
Setelah peninggalan angga Karin duduk didepan pintu dengan kaki ditekuk apalagi dirinya belum minum sama sekali nasinya masih berada dileher untung saja tadi sayur bening jika bukan mungkin Karin mati ditempat.
Karin melipat kakinya dengan isak pilu yang mendalam memikirkan nasipnya jikapun Karin diusir untuk hidupnya Karin cukup untuk memenuhi kehidupannya tapi ini statusnya sudah menjadi istri bukan lagi remaja apalagi minggu depan adalah hari kelulusannya semua sahabatnya sudah merencanakan liburan namun Karin hanya menyimak saja tanpa membalas. Karin takut jika tidak meminta ijin makan saja dikurung digudang apalagi meminta izin buat ikut bersama teman-temannya mungkin dirinya di lempar dibenua eropa
“ayah Karin takut disini, disini gelap ayah Karin takut kegelapan ayah tahu kan Karin ingin keluar ayah. Hari ini suami Karin tidak mengizinkan Karin makan yah padahal Karin sangat lapar yah suami Karin selalu menyebut Karin pembawa sial hanya ingin hartanya saja padahal Karin tidak berfikiran sampai kesitu yah…katanya ibu sudah menjual Karin yah dengan saham Karin takut yah apalagi Karin dihukum digudang ini selama tiga hari yah tanpa pencahayaan lampu yah tolong jemput Karin yah Karin takut” suara hati Karin yang menjerit memanggil ayahnya yang dahulu menjadi sandaran yang dahulu keluarganya yang begitu harmonis entah kenapa sekarang menjadi berantakan dan Karin hanya sendiri
“non non Karin” panggil bi siti dari luar dengan lelehan air mata
“iya bi Karin baik-baik saja bibi tidak usah khawatir” ucap Karin untuk menenagkan bi siti supaya tidak khawatir
“bi siti bawa minum non ini sedotannya non” tawar bi siti karena tdi belum sempat minum
“gak usah bi nanti bibi dimarah tuan lebih baik bibi pergi” ujar Karin yang khawatir jika bibi siti mendapatkan masalah karena dirinya
“tapi non-“ ucap bik siti terputus
“bibi pergi aja aku gak mau bibi kena marah sama tuan” mohon Karin dan akhirnya bi siti menuruti yang diomongkan Karin karena angga memanggil seperti biasa tanpa membentak
Bi siti dengan tergesa-gesa menghampiri tuannya walaupun mukanya tidak semarah jika bersama Karin namun bibi tau jika tuannya lagi meredam emosi
“iya tuan ada apa” Tanya bi siti
“bi siti jangan pernah membuka pintu gudang apalagi memberi makan biar ini hukuman untuknya” jelas angga tegas
“tapi tuan kasihan nona tuan jika tidak makan akan sakit nanti” jawab bi siti menguntarakan keberaniannya
“jika bi siti memberikan makan silahkan bi siti membereskan barang-barang bi siti dan sekalian pak arman” ucap angga dingin tanpa ekspresi
“baik tuan” ujar bi siti patuh apalagi jika dirinya dipecat nanti dirinya makan apa apalagi siapa yang akan nolong non Karin
Angga melenggang pergi meninggalkan bi siti yang masih mematung ditempat dengan air mata yang menetes kenapa tuan angga begitu tega dengan istrinya sendiri padahal non Karin tidak pernah melawan dirinya sama sekali.
Sedangkan angga menuju ke kantor lagi makan siangnya hancur karena istri sialan apa istri apakah angga menganggap istri itulah tidak mungkin angga menganggap Karin pembantu tidak lebih
Langkah kaki dengan aura tegas dengan muka datar dan dingin melangkah masuk kekantor yang dipimpin banyak rekan kerjanya yang melemparkan anak gadis untuk pemimpin muda yang sukses namun angga bagaskara menolak semuanya karena rasa sakit yang dihianati oleh mantan tunangannya
“hay bro udah balik” Tanya rehan yang papas an dengan angga saat ingin naik lif
“iya” jawab singkat angga dengan muka datar dari raut wajah angga rehan tahu bahwa angga menahan amarah
“walaupun gue tidak tahu apa masalah dengan gadis itu tapi gue hanya menyarankan jangan terlalu keras suatu saat nanti kamu nanti akan menyesal” nasehat rehan
“gue gak butuh nasehat loe” sahut angga dan melenggang pergi tanpa melihat rehan lagi
__ADS_1
Rehan hanya geleng-gelengkan kepalanya karena semenjak angga putus dengan model terkenal rosa angga berubah 180 derajat menjadi benci dengan wanita apalagi selalu berfikiran negatif kepada kariawan wanita yang membuat masalah sedikit itu akan berakhir pemecatan.
