengganti pakaianmu."
Dia pergi dari kamar, meninggalkan aku sendirian yang kini kembali duduk di ranjang dengan pakaian basah. Aku menghela nafas, ternyata Rey tidak main-main dengan ucapannya aku harus lebih berhati-hati.
Dan untuk Nani, maafkan aku ... aku membuatmu ketakutan. Semoga rencana kaburku yang kesekian kalinya nanti tidak melibatkanmu dan Elena lagi.
***
Setelah aku mengganti pakaian, Rey kembali masuk ke kamar.
"Apa kau benar-benar tidak bisa berenang?" tanyanya berdiri di depanku yang duduk di salah satu sofa.
Aku menggelengkan kepala membuat dia menghela nafas kasar.
"Kalau begitu kenapa kau meloncat dari kapal, Seira!" kesal Rey dengan memercak pinggang.
"Aku hanya tidak mau bertemu denganmu," sahutku mengalihkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
"Kemanapun kau pergi, kau selalu berakhir bersamaku, Seira. Ingat itu."
Aku diam tidak menjawab, dia mengelus kepalaku seperti sedang mengelus kepala anak anjing.
"Asal kau tau, Borbone itu nama anak anjing," ucapnya dengan tersenyum membuatku berdecak kesal menatapnya dan dia malah terkekeh.
Aku tidak mengerti, kenapa dia suka sekali mengatakan itu. Borbone nama anak anjing. Dia seperti meledek marga keluargaku.
"Kalau begitu De Willson nama ..." aku menghentikan ucapanku, aku tengah berpikir kira-kira kata apa yang cocok untuk meledek klan De Willson.
"Nama apa hm?" Dia memegang kedua pipiku dengan satu tangannya seraya tersenyum. Seakan dia tengah menunggu ledekan dariku untuk marganya.
"Ish!" Aku menepis tangannya dan beranjak dari duduk pergi ke ranjang. Aku mendengar dia tertawa.
"Kau tidak bisa meledek margaku, Seira. Karena itu terlalu bagus."
"Ya, bagus. Tapi tidak dengan sikapnya!" sahutku dengan merebahkan diri di ranjang. Dia berjalan mendekatiku lalu naik ke ranjang dan memelukku dari belakang.
"Bisa tidak jangan bersikap seenaknya. Aku tidak suka kau memelukku!" Aku memberontak tapi dia memelukku semakin erat.
"Aku tidak sedang bersikap seenaknya. Aku hanya sedang membiasakan dirimu agar terbiasa dipeluk olehku sampai kau suka."
"Aku tidak akan pernah suka!"
Dia memelukku dari belakang dengan wajahnya yang berada di atas wajahku sampai pipi kami bersentuhan.
"Kau akan mengingat aromaku, Seira. Ketika jauh dariku, aroma tubuhku yang akan terngiang-ngiang dikepalamu."
Aroma mint dari tubuh Rey memang cukup kuat. Apalagi dalam keadaan kami dekat seperti ini.
"Kau terlalu percaya diri!" ucapku.
"Itu harus."
"Apa kita akan tidur, Seira?" Tanyanya.
"Lepaskan aku!"
"Tidak!" Dia semakin memelukku erat membuatku hampir kesulitan bernafas.
Aku mendengus kasar, semakin aku meminta dilepaskan, semakin dia memelukku erat. Jadi aku memilih diam saja.
"Bagus, kau mulai diam."
"Aku bukan diam, aku tidak bisa bernafas karena kau memelukku terlalu erat! Kau mau aku mati!"
"Selama kau berada didekatku, kematian tidak akan menghampirimu."
__ADS_1
Aku merinding mendengar kalimatnya barusan. Lihatlah, dia berlaga seperti malaikat pencabut nyawa saja.
Bersambung