
Sudah satu bulan Karin sejak pulang dari rumah sakit hidup Karin aman dan makan selalu teratur. Setelah pulang dengan menggunakan angkot Karin disambut dengan isakan tangis bi siti dan para pembantu dirumah tuan angga menatap sendu nyonya mereka karena diperlakuan suaminya semena-mena mereka hanya bisa berdoa dengan baik semoga nyonya diberikan kebahagiaan
“non makan dulu sudah waktunya makan” ujar bi siti
“iya bi” jawab Karin dengan senyuman
Selama pulang dari rumah sakit angga sang suami tidak ada tanda-tanda datang kerumah ini katanya tuannya berada diluar negri ada urusan bisnis Karin merasa bersyukur dirinya tidak lagi ada bentakan atau perilaku kasar terhadapnya.
“non mau makan pakai apa” Tanya bi siti mereka berada dimeja dapur Karin tidak berani memakai meja makan yang angga pakai makan disini banyak sekali CCTV Karin tidak mau mencari gara-gara pada tuannya
“ini aja deh bi” pilihan Karin kepada sayur bening dan tempe bacem
“silahkan dimakan non” balas bi siti juga memakan masakan
Mereka membagi tugas membersihkan rumah sebesar ini hanya berdua membuat mereka keteteran sedangkan kebun dan halaman sudah ada pak arman dan pak supri yang membantunya
Kini hari berubah menjadi malam dan entah kenapa angga datang kerumah ini dengan wajah datar kelihatan jika dirinya sangat lelah. Karin yang melihat mengenyitkan dahinya bingung melihat suaminya sangat lesu biasanya jika melihat Karin langsung marah-marah namun kini angga hanya melewatinya.
Karin mendongkrakan wajahnya melihat angga menaiki tangga dengan langkah capeknya. Karin berinisiatif membuatkan wedang jahe supaya tubuh angga lebih segar entah apa yang ada difikiran Karin terbesit fikiran itu padahal angga selalu jahat padanya
Setelah selesai Karin ragu untuk memberikan wedang jahe kepada angga takut ditolak dan melontarkan kata kasar namun dihati Karin harus menyerahkan wedang jahe ini
Tok
Tok
Tok
Tiga kali ketukan membuat Karin keringat dingin takut sang suami marah-marah dan menghukumnya
Clek
Pintu dibuka oleh angga dengan tampilan fres dan memakai pakaian santai rumahan
“maaf tuan ini saya buatkan wedang jahe buat tuan” ucap Karin dengan terbata dengan wajah menunduk
Tidak ada jawaban tetapi wedangnya diambil oleh angga dan menutup kembali pintunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun
Karin yang melihat wedang buatannya diterima Karin mengukir senyuman bahagia walaupun angga sering menyiksanya tetapi hati Karin sangat bahagia jika dihargai seperti ini kemudian Karin kembali masuk kedalam kamarnya
Sedangkan angga sejak pulang dari italia dan Kalimantan tubuh angga sangatlah capek dan lelah apalagi maminya selalu menelor dirinya kenapa menantunya tidak pernah diajak kerumah utama selama ini angga tidur diapaterman miliknya biasa angga orang kaya.
