
"Di mana Willi?" tanya Damar tidak melihat keberadaan anaknya itu yang biasanya sudah duduk di kursi untuk makan malam. Dia menatap pada Elea yang juga berwajah murung.
"Elea bertengkar lagi dengan Willi?" suaranya berubah lembut. Kejadian tadi sore tidak membuatnya memarahi Elea, karena menurut Damar. Tanpa orang dewasa yang mengizinkannya, Elea tidak akan mungkin berani membantahnya.
Elea menggelengkan tangannya. Lalu berbicara dengan nada pelan. "Daddy, apa Elea sudah bisa makan? Willi pasti tidak akan mau makan bersama."
Damar mengangguk. "Boleh, makan yang banyak, sayang ..."
"Kenapa kalian masih diam, cepat panggil Willi. Paksa saja kalau dia tetap tidak mau!" Tatapan Damar beralih pada salah satu pembantu yang sedia berada di dekat mereka.
"Anu, Tuan," ucapnya dengan wajah ketakutan. "Tuan muda mengunci kamarnya dari sepulang sekolah. Kami sudah berusaha membujuknya tapi-"
Mata Damar berubah tajam. "Omong kosong macam apa itu? Kalian aku bayar, tetapi berani-beraninya membuat anakku kelaparan di dalam sana! Kalian tidak punya akal? Kalian bisa mendobrak pintu atau melakukan sesuatu! Bukan mendiamkannya!"
"Ma-"
"Argh, sial! Begini saja tidak becus!" Damar membanting sendoknya ke piring dengan kesal. Lantas memilih beranjak
dari duduknya, berjalan menuju kamar sang anak.
Damar mengetuk pintu kamar Willi, beberapa kali tidak ada jawaban. Hingga Damar tidak sengaja menarik engsel pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Willi?" panggilnya sembari menatap sekeliling ruangan. "Ayo, kita makan. Ada makanan kesukaanmu, loh."
Damar melangkah mendekat ke kasurnya dan hanya mendapati sebuah buku gambar yang menampilkan potret empat orrang yang dinamainya dengan:
Mommy, Willi, Elea dan Daddy. We are Family. I'm Happy!
Hati Damar terenyuh, meski gambarnya tidak sempurna tetapi dia tahu Willi pasti membuatnya sepenuh hati.
Matanya melihat lembar selanjutnya yang berupa tulisan khas anak-anak yang belum rapi.
Andai Daddy tahu, aku hanya ingin merasakan kasih sayang seorang Mommy seperti teman-temanku yang lain. Tapi saat sudah punya, kenapa Daddy selalu memarahi Mommy. Aku takut mereka bercerai :(
Deg.
Damar terdiam sejenak, apa dia tidak sebegitu perhatiannya pada Willi? Sampai dia tidak tahu apa keinginan anaknya?
"Bodoh kamu Damar!" Damar mengutuk dirinya sendiri. "Selama ini, Willi pasti menderita. Aku pikir semua uangku cukup untuk mereka, tapi aku salah ... Maafkan Daddy-mu yang tidak berguna ini."
Matanya berkaca-kaca, membayangkan kedua anaknya itu hidup tanpa seorang ibu yang seharusnya mereka dapatkan.
__ADS_1
Damar memejamkan matanya berusaha mengontrol perasaannya, dia harus mencari keberadaan Willi.
Di pintu Damar berpapasan dengan Satria yang memberitahu keberadaan Willi.
"Tuan muda ada di depan kamar anda, sepertinya dia menunggu Nyonya Iris keluar."
Tanpa menjawab, Damar melangkah cepat ke arah kamar. Benar saja, dengan memakai baju tidur pemberian dari Iris. Willi memeluk lututnya, bahunya bergetar. Pertanda dia menangis.
"Willi ..." Damar mengangkat tubuhnya ke pelukannya. "Maafkan, Daddy, Nak. Daddy salah."
"Hiks, Daddy kenapa mengunci kamarnya? Willi sudah bilang, Mommy tidak bersalah! Elea selalu berbohong dia yang ingin bermain dengan Arsen! Daddy kenapa selalu percaya pada Elea. Aku tidak suka dengannya," racaunya sambil menangis. Bahkan tangannya memukul-mukul punggung Damar.
"Iya, di sini Daddy yang salah. Maafkan Daddy, maaf sayang." Damar menatap anaknya dengan tatapan lembut, mengusap air matanya dengan tangan kirinya. "Maafkan Daddy, ya?"
Wajah memerahnya membuat Damar semakin merasa bersalah.
"Aku akan memaafkan Daddy, tapi Daddy harus janji. Jangan memarahi Mommy, jangan jadi jahat dan jangan bercerai. Aku tidak mau kehilangan Mommy. Dan satu lagi, jangan terus membela Elea!"
