
"Ada apa Kak Damar memanggilku?" tanya Dylan masuk ke dalam kamar sang kakak dengan kesal. Masih teringat jelas, bagaimana Damar memukul bokongnya menggunakan tongkat bisbol. Meski hanya sekali, rasa sakitnya masih membekas sampai sekarang.
Damar yang tengah memakai kemeja itu, menoleh. Tangannya menyuruh sang adik untuk mendekat.
"Mama menyuruhku untuk berkencan, dengan salah satu anak pejabat, dia bernama Melisa. Aku sudah menolaknya, tapi mama terus memaksa dan memberiku pesan agar datang pagi ini, jadi karena kamu ada di sini. Temui dia, nanti Satria akan memberi tahu alamat di mana kalian akan bertemu," ucap Damar kelewat santai, membuat Dylan memutar bola matanya malas.
"Tunggu? Enak sekali mulutmu, kak, menyuruh-nyuruh aku! Tidak, aku tidak mau! Selesaikan saja, urusan kakak sendiri jangan membawa namaku!" balas Dylan ogah. Dia sudah bisa menebak akhirnya, karena kalau mama sampai tahu. Habislah dirinya di-omeli.
"Aku tidak menerima penolakan apapun."
"Ya, aku juga tidak menerima perintah apapun!"
Damar menatap Dylan, adiknya yang terpaut usia sepuluh tahun itu dengan tatapan mengintimidasi, dia mengambil ponsel dari celananya.
"Jangan salahkan aku kalau tiba-tiba mama tau tentang mobil Porsche-nya dibawa balapan dan rusak berat."
Mata Dylan melebar. "Kak Damar, kok bisa tau?"
"Aku tau semua yang kamu lakukan, Dylan. Bahkan, aku tau kamu selama ini diam-diam berpacaran dengan adik Andreas. Sepertinya, akan sangat seru kalau aku memberi tahu mama," balasnya dengan senyuman licik, membuat adiknya itu pucat pasi.
Keluarga Andreas adalah musuh besar keluarganya. Sudah sejak dulu, mereka tidak pernah akur dan selalu bersaing dalam segala hal.
"Kak ..." Dylan menelan ludahnya. "Jangan lakukan itu, apa Kak Damar tega melihat adikmu yang tampan ini dikeluarkan dari kartu keluarga lalu jadi gelandangan?"
"Turuti perintahku, maka aku akan tutup mulut," balas Damar membuat Dylan menghela napas berat.
"Baiklah, aku akan menggantikan-mu bertemu dengan Melisa."
Saat mereka sedang mengobrol, pintu terbuka. Dylan sempat terdiam melihat gadis cantik melewatinya.
"Ini, Tuan ..." Iris melangkah masuk dan memberikan sepatu yang diminta oleh Damar. Merasa menganggu waktu kedua kakak-beradik itu dirinya melangkah kembali keluar.
"Aku baru melihatnya, apa dia pembantu yang pernah melawanmu dan mengataimu tua, Kak?" tanya Dylan, dia mendengar kabar itu dari para pekerja.
Damar mengangguk seraya berdecak. "Jangan diingatkan lagi, dia memang gadis kurang ajar! Argh, rasanya kalau mengingat itu ingin sekali aku makan dia hidup-hidup!"
"Woo, jangan terlalu bernapsu." Dylan menjentikkan jarinya, otaknya tiba-tiba punya suatu ide. "Kak, bagaimana kalau kita memanfaatkan pembantu itu?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Nikahi dia."
"Aku? Aku harus menikahinya?" tanya Damar tidak percaya. "Jangan gila, dia tidak selevel denganku! Dan, sampai kapanpun aku tidak akan menikah, selain dengan Ana!"
Dylan menggelengkan kepalanya. "Ada beberapa keuntungan kalau Kak Damar menikahinya. Pertama, Kak Damar bisa terbebas dari tuntunan mama berkencan dengan wanita pilihannya ..."
"Kedua, Kak Damar tidak akan dapat penolakan, apalagi soal di ranjang. Kak Damar bisa sesuka hati mengendalikannya! Ikat dia dengan status, lalu buat dia jatuh cinta dan hempaskan! Itu adalah balas dendam terindah! Dan, yang terakhir Kak Damar bisa memberikan Elea dan Willy seorang ibu, walau hanya sekedar status, mereka pasti senang," hasut Dylan.
Dia melakukan ini, demi menyelamatkan dirinya sendiri dari wanita yang seharusnya dikencani oleh sang kakak.
Sementara, Damar mengangkat alisnya. Menikah dengan gadis itu? Damar tidak pernah memikirkannya, karena dia hanya berniat membalas perlakuan Iris dengan mengurungnya di rumahnya.
"Idemu tidak terlalu buruk, aku akan mempertimbangkannya," balas Damar.