Rehan melangkah mengikuti angga namun berbeda ruangan dan tanpa sengaja ketemu rini sang seketaris seksi
“hay cantik” goda rehan dengan menyubit dagu membuat rini terpesona dan kasmaran siapa yang tidak terpesona rehan itu ganteng, kaya dan berkharismatik apalagi keramahannya membuat para kariawan betah dan banyak berharap namun rehan orang bebas dia tidak ingin memiliki ikatan jadi rehan bebas siapapun diajak kencan tidak untuk menjadi pacarnya
“ih mas rehan” centilnya rini dengan wajah yang merah merona
“udah makan cantik” Tanya rehan dengan senyuman manisnya
“udah mas rehan” jawab rini dengan centil
“jangan lupa ya nanti kita kehotel lagi kemaren kurang” ujar rehan sambil mendayung-dayung
“mas rehan ketagihan ya goyanganku gimana menurut mas” Tanya rini dengan menggigit bibirnya yang tandanya rini menggoda rehan
“uhh sangat puas apalagi dek rini diatas mas membuat mas puas” sahut rehan dengan nada menggoda ingin memangsa rini saat juga jika tidak ada peraturan boleh kuda-kudaan dikantor mungkin rehan sudah gas apalagi sekarang Cuma seperti itu aja kuda rehan sudah berdiri tegak
“hmmm” deheman sangat keras rehan sudah tahu siapa yang berdehem seperti tidak suka seperti itu dasar manusia kulkas coba aja kudanya sudah masuk gorong-gorong pasti akan ketagihan batin rehan
“udah waktunya masuk kerja makan siang sudah selesai” dingin angga dengan muka datar
“baik pak” ujar rini dengan takut pasalnya mukanya tidak berekspresi sama sekali
Rini kembali duduk dibangkunya sedangkan rehan masih saja dengan mata genitnya
“iya bapak derektur yang terhormat saya kerja” ujar rehan dengan kesal pasalnya dia mengganggu saja masuk gorong-gorong apalagi rini ngasih dengan geratis
“rin jangan lupa chat jika mau ya” ucap rehan sambil mengedipkan matanya dan pergi setelah memandang muka angga malas
Sedangkan rini hanya menahan senyumannya karena takut dengan bos galaknya ini jika sudah menyangkut pekerjaan angga tidak akan memberi sanki langsung pecat
Angga hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan sahabatnya sekaligus asisten pribadi angga sendiri sedangkan rini adalah seketaris kantor hanya mengurusi kantor saja. Angga masuk ke ruangannya kembali berkegelut dengan tumpukan berkas yang bikin kepala sakit namun angga santai melakukannya mungkin ini seperti hobi karena angga suka sekali dengan berbisnis
Tidak terasa waktu sudah malam angga melihat pergelangan tangan ternyata udah pukul 08:23 angga merenggangkan ototnya karena capek juga duduk selama berjam-jam sedangkan seketarisnya sudah pulang entah rehan pulang atau belum angga tidak peduli karena rehan tidak pulang ke rumah atau apatermennya tapi rehan memilih mampir ke hotel entah sama siapa saja yang menjadi korban si brengsek.
