
Setelah arsen pergi Gina langsung menyuruh adiknya untuk istirahat agar sakitnya tidak makin parah. Selagi menunggu ibunya pulang gina memutuskan untuk duduk santai di teras rumahnya sambil melihat anak anak yang sedang bermain dengan cerianya tanpa harus kecanduan gadget.
Tiba tiba ada orang misterius yang menggunakan hoodie hitam, masker dengan motif kumis dan kacamata hitam.
Siapa ni orang kok kesini
"Ehmm." ucap orang itu membuka suara.
"HaH? cari siapa ya pak?" tanya gina kebingungan melihat gelagat orang di depannya ini.
"Hallo adik manis, apa benar kamu dewi kayangan yang jatuh kebumi dan kamu bernama gina agnesia?" Ucap orang itu dengan suara yang di buat buat.
Gaya bicara orang ini kayak nya aku kenal deh tapi siapa ya?
"Pala mu adik manis."
"Siapa kamu? cari siapa dasar orang aneh?" tanya gina.
"Hm, adik manis ini sombong sekali."
Orang itu pun langsung membuka makser dan kacamata hitamnya. gina kaget melihat orang di depannya itu ternyata dia adalah Gilang tetangga dan keduanya sangat akrab karena gilang adalah teman masa kecil gina.
"Kak gilang." gina memanggilnya kakak karena umur gilang terpaut 2 tahun.
"Iya adik manis." ucap gilang berlagak seperti uncle mutu sambil menunjukan deretan giginya.
"Gak usah nunjukin gigi deh Kak, silau." ucap gina sambil menutupi matanya.
"Heheh serah lodehh." ucap gilang sambil tertawa.
"Eh gin, kok Kamu jarang di rumah kamu kemana aja." tanya gilang.
Aduh,, gimana ya aku jawabnya..
"Emm itu, ee." gina bingung ingin menjawab apa. jika ia jawab kalau dia sudah menikah gina tak mau karena malu ini hanya pernikahan kontrak.
"Apa aa eee aa e." tanya gilang heran.
"Kakak dari mana tau? bukannya kakak sendiri sibuk kuliah." mengingat bahwa gilang sedang sibuk sibuknya kuliah jurusan Arsitektur.
"Udah selesai kok kuliah nya tinggal nunggu wisuda aja." jawab gilang.
"Oooooo." ucap gina sambil membulatkan mulutnya.
"Kenapa kamu jarang di rumah? bahkan pas aku pulang kemarin kamu gak ada. aku nanya ibu kamu katanya gina kerja bener kamu kerja?" tanyanya.
"Iya aku kerja." jawab gina.
"Kerja apa?" tanya gilang lagi nampaknya ia sangat penasaran dengan pekerjaan gina.
"Ee itu." gina melirik kesekeliling dan di lihat ibunya sudah berada di depan rumah.
"Eh ibu udah pulang." girang gina tanpa menjawab pertanyaan pria di depannya itu.
"Loh, gina kamu kesini?"
"iya bu aku kangen." ucapnya sambil memeluk sang ibu.
"Yaudah yuk masuk, nak gilang ayo masuk." ajak ibu gina.
Ketiganya pun masuk ke dalam rumah sambil mengobrol hal hal yang random sambil tertawa tawa. Di tengah obrolan ibu gina memandang wajah gina dengan lekat seperti ada sesuatu yang di lihatnya.
"Gina, kenapa dengan wajahmu nak? kenapa sedikit lebam? apa dia memperlakukan mu dengan buruk?" tanya ibunya cemas.
"Lebam?" tanya gilang sembari memandang wajah gina.
__ADS_1
"Ohhh, eee itu bu gak sengaja nabrak tembok jadinya lebam deh." alasan yang sedikit tak masuk akal.
"Tembok macam apa yang membuat muka setengah biru itu seperti itu?" tanya gilang.
"Tembok model apa? itu tembok apa tangan?"
"seseorang siapa?" tanya gilang lagi.
Ish manusia satu ini rasanya mau kubuang ke selokan gumam gina yang mendengar pertanyaan gilang.
"Banyak tanya! tembok ya tembok." kesal gina.
"Jangan banyak omong air liurmu muncrat."
Ibunya yang mendengar alasan gina itupun ada sedikit menaruh curiga kepada menantunya arsen. takut jika arsen akan melakukan hal yang tidak tidak kepada putrinya, banyak hal yang ingin di tanyakan ibu gina kepada anaknya tetapi ia memilih diam karena ada gilang.
ππ
Gilang pun pulang dari rumah gina dengan alasan ada urusan mendadak sedangkan ibu gina sedang memasak. karena bosan gina pun membantu ibunya memasak didapur.
Sejak ayahnya meninggal dan ibunya yang mendadak sakit sakitan gina lah yang menggantikan tugas kedua orang tuanya itu. sejak SMP sampai SMA ialah yang harus bekerja demi menghidupi keluarganya adit bahkan sempat ingin tidak melanjutkan sekolahnya karena mau membantu sang kakak mencari uang, tetapi gina menolaknya karena tak mau membebani sang adik.
"Bu, sini biar aku yang masak ibu kan gak boleh terlalu sering menghirup asap." ucap gina.
"makasih ya anak ibu." ibunya lalu menyodorkan sendok sayur yang ia pegang untuk mengaduk panci.
