
Matahari sudah meninggi namun sosok yang dingin dan tegas masih tertidur dengan pakaian yang sudah berbeda semalam rehan menggantikan pakaian sahabatnya yang mabuk berat dengan racauan yang menyebutkan pertunangan beserta tangannya ada cincin yang terpasang dijarinya.
Sudah jam sebelas siang rehan menunggu sahabatnya dan sekaligus bosnya ini namun tida lama kemudian angga menggerakan matanya dan membuka matanya dia langsung bangun melihat ini bukan kamarnya namun kepalanya sangat sakit efek mabuk semalam.
Rehan yang melihat hanya tersenyum tipis melihat hal bodoh sahabatnya yang selama dua puluh delapan tahun dia tidak pernah menyentuh alkohol. Dan kini dirinya memukuli kepalanya karena merasakan pusing di kepalanya.
“gimana keadaan loe” suara rehan menyadarkan angga bahwa diruangan ini ada seseorang selain dirinya
“kenapa gue ada disini” ujar angga balik Tanya
Rehan yang mendengarkan tertawa melihat tingkah angga dimana kepintarannya selama ini masak minum alkohol semalam menjadi bodoh
“seharusnya gue yang nanya kenapa loe ada di tempat yang seharusnya loe gak datang” Tanya rehan tenang padahal dalam hatinya sudah tidak sabar ingin menanyakan siapa gadis yang selalu disebutkan dan dibencinya
Angga mengingat apa yang terjadi sambil memeganginya kepalanya yang masih sakit
“gue lagi pusing aja” jawab angga cuek
Rehan terkekeh dan berjalan kearah candela dan melihat pemandangan kota dari lantai lima belas
“gue tahu elo g aloe gak bakalan ketempat seperti itu jika tidak masalah berat” Tanya rehan
“gue-“ ucapan angga terpotong dengan ucapan rehan
“mungkin loe bisa menghindar tapi cincin di jari manis loe itu tidak akan bohong” selidik rehan supaya angga mengakuinya
Angga menghela nafas percuma berbohong angga juga perna mengurusi rehan waktu mabuk ngomongnya yang sudah ngalor ngidul apakabar dengan dirinya pasti ngeracu tak jelas
“gue sudah tunangan dengan gadis SMA” ucap angga kemudian yang langsung bikin rehan kaget bukan kaget dengan tunangannya namun kaget dengan gadis SMA itu apakah sahabatnya ingin menjadi pendofil
Rehan langsung mendekati angga untuk memastikan ucapannya
“loe serius kara loe bukan penjahat kelamin kan” tuduh rehan
Angga yang mendengarnya langsung menabok rehan menggunakan bantal karena fikirannya tidak masuk akal apakah mukannya pantas menjadi pendofil juniornya aja belum pernah masuk sarangnya tidak seperti rehan yang sering clap clup
“emang tampang gue penjahat iya” kesal angga
“lagian tunangan sama anak SMA apa gak ada lagi gadis lain” ujar rehan
“harusnya juga seperti itu tapi bokap gue yang kekeh gue nikahin tu bocah tapi gue curiga sama papa jika ada yang disembunyikan dari gue” serius angga yang tidak biasanya papanya kekeh
“Terus itu bocah mau menerima loe tunangan” Tanya rehan penasaran
“iya nerima tapi gue selalu emosi jika bersamanya” emosi angga mengingat Karin yang selalu diam jika ditanya atau diajak berbicara
“gadis itu tidak sepadan sama gue dia cocoknya menjadi adik gue bukan istri gue itu yang bikin gue frustasi” ujar angga
__ADS_1
“aku tahu tipe wanita yang loe sukai” ujar rehan
“terus rencana loe apa kara” Tanya rehan
Angga berdecih mendengar panggilan menyebalkan rehan panggilan yang sangat dihindari oleh angga sampai saat ini tapi jika keluarga yang memanggilnya dirinya tidak akan seperti ini
Rehan hanya terkekeh melihat sahabatnya sebel dengan panggilannya masa kecilnya itu
“bagaimana lagi gue harus nurut sama mami dan papi gue loe tahu sendiri gue anak satu-satunya untuk gadis itu gue gak mempublikasikan biar dia dirumah saja sejauh mana dia bertahan” ujar angga yang sudah menata rencana setelah menikah
“jangan terlalu keras nanti jika loe jatuh cinta sama dia loe yang repot sendiri” peringat rehan kepada sang sahabatnya ini supaya tidak salah jalur
“gue tidak suka dengan bocah ngerti” kesal angga kepada sahabatnya ini
“bocah bisa buat bocah loe kara” kekeh rehan berlari menuju ke kamar mandi setelah mengatai angga
“dasar bangsat loe jing” pekik angga namun yang di kamar mandi malah tambah tertawa terbahak-bahak
Tak lama rehan keluar dengan setelan jas sudah rapi angga memicingkan matanya heran dengan penampilan angga yang formal
“loe mau kemana” Tanya angga
Rehan melotot mendengarkan angga malah bertanya seperti orang bodoh hari ini ada metteng di jam dua siang dan jam empat dirinya terbang kesingapur untuk menghadiri acara sekaligus tanda tangan kontrak kerja. Jangan bilang angga kehilangan ingatan gara-gara akohol sialan itu.
