
Gina hanya diam tidak menjawab seakan mempersilahkan wanita di depannya itu masuk ke dalam kamar bertemu kekasih yang mungkin sangat di rindukannya.
Sakit...iya tapi apa haknya melarang kekasih suami kontraknya itu berkunjung
Cemburu? Tidak, tapi setidaknya kamu harus melepas masa lalu mu, walau kita hubungan kita hanya sebentar 'Setidaknya' jangan biarkan dia menggangu ketenanganku.
Jesika masuk mengunci pintunya rapat rapat dan beberapa menit kemudian terdengarlah suara yang tidak ingin di dengarnya.
Apa ini dejavu?..
Apa dia sudah sembuh? Mungkin sembuh ketika ada kehangatan dari orang lain.
"Ginaa, gina" teriak arsen dengan suara serak dari dalam kamar.
"Jangan panggil wanita ****** itu!"
"Kau lah wanita ****** itu"
"Dia istriku bukan wanita ****** seperti dirimu!" ucap arsen dengan nada meninggi
prang..
prangg..
Hanya ada suara adu mulut di tambah dengan suara barang berjatuhan, gina tidak menghiraukannya ia memilih diam memainkan handphone nya dan memutar lagu dengan volume full.
Aku hanya ingin ketenangan.
Ayah maafkan gina. gumam gina sambil meneteskan air mata karena lagi teringat dengan sang ayah.
Selang 10 menit tidak ada lagi suara adu mulut maupun suara barang yang berjatuhan. Jesika keluar dengan wajah penuh amarah dan menatap kebencian terhadap gina lalu ia mengacungkan jari tengah.
"Sialan kau"
Jesika keluar dari apartemen dengan belahan dada yang sedikit terbuka. Apa yang telah mereka lakukan tadi batin gina.
"Brugh" arsen jatuh tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka.
Gina menoleh dan menatap sendu pria asing yang telah menjadi suaminya itu.
"Ayo saya bantu berdiri" awalnya gina ingin membawa arsen ke kamar, tapi melihat kamar yang sudah seperti kapal pecah itu gina memilih membaringkan arsen di sofa tempatnya duduk tadi.
Di bukanya arsen terlihatlah kulit yang memerah terkena alergi dan terlihat juga sebuah tatto di samping lengan arsen yang tidak jelas apa hurufnya karena tertutup dengan kulit arsen yang sudah memerah .
tulisan apa ini? Batin gina.
"Maafkan saya pak, gara gara saya pak dokter jadi seperti ini. Lain kali saya akan hati hati kalau memesan makanan atau pun membuat makanan" ucap gina sambil mengusap kulit arsen yang kemerahan menggunakan tisu basah.
"Hm"
"Bapak tidur dulu saja di sini, saya mau beresin kamar" saat gina berdiri dan hendak pergi menuju kamar tangannya di tarik oleh arsen.
"Jangan" suara serak dan lemah keluar dari tenggorokan arsen. "Besok saja" pintanya.
Karena masih merasa bersalah gina menuruti permintaan arsen. Ia mengusap usap wajah dan dada arsen secara perlahan menggunakan tisu basah sampai gina terlelap.
__ADS_1
Jangan tanya arsen, walau dirinya sedang sakit tapi ia juga bahagia karena mendapat sedikit perhatian dari gina.
Rasanya.. Aku ingin sakit setiap hari gumam arsen.
-ππ
Keesokan harinya.
Jam 05:30 gina bangun dengan arsen di sampingnya yang masih terlelap. Perasaan aku tidur di lantai deh batin gina.
Dilihatnya wajah kemerahan arsen sudah membaik walau belum sepenuhnya.
"Syukurlah"
Gina berdiri dan pergi ke kamar arsen yang sudah hancur itu, barang berserakan di mana mana tapi untungnya kaca tidak ada yang pecah.
Dih, gini amat hubungan toxic.
Setelah 30 menit gina pun sudah selesai dengan pekerjaannnya. Ia kembali ke sofa untuk membangunkan arsen yang masih tertidur pulas.