Gina hanya tersenyum sambil mengangguk ibunya diam sejenak sambil duduk di kursi. "Kamu coba jujur sama ibu nak, kenapa muka kamu bisa lebam kayak gitu?" tanya ibunya dengan nada khawatir.
Apa boleh buat, mau tak mau gina harus jujur pada sang ibu. gina pun menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya.
mendengar hal itu wanita paruh baya itu menunduk lemah. "Maafkan ibu ya nak."
"Jangan minta maaf dong bu, gina gak apa apa kok, ibu gak usah khawatir ini kan cuma berjalan 6 bulan." ujar gina.
Sekarang sudah pukul 20:36 malam tetapi arsen belum datang menjemputnya, awalnya ia pikir arsen masih banyak kerjaan. karena bosan menunggu arsen gina pun tertidur di depan ruang tv yang sudah rusak sedangkan ibunya sudah tidur di dalam kamar.
Setelah lama ia terlelap tiba tiba terdengarlah suara gilang yang membangunkan.
"Gina HP kamu bunyi tuh."
"Haa..Siapa aa" ucap gina dengan keadaan setengah sadar.
karena melihat gina yang masih belum sadar dari tidurnya gilang langsung mengangkat telepon dengan nama 'Dr.Dinding dingin psikopat gila mengerikan' dan ternyata itu adalah arsen. Panjang sekali nama orang ini batin gilang sembari geleng geleng.
"Hallo." ucap mereka bersamaan.
Suara laki laki gumam arsen.
"Hallo ini siapa?" tanya gilang.
"Kamu siapa?"
"Loh kok nanya?"
"Ck,ini nomor perempuan dan siapa kamu? kenapa kamu pegang hp gina hah?" tanya arsen kesal.
"Ohhh, Saya ini emm pacarnya gina." jawab gilang sambil tersenyum. Gilang memang tipikal orang yang suka sekali menjahili orang lain bahkan dulu ia suka menyembunyikan kucing gina sampai sampai gina pernah hilang 1 hari hanya demi mencari kucing yang di sembunyikan oleh gilang.
Pacar? kenapa suaranya beda dari yang kemarin?
"Aku tidak peduli dimana gina?"
"Sedang tidur. hey gina, sayang bangun" panggil gilang.
"ih emmh apasih aku ngantuk." gina masih tak sadar dari tidurnya.
__ADS_1
"iihh sayang bangun dong jangan tidur terus, bangun ada penipu nih nelpon kita. sayang." ucap gilang dengan nada manjanya.
Arsen rasanya ingin sekali mencabik orang yang berani memanggil istrinya dengan panggilan 'sayang' itu.
"Sialan."
'tutt' Arsen langsung mematikan telepon dan langsung melaju dengan mobilnya pergi menjemput gina.
"Yahh dimatiin." gilang kecewa karena ia tak bisa lagi mengerjai orang itu.
Gina sudah bangun dan ia melihat handphonenya sudah di pegang oleh gilang sambil ketawa tak henti henti langsung mengambil handphone nya.
"Ih ngapain pegang pegang hp ku, kenapa kak gilang kesini malam malam? mau make hotspot ya? sembarangan kamu kak pegang pegang barang orang." kesal gina.
"Idih, siapa juga yang mau minta hotspot kamu? gue mah banyak paket internet tsayy" ucap gilang.
"Terus? ngapain kesini malem malem?"
Gilang menunjukan benda yang ia pegang. "Orang ngambil masker sama kacamata kok."
Tiba tiba ada bunyi mobil di depan rumah gina dan sorot cahaya mobil.
Pasti ini pak dokter
gina langsung berdiri dan berjalan menuju luar untuk melihat siapa yang datang dan gilang pun mengikuti gina keluar. dan benar saja itu adalah mobil arsen saat arsen keluar sorot matanya sangat aneh seperti orang yang sedang marah.
Arsen berjalan kearah gina tapi tatapan arsen tertuju ke gilang dengan tatapan tajam yang tidak dapat di artikan.
"Pak dokter."
"Ayo pulang." ucap arsen dengan suara dinginya yang masih melirik ke arah gilang.
gilang meneguk salivanya takut dengan tatapan arsen. kenapa dia nyuruh gina pulang? sementara rumah gina kan di sini, siapa dia ini, dan kenapa dia menatapku seperti itu? apa dia orang yang tadi di telepon? banyak sekali pertanyaan yang bergentayangan di kepala gilang tentang gina dan pria di depannya. tapi karena sudah terlanjur takut dengan tatapan arsen ia enggan untuk bertanya.
"Sebelum pulang, kenalin dok dia-" ucapan gina langsung di potong oleh arsen.
"Tidak usah ayo pulang" arsen langsung menyeret gina untuk masuk kemobil.
Dan sebelum pergi arsen masuk dulu kedalam rumah ibunya gina untuk memberikan obat kepada adit, karena adit sudah tidur arsen hanya meletakan obat itu di meja. ia lalu keluar melewati gilang yang masih mematung dengan tatapan tajam.
Arsen masuk kedalam dan langsung menyalakan mobil.
"Bye bye bye Kak gilang." teriak gina.
"Sampaikan ke ibu kalau aku sudah pulang" Gina bahkan belum sempat berpamitan kepada sang ibu karena arsen buru buru mengajak nya pulang.
"Diam." ucap arsen dengan nada suara tinggi.
Dia kenapa sih dari tadi kayak orang marah emang apa salahku?
.
.
.
.
.
.
...****************...
Jangan lupa dukungannya Yaππ
__ADS_1