Setelah bersih-bersih angga mendapatkan ketukan membuat angga mendesis siapa yang malam-malam mengetuk pintunya setelah dibuka ternyata Karin dengan tangan gemeteran menyerahkan wedang jahe membuat angga bingung namun pas bahwa tubuhnya memang membutuhkan wedang jahe tanpa menunggu lama angga mengambilnya tanpa mengucap satu katapun. Dan angga mengecek CCTV dapur memastikan bahwa wedang jahenya tidak dicampuri obat perangsang ataupun racun jika sudah aman angga meminum dan menikmatinya
“enak juga” lirihnya angga tanpa sadar sambil mengendus wedang jahenya
Setelah meminum jahe angga memposisikan untuk tidur badannya sangat lelah butuh istirahat
Pagi sudah menyapa belum ada jam enam semua sudah beres jarin bangun jam empat untuk membereskan semuanya sampai bik siti heran sama nona mudanya yang sudah berberes dan semuanya sudah kinclong masakan sudah tersedia diatas meja
“non kok sudah bersih” Tanya bi siti heran
“iya bi biar cepat takut tuan marah jika saya belum menyelesaikan bi” ujar Karin sambil mencuci piring
“udah non mandi biar bibik saja yang nerusin” lanjut bi siti
__ADS_1
“gak usah tinggal sedikit kok bi” balas Karin
Akhirnya bi siti menyerah dan ingin mencuci ternyata sudah dicuci tinggal mongering saja membuat bi siti geleng-geleng kepala kapan nonanya bangun jam berapa kok semuanya sudah beres
Setelah selesai Karin menuju kamarnya namun tidak disangka dirinya malah bertemu dengan angga Karin langsung menyingkir dan menunduk takut jika tuannya malah namun tidak disangka angga hanya melewatinya Karin bernafas lega namun disaat mau membuka pintu suara tegas dan datar menggelma
“jangan lupa datang kekantor” suara datar angga tanpa berbalik membuat Karin menegang seketika walaupun tidak membentak namun cukup membuat Karin ketakutan
“baik tuan” suara gemeteran Karin setelah melihat angga turun tangga karun buru-buru membersihkan badan dengan kilat yang penting bersih
Setelah selesai Karin turun dan tidak ada angga dimeja makan Karin dengan buru-buru membekal untuk dimakan dikantor apa yang dimaksut angga sudah faham ini adalah dirinya membayar utang dengan bekerja menjadi OB dikantor suaminya sendiri
“bi saya berangkat dulu ya” ujar Karin dengan memakan selembar roti
“mau kemana non” bingung bi siti
“kekantor tuan nanti aja kalau pulang saya ceritakan” ujar Karin memasukkan bekalnya ditas dan tidak lupa membawa roti lagi untuk dimakan sambil berlari untung dirinya sudah beres-beres dari jam empat pagi
Karin keluar dengan menggunakan motor butut milik pak supri jika naik taksi atau ojek kelamaan karena Karin mengejar waktu supaya cepat datang ke perusahaan bagaskara grub
Saking buru-burunya Karin sampai lupa perusahaan bagaskara grub dimana membuat dirinya bertanya sama beberapa orang dan kurang lebih satu jam baru Karin menemukan perusahannya
Karin lari dan disana sudah terlihat angga berdiri didepan pintu masuk perusahaannya dan melihat jam tangannya sampai para staf bingung mengapa bosnya berdiri disitu seperti menunggu seseorang
“maaf pak telat lima menit” ujar terbata Karin dengan menunduk
“lima menit adalah waktu jika mulai besok anda telat lari lapangan 50 kali putaran” jawab datar angga kemudian masuk keperusahaannya
Karin yang sudah keringat dingin hanya bisa menghela nafas padahal dirinya muter-muter mencari perusahaan besar ini...
Karin diarahkan HRD kebagian OB dan harus menggunakan headset Bluetooth supaya yang pesan bisa terkomfirmasi dengan baik. Kini Karin sudah memakai pakaian OB dengan rambut dijambul asal-asalan namun kelihatan manis dengan kulit putihnya apalagi bibirnya sedikit dipoles dengan lipstik supaya bibirnya tidak pucet kini penampilan Karin sudah perfect yaitu mengantar minuman diruangan derektur terlebih dahulu.
“hay kamu OB baru” Tanya rehan dengan sopan
Rehan yang melihat OB baru seperti mengenal tapi siapa rehan lupa wajah istri bosnya sendiri ini ini akan rehan jadikan target selanjutnya dalam hati rehan
“iya pak” jawab Karin dengan senyuman
“saya pesen kopi rasa latte jangan lupa diantar ruangan sebelah sana ya manis” pesen rehan kepada Karin
Sedangkan Karin hanya mengangguk yang berarti iya setelah melihat kepergian rehan Karin memasuki ruangan angga dengan mengetuknya
Tok
Tok
“masuk” teriak angga
Karin yang mendengarkan teriakannya langsung gemeteran seketika
Clek
Dengan keberanian yang full walaupun kaki gemetan dan keringan sudah membasahi keningnya tetapi Karin harus tetap melangkah melawan takutnya.
