ISTRI KECIL TUAN ANGGA

ISTRI KECIL TUAN ANGGA
bab 12


__ADS_3

Sudah satu jam yang lalu Karin bangun dari pingsannya bi siti dengan sigap membantu nonanya untuk menanyakan mana yang sakit namun Karin hanya menggeleng dan tersenyum itu mengatakan bahwa Karin bik-baik saja walaupun itu sama kali tidak benar perutnya seperti diremas namun tidak sesakit semalam. Karin menunjukan bahwa dirinya tidak apa-apa dirinya tidak mau merepotkan bi siti yang merawatnya jika diingat suaminya Karin tidak terlalu berharap kepadanya tidak menyiksa saja Karin sudah bersyukur ingin kabur namun hati kecilnya Karin harus tetap bertahan.


Apalagi Karin sama sekali belum bertemu mertuanya sama sekali selama pindah ke bandung ini entah mertuanya yang kelihatan baik sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya apalagi mengetahui rumahnya Karin hanya terkurung dirumah ini tanpa diperbolehkan keluar dari rumah dan hanya bekerja-bekerja saja.


“non makan dulu ya” tawar bi siti sambil menyuapin nona mudanya


“tapi dikit aja ya bi” jawab Karin


“iya nanti habis makan terus minum obat terus istirahat” balas bi siti


“iya bi” sahut Karin dengan senyuman


Bi siti menyuapi nona mudanya dengan telaten sesekali nonanya tersenyum membuat bi siti kagum dengan nona mudanya sangat baik bi siti heran dengan tuannya kenapa nona sebaik ini selalu dikasari dan selalu dihina bi siti mengira ini ada kesalah fahaman tetapi bi siti hanya bisa berdoa semoga nonanya bisa bahagia suatu saat ini apalagi tuannya sangat keras kepala dan egois


“udah bi” ujar Karin yang memang mulutnya masih pahit


“lagi ya non baru beberapa suapan” ujar bi siti yang memang menyuapin hanya empat sendok saja


Karin tersenyum “mulut Karin masih pahit bi nanti aja lagi” ujar Karin


Bi siti yang melihat juga tersenyum melihat nonanya sekuat ini


“ya udah ini minum obatnya terus istirahat” ujar bi siti sambil menyerahkan obat yang sudah disiapkan oleh sang suster


Karin menerima dan meminumnya dirinya harus segera sehat jika tidak dirinya memikirkan nasipnya jika bukan dirinya sendiri tidak ada yang memperhatikannya setelah selesai minum obat Karin merebahkan kembali tubuhnya sedangkan bi siti membereskan sisa makanan Karin supaya nanti suster tinggal mengambilnya


Namun ada sorot mata tajam yang memperhatikan Karin dibalik jendela kamar yang Karin tempati semuanya sudah di bayar oleh angga namun rahangnya mengeras lantaran angga tidak suka dengan senyuman Karin menurutnya itu adalah senyum palsu supaya orang-orang mengasihinya angga tidak percaya dengan orang semunafik Karin itu yang ada difikiran angga terhadap Karin


Setelah selesai angga pergi meninggalkan rumah sakit dan mengunjungi sebuah panti asuhan disini angga bisa tertawa melihat anak-anak yang berebut makanan yang dibawa angga donasi terbesar dipanti asuhan ini. Gara-gara dahulu papi bagas mengajak angga sekitar umur 7 tahun ke panti ini apalagi angga tidak punya teman dikompleks rumahnya jadi angga sangat bahagia diajak kepanti asuhan ini dengan gembira karena mempunyai banyak teman untuk bermain


Sampai saat ini angga jika gelisa dan banyak fikiran angga selalu kesini menghabiskan waktunya dengan bermain dan belajar dengan anak-anak panti


“assalamualaikum bun” salam angga kepada ibu panti


“waalaikum salam angga kok datang gak ngasih kabar sih nak” jawab bunda panti


“ini mampir saja sudah lama angga gak kesini bun” balas angga

__ADS_1


“ya sudah silahkan masuk nak” ramah bunda panti namun ditengah perjalanan angga dihadang oleh banyaknya anak-anak panti yang ingin meminta yang dibawa angga


“sabar nak nanti bunda bagi dengan rata sekarang kalian duduk diruangan tegah mengerti” cegat bunda panti supaya anak pantinya bisa tertip dan tidak berebut


“ngerti bun” serempak anak panti yang selalu mencari perhatian jika ada orang yang berkunjung wajar sih kasih sayang mereka kan kurang tidak seperti orang yang mempunyai keluarga seperti semestinya


Angga berkunjung sekitar dua jam lamanya kini angga kembali lagi kerumah sakit entah untuk apa angga kembali lagi ketempat ke rumah sakit lagi.


Setelah sampai angga langsung berjalan keruangan Karin dan melihat Karin masih terlelap membuat angga berdesis


“dasar pemalas” lirih angga ketika memasuki ruangan rawat Karin


Bi siti juga terlelap diatas sofa karena kelelahan mengurusi nonanya jadi bi siti tidak sengaja tertidur sampai tuannya datang belum juga bangun mungkin saking kelelahannya


Tidak lama bi siti membuka mata dan melihat tuannya yang bermuka datar dan dingin langsung terbangun dan berdiri sambil menunduk


“maaf tuan saya ketiduran” takut bi siti karena muka angga sudah tidak bersahabat


“lebih baik bibik pulang” datar angga berdiri didekat candela entah angga melihat apa karena disitu hanya ada ruangan-ruangan


“tapi nona tuang” cemas bi siti


Bi siti hanya bisa mengangguk dan pasrah apa yang terjadi nanti dengan nonanya hanya bisa berdoa agar nonanya baik-baik saja


“baik tuan saya permisi” pamit bi siti


Setelah peninggalan bi siti angga duduk disofa dengan muka datar dan dinginnya matanya tidak lepas dari Karin yang tertidur dengan muka pucat namun tidak pucet membiru seperti pertama kali datang ke rumah sakit ini.


Tidak lama Karin bangun dari tidurnya dan Karin berusaha bangun namun perasaan Karin mengatakan ada yang aneh disini biasanya bibi selalu ada di sampingnya ini tidak ada respon batin Karin mungkin bibi lagi kekantin rumah sakit


Setelah duduk dengan benar dan matanya tertuju disofa tubuhnya seluruhnya menegang melihat siapa yang berada didepannya Karin menjadi gemeteran tiba-tiba dirinya tidak menyangka suaminya berada diruangan ini dengan menatap tajam Karin hanya bisa menunduk dan meremas selimutnya.


“anda membuat saya menunggu selama 30 menit anda tidur atau mati” hina angga namun Karin tidak menyahut angga dirinya terlalu takut


Angga hanya menghela nafas kasar dan rahangnya mengeras tiba-tiba karena ucapannya tidak direspon sama sekali oleh Karin emosinya yang sedari tadi tidak dikeluarkan kini mulai memuncah


“anda dengar saya ngomong tidak” bentak angga

__ADS_1


Karin hanya mengangguk bibirnya terasa mati saking takutnya


“uang saya sudah habis banyak untuk membiayai rumah sakit anda setelah keluar dari anda harus bekerja dikantor saya” ucapan angga terhenti dan menghampiri Karin sambil memasukkan kedua tangannya dimasukkan disaku celana


“menurut anda pekerjaan apa yang cocok untuk orang lulusan SMA seperti anda yang tidak ada skil sama sekali” lanjut angga sambil menghina Karin


“sepertinya OB cocok untuk anda mengerti” ujar lagi angga dengan wajahnya mendekat arah wajah Karin sampai Karin memundurkan wajahnya sampai keringat dingin bercucuran tangannya meremas selimut sangat erat


“jika mengerti pulang dari sini datang ke BAGASKARA GRUB tapi-“ ucapan angga terpotong dengan senyum sinis namun bikin Karin tambah ketakutan dan jantungnya dag dig dug bukan jatuh cinta melainkan cemas pada tubuhnya dan batinnya selalu ditekan oleh suaminya sendiri


“jangan sampai anda membocorkan siapa anda ke public jika anda ketemu papi saya diperusahaan anda harus menghindar faham” ujar tegas angga


Karin seketika langsung mengangguk Karin hanya bisa berdoa semoga angga tidak melukai fisiknya


“bagus pulihkan keadaan anda karena saya belum mau anda mati dengan gampang utang anda pada saya masih banya” setelah mengucapkan itu angga keluar dari ruangannya dengan muka datarnya


Air mata Karin seketika langsung lolos terjun bebas kepipi yang putih namun masih pucat kata dokter Karin harus dirawat selama tiga hari untuk memastikan kesehatannya semoga tiga hari ini Karin bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada tekanan-tekanan dari suami. Apa suami apa layak dia dipanggil suami setiap kali bertemu selalu menggoreskan luka di hatinya dan fisiknya Karin hanya berdoa bahwa jiwa dan raganya bisa kuat.


Diam itu cara Karin tidak melawan bagaimana mau melawan dibentak saja Karin sudah gemeteran apalagi membalas ucapan tajam angga setiap kali dilontarkan. Karin hanya wanita tertutup sakit hatinya ditutupi dengan senyuman kepada orang yang peduli dengannya dan perhatian dengannya.


Malam pun tiba Karin hanya seorang diri bibi yang menemaninya tidak kunjung datang Karin hanya memandang langit-langit rumah sakit tanpa ada orang yang diajak bicara sama sekali.


“yah asam lambung Karin kambuh lagi sudah lama loe yah asam lambung Karin tidak kambuh seingat Karin waktu Karin nunggu ayam krispi dari ayah waktu itu jadi terpaksa Karin nunggu ayah pulang dan saat ini Karin terbaring dirumah sakit gara-gara Karin dikunci sama suami Karin yah. Yah saat sakit aja Karin sendirian tanpa ada yang menemani Karin orang yang katanya suami Karin dia moster yah Karin takut jika bertatap muka dengannya. Karin rindu ayah pelukan ayah disaat Karin sakit seperti ini”


Batin Karin yang merindukan sang ayah sangat memuncah apalagi dalam keadaan sendiri seperti ini. Karin selalu menjaga pola makannya mengapa dirinya sangat rakus dalam memakan dia tidak mau merepotkan siapapun termasuk sahabatnya kenapa dulu Karin selalu makan banyak jika lagi nongkrong atau dikelas karena Karin mempunyai asam lambung yang cukup parah dari itu Karin makan banyak, walaupun rara sering mengejeknya tetapi Karin cuek aja yang terpenting bagi karin agar terhindar dari asam lambungnya. Jika bukan dia sendiri yang memperhatikan siapa lagi Karin hanya sendiri walaupun masih ada ibu kandung yang tinggal satu atap bagi Karin dirinya hanya numpang di rumah ayah tirinya jajan, keperluan itu Karin sendiri yang memenuhinya uang dari ibunya satu juta buat sebulan itu hanya untuk membayar sekolahnya yang elit untung Karin sudah diberikan mobil oleh ayah arga disaat hari ulang tahunnya.


Tidak terasa Karin sudah tiga hari dirumah sakit bosan menghampirinya namun sang dokter belum mengizinkan Karin pulang namun karing kekeh ingin pulang dan bisa istirahat dirumah saja semoga saja angga suaminya tidak menekannya dan membiarkan dirinya istirahat sejenak.


Selama dirumah sakit Karin hanya sendiri karena bi siti dilarang untuk menemani Karin jika bi siti melanggar siap-siap bi siti angkat kaki dari rumahnya kejam itulah angga yang tidak membiarkan Karin tenang.


“kasihan ya pasien yang ditempat melati tidak ada yang menemaninya” ujar salah satu suster


“iya kasihan tapi semua biaya sudah lunas” sahut rekan suster


“mungkin keluarganya jauh kali” sambung salah satu suster


“sudah ayok kerja”

__ADS_1


Karin mendengar percakapan itu hanya bisa menghela nafas memang benar dirinya hanya sendiri semoga ada kebahagiaan untuk nya batin Karin selalu mengucapkan seperti itu tapi entah kapan kebahagiaan itu datang Karin hanya bisa menunggu saja.


__ADS_2