ISTRI KECIL TUAN ANGGA

ISTRI KECIL TUAN ANGGA
bab 7


__ADS_3

Semua orang sahabat keluarga bahkan orang tua angga sudah pulang kini angga berada satu kamar dengan Karin yang sudah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu saat ini Karin hanya berdiri disamping pintu dirinya tidak tahu mau ngelakuin apa tapi dirinya sebenarnya gerah ingin mandi namun ada angga ada dikamarnya canggung apalagi angga duduk disofa sambil memainkan ponselnya entah membuka apa mungkin kerjaan  Karin juga gak tahu.


Angga baru sadar jika sudah satu jam wanita yang sudah mendapatkan gelar istrinya masih berdiri di samping pintu sambil menunduk dan meremas tangannya masih sama menggunakan baju pengantin yang mama sinta belikan seminggu lalu.


“huuf” tarikan nafas panjang yang artinya banyak beban sekarang berada dipundaknya


“kenapa anda di sana kenapa anda tidak mandi” tegas angga walaupun nadanya bertanya tapi auranya bikin Karin keringetan


Karin langsung mendongkrakkan kepalanya mendengar penuturan sang suami dan berjalan kearah kamar mandi dengan menundukan kepalanya kembali disaat lewat didepan angga


Apakah ini yang dinamakan nikah apakah gue semenakutkan itu sampai-sampai dia tidak mau berbicara menatap mataku batin angga heran dengan sikap Karin


Karin yang lupa membawa baju ganti masih didalam kamar mandi dengan bingungnya mondar-mandir kesana kesini


“haduh gimana ini aku malu harus keluar hanya handukan saja” guman indah sambil menggigit kukunya


“mana badan gue udah mulai dingin lagi huffff ayah bantu ya” lirihnya sambil menguatkan diri dengan menyebut nama ayahnya supaya dirinya selalu kuat


Dengan rasa takut dan cemas Karin mengeluarkan kepalanya dan melihat situasi diluar dan benar saja angga masih sama dengan posisinya sebelum dirinya masuk kamar mandi.


Karin keluar pelan-pelan kearah lemari untuk mengambil pakaian yang kelupaan tadi


Angga yang sadar ada seseorang langsung menolehkan matanya walaupun hanya melirik mata angga melotot apakah Karin ingin menggodanya dengan tubuhnya yang tidak montok ataupun berisi malah keliatan kerempeng


Angga mendekati Karin dengan tangan dimasukkan keb saku celana dan melangkah pelan menuju Karin berdiri yang lagi memilah-milah baju


Karin sudah mendapatkan baju yang diinginkan langsung berbalik tapi betapa terkejutnya Karin dibelakangnya ada angga bagaskara yang sudah resmi menjadi suaminnya seketika baju yang dipegang langsung berhamburan saking kagetnya


Dan Karin melihat lilitan handuknya lepas buru-buru membenarkan dan dipegang erat Karin bukan orang bodoh yang tidak tahu apa itu pemerkosaan Karin takut jika dirinya diperkosa


Angga yang melihat maju kearah Karin sedangkan Karin mundur berusaha menghindari angga sampai Karin mentok dilemari membuat Karin takut apalagi tubuhnya hanya terbungkus handuk sedada


Angga yang mukanya datar tanpa ekspresi langsung mencengkram rahang Karin karena dalam fikirannya Karin ingin menggodanya supaya dirinya cepat hamil dan bisa menguasai hartanya


“anda mau menggoda saya” teriak tertahan angga sampai membuat wajahnya memerah karena marah


Karin yang dibentak dengan nada keras langsung terisak dan menggelengkan kepalanya padahal dirinya hanya lupa tidak menggoda apalagi Karin jika ingin meminta tolong itu sungkan dan takut


“asal anda tahu saya tidak tergoda dengan tubuh anda jadi jangan harap anda bisa saya sentuh buat saya tubuh anda tidak sama sekali menarik dimata saya anda paham” bentak tertahan angga sambil mencengkaram rahang Karin sedangkan Karin hanya menggeleng dan mengangguk sambil mempertahankan handuknya supaya tidak terjatuh


“jangan harap pernikahan ini pernikahan normal pada umumnya anda tahu anda pasti mau menguras habis harta keluarga saya cuih” hina angga sambil meludah disamping Karin yang sudah terisak dengan lelehan air mata yang sudah menetes dan membanjiri pipinya


Angga melepaskan cengkramannya dengan kasar sampai Karin terbanting kesamping walaupun tidak sakit namun bentakaan hinaan itu yang bikin hati Karin sakit.