Reyhan berdecih dan melempar handuk yang dipakainya kea rah angga yang masih seperti orang kebingungan
“mandi sana hari ini ada metteng di lestoran B jam dua siang jangan bilang loe lupa sialan” sebal rehan kepada sahabatnya
“lah malah bengong anjing cepet mandi baju sudah gue siapin noh cepet” ujar rehan yang ngomel-ngomel
Rehan lebih suka kerja sama angga karena dia bukan bosnya padahal papa rehan sudah ingin rehan memimpin perusahan ajm grub
Angga langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berangkat metteng urusan maminya nanti dihubungi lewat telpon saja
Setelah cukup lama angga keluar dengan setelan jas lengkap beserta dasi yang mengikat dilehernya dan kini rehan dan angga berada direstoran untuk ketemu celien
Kini mereka sedang menunggu clain ditempat privat karena yang akan dibahas cukup penting untuk kerja sama mereka untuk mengespor kayu hasil yang sudah diproduksinya
Tidak lama rombongan dari prancis datang dan duduk di tempat yang sudah disediakan claiannya berada diindonesia karena liburan dan sekalian menandatangani kontrak anatara dirinya dengan perusahaan Indonesia yang berada dibandung
Sekitar satu jam semua sudah dil dan sepakat pihat angga akan mengespor kayu jati untuk di ekspor ke perusahaan yang ada diperancis dengan harga yang cukup fantasti setelah selesai metteng telponnya berbunyi
Dret
Dret
Angga mengambil telponnya yang ada di saku jas dan melihat siapa yang menelfon ternyata sang mami yang menelpon
__ADS_1
“assalamualaikum mi” salam angga
Rehan melirik angga hanya bisa menebak pasti akan kena omel mautnya maminya namun rehan bodo amat dan melanjutkan makanannya
“walaikum salam kamu ya dasar anak nakal dimana kamu” omel mami sinta diseberang telepon sampai-sampai angga menjauhkan ponselnya dari telinganya
“he dengar mami tidak sih kamu itu dasar anak nakal” omel maminya membuat angga menghela nafas
“mami aku lagi rapat dengan orang prancis dan kini aku akan terbang ke singapur” jujur angga dengan ucapan lembut
“apa dasar anak nakal kemana kamu tidak pulang semalam” Tanya mami yang sudah ngomel-ngomel
“aku tidur tmpat rehan mi” jawab angga namun sang mami tidak percaya
“sekarang mana rehan mana percaya mami sama kamu” ujar mami sinta
Angga bisa pasrah dan menyerahkan telponnyya kepada rehan yang lagi makan dengan tatapan bingung
“mami mau ngomong sama loe seperti biasa” ujar angga padahal dirinya sudah dua puluh delapan tahun bukan tujuh belas tahun
Rehan menerima telpon “hallo tante” ucap rehan
“ini juga salam mana” cecar mami sinta.
Rehan seketika menepuk jidatnya karena lupa tidak pakai salam
“assalamualaikum tante cantik ada apa” ujar rehan sambil mendayung-dayung membuat angga yang makan memutar bola matanya malas
“apa benar kara tidur di unit kamu” Tanya mami sinta lebih tepatnya mengintrograsi teman anaknya ini
“benar tante semalam kami mengerjakan preyek baru maaf lupa ngabari tante” bohong rehan sukses membuat mami sinta percaya dan langsung disuruh telponnya diberikan ke anaknya
“udah percaya mi sekarang bahwa kara tidak kemana-mana”ujar angga
“iya mami percaya awas aja jika kamu macam-macam mami sunat kamu dua kali” peringat maminya
“iya mamiku sayang” jawab angga tenang
“iya udah hati-hati disana kapan pulang” Tanya mami sinta
Berangkat aja belum ditanya pulang jika gue jawab panjang ni urusan batin angga
“besok pagi karena masih ada kerjaan disana” jawab angga dengan sebenarnya
“iya hati-hati assalamualaikum”
“waalaikum salam”
__ADS_1
Tut
Telpon dimatikan setelah selesai itulah angga suka dicariin walaupun umur sudah dua puluh delapan tahun namun menurut mami sinta sama saja masih kecil menutut mami sinta