
Seorang gadis berlari terseok-seok menghindari kejaran para pria berjas hitam di tengah gelapnya malam. Bibirnya bergetar, menahan tangis.
Gadis yang memiliki paras cantik bak reinkarnasi dewi itu adalah Iris Titania Putri. Nama yang indah, tetapi tidak seindah nasib hidupnya. Pamannya menjualnya ke rumah bordir seharga seratus juta. Iris tentu saja tidak mau, ia bahkan bukan barang yang bisa diperjual belikan.
Satu hari tinggal di rumah neraka itu Iris sungguh tersiksa, karena terus dihantui para pria hidung belang yang mengantri untuk mencicipi tubuhnya.
Berkat keberaniannya, Iris berhasil keluar dari rumah bordir. Meskipun pihak keamanan yang berjaga di rumah itu tidak tinggal diam, mereka berhasil mengejarnya.
Iris melangkahkan kakinya ke sebuah rumah tua yang sepertinya sudah tidak berpenghuni, karena rumput hampir menenggelamkannya dari pandangan orang-orang yang melewat. Iris masuk ke salah satu ruangan, matanya tertuju pada lemari. Buru-buru ia berjalan dan bersembunyi di sana.
"Tuhan lindungi aku," gumamnya terus berdoa. "Jangan sampai mereka datang ke sini."
Jantungnya berdegup kencang sesaat mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Iris menangis tanpa suara seraya memeluk lututnya. Ia tidak tahu, mengapa sang paman menjadi begitu tega.
"Aku tau kamu ada di sini, Iris," suara bariton itu membuat bulu kuduknya merinding. "Ayolah, keluar sayang. Jangan membuang waktuku, kembalilah pada madam agar semuanya berjalan dengan lancar."
Pria bertubuh tegap itu menyeringai, dia yakin sekali gadis kecil itu ada di dalam lemari. Ujung dress yang dipakainya tampak terselip di antara celah pintu lemari.
"Iris, sayang keluarlah ..."
Tangannya sudah berada gagang lemari, lalu membukanya membuat Iris menjerit hendak kabur. Namun, kalah cepat karena kedua tangan pria itu lantas memeluk tubuhnya.
"Apa kita harus bersenang-senang di sini dahulu?" cetusnya dengan senyum penuh arti.
Siapa yang tidak tergoda dengan kemolekan tubuh Iris, mungkin usianya masih muda tetapi dia punya tubuh proporsional yang menggoda.
Iris menjerit, saat tangan jahanam itu mencoba menyingkap dresnya.
"Jangan menyentuhku, bren*sek!" pekiknya, sekuat tenaga Iris melawan. Meski, pada akhirnya ia tetap tidak bisa mengalahkannya.
"Cantik sekali kamu, Iris," godanya terpesona. "Ayo, kita lakukan dengan cepat sebelum teman-temanku datang. Bahagianya aku, akan menjadi pria pertama yang menyentuhmu, gratis pula."
Iris mencoba menutupi dadanya karena pria itu berhasil merobek bagian depan bajunya.
__ADS_1
"Argh! Jangan, berani kamu melakukan hal ini padaku, aku akan membu*hmu!"
Iris menggelengkan kepalanya, pria berkepala plontos itu mengungkung Irish ke ujung tembok. Senyumnya semakin lebar melihat kulit seputih susu miliknya, tangan kasarnya membelai bahu Iris yang sudah terekspos.
"Jangan khawatir Iris, aku hanya akan menyentuhmu sebentar saja, tidak akan lama," ucapnya tidak peduli Iris yang terus meminta tolong.
Si botak mulai membuka resleting celananya, penuh nafsu mengarahkan miliknya ke arah Irish.
Iris hanya memejamkan matanya, tangannya hanya bisa menahan kepalanya yang hendak mendekat. Ia masih berharap ada seseorang yang membantunya.
Hingga doanya itu langsung di jawab oleh Tuhan.
Matanya membulat sempurna, saat melihat satu tendangan tepat di kepala membuat pria itu jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Bukankah, dia sangat hebat?
