
Sesampainya di rumah sakit, Damar disambut baik oleh dokter dan perawat di sana. Dia menyewa sebuah ruangan yang bisa dibilang mirip dengan rumah, karena isinya lengkap dari mulai perabotan, dapur, kamar, kamar mandi dan lain-lain. Damar juga mengkhususkan sebuah perawat pribadi untuk menemani Anastasia.
"Selamat siang, Tuan," sambut Stevi dengan senyum sumringah, lalu membimbing Damar agar masuk dan melihat keadaan Ana yang duduk di kursi sebuah kursi, tatapannya kosong menghadap ke arah jendela.
"Nyonya Ana sudah mandi, meski tadi ada sedikit drama karena entah kenapa tiba-tiba Nyonya Ana mengamuk, memanggil nama Tuan."
Damar mengangguk paham.
"Biarkan aku dan Ana di sini."
"Baik, Tuan."
Mereka semua keluar dari ruangan hingga Ana dan Damar yang tersisa.
"Selamat siang, sayang. Aku datang lagi," sapa Damar seraya berjongkok di hadapan Ana yang masih termenung, seolah tidak menghiraukan kedatangan Damar. "Aku membawa banyak makanan kesukaanmu."
Anastasia Laksani, dia adalah ibu dari dua anaknya, Elea dan Willi. Damar bertemu pertama kali dengannya di sebuah desa, saat dirinya meninjau perkebunan teh yang dikelola ibunya. Usia mereka saat itu menginjak 22 tahun.
Dalam sekali lihat, Damar merasa terpesona dan lantas mendekatinya, hingga hubungan itu akhirnya terjalin sampai bertahun-tahun, meski tanpa restu dari orangtuanya.
Mereka tidak setuju karena Ana hanya anak dari seorang juragan yang sehari-hari mengelola peternakan ikan. Jauh sekali dengan Damar yang menjadi calon pewaris utama keluarga Handoko.
Namun, nahas suatu ketika keluarga Ana yang ada di desa mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat, saat ingin datang ke kota untuk menghadiri pernikahan Damar dan Ana.
Damar ingin cepat meresmikan pernikahan karena ternyata Ana tengah mengandung anaknya.
Tidak lama setelah berita duka yang mengguncangkan hatinya, Ana membatalkan pernikahan dan menghilang selama dua bulan.
Damar tidak henti mencarinya, hingga dia berhasil menemukan Ana di pinggir kota dalam keadaan hamil besar dan sama sekali tidak mengenalinya.
Damar merujuknya ke rumah sakit, terpaksa harus merelakan Ana dirawat karena keadaan jiwanya tidak stabil.
"Ana, sayang ..." ucap Damar dengan nada lembut, melihat Ana tidak juga bergeming. "Apa kamu tidak merindukanku?" Damar hendak melingkarkan tangannya di pinggang Ana, tetapi dia lantas menepisnya.
Tatapan Ana berubah tajam. "Siapa kamu?"
"Aku Damar, Ana. Kenapa kamu selalu melupakanku?"
"Da-mar?" Mendengar nama itu menyusup ke telinganya membuat mata Ana membulat sempurna.
"Jangan dekati aku! Gara-gara kamu hidupku hancur berantakan! Pergi aku tidak mau bertemu denganmu!" bentak Ana dengan wajah ketakutan. "Pergi!"
"Ana, tenangkan dirimu ..." balas Damar mencoba merengkuh tubuhnya tetapi malah membuat Ana semakin mengamuk. Tangannya memukul-mukul Damar sekuat tenaga.
"Hei, Ana. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Damar. Agak merasa aneh, Ana jarang sekali mengamuk. Seringnya, ketika menemui Ana. Perempuan itu hanya diam tidak menghiraukannya dan semua berlangsung sampai Damar pulang.
"Jangan dekati aku! Aku mohon, pergi dari sini sekarang!" jeritnya membuat Satria, Mirna dan Stevi yang berada di luar lantas masuk dan memisahkan mereka berdua.
Stevi memeluk Ana. "Nyonya yang tenang, tidak apa Tuan Damar tidak jahat," balasnya. Ajaibnya berada di tangan Stevi, Ana tidak lagi mengamuk. Tubuhnya bergetar, memeluk perawat itu dengan erat.
"Tuan Damar, maaf saya bukan mengusir. Tapi, Sepertinya Nyonya Ana hari ini tidak bisa dijenguk," ucap Stevi membuat Damar mau tidak mau keluar dari ruangan itu dengan perasaan kecewa.
