Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Enam Belas


__ADS_3

"Surprise!" ucap Damar setelah mereka menempuh perjalanan kurang dari satu jam.


Elea yang baru keluar dari mobil tampak itu antusias. "Daddy! Akhirnya Elea bisa ke Dufan dengan Daddy!"


Ya, Elea selalu ingin datang ke tempat ini. Namun, Damar tidak pernah ada waktu. Anak itu hanya bisa pergi dengan para pembantunya. Damar berjanji mulai hari ini, dia akan lebih mementingkan kebahagiaan mereka berdua.


Damar menggendong Elea, lalu mencium pipinya. "Apa Elea senang?"


"Sangat senang! Terimakasih Daddy!" Elea membalas ciuman Damar ke pipinya. "Daddy, nanti Elea ingin main bianglala, terus komedi putar, ke istana boneka, hm apa lagi ya?"


"Apapun yang Elea mau akan Daddy wujudkan."


"Yes, Elea jadi makin sayang dengan Daddy!"


Berbeda dengan respon Elea, Willi menjadi tidak seantusias ketika berangkat. Anak itu bahkan menghela napas beberapa kali. Iris yang menyadari itu lantas bertanya.


"Willi, tidak suka di sini?"


"Aku pikir Daddy, akan membawa kita ke pantai yang tenang, bisa melihat ombak dan bermain pasir. Atau tidak makan di restoran enak, aku suka sekali sushi. Ah, atau ke perpustakaan. Aku pasti akan nyaman di sana. Tapi karena di sini bersama Mommy, aku akan mencoba menikmatinya."


Iris tertawa dengan responya yang menurutnya unik itu. "Willi sekali-kali kamu harus ke tempat wisata, apa tidak pusing baca buku terus?"


Willi menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku menyukainya."


"Sudah, lupakan tentang itu karena kamu harus mencoba pengalaman baru!" Iris menarik tangan Willi dan mencoba mengejar Damar dan Elea yang sudah berjalan duluan.


Ah, jangankan Elea. Iris sebagai orang dewasa saja sebenarnya sama antusiasnya. Apalagi, terkahir kali mendatangi tempat seperti ini, saat orangtuanya masih ada.


Lupakan tentang Damar dan nikmati harimu sekarang, Iris! batinnya menyemangati.


***


Setelah hampir dua jam


menuruti perkataan Elea naik berbagai mainan sampai Willi mengeluh kelelahan, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu di salah satu resto di Dufan.


"Makan yang banyak setelah ini kita jalan-jalan lagi," ucap Damar pada kedua anaknya. Dia sangat menikmati acara keluarga ini.


"Lagi?" balas Willi sambil menghela napas. "Daddy, aku ingin pulang saja."


"Ih, Willi masa pulang. Kita belum naik semua wahananya loh."


"Elea pura-pura bo*doh atau bagaimana? kita tidak bisa menaiki semua wahana dalam satu hari, kaki kita hanya dua! Apalagi semua wahana yang kamu pilih itu membosankan!"


Elea melotot tidak terima. "Memangnya menurutmu apa yang paling seru?"


Willi terdiam sejenak. "Roller coaster! Itu pasti sangat seru!"


Bukan hanya Damar yang kaget tetapi Iris juga.

__ADS_1


"Kamu mau naik itu, Will?" tanya Iris tidak percaya. Ternyata bukan hanya dirinya yang ingin merasakan ketegangan permainan itu.


"Tidak mungkin Mommy, aku masih belum memenuhi standar. Mungkin nanti tujuh atau delapan tahun ke depan." Willi tiba-tiba menjentikan jarinya. "Tapi, bagaimana kalau Daddy dan Mommy saja yang naik? Terus kalian ceritakan padaku bagaimana rasanya?"


"Hah?" Damar tercengang, dia melihat beberapa orang berteriak ketakutan saat menaiki itu.


"Boleh! Mommy juga belum pernah merasakannya, sepertinya seru!" balas Iris langsung menyetujui.


"Yes! Daddy bagaimana?"


"Daddy? Ayo, siapa takut!


"Heum, biar lebih seru bagaimana kalau kita bertaruh?" tawar Willi seraya tersenyum merencanakan sesuatu.


"Apa itu?"


"Siapapun yang berteriak ketakutan itu kalah, sedangkan yang berteriak gembira menang. Yang kalah harus menuruti semua permintaan yang menang. Untuk timnya, aku tentunya akan mendukung Mommy! Sementara Elea mendukung Daddy!"


Damar mengangguk mantap. "Oke, pasti Daddy yang menang. Wajah-wajah seperti Mommy-mu itu belum naik saja pasti sudah pucat duluan," ledek Damar membuat Iris mendelik.


"Liat saja nanti siapa yang akan menang!" balas Iris dengan nada judes.


"Pokoknya Daddy harus menang!" ucap Elea tidak kalah heboh.


Setelah selesai makan mereka lantas ke tempat roller coaster yang ternyata antriannya tidak terlalu panjang, sehingga mereka sudah bisa mendapatkan tempat.


Mereka berdua duduk bersisian dan memasang sabuk masing-masing. Damar melirik Iris yang masih tampak tenang.


Iris berdecak, menyebalkan sekali tua bangka satu ini, apalagi tatapannya!


