ISOLATED (Terkurung)

ISOLATED (Terkurung)
#Pulang ke Indonesia


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Rey.


Bukan menjawab, Edward malah menatap ke arahku.


"Dia benar-benar kekasihmu, Kak?" tanyanya seraya memegang apel merah di tangannya.


"Bukan."


"Iya."


Aku dan Rey menjawab kompak membuat Edward berdecih seraya tersenyum.


Rey menatapku, menghela nafas seakan menahan kekesalan akibat jawabanku, aku hanya bisa mengigit bibir bawahku kemudian dia kembali menatap Edward.


"Ada apa? Jangan bilang datang ke sini hanya untuk bertanya soal Seira."


"Oh jadi namanya Seira," sahut Edward seraya mengangguk-nganggukan kepalanya sambil menatapku.


"Edward ada apa?" tanya Rey kembali.


"Tenanglah, Kak. Tidak sabaran sekali, apa salahnya aku ingin main ke rumahmu. Jika yang datang Edgar, kau pasti tidak akan bersikap seperti ini. Jutek sekali kepadaku!"


"Edgar tidak pernah sekalipun datang kemari. Kita hanya bertemu di kantor."


"Ah iya ..." Edward kembali mengangguk-nganggukan kepalanya. "Kalian kan bos."


"Edward berhentilah basa-basi. Jika datang hanya untuk bermain saja, Kakak akan pergi ke kamar."


"Bersama Seira?" tanya Edward seraya menatapku. "Kan belum menikah."


Rey menghela nafas. "Bersikaplah seperti Edgar, jangan suka ikut campur!"


"Masalahnya aku bukan Edgar, Kak!"


Aku bisa melihat kekesalan di wajah Rey karena Edward yang tidak berhenti berbicara. Dan Edward malah terseyum miring.


Benar kata Rey, Edward ini banyak bicara.


"Sudahlah." Rey mengenggam tanganku hendak membawaku ke kamar tapi baru setengah berdiri, Edward kembali berbicara membuat kami kembali duduk.


"Mommy meminta kita pulang, lusa ada makan malam."


"Itu saja?" tanya Rey.


"Ya. Itu saja. Tapi sepertinya kau harus mengenalkan Seira kepada Dad dan Mom."


Rey menoleh ke arahku, dari tatapannya aku merasa Rey enggan membawaku ke acara makan malam. Padahal aku senang sebab bisa bertemu Nyonya Diandra dan meminta bantuan agar Rey tidak mengurungku lagi.


Posisi Nyonya Diandra jauh lebih kuat dibanding Edward, bukan? Bisa saja aku mencoba meminta bantuan kepada Edward, tapi jika Edward sama halnya dengan Seira yang tidak mau membantuku bagaimana?


Tapi Nyonya Diandra, dia seorang Ibu, aku yakin dia tidak mungkin takut kepada Rey. Justru seharusnya sebaliknya, bukan?


"Akan aku pikirkan nanti." Rey menarik tanganku, membawaku menaiki anak tangga menuju kamarnya dan Edward hanya bisa menatap kepergian kami.


"Bukankah aku bisa bertemu dengan Ayahku?" tanyaku ketika kami tiba di kamar.


Rey berbalik menatapku. "Ayahmu masih berada di Indonesia, Seira. Saat aku pergi makan malam bersama keluargaku, kau diam di rumah Ayahmu, tapi kau harus ikut aku pulang ke sini lagi. Dan ingat, jangan mengadu apapun kepada Ayahmu!"


"Tapi kenapa aku tidak boleh ikut makan malam?" tanyaku.


"Seira, aku tidak bod*h. Kau berniat meminta bantuan kepada Ibuku, iya kan?"


Mataku membulat tidak percaya, darimana dia tahu. Apa dia dukun? Si*l. Rencanaku gagal kalau seperti ini.


"T-tidak, aku hanya ingin berkenalan dengan mereka saja."


"Aku akan mengenalkanmu di waktu yang tepat, Seira."


