
"Perih." lirihnya.
"Kamu tidak apa apa? sini saya lihat." arsen sangat khawatir dengan gina gara gara dirinya gina harus menahan sakit akibat tamparan keras dari jesika.
"Tidak usah dok, gak sakit lagi kok." tolak gina.
"Ck, saya tidak suka penolakan." Arsen langsung memboyong gina ke kamar dan mendudukannya di tempat tidur.
"Sebentar saya ambil kotak P3k." hanya di balas anggukan oleh gina.
Arsen mencari kesana kemari kotak P3k itu, ia membuka satu persatu lemari yang ada di kamarnya tapi nihil tak ada ada kotak P3k di sana.
"Ah, dimana ya, tunggu sebentar saya coba lihat di kamar mandi di dekat dapur." ucap arsen lalu pergi keluar kamar.
Gina tak mengatakan sepatah kata pun dia hanya diam sambil melihat arsen yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Kamu sabar ya gina, ingat ini hanya 6 bulan. setelah itu kamu bisa bebas ucap gina menyemangati dirinya dalam hati.
Gina melihat kesekeliling kamar arsen dan matanya tertuju pada sebuah benda tinggi yang di tertutupi kain berwarna hitam. gina hendak menghampiri benda itu hanya Saja suara arsen langsung membuatnya mengurungkan niat untuk menyingkap benda itu.
"Ettt, tetap duduk jangan bergerak." gina baru saja berdiri mengurungkan niatnya ketika melihat arsen yang sudah membawa kotak P3k di tangannya.
Arsen pun langsung dengan sigap memeriksa pipi gina dengan teliti.
Lebam batinnya.
"Buka mulutmu." pinta arsen.
Karena tamparan tadi pipi gina membiru dan ada sedikit luka dari dalam bibir gina bayangkan saja seberapa kuat jesika menampar pipi gina padahal itu hanya 1 kali tamparan.
"Maaf." hanya itu kata kata yang mampu di ucapkan arsen melihat gadis di depannya ini dengan pipi yang biru.
"Untuk apa?"
"Maaf karena saya kamu harus di tampar oleh jesika, saya sungguh minta maaf." ucap arsen dengan nada yang melemah.
"Oh, jadi namanya jesika ya." ia memang dari awal tidak tau dengan nama wanita itu. arsen hanya mengangguk sambil mengoleskan obat salep di pipi gina.
"Hm, yasudahlah tidak usah di pikirkan." ucap gina berusaha biasa biasa saja. pikirannya tertuju pada waktu dimana aska menamparnya. memang sakit di pipinya nya tak seberapa tapi sakit di hatinya? tidak dapat di ucapkan dengan kata kata.
"Walaupun begitu saya masih merasa bersalah. saya benar benar minta maaf."
"Ti-"
"Jangan bicara dulu, buka mulutmu lebar lebar." gina langsung membuka mulutnya dengan lebar untuk mempermudah arsen mengoleskan obat di dalamnya.
"Akh." guna merasakan perih yang luar biasa di dalam mulutnya ketika arsen mengoles obat.
"Maaf, saya akan pelan." entah berapa kali arsen mengucapkan kata 'maaf'sampai sampai gina bosan mendengarnya.
Semuanya selesai arsen sudah mengobati luka di pipi dan dalam mulut gina.
"Lukanya sampai dalam ya?" tanya gina sambil melihat wajahnya di cermin.
"Iya maafkan saya."
"Maaf sudah menjerumuskan mu kedalam pernikahan ini. maaf" sambung arsen.
"Hufft, Gak apa kok dok justru saya yang harusnya berterimakasih karena dokter ibu saya bisa selamat." ucap gina. arsen hanya menunduk nampaknya ia masih merasa bersalah dengan gina.
__ADS_1
"Lagipula... pernikahan ini kan cuma kontrak, kalau sudah 6 bulan kita juga akan berpisah" lanjut gina. Entah rasa apa yang menyelimuti hati arsen seperti ada rasa yang mengganjal ketika mendengar gina berkata tentang perpisahan.
Arsen melirik jam dilihatnya sudah jam 21:56 sedikit lagi menunjukan jam 10 malam.
"Tidurlah, sudah larut." arsen langsung membaringkan badannya di ranjang.
"iya."
Gina mengambil bantal gulingnya untuk menjadi pembatas seperti malam sebelumnya. bedanya kemarin ia mengambil 3 bantal guling sekarang gina hanya mengambil 1 bantal guling karena di rasa tidak akan terjadi apa apa.
Arsen berbalik untuk memastikan bahwa gina telah tidur. setelah di rasa gina telah tidur arsen pun langsung memejamkan matanya dengan masih nenghadap gina tanpa berbalik badan.
Tak lama kemudian arsen terlelap dan mereka pun larut dalam tidur masing masing.
-ππ
06:02 gina bangun dari tidurnya, ia merasakan ada tangan kekar yang melilit perutnya dan tangan yang mengelus pipinya yang lebam. Ternyata itu arsen yang sedang memeluknya erat dan mengelus pipinya.
