Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Enam


__ADS_3

Plak!


Wanita berumur dipertengahan kepala tiga itu melayangkan tamparan kepada Iris.


"Apa kamu sudah gila, Iris? Bagaimana kalau kepala Tuan Damar sampai kenapa-napa, kamu mau dimasukan ke penjara?" bentaknya tidak habis pikir. Saat mengetahui tuannya itu terluka.


Dia adalah Mirna, yang bertanggung jawab dengan semua pelayan ada di rumah Tuan Damar. Jika ada yang melakukan kesalahan sekecil apapun, Mirna pasti akan menerima dampaknya, seperti diomeli atau gajinya di potong.


"Maafkan saya Bu, saya tidak sengaja."


"Tidak sengaja apanya!" Mirna mendelik kesal. "Begitu dokter datang dan mengatakan kalau Tuan Damar harus dirawat. Aku pasti yang akan kena marah. Iris, kamu itu masih baru. Kenapa bisa nekat? Apa kamu tidak tau siapa Tuan Damar? Dalam sekali sentilan dia bisa membuat kehidupanmu hancur!"


"Tapi, semuanya bukan sepenuhnya salah saya, Bu.Tuan Damar meminta saya menikah dengannya. Jelas saya tidak mau, dia pria kaya tapi mata keranjang. Dia tidak sungkan bercinta dengan banyak perempuan! Kalau Bu Mirna di posisi saya, pasti menolak!"


Mirna melebarkan matanya, tubuhnya linglung seketika mendengar pernyataan dari Iris. "Me-me-nikah, itu berarti Tuan Damar memilihmu? Tidak mungkin! Argh, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing."


"Loh, Bu? Ibu kenapa? Ayo duduk dulu," balasnya seraya membimbingnya untuk duduk di kursi. "Apa Bu Mirna, butuh minum?"


"Tidak perlu," tolak Mirna. Lalu memijat kepalanya yang terasa pusing. "Kamu memang sudah gila, Iris. Bisa-bisanya kamu menolak Tuan Damar! Apa kamu tidak suka uang?" sentaknya dengan nada greget.


"Asal kamu tau, selama Tuan Damar hidup, dia tidak pernah mengajak perempuan menikah, selain pada Nyonya Ana! Dan, kamu harusnya menerima bukan melukainya. Kalau aku ada di posisimu, sudah jelas aku tidak akan menolak kesempatan emas!" Mirna jadi kesal sendiri. "Hal apa yang sudah kamu lakukan, sampai bisa seberuntung ini, Iris?"


Iris menggelengkan kepalanya, selera mereka berdua ternyata berbeda, atau Iris memang terlalu naif.


Iris tidak mau menggadaikan masa depannya hidup bersama seseorang yang memiliki sifat minus, terlebih mereka menikah tanpa cinta.


"Bu Mirna menganggap aku beruntung. Tapi yang aku rasakan malah buntung. Bagaimana, caranya agar aku ke keluar dari rumah ini Ya Tuhan? Aku sudah tidak kuat!" batinnya merasa tersiksa.


Mirna menatap Iris. "Karena Tuan Damar sudah memilihmu, jadi pastikan jangan pernah membuat kesalahan lagi, oke? Tenang saja, Tuan Damar pasti tidak akan memenjarakanmu," katanya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Tuan Damar.

__ADS_1


****


Damar masih merasakan nyeri di kepalanya, meski sudah di jahit dan diobati para dokter. Untunglah dirinya tidak perlu di rawat inap karena lukanya tidak terlalu parah.


"Di mana gadis itu?" tanya Damar saat melihat Mirna menghampirinya.


"Ada di luar Tuan. Maafkan atas kelalaian Iris, saya janji ini tidak akan terulang lagi," balas Mirna sambil menunduk penuh hormat. "Omong-omong, apakah benar. Tuan Damar mengajak Iris menikah?"


"Apa dia pamer padamu?" Damar tersenyum culas. "Dia bertingkah seakan menolakku, tapi secepat kilat memberitahu semua orang."


Mirna menggelengkan kepalanya. "Iris hanya bercerita tentang alasan kenapa dia bisa melemparkan guci pada kepala Tuan, katanya dia kesal karena Tuan tiba-tiba mengajaknya menikah."


"Oh itu." Ternyata Damar salah tanggap. "Aku memang berniat menikah, tetapi hanya untuk mengambil statusnya. Iris tetap pembantuku, meski nanti kita sudah menikah," katanya dengan lugas.


Setelah berpikir, tidak ada salahnya Damar memanfaatkannya. Toh, dari informasi yang didapatkan. Gadis itu ternyata yatim-piatu dan tinggal bersama bibi serta pamannya yang jahat. Dengan memberinya uang yang banyak, pasti Iris tidak akan menolak. Kalaupun itu terjadi, Damar akan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.


Apapun alasannya, tetap saja. Iris adalah perempuan beruntung. Dia bisa mandi uang dan hidup dalam kekayaan. Siapapun pasti ingin merasakannya, termasuk aku!


"Baik Tuan, saya akan menyiapkannya dengan cepat."


Sementara, Satria yang menyimak perkataan mereka hanya bisa mengepalkan tangannya.


Tentu, Satria merasa bersalah, karena dirinya membawa Iris. Niatnya murni untuk menolongnya dari kejaran orang-orang di rumah bordir. Namun, mendengar rencana Damar, bukankah hal itu akan membuat Iris semakin menderita.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Satria?" ucap Damar tidak suka, Satria menatapnya begitu tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup. Dan, Damar tidak sekali-dua kali memergokinya.


Satria tersadar, "Maaf Tuan."


Damar berdecak, lalu turun dari ranjang tidak mau mengulur waktu, karena dia sudah terlambat. "Antar aku ke rumah sakit untuk menemui Ana."

__ADS_1


Damar memang punya agenda rutin mendatangi wanita yang dicintainya itu, setiap satu minggu dua kali. Menjenguk keadaannya dan melepaskan kerinduan yang mendalam.


"Eum, bukan lebih baik, kita menundanya dulu, Tuan? Setidaknya sampai luka di kepala Tuan sembuh," saran Satria, malah ditolak mentah-mentah oleh Damar.


Pria yang sudah memiliki dua anak itu berjalan dengan gagah ke luar rumah sakit, di susul oleh Mirna dan Satria. Luka di kepalanya tidak menghentikan dirinya untuk menemui sang kekasih hati.


"Oiya, Mirna! Siapkan juga ruangan untuk gadis ini! Akan aku masukan dia ke rumah sakit jiwa, bukankah dia sudah kehilangan akal, karena beraninya memukulku?" tunjuk Damar pada Iris, ketika melewatinya.


"Satria bawa gadis itu!"


"Baik, Tuan."


Mendengar itu Iris gelagapan. Apa maksudnya, rumah sakit jiwa? Tidak, Iris, tidak mau.


Saat hendak mensejajarkan langkahnya dengan Damar. Satria mencegahnya dan mengeratkan genggaman di tangan Iris.


"Patuhi saja perintahnya," bisik Satria.


"Dia mau membawaku ke rumah sakit jiwa, Satria. Mana bisa aku mematuhinya!" bentak Iris tidak terima.


"Dia hanya bercanda, Iris."


"Tapi bercandaan dia tidak membuatku ingin tertawa!"


"Sudah, jangan berisik. Kalau sampai Tuan Damar mendengar keributan kita, dia bisa marah."


Terpaksa Iris bungkam dan hanya bisa merutuk dalam hati.


Jangan harap kamu bisa memasukanku ke rumah sakit jiwa, Damar! Karena aku akan kabur!

__ADS_1


__ADS_2