Damar masih mengharapkan kesembuhan Ana, tetapi sampai saat ini, tidak ada kabar yang membahagiakan.
Langkahnya memang menjauh , tetapi tatapannya terus tertuju padanya.
Sampai kapan kamu mau menyiksaku, Ana?
Di dalam kesombongan dan kejamnya seorang Damar, dia juga masih bisa merasakan kesedihan.
Damar duduk di salah satu kursi panjang, tangannya meminum sebuah minuman kaleng pemberian Satria dengan sekali teguk. Sesuai arahan dari Stevi, Damar tidak bisa menemui Ana untuk beberapa hari ke depan.
Selain pasrah, tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. Damar bersiap untuk melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
Hanya saja, Damar baru teringat sesuatu. Sejak dirinya sampai di rumah sakit. Damar tidak melihat batang hidung gadis itu.
__ADS_1
"Di mana, Iris?"
Satria terlihat panik. "Anu, Tuan. Tadi Iris izin ke toilet, tapi sampai saat ini dia tidak kembali. Jangan khawatir Tuan, saya sudah memerintahkan beberapa bodyguard untuk mencarinya."
Damar berubah menjadi sosok yang pemarah lagi, dia menggenggam kaleng dengan erat dan membuatnya penyok. "DASAR, TIDAK BECUS! SUDAH AKU BILANG JAGA JANGAN SAMPAI DIA KABUR!"
Dia juga membatin dalam hati. "Sepertinya gadis itu ingin benar-benar, aku masukan ke rumah sakit jiwa!"
***
Dengan bermodal nekat dan uang pemberian Satria, Iris kabur dan memutuskan pulang ke rumah nenek dari ayahnya yang sudah sepuh.
"Nek!" ucap Iris dengan bahagia, melangkah ke arah nenek yang tengah memberi makan ayam.
"Yaampun, Nduk! Kemana aja kamu, nenek mendengar kamu hilang!"
"Nek, paman itu jahat. Dia menjual Iris ke rumah bordir," adunya mencurahkan semua yang dia rasakan.
"Tega sekali si Sardi itu! Ayo, masuk. Kamu sudah makan, Nduk?"
Neneknya dengan hati-hati menarik tangan Iris masuk ke dalam rumah bambunya. Neneknya hanya tinggal bersama sepupu Iris, yang sudah besar.
"Aryo mana, Nek?"
"Dia sudah tidak pernah pulang."
"Jadi nenek tinggal di sini sendirian?"
"Begitulah, Nduk. Nenek menyesal dulu malah memilih mengurus Aryo daripada kamu. Anak itu bengal dan sering buat masalah. Lelah hati, nenek."
Iris menatap sedih pada neneknya, bukan sepenuhnya kesalahan nenek karena katanya sewaktu dirinya kecil, bibinya memang ngotot ingin mengurus Iris, karena dia tidak juga diberikan keturunan.
"Nenek tadi masak ikan asin. Kamu makan dulu sana, Nduk!" perintahnya membuat Iris mulai mengambil nasi dan lauk-pauknya.
"Iya, Nduk. Sekarang nenek yang akan melindungi kamu," balas neneknya sambil tersenyum penuh kasih sayang.
"Makasih, Nek."
Iris lega, ternyata masih ada kesempatan untuk dirinya lepas dari paman dan tuan kejam itu.
Namun, baru mau makan sesuap. Pintu rumahnya sudah digedor-gedor oleh seseorang.
"Aduh, pasti rentenir itu lagi," ucap neneknya hendak melangkah membuka pintu.
Iris tidak tega, dia menyuruh neneknya untuk duduk. "Biar, Iris yang menemuinya, Nek."
Hanya saja saat membuka pintu, justru wajah pamannya yang muncul, dia tersenyum sumringah. Bagaimana dia tahu, Iris ada di sini? Bukankah, jarak antar desa nenek dan pamannya juga cukup jauh.
"Sudah lama paman menunggumu datang ke sini, Iris!" tangan Sardi menarik tangan keponakannya.
Bukan suatu kebetulan, karena waktu Sardi memang dihabiskan untuk mengawasi rumah mertuanya, karena dia yakin suatu saat gadis itu akan datang ke sini.
"Ayo ikut!"
"Tidak, aku tidak mau!" Satu tangannya lagi memegang tiang rumah yang terbuat dari kayu.
"Kenapa bebal sekali? Paman dan bibimu sudah mengurusmu dari kecil, lalu ini balasanmu terhadap kami? Ingat, di dunia ini tidak ada yang gratis!" bentak Sardi emosi. "Madam dan pelanggannya sudah menunggumu sejak lama,"
"Aku tidak peduli, yang jelas paman tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku tidak mau dijual!"