Angga hanya melihat dengan sekilas dan fokus lagi dilaptopnya Karin meletakkan kopinya dengan pelan takut tumpah apalagi tangannya gemeteran
__ADS_1
“ada yang dibutuhkan lagi” Tanya Karin dengan terbata
“hmm” guman angga yang tandanya tidak lagi membutuhkan apa-apa lagi
Karin kemudian keluar dari ruangannya dan bertemu dengan rini seketaris angga memandang dengan sinis karena melihat Karin seperti masih anak SMA apalagi berani-berani mengantar kopi diruangan sang derektur
“eh loe OB baru” sinis rini
“iya mbak” jawab Karin sambil menganggukkan kepalanya
“apa kata loe mbak emang muka gue sudah setua itu panggil gue miss ngerti” bentak rini sambil melototkan matanya
Karin hanya mengangguk saja tanpa menyahutinya karena jika dirinya sudah dibentak seperti itu berarti orang yang berada didepannya ini tidak suka dengannya
“buatin teh jangan manis-manis” perintah rini dan kemudian duduk diruangan yang berkaca jadi jika ada yang ingin bertemu sang derektur pasti rini langsung menghampirinya dan menanyakan keperluannya
Karin turun ke bagian OB untuk mengambil pesenan atasannya apalagi Karin selalu tersenyum jika bertemu dengan staf-staf dikantor ini ada yang memandang rendah ada juga yang ramah namanya juga manusia tidak ada semuanya baik
Tok
Tok
“iya silahkan masuk” teriak namun lembut milik rehan
Clek
Rehan langsung mendongkarakkan kepalanya ternyata OB manis yang datang dirinya langsung tersenyum cerah apalagi sang OB masih keliatan imut pikiran rehan mungkin OB ini masih SMA
“ini pak minumannya silahkan dinikmati” ujar ramah Karin
“terimakasih manis ohya siapa namamu” Tanya rehan
“saya kirana larasati” jawab Karin rehan langsung menyengitkan alisnya seperti pernah dengar dengan sebutan nama itu tapi dimana
“ada yang bisa saya bantu kembali pak” Tanya Karin namun rehan menggelengkan kepalanya
“tidak terimakasih” ramah rehan dan masih memikirkan nama sang OB
Karin keluar dan menyerahkan tehnya kemeja rini dengan ramahnya
“silahkan dinikmati miss” ujar Karin sebenarnya takut dibentak lagi namun sepertinya rini sedang fokus dan tidak memperdulikan Karin sama sekali
Mungkin jika tahu Karin adalah istri angga pasti rini tidak akan acuh dan membentaknya tetapi Karin hanya setatus saja nyatanya mereka seperti orang lain
“uhhh akhirnya selesai juga tinggal bagian devinisi keuangan sama pemasaran semangat” ujar Karin dengan melangkahkan kakinya dengan ringan
“eh kamu OB baru ya” Tanya ardi yang sama OB yang belum bertemu sama Karin sama sekali
Ardi sama dengan Karin datang langsung membuatkan minuman dibagiannya ardi awalnya bingung mengapa dirinya dipindah tugaskan ternyata ada OB baru
“iya kak” jawab Karin
“ohya kenalin saya ardianto panggil ardi mungkin kita hanya berjarak satu tahun jadi panggil aja ardi” ujar ardi sambil mengulurkan tangannya
“oh iya kak eh ardi….saya karina larasati panggil aja Karin” jawab Karin sambil membalas uluran tangan ardi
__ADS_1
“mintak no WA mu dong”
Wah wah ada yang mintak nomor wa ni gimana tanggapan Karin ya apakah diberi atau tidak ya jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar