ISTRI KECIL TUAN ANGGA

ISTRI KECIL TUAN ANGGA
bab 9


__ADS_3

Pagi menyapa dan Karin sudah dari jam empat sudah bangun dia ingin menyelesaikan pekerjaan dibagi dua dengan bi siti. Bi siti sebenarnya tidak tega dengan nonanya yang harus ngepel rumah sebesar ini tapi harus gimana lagian ini kemauan tuannya mana bisa bik siti mencegahnya.


“uhh masak sudah tinggal ngepel” ujar Karin sambil menyiapkan makanan pagi diatas meja


“eh bi alat pelnya dimana ya” Tanya Karin


“eh non gak usah biar bibik aja” cegah bik siti karena merasa kasihan


“gak apa bik biar saya saja” ujar Karin sambil tersenyum


Bi siti mengambilkan peralatan untuk mengepel disebelak kamar mandi dapur dan menyerahkan ke Karin.


Kini Karin mengepel diruang deket tangga dengan senyuman karena pekerjaannya tinggal ngepel saja namun ngepelnya jika dilihat seperti lapangan sepak bola sangat luas dan banyak.


Tapi tidak disangka angga yang fokus di henponnya tiba-tiba tergelincir untung saja tidak jatuh langsung membentak Karin


“astaga Karin” bentak angga disaat menurungi anak tangga


Angga menghampiri Karin dengan jalan pelan-pelan


“anda bisa kerja tidak hah jika saya jatuh gagar otak apa anda siap masuk jeruji besi” bentak angga dengan wajah memerah


Karin yang di bentak hanya diam dan menunduk karena takut


“ma-af tu-an” ucap Karin terbata dengan tangan gemetar


Angga tambah marah sampai mendorong Karin jatuh kelantai membuat pantatnya sakit namun Karin tetap diam tanpa melihat wajah angga yang merah padam


“anda pikir jika saya jatuh dang agar otak apa akan sembuh dengan ucapan maaf” bentak angga sedangkan Karin hanya diam dan menunduk sekuat tenaga Karin menguatkan hati dan batinnya dengan prilaku suaminya

__ADS_1


“kalau ditanya dijawab gak diam apa saya bicara sama patung” bentak angga sambil menjambak Karin


Karin yang di jambak sampai mendongkrak kepalanya dan air matanya sudah meleleh dipipi namun tanpa isakan Karin harus kuat menghadapi suami nya ini


“jika besok anda tidak bisa kerja lebih baik anda tidur digudang ngerti” bentak angga


Dengan teganya angga melepaskan jambakannya dengan kasar sampai badan Karin terhuyung kebelakang.


“brengsek” teriak angga sambil menendang ember yang ada di depan kari sampai airnya mengenai muka Karin beserta bajunya yang basah.


Karin hanya diam dan menunduk diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri namun Karin selalu membaca diinternet jika seorang istri harus berbakti kepada suami karena surganya ada disuami


Karin dengan perlahan berdiri dan membersihkan genangan air yang telah di tumpahkan oleh suaminya. Dan masakannya yang sudah capek-capek dari pagi tidak dimakan oleh angga dia langsung pergi meninggalkan rumah tanpa bilang layaknya suami istri.


Karin mengepel seluruh ruangan lantai atas sampai lantai bawah semua Karin bersihkan. Angga sengaja tidak memperkerjakan banyak pembantu untuk mengerjai dan membabu Karin apalagi bi siti sudah tua tidak sekuat  anak muda. Padahal sebelum kedatangan Karin dirumah ini pembantu yang ada dirumah ini ada empat namun yang tiga segaja dipindahkan supaya angga leluasa menyiksa Karin karenanya dirinya harus menikah.