__ADS_1


Karin tidak akan bisa melawan apalagi Karin memiliki jiwa lembut tidak bar-bar seperti teman-temannya apalagi ini dibentak oleh suaminya sendiri seharusnya menjadi pelindung setelah ayahnya tiada namun didalam hati Karin dirinya akan selalu sendiri tidak ada yang mau menompang hidupnya.


Setelah membentak Karin angga keluar dari kamar dan ketemu rusdi dibawah namun angga mengabaikannya tanpa menyapa sama sekali ayah mertuanya itu


“Dasar anak jaman sekarang sama mertua saja tidak mau menegur sapa untung aja kaya jika tidak sudah ku pastikan akan saya depak dari rumah saya” guman rusdi melihat menantunya sudah tidak terlihat lagi mau kemana


Berbeda dengan Karin memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya atas nasibnya yang dimiliki ayah yang sangat menyayanginya meninggalkan didunia ini ditambah dirumah keluarga barunya dirinya seperti tidak pernah dianggap sama sekali mau pulang terserah mau makan terserah apalagi sekarang mendapat suami yang kasar Karin walaupun keluarga barunya tidak menganggapnya namun didalam perjanjian tidak ada yang membentak anak walaupun dari pihak manapun


“ayah Karin ingin ikut ayah Karin takut yah Karin hanya sendiri semuanya tidak ada yang peduliin Karin yah hiks hiks” tangis Karin pecah disela lututnya padahal tangannya sudah keriput yang bertanda dirinya kedinginan namun Karin enggan untuk beranjak dari duduknya


Angga mengendarai mobilnya tidak tentu arah akhirnya angga memutuskan menginap dihotel untuk menenangkan fikiran karena akhir-akhir ini selalu saja emosi memikirkan masalah-masalah yang terjadi apalagi papinya mendukung pernikahan ini membuatnya tambah frustasi.


Setelah cukup lama Karin berdiri dan memungut baju yang berserakan karena terkejut melihat angga dibelakangnya dirinya masuk ke kamar mandi dan memakai baju dan melihat rahangnya yang merah akibat cengkraman angga terlalu kuat Karin buru-buru memakai salep supaya tidak dikira mencari perhatian


“aku harus mengobati segera supaya om angga tidak marah lagi” guman Karin keluar dari kamar mandi


Karin mengoles salep di rahangnya walaupun agak perih namun buat Karin masih sakit hatinya sering dihina dan tidak dianggap namun tidak separah angga yang memperlakukannya


Karin memberesi baju yang besok mau kerumah yang akan ditinggali dirinya dan angga walaupun orang tua angga ingin angga tinggal sama papi dan maminya tapi angga menolak dengan alas an angga ingin mandiri


Jam sudah menunjukan pukul 23.18 namun angga tidak ada tanda-tanda masuk kamar ataupun suara mobil yang datang berarti angga tidak pulang Karin sedikit lega karena dirinya tidak senam jantung yang harus tertekan dengan sikap dingin dan bermuka datar membuat Karin bergidik ngeri


Karin menyempatkan diri duduk di candela seperti biasa menulis setiap bait-bait curahan hatinya walaupun tidak ada tanggapan sama sekali namun Karin puas sudah menulis dibuku deary karina larasati buku yang dimiliki oleh Karin yang tiap hari dia menulis bukunya sampai usang jaman 2018 sampai 2023 untuk aja bukunya bisa diisi ulang jadi tidak harus di ganti lagi kalau habis dinggal ngisi saja.


Semua sudah siap semua keluarga berkumpul untuk makan betepatan dengan angga datang berjalan dengan wajah datar jika tidak ingat membawa Karin dirumah barunya pasti dirinya akan langsung kekantor namun sang mami dan papinya menyuruh angga cuti untuk membereskan perpindahan angga dan Karin.