Walaupun rehan sering di hotel dirinya selalu main aman dan tidak lupa kudanya dilapisi dengan ****** supaya benihnya tidak kecret-kecret kemana-mana supaya rehan bisa bebas masuk gorong terus memang rehan adalah teman terbrengsek dan bebas karena itu pemberontakan seorang anak yang ditinggal cerai dan selingkuh oleh ayah kandungnya sendiri
Sesampainya di rumah angga berteriak-teriak memanggil nama Karin namun batang hidungnya tidak muncul angga juga mencarinya dikamar namun kamar itu masih bersih dan kosong dan angga turun lagi sambil berteriak-teriak
“Karin jangan bikin saya murka karina larasati” teriak angga dengan muka yang sudah memerah akibat marah karena Karin tidak muncul sama sekali
Bi siti yang mendengar teriakan tuannya langsung berlari menemui tuannya yang selalu teriak-teriak
__ADS_1
“ada apa tuan bisa saya bantu” ucap bi siti
“dimana karina” ucap datar angga
“apakah tuan lupa setelah tuan menyiksa nona tuan mengurung nona di gudang” jelas bi siti yang sebenarnya geram namun ditahan
Angga terdiam dirinya baru mengingat bahwa dirinya mengurung Karin tanpa kata lagi angga melenggang pergi tanpa menjawab ucapan bisiti dan saat ini angga kepala angga pusing memikirkan kemungkinan wanita matre dan ingin menguasai hartanya. Kepala angga dibiarkan diguyur oleh air yang dingin supaya amarah bisa padam
Setelah cukup lama mandi kini angga turun untuk mencari makan karena perutnya sudah lapar dan ingin diisi dan bi siti sudah meyiapkan makan yang biasanya Karin yang menyiapkan namun angga cuek saja.
Angga memakan makanan dengan tenang dan menikmatinya karena dari siang belum makan karena kemarahannya yang membuat moodnya tidak baik
Sedangkan Karin yang masih meringkuk didepan pintu dengan memegangi perutnya sepertinya asam lambungnya naik karena tadi makannya hanya sedikit. Namun Karin berusaha membayangkan dirinya dengan ayahnya yang selalu melindunginya jatuh sedikit saja ayahnya akan sangat cemas dan khawatir.
“semoga aku kuat ya allah” guman Karin lirih karena perut Karin benar-benar sakit
Pagi telah menyapa angga melangkah kakinyadengan tenang seperti biasa wajahnya datar dengan meneteng jas ditangan kanannya sedangkan tangan kirinya menenteng tas
Angga duduk di meja makan yang sudah disiapkan oleh bi siti angga memakan dengan tenang seprti biasanya setelah selesai angga melangkah keluar menuju ke kantor seperti biasanya
Sedangkan bi siti sibuk mencari kunci gudang karena bi siti khawatir karena nonanya tidak menjawab panggilannya bi siti mencari suaminya supaya membukakan pintu gudang
“pak pak” panggil bik siti yang tidak sabaran
“ono opo bu” ujar pak arman suami bi siti dengan langkah lebar karena melihat sang istri dengan wajah panic
“pak sampean ono gunci gudang opo ora” Tanya bi siti
“tenang no bu tenang ono opo sebenar re” Tanya arman penasaran
“iki loe pak nona dikunciin tuan sudah dari kemaren siang tadi pagi subuh ibu panggil-panggil tidak nyahut takut nona terjadi sesuatu” panic dan cemas bi siti sedangkan suaminya begitu kaget mendengar ucapan istrinya itu
“kok iso to bu” jawab arman dengan khawatir
“uwes to pak ayo gek dibukak ojo kakehen takon” ujar bi siti sewot karena suaminya malah banyak Tanya
“ya allah bu e sabar mosok bapak ditarek-tarek ngene” sambung arman
Bi siti dengan tidak sabaran menyuruh suaminya untuk cepat-cepat untuk membuka pintunya namun arman masih memilih-milih kunci yang banyak dijadiin satu
“ya allah pak cepet ngono” omel bi siti pasalnya arman lama menemukan kuncinya
“mbok sabar loe bu iki jek digoleki” jawab sang suami sedangkan sang istri sudah cemas
__ADS_1
Setelah menyoba satu-satu akhirnya pintu terbuka namun sangat sulit dibuka seperti ada beban di belakang pintu dengan hati-hati arman membukanya tanpa disangka dan
“astagfirullohalazim non” jerit bi siti