Pukul sebelas siang pekerjaan Karin selesai Karin melupakan sarapan pagi kini dirinya sangat lapar semoga saja angga tidak mengetahui bahwa dirinya makan sisanya tadi pagi jika tidak pasti dirinya akan dimarah oleh sang suami mencuri makananya


“non bibik cari-cari kemana aja” ujar bi siti khawatir pasalnya bik siti mencari-cari nona mudanya karena dari padi belum makan bisiti sudah keliling mencarinya namun nihil tidak ketemu mungkin rumah ini saking besarnya akhirnya bik siti menyerah menunggu dibawah


“maaf bi aku diruangan ujung sana ternyata banyak debunya jadi aku bersihin dari pada nanti kena amuk” ujar Karin sambil mencuci karena dia ingin makan


“ini sekarang non makan dihabisin pasti capek” ujar bi siti dengan cemas


Karin tersenyum dalam hatinya dirinya masih bersyukur jika masih ada yang baik kepadanya


“terima kasih bibik tahu aja kalau aku sudah lapar” canda Karin dengan senyuman


Karin duduk di meja makan dapur yang biasa dipakai oleh bi siti makan kini Karin makan dengan lahap karena pekerjaannya memang menguras tenaganya

__ADS_1


Setelah habis setengah tiba-tiba piring yang berada di meja sudah melayang dilantai beserta ikan gurame goreng dengan sayur bening yang sudah ada dilantai siapa lagi pelakunya jika bukan angga


Angga langsung menampar pipi Karin dengan kasar sampai-sampai membekas lima jari dipipi mulus Karin.


Plak


Mata Karin langsung terpejam merasakan kepasnya pipi kanannya dirinya tidak lagi meneteskan air mata sudah tiga kali dalam dua hari dirinya ditampar oleh sang suami yang katanya akan melindunginya namun ini bertolak belakang apa yang diharapkan. Entah kenapa Karin masih ingin bertahan disinya otanya ingin sekali kabur namun hatinya menjawab jangan kabur istri harus patuh pada suami.


“enak sekali anda makan – makan disini apa ini kelakuan anda selama saya tidak ada hah” bentak angga sambil menggebrak meja didepannya sampai Karin tidak sanggum menelan makanan yang ada dimulutnya.


“anda tahu makanan ini dibeli pakai uang kenapa anak seenak jidat makan tanpa izin hah” jambak angga dengan kuat apalagi sorot matanya menandakan penuh dengan kebencian


“sekarang anda ikut saya” tarik rambut Karin dengan kuat sambil diseret mengarah kegudang


Sedangkan bi siti yang tadi berada disamping menangis tertahan melihat nona mudanya diperlakuan seperti binatang


“non hiks hiks bibik gak bisa bantu huhuhu” tangis bik siti tertahan


Sedangkan Karin dibanting diruangan kumuh yaitu gudang yang jarang dibersihkan namanya juga gudang tempatnya seperti apa pasti gelap tidak ada lampu sama sekali


“ini hukuman anda selama tiga hari tanpa makan siapa yang suruh makan tidak izin sama saya sama sekali” lirih angga namun dengan penekanan


Karin langsung menangis dan langsung memeluk kaki angga supaya dirinya dimaafkan


“tuan maafkan saya, saya janji tidak mengulangi lagi” pertama kali Karin berbicara dengan banya dengan angga walaupun air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi


“hahaha ternyata anda bisa bicara juga ini yang saya suka melihat anda sengsara” gelegarnya dan menendang Karin sampai Karin terpental dari kaki angga


Angga keluar gudang dengan angkuhnya dengan wajah tegas sedangkan Karin berlari mengejar angga supaya pintunya tidak dikunci namun naas pintu sudah rapat membuat Karin menangis dan meraung sambil memanggil nama suaminya

__ADS_1


“tuan tolong buka tuan aku janji tidak akan mengulangi lagi tuan hiks hiks” tangis Karin disela-sela menggedor pintu gudang kuat sampai-sampai tangannya sampai memerah namun karin tidak peduli dengan tangannya yang ada difikirannya hanyalah supaya cepat keluar dari sini


__ADS_2