
Alfares Aswanata. Seorang Pria dari anak konglomerat, Alfares merupakan seseorang yang akan menjadi penerus kekayaan Ayahnya.
Kondisi sang Ayah yang sudah sakit-sakitan, memaksa Alfares di usia 20 tahun untuk belajar dunia bisnis, kehidupan keluarga Alfares cukup harmonis.
Sang Ibu yang begitu menyayangi anak-anaknya, begitu pula dengan sang Ayah. Namun hingga suatu ketika Sang Ayah meninggal oleh sakitnya.
Nampak kesedihan melanda keluarga tersebut, Sang Ibu yang bahkan selalu mengurungkan diri di dalam kamar. Alfares dan kedua adiknya telah berusaha membujuk Sang Ibu untuk keluar, namun gagal.
Hingga suatu ketika, Sang Ibu keluar dari kamarnya, Sang ibu keluar sambil mengemasi beberapa barangnya, Alfares dan adiknya nampak penasaran akan hal itu.
Sang Ibu beranjak pergi, sambil membawa kedua adik perempuan Alfares, namun yang aneh. Kenapa hanya Alfares yang tidak di ajak.
"Bunda,,, bunda mau kemana?"
"Alfares.. mulai sekarang kamu harus bisa hidup mandiri ya nak" sambil memegang wajah Alfares
"Maafin bunda... Bunda gak bisa... Bunda selalu sedih ketika liat wajah kamu... Bunda... Bunda minta maaf "
Ketiganya pergi meninggalkan Alfares sendirian, mulai sekarang Alfares akan sendiri, ia tau kepergian sang ibu. Tidak lain dan tidak bukan adalah karenanya, wajah yang begitu mirip dengan almarhum Ayahnya, membuat sang ibu selalu sedih.
Kepergian sang ibu, memberikan luka yang begitu besar di hati Alfares, bahkan sifat Alfares berubah menjadi tempramen, begitu pula saat bekerja. Tak ada yang berani mengganggu, semua karyawan di perusahaan Alfares tau bagaimana sifat Alfares yang begitu kejam.
__ADS_1
Alfares berjalan keluar dari perusahaannya, Alfares mengendarai mobil, tanpa tujuan yang jelas. Bahkan yang mengendarai mobil pun Alfares sendiri.
Sudah satu jam Alfares berkeliling, hingga menyusuri setiap jalan, bahkan hingga masuk ke pelosok kota.
"Huh... Kalian dimana sih?. Sudah lima tahun aku begini, bahkan anak buah yang aku bayar pun, masih belum menemukan keberadaan kalian"
Kerinduan Alfares pada, ibu dan sang adik, membuatnya terus mencari keberadaan mereka. Bahkan sampai lima tahun Alfares selalu menyempatkan diri untuk menyusuri setiap sisi kota, berharap bertemu dengan keluarganya kembali.
Memikirkan keluarganya membuat Alfares tidak fokus dengan jalan, bahkan saat menyetir pun Alfares nampak selalu melamun. Bahkan saking tidak fokusnya, Alfares hampir menabrak seorang wanita di depannya.
"Aghh... Sialan" bentak Alfares
"Oh ini tampang manusia, yang hampir nabrak saya?. Sampai bikin belanjaan yang saya beli buat ibu jadi jatuh?."
"_ribut banget nih cewek"_ ucap Alfares dalam benaknya
"Berapa?"
"10 juta. Pake nanya lagi"
Alfares segera menulis nominal uang yang disebut, di kertas cek, dan langsung memberikannya pada wanita tersebut
__ADS_1
"Mas nya bodoh ya?. Habis mau nabrak saya, bukanya minta maaf, malah ngasih kertas gak jelas gini?."
Alfares nampak terkejut mendengar hal itu, baru kali ini dalam hidupnya ia dikatakan bodoh, apalagi oleh seorang wanita. Jujur saja Alfares cukup geram dengan perkataan wanita di depannya.
Apalagi saat di beri uang berjumlah besar, bukanya terima malah memilih uang kecil.
Bahkan sampai-sampai, disuruh mengantarkan wanita tersebut belanja di pasar, ditambah saat memperkenalkan diri, agar siapa tau wanita tersebut tau siapa Alfares sebenarnya, namun malah di balas jutek. Namun saat Alfares menatap gadis itu, entah kenapa perasaan aneh di hatinya bergejolak.
Selesai mengantarkan ke pasar, kini Alfares disuruh kembali untuk mengantarnya pulang. Seorang Alfares Aswanata, seorang CEO dari perusahaannya, yang bahkan di segani banyak orang. Namun kini harus menuruti perintah wanita disampingnya.
Entah kenapa tidak perasaan marah, bahkan saat wanita itu menyuruh Alfares mengantarnya, mulai dari belanja hingga pulang.
"_kalau orang lain, udah ku bikin menderita hidupnya sekarang juga, tapi kenapa wanita berbeda?"_
Saat sampai di kediaman wanita tersebut, Alfares nampak heran, bagaimana bisa sifat wanita tadi yang begitu galak, dan jutek, tiba-tiba berubah
Wanita tersebut mendatangi ibunya, dengan sebuah senyuman di wajahnya, Alfares segera mengantarkan kantong plastik belanjaan wanita tadi.
Bahkan saat di tanya oleh si ibu wanita tadi, Alfares dengan rendah hati memperkenalkan dirinya, bahkan Alfares terkejut saat di kira calon suami dari wanita tadi yang bernama Alia.
Entah kenapa melihat sikap perhatian Alia, seketika saat itu juga membuat Alfares jatuh cinta, bahkan saat di tanya apakah Alfares pasangan Alia, Alfares pun menjawab iya.
__ADS_1