Ngapain psikopat ini meluk badanku apa dia gak baca surat perjanjian
Gina menyingkirkan tangan arsen dari perutnya tetapi pelukan arsen semakin erat. apa boleh buat gina menemukan ide, ia mengambil bantal guling di sampingnya dan memindahkan tangan arsen dari memeluk dirinya menjadi memeluk bantal guling. butuh sedikit tenaga untuk memindahkan tangan kekar itu karena tangan arsen sangat berat.
Ia lalu pergi ke dapur dan membuat sarapan. ia memilih membuat roti yang di olesi selai cokelat dan stroberi sesuai dengan perkataan arsen kemarin.
Selesai membuat sarapan gina lalu pergi kekamar untuk membangunkan arsen dari tidurnya. "Dok, bangun sudah pagi." gina menggoyangkan tangan arsen tapi arsen tidak kunjung bangun.
"Maaf kan aku ina, aku mengingkari janjiku." ucap arsen yang masih memejamkan mata.
wah wah wah orang ini selain psikopat ternyata juga playboy, entah berapa orang mantan pacar nya ini. gumam gina.
"BANGUN, BANGUN, BANGUN" ucap gina dengan keras.
Guna menggaruk kepala nya yang tak gatal. "Maaf ya pak dokter hehe-akh." gina merasakan perih di dalam mulutnya saat ia ingin tertawa.
Arsen dengan sigap langsung memegang pipinya gina yang lebam itu dengan lembut. "Apa masih sakit?" tanya nya khawatir.
"Sedikit."
"maaf."
"Gak usah maaf-maaf an dok, ini belum lebaran. ayo kita kedapur saya sudah buat sarapan." ajak gina. mereka pun langsung pergi kedapur.
Guna makan dengan perlahan agar tidak menimbulkan rasa perih di dalam mulutnya.
Arsen yang melihatnya pun merasa sangat bersalah.
Arsen langsung mengambil roti yang di pegang gina dan ingin menyuapi gina.
"Saya suapkan."
"Gak usah saya bisa sendiri." tolak gina
"Tidak ada penolakan."
Dengan terpaksa gina menuruti keinginan arsen untuk menyuapi dirinya. dan seperti biasanya tidak ada obrolan di antara keduanya, sifat arsen yang tergolong cuek dan sedingin es membuat gina enggan berbicara.
"Kamu jadi kerumah ibu mu?" tanya arsen tiba tiba.
"Jadi."
__ADS_1
"Bagaimana dengan lebam di pipimu? apa nanti ibu kamu akan mencurigai saya?"
"Hmmmm... saya pake make up tebal aja dok biar ketutup." arsen hanya mengangguk pelan.
Setelah keduanya selesai sarapan mereka pun langsung mandi dan berkemas. arsen berkemas untuk pergi kerumah sakit sedangkan gina berkemas untuk pergi mengunjungi ibunya.
-ππ
Singkat cerita mereka pun sampai di kediaman ibu gina. Gina dan arsen pun turun dari mobil. awalnya arsen ingin langsung pergi kerumah sakit tapi di tahan oleh gina.
"Assallamuallaikum." guna mengucap salam.
"Waallaikumusallam." yang menjawab adalah adit.
"Kakak." adit gembira melihat kakaknya yang datang.
"Loh dit gak sekolah kamu?" tanya gina melihat adit heran karena hari ini adalah hari rabu dan sudah seharusnya adit sekolah.
"Lagi demam Kak." jawab adit. mendengar itu gina langsung menyentuh kening adiknya dan ternyata sangat panas.
Panas
Gina melihat sekeliling dan tak menemukan sang ibu. "Ibu mana dit kok gak ada?"
"Pergi ke rumah pak Slamet Kak." jawab adit.
"Kenapa ibu ke sana?"
"Gak tau."
Arsen dari tadi hanya diam melihat interaksi antara adik kakak itu. tiba tiba handphone nya berdering ada seseorang yang menelpon, arsen langsung keluar rumah untuk berbicara dengan orang yang meneleponnya itu.
"Oh baiklah saya akan kesan." arsen langsung menutup telepon itu.
ia menghampiri gina yang sedang bercanda gurau dengan adiknya untuk pamit pergi ke rumah sakit.
"Gina, saya buru buru kerumah sakit sebentar lagi ada operasi saya pamit dulu ya. sampaikan salam saya sama ibu." pamit arsen.
"Oh iya" ucap gina mengizinkan.
"Da-da Kak.. ee." adil bingung ingin menyebut arsen dengan sebutan apa.
"Panggil saja saya Kak arsen. saya pergi dulu." arsen beranjak pergi.
.
.
.
......**o0o......
-ππ
mohon dukungannya ya...
maaf kalau ceritanya rada ngebosenin soalnya baru belajar bikin novel :))
Silahkan berikan kritik dan saranπ**
__ADS_1