"Tapi ---"


"Istirahatlah!" potong Rey lalu pergi dari kamar. Aku hanya bisa menghembuskan nafas sampai aku mendengar suara deru motor.


Aku segera berlari ke jendela, membuka tirai dan melihat Edward pergi dari halaman mansion dengan motor besarnya.

__ADS_1


Aku berdecak, walaupun bertemu dengan Edward, aku tidak bisa mengobrol berdua dengan dia. Padahal aku hendak meminta nomor Nyonya Diandra walaupun aku tidak punya ponsel.


***


Malam hari di mansion, aku hanya membaca buku di kamar ketika Rey sibuk dengan kerjaannya.


Aku duduk di ranjang sementara Rey duduk di sofa.


"Tidurlah, Seira. Besok kita pulang ke Indonesia."


"Aku belum mengantuk," jawabku.


Dua puluh menit berlalu akhirnya aku pun tertidur.


Lagi-lagi aku terbangun di pelukan Rey yang tidur tanpa baju.


"Good morning Love," ucap Rey dengan suara seraknya ketika aku berusaha untuk bangun.


"Morning," sahutku.


"Where are u go?" (Mau kemana)


"Mandi."


"We can take a shower together." (Kita bisa mandi bersama)


"Tidak, aku tidak mau! Aku dulu!"


Aku dengan cepat pergi ke kamar mandi dan aku mendengar Rey terkekeh.


Pintu kamar mandi aku kunci agar dia tidak bisa masuk seenaknya. Rutinitas pagi ini aku awali dengan mandi air hangat.


Selesai mandi, aku berpakain dan giliran Rey yang masuk ke kamar mandi.


Aku benar-benar tidak menyangka, sering kali aku terbangun di pagi hari dan berada dipelukan Rey tapi otakku masih saja berpikir bagaimana caranya kabur dari dia.


Saat aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. Aku yang duduk di sofa enggan menoleh ke belakang sebab aku takut jika aku menoleh, Rey tengah berpakaian, biasanya pria cab*l itu berpakaian seenaknya di depanku.


Tidak tahu malu.


"Hm."


"Apa baju ini bagus untukku?"


"Hm."


"Seira, lihatlah aku. Aku sedang bertanya."


"Pakaian apapun bagus untukmu. Sudahlah, tinggal pakai saja tidak perlu bertanya lagi!" Aku berkata dengan nada kesal.


Aku curiga dia sedang mempermainkanku itu sebabnya aku tidak mau menoleh ke belakang. Aku menjatuhkan pandanganku ke buku saja.


Hening selama beberapa detik, aku pikir dia sedang berpakaian tapi tiba-tiba dia berbicara lagi.


"Pakaian dalam-mu mengapa di simpan di lemariku, Seira."


Aku sontak melebarkan mata dan menoleh ke belakang tapi aku malah mendapatkan si pria cabul itu telanjang b*lat sambil tersenyum, dia mengotori mataku.


Aku menjerit keras dan memalingkan wajahku kembali. Nafasku naik turun, tidak percaya dengan apa yang aku lihat tapi telingaku malah mendengar dia tertawa puas.


Gila. Gila sekali.


Bayang-bayang Rey telanjang tadi terbawa sampai ke pesawat. Menjijikan sekali, mengapa aku tidak berhenti membayangkannya.


"Mau makan, Seira."


Aku terhenyak kaget oleh suara Rey. Aku menoleh dan menggelengkan kepala lalu kembali memalingkan wajahku ke luar jendela.


Di pesawat ini, ada Edgar, Elena dan juga si anak punk rock Edward. Mereka duduk di kursi yang lain.


"Aku mau ke kamar mandi," ucapku berdiri dari kursi.


Saat aku berjalan menuju kamar mandi, aku melihat Edgar tengah membaca koran, Elena tengah selfie dan Edward tengah makan. Aku memejamkan mata sejenak, Edward menyapaku tapi aku tidak menanggapinya sebab aku ingin pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah.

__ADS_1


Berharap membasuh wajahku dapat membersihkan pikiran kotor di otakku.


