
Setelah meeting Bara keluar perusahaan nya untuk menemui sang pujaan hatinya di kampus Nayla.
Nayla telah menunggu tunangan tampan nya itu di parkiran kampus.
" Hay Nayla, kamu ngapain disini? engga bawa mobil ya? tanya Riyo melihat wanita yang hampir setahun terakhir mengisi hati nya, namun dia sungguh takut untuk mengungkapkan cintanya kepada Nayla.
" Hay Riyo, iya nih lagi nungguin kakak jemput jawab Nayla.
Iyakan aku panggil kak Bara kaka, jadi ya engga apalah kalau aku rahasia kan pernikahan aku nantinya, isi kepala Nayla.
Nayla melihat mobil Bara memasuki area parkir.
Riyo aku pulang dulu ya, kakak aku udah datang tu, ucap Nayla pergi meninggalkan Riyo yang menatap tanpa henti dan Itu semua di lihat Bara.
Bara menatap tajam lelaki teman kampus calon istri nya.
Hay kak, panggil Nayla saat membuka pintu mobil Bara. Sementara yang di panggil hanya senyum tipis.
Nayla bingung kenapa Bara seakan mendiamkan nya.
Kaka kenapa? tanya Nay melihat raut wajah Bara berubah datar.
" Tidak apa, udah siap ngobrol nya sayang? kalau mau ngobrol lagi juga engga apa! ucap Bara menyindir Nayla.
Nayla hanya mengerutkan dahi nya karena bingung.
__ADS_1
Kaka tu kenapa sih? kaka cemburu sama Riyo? pertanyaan Nayla membuat Bara menatap nya kesal.
Hahahaha tawa Nayla menggema di mobil itu. Ya ampun kak, aku sama Riyo hanya teman kampus, tidak lebih.
Aku tau dia suka aku, tapi aku hanya anggap teman kaka sayang, goda Nayla.
Bara melihat mata Nayla mencari kejujuran, memang Nayla berkata jujur.
" Sayang, Bara memegang tangan Nayla, aku takut kehilangan kamu.
Aku sayang kamu nay, please jangan buat aku cemburu, dan mulai sekarang jauhilah teman lelaki mu, aku tidak melarang kalian berteman tapi jangan terlalu dekat, ucap Bara.
Nayla tersenyum membalas genggaman tangan tunangan tampan nya.
Aku juga cuma cinta kaka Bara, tidak akan ada lelaki di luar sana yang mampu menggantikan kaka, percaya lah itu, ucap Nayla tersenyum lembut
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Kini mereka tiba di salah satu percetakan undangan ternama.
Kedua nya turun dan di sambut oleh pemilik percetakan undangan tersebut.
Setelah berbincang dengan pemilik dan meminta sample undangan, Nayla dan Bara mulai memilih.
Kak, aku tu suka warna ungu dan putih, jadi aku mau undangan kita warna itu, ucap Nayla.
Bara menggeleng, engga mau sayang.
__ADS_1
Kaka engga suka warna ungu, kalau putih oke lah tapi ungu nya kita bantu jadi coklat, bagaimana? terus kasih serpihan warna emas agar terkesan mewah, pintar Bara.
Nayla cemberut dan kesal dengan pilihan Bara.
Pemilik hanya diam mendengar perdebatan calon pengantin itu.
Nona dan Tuan Bara, bagaimana kalau kalian mengkombinasikan saja warna yang kalian mau tadi, saya akan buat undangan dengan warna Ungu dan Coklat di kombinasi Warna emas, lanjut pemilik menengahi.
Bara dan Nayla berpikir akhirnya mereka setuju.
Drama undangan siang itu selesai dengan Campur tangan pemilik percetakan.
Baiklah Tuan Tio, saya akan tunggu hasil undangan anda, oia saya pesan 7000 undangan untuk pernikahan kami.
Tuan Tio mengangguk senang, akhirnya pasangan itu mau menurunkan ego mereka demi bisa mendapatkan keinginan mereka masing-masing.
Setelah keluar dari percetakan, Bara membawa Nayla yang masih kesal ke restoran.
Sayang, kita makan siang dulu ya pinta Bara.
Nayla mengangguk karena dia juga lapar sekali.
Kedua nya duduk di ruang privat yang telah di booking Bara sebelum menjemput Nayla tadi.
Kedua nya makan siang dengan tenang dan Bara meminta untuk melupakan hal kecil di percetakan tadi dan Nayla setuju.
__ADS_1