
Fani menghantarkan suaminya menuju bandara. Sesampainya disana Raka pu memeluk Fani dan mencium keningnya..
"chupp" satu kecupan mendarat di kening Fani
"kamu disini jangan lama-lama ya sayang.. Kalo udah selesai bangun hotelnya langsung pulang."
"iya sayang.. Aku ga akan lama kok.. sesekali aku akan pulang ke Indonesia buat nemenin kamu.. Aku harus benar-benar mengawasi karyawanku nanti" ucap Fani menenangkan Raka
"iya sayang.. Kalo gitu aku pamit yahh.. Papay" melambaikan tangan dan menuju pesawat tujuan Indonesia
"dadah sayang hati-hati" teriak Fani sembari melambaikan tangan.
"hufff aku akan sangat merindukannya nanti.. Kalo bukan karena tugas ayah untuk memburu geng Tiger udah ngikut paksu aku.. Buat apa aku harus ngurus hotel saja.. Kan bisa aku percayakan sama asisten v"
Tujuan Fani sebenarnya bukan Untuk membuka hotel di Korea . Tetapi memberantas geng Tiger yang kemarin sempat membobol dan meretas identitas perusahaan.. Fani tidak mau suaminya tahu identitasnya jadi mau tidak mau dia harus menuntaskan semuanya sebelum terlambat.
Fani sengaja membangun hotel disana untuk alasan agar dia bisa lebih fokus memburu musuhnya itu tanpa diketahui oleh suaminya.
"ini sungguh merepotkan" merogoh tasnya mengambil handphone yang ada didalamnya. Menelfon seseorang.
"halo.. kita berkumpul di markas" menutup panggilan dan menuju ke arah tujuan
Setelah sampai di markas.. Fani duduk di tempat persinggahannya.. Dia menuangkan wine ke dalam gelasnya.. Memutar gelas berisi wine tersebut lalu meminumnya perlahan
"dimana keberadaan geng sialan itu" tanya Fani dengan kesal
"dia ada di kota Gangnam sekarang bos.. Di jalan xx.. Di gedung tua" salah satu bawahan melaporkan keberadaan musuh
"kau sudah mengumpulkan semua anggota?"
tanya Fani memastikan semua anggota lengkap
"sudah nona."
"berapa persen kesempatan kita akan menang?"
__ADS_1
"70% nona.. Jumlah kita lebih banyak.. Dan saya yakin kekuatan kita lebih besar"
"bagus.. Ayo kita berangkat" bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobilnya
"pastikan semuanya terkepung.. Siapkan semua penembak sniper di segala arah.. Aku tidak mau menanggung resiko" perintah Fani ke ketua penembak
Fani memasuki mobil yang sudah terparkir didepannya..
"kita harus bergegas.. Aku tak mau lama-lama membasmi tikus-tikus itu" menyenderkan kepalanya
Fani pun mengabari suaminya sebelum bertindak untuk memastikan jika suaminya tidak mengabarinya saat eksekusi dilakukan
"halo sayang" sapa Fani dari panggilan telfon tersebut
"iya sayang.. Gimana kamu? Apakah sudah mau istirahat?"
"iya aku mau perjalanan pulang dari restoran.. Dan sekarang aku mau pulang untuk istirahat"
"baiklah kalau begitu"
"baru 1 jam yang lalu"
"yasudah.. Mandi gih terus tidur.. Setelah pulang aku juga langsung tidur.. Aku juga lelah" ucap Fani memerintah paksu
"baiklah sayang.. Yasudah aku mandi dulu.. Sayang pulangnya hati-hati yaa"
"okey sayang"
Memutuskan panggilan..
"haisss.. Baru tadi aku mengantarnya dari bandara.. Aku sudah merindukannya lagi" ucap Fani sembari melihat pemandangan malam dari cendela mobilnya.
mobil pun berhenti di depan gedung tua itu
"apakah kita sudah sampai?" tanya Fani ke salah satu bawahannya yang membawa mobil tadi
__ADS_1
"sudah nona.. Itu tempatnya?
"sepertinya mereka orang biasa.. bagaimana yang disebut geng jika markasnya hanya gedung tua" Fani mencibir geng itu
Fani memastikan bawahannya sudah mengepung area itu
Seluruh bawahan Fani masuk kedalam gedung itu dengan disusul Fani dari belakang dengan berjalan santai..
"tak tak tak" suara sepatu Fani menggema di seluruh ruangan itu
salah satu bawahan memberikan kursi untuk diduduki majikannya
Fani menduduki kursi tersebut dan menyilangkan kakinya sembari menyalakan sebatang roko ditangannya..
"siapa ketuanya?" tanya Fani dengan santai
melihat tidak ada respon dari semua orang disitu Fani meninggikan suaranya
"dimana hah.. Apa kalian tuli" sentak Fani membuat gerombolan tikus itu bergetar
"jika kalian tidak menjawab.. Akan kubuat kalian tuli beneran" ancam Fani
Salah satu tikus itu takut lalu memberanikan diri untuk berbicara
"dia.. Yang berjaket hitam tuan" sembari melirik pria berjaket hitam itu
Fani melirik kearah yang dituju orang itu.. Dia berjalan menuju orang tadi dan berjongkok mengelus pipinya
"good boy.. Kamu patuh sekali" menepuk pipi perlahan
berdiri dan menghampiri pria berjaket hitam itu. Fani langsung menendang kepala pria itu hingga pria itu tersungkur
Menarik kerah baju pria itu "kamu berani gengan kita hah.. kau ga tau berhadapan dengan siapa?"
"akan kupastikan kalian mati cepat mati" pergi meninggalkankan gudang itu
__ADS_1
Memberi kode bawahannya.