Angga melihat dimeja makan lengkap keluarga rusdi terkecuali Karin dimana gadis itu makah tidak makan.


“eh nak angga dari mana” Tanya rusdi sok akrab


“ada urusan sebentar” jawab acuh angga memposisikan duduk dan makan dilayani mbok sum


Dibenak angga mempertanyakan dimana sosok karina larasati


“silahkan den” ujar mbok sum angga hanya mengangguk saja


Angga menyuapin makanan dimulutnya kesan pertama enak persis masakan momi namun angga tetap diam dan acuh.


Tak berselang lama angga selesai makan dan ingin kekamar siapa tahu Karin diatas namun dirinya menuju didapur melihat Karin makan berdua dengan mbok sum satu piring berdua dengan canda tawa walaupun air mata dipipinya untuk tanda perpisahannya.


Setelah semua selesai Karin menyeret kopernya hanya beberapa yang dibawa toh minggu depan dirinya akan pulang ke Jakarta karena sekolahnya akan mengadakan pengumuman kelulusan


“ibu kari pamit ya” ujar Karin mencium tangan indi

__ADS_1


Indi menangis entah pura-pura atau tidak Karin tidak bisa membedakannya


“hati-hati nak disana ya hubungi ibu jika butuh sesuatu” jawab indi dengan memeluknya


Setelah melepaskan pelukannya Karin menuju ke ayah rusdi yang sudah mau menampungnya itu cukup baginya walaupun tanpa ditanya sama sekali Karin menyalami dengan lajim


“yah ibu kami pamit assalamualaikum” pamit angga menuju kemobilnya


“hati-hati nak” teriak indi


Kini angga dan Karin menuju kebandung tempat tinggal angga dan dirumah baru angga. Walaupun tidak jauh dari rumah papi dan maminya namun angga harus mandiri dan banyak yang ada difikirannya


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam kini angga dan Karin sudah sampai diperumahan elit yang dibeli oleh angga rumahnya tidak sebesar rumah kedua orang tuannya namun rumah ini  berlantai dua dan halamannya luas.


“hey anda masih ingin mau tidur” ujar angga datar sambil menyenggol menggunakan kaki angga


Karin mengeliat dan melihat ini dimana Tanya Karin yang baru saja membuka matanya. Sedangkan angga sudah berjalan menuju kedalam rumah. Buru-buru Karin turun dan menyeret kopernya dan mengejar angga


Seorang pembantu membuka kan pintu rumah dan Karin menatap rumah yang menurutnya cukup besar sang suami angga sudah tidak terlihat lagi entah dirinya kemana


“maaf nyonya kamar nyonya bisa saya antar” ujar bibi siti pembantu rumah tangga yang sudah bekerja dua tahun bersama angga


“eh bibik jangan dipanggil gitu panggil aja karina bibi siapa namanya” Tanya Karin ramah


Bibik siti tersenyum ternyata nyonya  ramah karena melihat dari tuannya bermuka dingin dan datar difikirannya pasti nyonya akan sombong bergelimang harta seperti nona rosa yang pernah dibawa kesini sama angga


“bi panggil Karin aja ya jangan nyonya ya” ujar Karin


“nona aja kalau begitu” balas bik siti dengan senyuman


Karin mengangguk dan menuju kamar yang sudah disiapkan kamar Karin dilantai dua


“ini kamar non kalau begitu saya tinggal dulu ya non” pamit bi siti


“iya bi terima kasih” ujar Karin sambil tersenyum kemudian Karin membuka pintu kamar


Clek


Pintu terbuka Karin yang kagum dengan kamarnya yang sangat luas berbeda di rumah rusdi kamarnya sempit wajar angga suaminya tidak sudi tidur dikamarnya memilih tidur di hotel


“wah besar sekali kamarnya” kagum Karin dengan mata tabjuk melihat kamar yang indah sama seperti kamar silvi dirumahnya


“hmmm” deheman seseorang langsung bikin Karin mematung

__ADS_1


__ADS_2