"Si kepar*t itu kenapa menyebalkan sekali!" gerutuku mematut diri di depan cermin.


Aku benar-benar kesal kepada Rey, sungguh. Dia bersikap seenaknya, seolah-olah aku ini istrinya. Tidak mungkin aku menceritakan apa yang terjadi tadi pagi kepada adiknya.


Saat aku keluar dari kamar mandi, Edward lagi-lagi menyapaku.


"Hai kakak ipar yang tertekan," ucapnya seraya tersenyum meledek dan melambaikan tangan ke arahku.


Aku melihat ke depan, Rey sepertinya tengah membaca koran sama dengan Edgar. Aku rasa dia tidak tahu aku sudah keluar dari kamar mandi, apa aku coba berbicara dengan Edward sekarang saja?


"Kenapa kau diam, Kakak ipar?" tanyanya


Aku langsung duduk di kursi samping Edward yang kosong. Edward menatapku dengan menaikan alisnya.


"Aku butuh bantuanmu," ucapku tanpa basa-basi.


"Bantuanku?" tanya Edward menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.


Aku mengangguk. Untung saja kursi Edward jauh dari kursi Elena dan Edgar, dia duduk paling belakang.


"Aku ingin berbicara dengan Nyonya Diandra."


"Kau gila kakak ipar, kita sedang di pesawat, tidak bisa menelpon."


Aku berdecak. "Maksudku bukan sekarang. Aku minta nomor Nyonya Diandra tapi jangan beritahu Rey."


"Tapi --"


"Ayolah cepat, saat di toko kau hendak membantuku, bukan?"


"Mana ada? Saat itu aku sedang gabut saja."


Aku berdecak sebal, Edward menyebalkan juga.


"Kalau aku memberimu nomor Ibuku, aku akan mendapatkan apa?"


"Kau mau apa memangnya?" Aku balik bertanya.


"Eumm ..." dia terlihat berpikir. "Tanda tangan J.F Rolling, bagaimana?"


Aku melebarkan mata tak percaya dengan permintaannya. Dia meminta tanda tangan penulis terkenal. Si*l, kalau itu aku juga mau.


"Bagaimana?" tanya Edward lagi.


"Kau gila! Bagaimana cara aku bertemu dengan J.F Rolling untuk mendapatkan tanda tangan!"


Edward menghembuskan nafas. "Suamimu Kak Reyhan Louis De Willson, dia bisa melakukan apapun, tinggal bilang saja, anak buahnya pasti berusaha mendapatkannya."


Aku sontak terdiam. Iya juga, Edward benar. Aku bisa mengandalkan Rey.


"Dan aku mau dia menanda tangani Novel yang judulnya The Crown."


"Heh, aku suka itu juga tau," sahutku.


Ternyata, selera aku dan Edward sama. Kini, aku sepakat dengan Edward, dia akan memberiku nomor Nyonya Diandra setelah aku bisa mendapatkan tanda tangan J.F Rolling.


Dan sekarang, kami berdua membahas beberapa Novel beliau, kami tertawa dan aku senang sebab menemukan manusia yang satu frekuensi denganku.


Rey tidak suka membaca Novel, dia lebih suka membaca koran dengan artikel di koran yang menyebalkan menurutku. Isinya tidak jauh dari berita bisnis dan bisnis. Memuakkan.


Tidak tahu berapa lama aku mengobrol dengan Edward hingga aku mendengar suara deheman dan ketika aku menoleh. Rey berdiri di dekatku dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Aku pikir kau masih di kamar mandi, Seira! Ternyata malah mengobrol di sini!"


Rey menatap Edward dengan tatapan tidak ramah. Sementara Edward terlihat santai, tersenyum membalas tatapan kakaknya.


"Ayo!" Dia menarik tanganku, menyeretku kembali ke tempat duduk semula.


Elena terlihat penasaran dengan apa yang terjadi sampai dia menatapku dan Rey. Sementara Edgar terlihat bodo amat.


Aku menoleh ke belakang dan aku melihat Elena menghampiri kursi Edward. Aku yakin Elena tengah bertanya apa yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2