Petugas memberi instruksi agar mereka bersiap-siap, tidak lama setelah itu kereta mulai berjalan pelan karena menanjak. Belum ada yang terasa masih biasa saja.


Damar tiba-tiba didera rasa takut, dia melihat ke bawah di mana anak-anaknya melambaikan tangan.


Menghalau rasa takut, Damar merapatkan mulutnya dan menggenggam pegangan besi di depannya.


Namun, hal itu tidak bisa tertahan saat menuju turunan ekstrim di sertai rel yang meliuk-liuk. Damar tidak terkendali dia berteriak keras.


"Tolong jangan ambil nyawaku sekarang! Aku masih punya anak yang harus ku urus! Jangan sampai mereka menjadi yatim. Aaaaa, permainan sampah macam apa ini? Tidak ada seru-serunya! Sia*alan! Akan ku bongkar paksa kalian!" cerocos Damar ketakutan sampai dia tidak sadar sudah memeluk Iris.


"Tutup mata saja jika takut, Tuan!" teriak Iris, yang ternyata di dengar oleh Damar. Pria itu benar-benar memejamkan matanya.


Iris yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya, padahal menurutnya ini sangat seru. Ketakutannya memang hanya satu, yaitu jika di tempat gelap.


Tidak dia sangka ternyata nyali seorang Damar tidak ada apa-apanya. Tadi saja sangat sombong, sekarang malah meringkuk ketakutan bahkan sampai permainan selesai.


"Tuan! Tuan Damar!" Iris menepuk-nepuk pipi Damar yang sudah pucat itu.


Damar tersentak dan dia menyadari tangannya masih memeluk Iris. "Kenapa aku memelukmu? Jangan salah paham, aku tadi tidak ketakutan. Aku hanya-" Damar mencoba mengklarifikasi karena dia terlalu malu.

__ADS_1


Iris tersenyum miring. "Apapun itu, tetap pemenangnya adalah aku. Tapi, lain kali kalau merasa takut jangan dipaksakan. Jika nanti Tuan kencing di atas sana, pasti akan sangat memalukan," ledeknya.


"Kata siapa aku takut, aku tidak takut! Iris! Hei, aku tidak takut!" panggil Damar mengejar Iris yang sudah berjalan duluan menghampiri ke dua anaknya yang menonton dari bawah. "Kamu salah paham!"


Mereka berdua di sambut tawa oleh Willi.


"Daddy, kenapa tadi memeluk Mommy? Daddy ketakutan?" tanya Willi terkesan meledek.


"Tidak!" balasnya lantang.


"Bohong, tadi saja Daddy berteriak terus-terusan! Mommy hebat, bisa mengalahkan Daddy!" Willi memberi jempolnya untuk Iris.


Sedangkan Elea menatap tajam pada ayahnya. "Memalukan, masa Daddy kalah dari Mommy. Daddy kan laki-laki harusnya lebih berani!"


"Daddy tidak takut, Daddy hanya sedikit panik, maafkan Daddy Elea."


"Sudah terima saja kekalahan Daddy dan tepati janjinya! Eum, Mommy mau minta apa?" tanya Willi pada Iris.


"Apa, ya? Mommy bingung. Bagiamana kalau kita diskusikan nanti di rumah? Kita harus pikiran matang-matang." Sejujurnya Iris hanya belum tahu meminta apa dari Damar.


"Oke! Mommy!"


Damar yang tidak bisa melanjutkan acara itu berceletuk. "Kita pulang sekarang."


"Pulang? Tapi masih ada beberapa jam sebelum tutup, Daddy!" tolak Elea.


"Elea kamu tidak melihat wajah Daddy sudah sepucat apa? Kita pulang saja, kan bisa kapan-kapan main ke sini lagi." Willi agak kasihan pada ayahnya.


"Yasudah! Tapi Elea mau foto di sana sebelum pulang!" tunjuknya pada istana hello Kitty.


Mereka bertiga hanya bisa mengangguk menuruti tuan putri.


Beberapa kali jepretan untuk Elea dan Willi. Lalu di lanjut dengan foto keluarga sederhana di mana Elea yang di gendong oleh Damar, sedangkan Willi berdiri di tengah-tengah orangtuanya.


"Sekarang giliran Mommy dan Daddy berfoto!" Lagi-lagi Willi memberi saran.


Tentu Iris langsung menolak. "Eum, mending sek-"


"Untuk kenang-kenangan Mommy, sekali saja. Pak, pokoknya fotonya harus bagus dan romantis!" pintanya pada orang yang mereka mintai untuk mem-fotokan.


Iris dan Damar berdiri dengan kaku membuat Willi kembali berkicau.


"Daddy, peluk Mommy atau rangkul! Masa harus aku yang kasih tau!"


Damar yang ingin semuanya cepat selesai itu menuruti perintah Willi dan merangkul pinggang Iris. Mereka berdua tersenyum, meski terkesan di paksakan.


"Sudah, ya sekarang kita pulang!" Damar melepaskan rangkulannya, sedangkan Iris berdecih dalam hati dan mencoba menghilangkan bekas tangan Damar di bajunya.


Dasar pencari kesempatan!

__ADS_1


***


Sekarang senang-senang aja dulu ya😂


__ADS_2