Damar mengangguk. "Daddy janji tidak akan melakukannya."
"Benarkah?"
"Iya, sayang. Jangan menangis lagi, Daddy jadi sedih."
"Baiklah sekarang Willi harus makan. Satria antarkan Willi ke bawah."
"Tapi, Mommy?" balasnya sambil menunjuk pintu yang masih tertutup.
"Daddy dan Mommy akan menyusul."
Damar menurunkan Willi dari gendongannya.
"Jangan lama-lama, awas saja kalau Daddy mengingkarinya! Aku akan pergi bersama Mommy!" Suasana hati Willi sepertinya berubah cepat dan itu hanya karena tentang Iris.
Huh, Damar menikahi Iris bukan untuk menjadi seorang ibu dari anak-anaknya, karena dia sudah mengosongkan tempat itu untuk seseorang. Namun, demi Willi sepertinya dia harus mengesampingkan hal itu karena kebahagiaan anaknya adalah prioritasnya.
Tangan Damar mengambil kunci yang berada di saku dan membukanya. Dia melihat Iris tengah tertidur. Matanya sembab, Damar termakan omongannya sendiri.
Dia berjanji tidak akan menyentuhnya, tetapi emosinya sore tadi membuatnya kehilangan akal.
Flashback On
__ADS_1
Damar menarik tangan Iris masuk ke kamar, melihat Iris tersenyum pada musuhnya dan tampak akrab, membuatnya kebakaran jenggot. Damar tidak suka, sementara Iris tidak pernah menatapnya seperti itu.
"Gara-gara kamu! Aku kehilanganmu uang sepuluh juta dan tidak mendapat kenikmatan apapun! Kamu harus membayarnya, Iris!"
"Sudah aku bilang, aku tidak tah-"
"Persetanan dengan itu! Goda aku seperti kamu menggoda Andreas dengan tubuhmu!" ucap Damar, tangannya menyobek baju Iris dengan kasar. Lalu melemparkan tubuhnya ke kasur.
Senyuman maut tertampil, tidak ada lagi Damar yang penuh gengsi. Dia sudah dilingkupi amarah dan gairah.
"Aku mohon jangan, Tuan!"
"Kenapa? Huh? Kamu lebih memilih Andreas daripada suamimu sendiri? Atau kamu sudah memberikannya pada Andreas? Keperawananmu? Kalian sudah saling mengenal lama?" Damar malah jadi melantur.
Iris menggelengkan kepalanya, matanya melotot. Sekuat tenaga menghalau tangan Damar yang sedang melucuti pakaiannya. Iris tidak bisa, dia tidak rela.
"Tidak, Tuan salah paham!"
"Maka dari itu, aku akan membuktikannya sendiri!" balas Damar.
Damar benar-benar melakukannya dengan paksaan, dia sudah gila dan tidak peduli dengan Iris yang menangis kesakitan.
"Sudah, aku mohon ..." lirihnya bersamaan Damar yang sudah mendapatkan puncak kenikmatannya.
Damar terlentang di samping Iris yang mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kamu tidak berbohong, tapi aku tidak akan meminta maaf karena sudah seharusnya aku menyentuhmu. Satu milyar rasanya sudah cukup untuk membeli keperawananmu!" ucap Damar sebelum meninggalkan Iris yang semakin menjerit, sakit hati. Menurutnya Damar bukan manusia tapi binatang. Tidak punya hati nurani.
"Sampai matipun, aku akan terus membencimu Damar! Dasar pria jahat!"
Flashback Off
"Apa aku sudah terlalu jahat padanya?" gumam Damar masih menatap Iris. "Aish, kenapa aku bertanya lagi? Willi saja bisa melihatnya kalau aku sudah menjahatinya."
Tatapan Damar teralih pada kaki Iris yang muncul dari selimut, ada darah kering di sana. Keningnya menyerngit, di mana dia mendapatkan luka itu. Seperti tertusuk kaca. Benar saja, saat Damar mendekat serpihan kecil kaca itu masih menempel.
"Pasti sakit sekali," gumam Damar tanpa sadar. Entah, malaikat baik mana yang membisikinya. Damar mengambil gelas yang diisi air dan kotak P3K yang ada di kamarnya.
Pelan-pelan dan telaten Damar membersihkan luka tanpa mau membangunkannya. Lalu, membungkusnya dengan perban dan plester.
Ya, Damar harus menyiapkan alasan pada Willi kenapa Iris tidak bisa makan malam bersama mereka. Gadis itu pasti kelelahan dan Damar tidak mau sampai dia terbangun.
__ADS_1
Sebelum pergi dari kamarnya. Damar membisikan sesuatu pada Iris. "Maafkan aku Iris."
***