"Good! Aku harap Kak Damar setuju! Ingat, banyak keuntungan yang akan di dapatkan!" Dylan tidak hentinya menghasut, pria berumur 24 tahun itu berjalan keluar karena masih banyak yang harus dilakukan, termasuk mandi dan sarapan.
"Jangan lupa, pagi ini kamu harus berkencan." Damar memperingati, Dylan mencebik dan bergumam dalam hati.
Si tua itu memang harusnya sudah menikah! Menyusahkan saja! Lihat, kalau aku sudah sukses dan jauh di atasnya! Tidak akan aku biarkan, dia memperintahku seperti sekarang!
***
Teriakan dari dalam kamar mandi itu membuat Iris yang baru merasakan duduk di lantai tersentak, wajahnya yang kelelahan gelagapan.
"Iya, Tuan ada apa?"
"Kenapa handuknya berwarna merah? Aku sudah minta yang putih! Apa, kamu mau membiarkanku mati kedinginan?"
Iris berdecak kesal. "Astaga, kenapa dia lebai sekali? Padahal, dia sudah mandi pakai air hangat. Masih saja takut kedinginan?"
"Aku mendengar suaramu!" balas Damar membuat Iris meneguk ludahnya. Tidak mau terkena omelan yang lebih parah, Iris mengambil handuk permintaan tuannya.
"Ini handuknya, Tuan. Saya simpan di mana?"
"Di luar!"
"Kok, di luar?"
"Sudah tau aku mandi di kamar mandi, kenapa masih banyak bertanya, dasar bod*h!"
__ADS_1
"Maaf Tuan Damar, yang pintarnya mengalahkan Albert Einstein. Saya bertanya, karena pintunya terkunci dari dalam. Memang, Tuan pikir saya hantu yang bisa nembus?" ucap Iris tersirat dari nadanya penuh kekesalan. "Jadi sebenarnya di sini, siapa yang bod*h?"
"Diam, kamu Iris!" bentak Damar tidak mau kalah.
Pintu terbuka menampilkan tangan Damar yang muncul dari celah pintu, Iris memberikan handuknya. Entah sengaja atau apa, Damar malah menarik tangan Iris hingga pintu terbuka lebar dan tubuhnya menubruk dada bidang milik pria itu.
Mata Iris melotot, air bekas mandi masih ada kulitnya. Namun saat hendak melepaskan diri, Damar sudah melingkarkan tangannya di pinggang Iris.
"Lepas!" bentak Iris tidak terima, tubuhnya disentuh oleh pria macam Damar.
"Kenapa? Apa kamu masih belum tergoda padaku, Iris?" tanya Damar sambil menyeringai. Air dari rambutnya itu meluncur mengenai pipi putih milik Iris.
Tidak bisa dipungkiri dia memang tampan, tapi yang benar saja menahan Iris dengan handuk yang melilit di pinggang? Bagaimana kalau sampai handuk itu terlepas? Damar memang mes*m!
Iris berdecih. "Sampai kapanpun, saya tidak akan tergoda oleh pria tua sepertimu!"
Damar tidak terpancing, pria itu malah tertawa. "Baiklah, bagaimana kalau kita langsung menikah saja? Aku rasa, semua orang pasti mendambakan punya suami kaya raya."
Tunggu. Apa otak Damar sudah bergeser, kenapa dia tiba-tiba mengatakan kalimat itu. Iris memang berharap menikah dengan tuan kaya raya agar hidup keturunannya bisa lebih baik. Tapi, tidak dengan pria di hadapannya ini! Iris tidak sudi.
"Lepaskan saya!" balasnya masih mencoba melepaskan diri.
"Sebenarnya aku tidak perlu jawaban, karena tidak ada pilihan selain, berkata Ya," ucap Damar tersenyum puas sambil melepaskan Iris. "Persiapkan dirimu, Iris."
Sedangkan Iris berteriak kesal. tatapannya tertuju pada sebuah guci yang dipanjang dekat lemari.
"Rasakan pembalasanku pria tua bangka!"
Tanpa berpikir panjang, Iris melemparkannya pada Damar hingga dar*h mengucur di kepalanya.
Iris tertegun melihat tuannya yang sudah terduduk di lantai. Tidak percaya dengan dirinya sendiri, bisa senekat ini. Pikiran akan dilaporkan ke polisi lalu di penjara membuat Iris gundah.
"Bo*oh Iris, apa yang kamu lakukan!"
"Tuan maafkan saya. Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya kesal karena Tuan selalu seenaknya memperlakukan saya," balas Iris sambil berjongkok tubuhnya diserang kepanikan.
Damar mengadu kesakitan. "Kenapa masih di sini? Cepat panggil pelayan lain, Iris. Apa kamu sengaja mau membiarkanku m*ti kehabisan darah?"
Iris mengangguk lalu berlari ke luar memanggil orang-orang agar cepat membawa Damar ke rumah sakit.
__ADS_1