Iris menatap penasaran pada pria yang membantunya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tangan pria itu membuka jas yang dipakainya, lalu memakaikannya pada Iris.
"Terimakasih," ucap Iris. "Apa kamu pemilik rumah ini?"
Iris menunduk, ia takut pulang ke rumah karena pasti pamannya sudah menunggu di sana.
"Tuan, aku tau kamu baik hati. Tolong, tampung aku di rumahmu. Kamu bisa memperkerjakanku, entah sebagai pembantu atau apapun itu. Aku bisa memasak, mencuci bahkan membenarkan genteng bocor. Kamu beri upah berapapun, akan aku terima," mohonnya meminta belas kasian.
Pria yang memiliki nama Satria Adi Nugroho itu berdecak, merasa menyesal kenapa matanya harus melihatnya berlari seperti di kejar anjing.
Jadilah, Satria terpaksa membantunya dan datang bak pahlawan. Padahal, malam ini dirinya harus segera beristirahat.
"Akan aku antar kamu pulang," tolaknya.
"Tuan!" Iris sudah tidak peduli, ia mulai bersujud di kaki Satria. "Tolong aku, bahkan jika tidak dibayarpun aku bersedia, asal jangan suruh aku pulang ke rumah itu."
"Aish!" Satria memegang bahu Iris. "Aku tidak bisa membawamu."
__ADS_1
"Tuan, aku mohon." Iris tetap memaksa.
"Jangan panggil aku Tuan. Aku bukan orang kaya seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya seorang pesuruh."
"Yasudah, ajak aku! Aku tidak keberatan untuk menjadi pesuruh, Tuan, bantu aku."
Melihat matanya yang sayu, rasa empati Satria menjadi meningkat. Bagaimanapun hati nuraninya masih berfungsi. "Baiklah, ayo ikut aku."
***
Iris bangun dari tidurnya saat merasakan percikan air membasahi wajahnya. Tubuhnya agak tersentak melihat dua orang wanita yang berpakaian sama, ala-ala pembantu yang sering diliat di televisi, itu menatapnya tajam.
“Apa Satria tidak memberitahumu tentang peraturan di rumah ini?” tanya perempuan yang sepertinya lebih tua dari Iris. “Belum mulai kerja saja udah malas-malasan, bangun!”
Tangan perempuan itu menarik Iris dan mendorongnya hingga terjerembab di lantai. Iris baru ingat, jika dirinya di bawa oleh pria bernama Satria ke sebuah rumah besar dan mewah. Dia mengatakan, Iris bisa mulai bekerja di sini menjadi seorang pembantu.
Namun, karena kurangnya istirahat selama di rumah bordir membuatnya terlambat bangun.
"Maaf, ak-“
“Tidak usah banyak omong, cepat mandi dan ganti baju! Lalu siapkan kopi untuk tuan Damar, waktumu hanya tersisa sepuluh menit!”
Iris melotot, apa katanya sepuluh menit? Dia mandi membutuhkan waktu lebih dari itu, belum lagi berganti pakaian.
“Tap-“
Belum Iris selesai bicara perempuan itu kembali memotongnya. “Sudah aku bilang jangan banyak bicara, bodoh! Kerjakan sesuai perintah!”
Tidak mau kena omel lagi, Iris lantas berjalan ke kamar mandi.
“Hei! Itu bukan tempatmu, kamu mandi di bawah, dekat dapur!” beritahunya membuat Iris beralih berjalan keluar ruangan.
“Bukankan untuk ukuran pembantu gadis itu sangat cantik, Fris?” bisik Karmila, yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun di rumah itu. "Bagaimana, kalau nanti dia menjadi saingan yang semakin menyulitkanmu untuk mendapatkan Tuan Damar?"
__ADS_1
Friska melipat tangannya di dada, bisa diakui bahwa gadis yang dibawa oleh Satria itu memang sangat cantik.
"Ayo kita bertaruh, gadis itu pasti tidak lama bekerja di sini. Seperti yang sebelum-sebelumnya, dia juga pasti akan menangis darah karena melayani Tuan Damar," ucapnya sambil menyeringai.