"Pak dokter" gina menggoyang goyangkan badan arsen sambil menempelkan tanganya ke kepala arsen untuk mengecek suhu badan arsen.
"Ugh"
"Banguuun" ucap gina pelan di telinga arsen.
"Bentar lagi"
"Oh iya, saya mau buat bubur buat pak dokter, terus saya mau berkemas buat pergi bekerja, saya nanti naik ojek atau taxi" ujar gina.
"Masa baru 1 hari kerja udah minta cuti kan gak lucu dok. Apa kata temen saya terus nanti gimana sama yang punya rumah sakit nanti di bilang apa lah itu lah" ucap gina sambil ingin melepaskan pelukan arsen tapi tenaga pria itu sangat kuat sehingga membuat gina pasrah.
"Kamu ngomongin saya?" tanya arsen mempererat pelukan.
Aduh lupa kalau dia yang punya rumah sakit,,
"Ee, iya deh saya cuti 1 hari"
"Saya mau bikin bubur, tolong lepasin" gina mencoba sekuat tenaga melepaskan pelukan arsen tapi pria itu tidak mau melepaskannya.
"Tidak mau" ucap arsen seperti anak kecil.
"Yasudah, kalau lapar gak usah minta saya buat masak"
"Iya iya" arsen melepas pelukannya, sekarang gina bisa bernafas lega. Gina langsung pergi menuju dapur untuk memasak bubur walaupun bahan makanan sudah habis untungnya masih ada beras dan juga rempah rempah untuk membuat bubur.
-ππ
Selang 30 menit bubur pun jadi dan gina langsung menghantarkannya ke arsen yang masih terduduk di sofa dan bermain handphone.
"Nih buburnya, silahkan di makan" gina menyodorkan mangkok berisi bubur kepada arsen tapi pria itu hanya menatap gina dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Pak"
"Suapin"
__ADS_1
Gina terkaget mendengar permintaan arsen yang menurutnya sangat aneh.
"Minta suapin aja sama pacar dokter yang namanya jesika itu"
Arsen menghela nafas. "Gina, saya beritahu kamu kalau dia itu bukan pacar saya" jelas arsen.
"Oh begitu"
"Suapin" arsen mengulang kata yang sama.
"Manja banget, udah tua masih aja manja" arsen menatap tajam ke arah gina seolah tak terima di panggil tua.
"Iya iya, big old baby" (bayi tua besar)
"Buka mulut"
Adegan suap suapan itupun di lakukan, arsen makan dengan lahap sambil menatap gina tanpa berkedip, merasa dirinya di lihat oleh arsen bukannya gina merasa salah tingkah ia malah ia berfikir kalau arsen itu aneh.
"Pak dokter ada perlu apa lagi?" tanya gina
"Perlu kamu di samping saya"
"Maksudnya?" tanya gina tak mengerti
"Saya lagi sakit jadi kamu nemenin saya"
Gina ingin menolak tapi ia mengingat bahwa arsen sampai begini gara gara dirinya jadi mau tak mau ia harus turuti.
manja banget jadi orang mentang mentang lagi sakit batin gina dalam hati.
Baru saja ia duduk tiba tiba hanphone arsen bergetar ada banyak sekali pesan, chat whatsapp dan juga telepon memenuhi notifikasi handphone arsen itu.
Aduhh bisa mati nih, itu pasti orang orang yang aku kasi nomor pak dokter kemarin gina mengingat bahwa dirinya lah yang memberi nomor arsen kepada para fansnya.
"Nomor nomor siapa ini. Kenapa banyak sekali pesan" ucap arsen sambil menoleh ke arah gina.
"Gak tau sumpah saya gak tau"
"saya gak ada ngasi ngasi jangan nuduh dong"
"Kenapa kamu? Padahal saya hanya bertanya?" tanya arsen heran dan curiga dengan gina.
.
.
.
.
.Bersambung..
Mohon kritik dan saran jika adπ °οΈπ
Maaf ges kalau ceritanya rada ngebosenin soalnya baru belajar bikin novel.
__ADS_1
Nice to see youπ