"Kamu salah, paman tidak menjualmu, paman hanya memberikanmu pekerjaan. Percayalah, keluar dari sana kamu pasti punya kekayaan. Lebih beruntung kalau kamu bertemu pria kaya dan dinikahi!"
Iris berdecih. "Lalu uang yang paman terima itu apa?"
"Itu hanya tanda terima kasih, karena paman sudah berhasil merawat kamu, karena dari kecil Madam sudah mengincarmu." Sardi dengan sekuat tenaga menarik Iris.
__ADS_1
Sedangkan di luar neneknya mencoba menolong Iris.
"Jangan bawa cucuku!"
"Apalagi ini?" Sardi mendelik malas, melihat neneknya memegang tangannya. "Ibu jangan ikut campur. Iris harus begini, agar kita tidak hidup melarat terus!"
Tangannya mendorong nenek Hinga terjerembab di lantai. Iris berteriak kesal.
"Paman sudah keterlaluan!"
"Sudah jangan banyak omong, ikut paman! Jadilah anak yang penurut!" balas Sardi, dia menyeret Iris dan menaikannya ke motor. Di sana sudah ada temannya yang menunggu, duduk di jok.
"Tidak mau!"
Banyak orang yang menonton tetapi mereka tidak ada yang membantu Iris. Lebih takut karena Sardi adalah ketua preman di desanya.
"Ayo!"
Iris dipangku agar naik ke motor, sementara Sardi buru-buru naik di belakangnya. Motor mulai melaju meninggalkan pelataran rumah nenek, tetapi belum sampai ke jalan besar.
Ada sebuah mobil mewah menghadang, bahkan menubruknya hingga Iris beserta dua pria dewasa itu terjatuh ke tanah.
"S*ialan siapa dia!" bentak Sardi, dengan kaki yang terluka dia berjalan ke mobil dan menggedor-gedor kacanya.
Sementara, Iris malah semakin panik. Dia tidak akan lupa, karena mobil itu persis milik Tuan Damar. Seketika Iris bangun dan hendak kabur.
"Jangan kabur lagi, Iris!"
Iris menghentikan langkahnya, dia menoleh melihat Damar yang turun dari mobil dan menurunkan kacamata hitamnya.
Membuat orang-orang di desa terkagum-kagum, mereka bahkan berseru ingin berfoto dengan pria keren seperti Damar.
Bisa-bisanya dia tebar pesona! delik Iris dalam hati.
Iris menatap Satria yang berjalan menghampirinya. Pria itu berbisik. "Maaf aku terpaksa memberitahu keberadaanmu, karena Tuan Damar mengetahui kalau aku yang membantumu."
Iris melihat pria muda itu. Dari dekat terlihat sekali, wajahnya memar. "Apa Tuan Damar memukulmu?" tanya Iris jadi merasa bersalah.
"Tidak apa, sekarang yang terpenting kamu harus ikut dengan kami, Iris," balas Satria dengan sedih.
Iris hanya pasrah. "Baiklah."
Sementara, Damar menatap Sardi dengan tatapan angkuh. "Berapa kamu menjual Iris pada orang-orang itu?"
"Siapa kamu, huh? Jangan ikut campur, lepaskan keponakanku karena dia harus bekerja membantu keluarganya!" balas Sardi emosi, saat melihat Iris masuk ke dalam mobilnya.
Damar menghela napas, lalu memanggil Mirna yang membawa satu koper berisi uang.
Uang itu sudah disediakan untuk bersepakat dengan Iris tentang rencana pernikahan, tetapi sepertinya harus jatuh ke tangan pamannya.
"Ambil ini! Bukankah lebih dari cukup?" tanya Damar.
Meskipun kebingungan Sardi membuka kopernya, matanya melebar, dia kegirangan.
"Apa... ini benar untukku?" tanyanya.
"Karena kamu sudah menerima uangnya. Jadi, jangan usik kehidupan Iris lagi, karena Iris sudah menjadi milikku!" balas Damar sembari masuk ke dalam mobil diikuti oleh Mirna.
Sardi mengangguk. "Baik Tuan, saya tidak akan menganggu anak itu lagi."
Selepas mobil itu meninggalkannya, Sardi berteriak seperti orang gila. Nominal uang yang diberikan Damar, adalah satu milyar. Tentu, Sardi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada uang yang diberikan madam.
"Asyik, aku jadi orang kaya!" teriaknya heboh.
****
__ADS_1