
Sesampainya di taman chika dan diana melihat gina duduk di kursi menatap air danau sambil merenung. Ada rasa iba ketika melihat wajah gina yang penuh kesedihan.
"Hai gina." sapa meraka berdua yang membuat gina sedikit kaget lalu menoleh.
"Oh hai kalian, sudah sampai ya ." ucap gina tersenyum palsu.
Chika dan diana lalu duduk bersebelahan dengan gina. "Gin, kamu mau bicara apa?" tanya diana.
Gina menarik nafas panjang. "Apa kalian mau meminjamkan aku uang?" tanya nya. Sontak hal itu membuat chika dan diana saling bertatapan.
"Kamu mau pinjam uang? mau pinjam berapa gin?" tanya diana pikirnya gina hanya meminjam ratusan ribu untuk menebus obat.
"Operasi ibuku biayanya 130 juta, aku gak tau dapat uang dari mana sekarang aku bingung. Kalau aku minjam sama keluarga pihak ibuku pasti mereka gak mau minjamin karena mereka gak suka sama ibuku karena nikah sama ayah sedangkan keluarga ayah udah meninggal karena kena tsunami gempa aceh 2004 dulu dan cuma nyisain ayah sendiri." ucap gina sambil meneteskan air mata. kedua sahabatnya yang mendengarnya itu pun langsung memeluk gina dengan erat.
"Gi-Gina maaf aku gak punya uang sebanyak itu, aku masih punya keperluan buat bayar kuliah maaf gin aku benar benar minta maaf." ucap chika. "Aku juga gak punya uang sebanyak itu gina aku masih perlu biayain bapakku yang masih sakit. Gina yang mendengar nya pun menunduk dan menghapus air mata nya.
"Coba kamu pinjam uang ke aska sama kimny mereka kan keluarganya cukup berada siapa tau mau pinjamin kamu uang." ide dari diana membuat gina makin menangis sejadi jadinya.
mereka berdua yang melihat gina menangis langsung keheranan. "Eh kamu kenapa nangis, ada apa kamu dengan aska sama kimmy?" tanya chika.
__ADS_1
"A-aku putus sama aska aku benci sama dia aku gak mau liat muka mereka berdua la-lagi." ucap gina sambil terisak.
"Maksud kamu? Gimana ceritanya kenapa bisa putus?" tanya mereka berdua.
"A-Aku lilihat mereka selingkuh, a-ku lihat mereka bercumbu hiks hiks. Jadi kalian jangan bahas dia lagi please." ucap gina sambil menghapus air matanya kasar.
"Kamu yang sabar gina, aku yakin akan ada pelangi setelah hujan." ucap chika mengeratkan pelukannya.
Setelah itu gina langsung pamit karena ada urusan di rumah sakit, jam juga sudah menunjukan pukul 3 sore jadi ia buru buru ingin menemui arsen dokter yang menawarkan pernikahan ke dirinya. Gina bimbang antara mau atau tidak sepanjang perjalanan gina terus saja memikirkan tawaran itu. Akhirnya dengan berat hati gina memutuskan untuk menerima tawaran itu.
Sesampainya gina di rumah sakit gina pergi ke ruangan ibunya terlebih dahulu di sana terlihat adit yang sedang tertidur di lantai beralaskan tikar. Sedangkan ibunya masih terbaring lemah. Dan gina langsung memegang tangan ibunya. "Bu, aku gak tau pilihan ku ini tepat atau enggak yang penting ibu sehat, walau aku harus menikah dengan pria yang gak aku kenal." ucap nya lalu mengecup kening sang ibu dan langsung pergi menemui dokter arsen.
Kini gina telah sampai di ruangan arsen dengan sedikit ragu untuk masuk kedalam. Toktoktok suara ketukan pintu.
"Masuk" ucap orang yang ada di dalam siapa lagi kalau bukan arsen yang sedang istirahat setelah baru saja menyelesaikan operasinya.
Bibir arsen sedikit terangkat melihat kedatangan gina. "Apa kamu sudah bisa menentukan jawaban?" tanya nya dingin.
Gina meneguk salivanya mendengar pertanyaan itu. "Iya saya setuju, tapi kita harus membuat perjanjian." ucap gina tegas.
__ADS_1
"Apa perjanjiannya hm?" tanya arsen.
"Selama pernikahan dokter tidak boleh menyentuh saya-" ucap gina lalu di potong oleh arsen. "Saya juga punya syarat di pernikahannya, Kita menikah hanya 6 bulan setelah 6 bulan kita bercerai karena kita menikah hanya di atas kertas katena desakan mama saya yang menyuruh saya cepat menikah." sebelum mendengar persetujuan dari gina ponsel arsen lalu berdering ada yang menelpon.
"Sekarang saya sedang sibuk kamu boleh keluar" ucap nya.
"Tapi dok saya belum ngomong apa apa loh" timpal gina.
"Berikan nomor ponsel mu akan saya kirimkan surat perjanjian nya." gina pun langsung menuliskan nomor telpon nya di kertas dan memberikan nya kepada arsen lalu beranjak pergi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
_