
Iris melihat pantulan dirinya di cermin, tidak selaras dengan wajahnya yang semakin cantik karena dipoles make-up. Justru, kesedihan tercipta begitu jelas.
Ikrar sumpah pernikahan sudah di ucap oleh Damar, dan Iris kini resmi menjadi istrinya.
Pernikahan itu digelar mewah di sebuah gedung secara mendadak, tepatnya selang dua minggu setelah kejadian di desa, di mana Iris dibeli oleh Damar seharga satu miliar.
Semua sudah terlanjur, bukan? Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menerimanya.
Suara deheman membuat membuat beberapa orang yang menemaninya itu menunduk hormat pada seseorang sebelum keluar dari ruangan.
Dari pantulan kaca Iris melihat sosok Damar dengan tuxedo putih dan dasi kupu-kupu berwarna coklat. Dadanya tegap berjalan ke arahnya, tidak ada raut wajah bersalah karena sudah membuat gadis berumur 20 tahun itu menderita. Dia malah, tersenyum penuh kemenangan.
Tangannya menyapu bahu telanjang Iris. "Bagaimana perasaanmu, Iris?"
"Jangan sentuh aku!" delik Iris sambil beranjak dari duduknya, tatapannya begitu tajam mengarah pada Damar, bahkan air menggenang di pelupuk matanya.
Damar menghela napas, ternyata sifat sombongnya itu masih melekat, membuat Damar seketika tidak mood. "Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tetapi, ingat meski kita menikah kamu harus tetap melayaniku sebagai tuanmu! Cepat ganti baju dan siapkan air hangat, aku ingin mandi!"
"Kenapa masih diam saja? Cepat lakukan perintahku, babu!"
Iris mengepalkan tangannya, air matanya sudah tumpah. Pernikahan itu mungkin tidak ada apa-apanya di mata Damar, tapi bagi Iris. Semuanya adalah penentu masa depannya. Dengan dia menikah dengan pria itu, bagaimana nasib ke-depannya?
****
"DAMAR!"
Suara teriakan itu terdengar ke segala penjuru rumah mewah itu, para pelayan tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Selamat sore, Nyonya."
Ratna berjalan cepat menuju kamar putranya. Dia terpaksa harus putar balik dalam perjalanan menuju Thailand, karena mendengar bahwa Damar sedang melangsungkan pernikahan dengan seorang yang katanya, hanya pembantu. Tentu saja, Ratna marah dan tidak terima. Dia merawat Damar dari kecil dengan kekayaan yang melimpah, mana bisa dia menikah dengan perempuan yang kastanya jelas berbeda.
Bruk!
Ratna menatap anaknya yang ternyata tengah bersama pembantu itu.
"Damar! Kamu mau membuat mama malu, huh?" bentaknya tidak habis pikir.
Damar hanya menanggapinya dengan santai. Dia bangun dari ranjangnya. "Mama bisa lebih sopan, tidak? Damar juga punya privasi. Lagian, mama ngapain ke sini. Malam-malam pula."
"Mama tidak mengerti lagi dengan isi kepalamu, Damar. Kenapa harus perempuan rendahan yang kamu nikahi? Dia punya apa untuk menandingi kekayaan kita?"
"Mama sendiri yang ingin aku menikah, aku sudah mengabulkannya, kenapa aku masih dimarahi?"
"Bukan ini maksud mama."
"Aku tau maksud mama. Mama ingin aku menikah dengan wanita pilihan mama, lalu melahirkan anak. Setelah semuanya berhasil, mama akan mengendalikan aku lewat wanita itu, agar aku menurut dengan semua permintaan kalian. Termasuk dalam hak asuh si kembar?" Damar sudah tahu, arah pikirannya mamanya. Selain ingin ada perjodohan bisnis yang menguntungkan, sedari dulu dia tidak menyukai Elea dan Willi.
"Biar aku tebak, selama ini mama berniat menyingkirkan Elea dan Willi dari garis pewaris kan?"
Ratna gelagapan, tetapi dia tetap menyanggah dan tidak terima dengan perkataan anaknya. "Teganya kamu berkata seperti itu, Damar! Mama sangat sayang pada si kembar! Akan lebih baik, mereka diasuh oleh wanita baik, bukan dari kalangan pembantu!"
Damar menghela napas. "Oke, lupakan soal itu. Anggap saja tidak benar, tapi tetap semua sudah menjadi pilihanku. Sekarang, mama silahkan istirahat, karena percuma mama mau semarah apapun. Aku tidak akan mengubah keputusan. Iris sudah resmi menjadi istriku."
"Jadi namanya, Iris?" Ratna tersenyum sinis. "Baiklah, kalau kamu mencoba mengibarkan bendera perang dengan mamamu sendiri. Sampai kapanpun, mama tidak akan pernah menyetujui keputusan gilamu ini!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu, Ratna keluar dari kamar Damar dengan rasa amarah yang semakin menggerogoti kepalanya. Apa yang harus dia jadikan alasan pada teman-teman dan kerabatnya, jika mereka tahu bahwa seorang Ratna memiliki menantu dari kalangan pembantu?
***
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, membuat Iris yang tengah merebahkan diri di kasur itu terpaksa terbangun. Siapa lagi yang menggangunya? Bukankah, tugas melayani suaminya itu sudah beres.
"Bu Mirna?"
Mirna menatap Iris empati, meski kini statusnya sudah menjadi pasangan resmi tuannya. Ternyata, semuanya tidak berubah. Dia tetap tinggal di kamar sempit. Seharusnya, Iris mendapatkan kamar yang jauh lebih layak, tetapi Mirna tidak bisa berbuat apapun, tanpa perintah dari Tuan Damar.
"Kamu pergi sekarang ke kamar si kembar, temani mereka berdua."
"Eum, apa Nenti sakit?" tanya Iris yang sudah mengenal beberapa pelayan, termasuk Nenti pengasuh Elea dan Willi.
"Dia sudah di pindahkan ke tempat lain. Tuan Damar menyuruhmu untuk menggantikannya."
Iris melotot. "Aish, yang benar saja, Bu? Dia mau membuatku makin kurus, apa? Melayaninya saja sudah melelahkan apalagi harus mengurus si kembar," keluh Iris sambil menyenderkan kepalanya di pinggir pintu.
Mirna hanya bisa menepuk pundak Iris. "Semangat, Iris! Saya tau kamu kuat! Lebih baik kamu segera ke kamar si kembar, saya takut Tuan Damar datang dan memarahimu lagi."
"Baik, Bu aku akan segera ke sana."
Iris melangkah cepat menuju kamar Elea dan Willy yang berada di lantai tiga.
Matanya tertuju pada Elea yang sedang duduk di meja rias. Tangannya menyisir rambut halusnya. Jika di kampung, Iris pasti sudah dimarahi oleh bibi, karena malam begini waktunya untuk tidur.
Melihat gadis itu, membuat Iris terbayang dengan acara pernikahannya. Di mana gadis itu terus menangis karena mungkin tidak terima memiliki ibu sepertinya.
"Non, Elea?" tegur Iris, sesuai dengan perintah Tuan Damar. Iris tetap harus memanggil anak kembarnya, dengan sebutan Tuan dan Nona.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi tau!" ucapnya dengan nada judes.
Iris hanya mengusap dada sabar, sudah tahu bagaimana sifatnya. "Maafkan saya, Non."
"Sini!" Tangan mungilnya melambai meminta Iris mendekat.
"Sisir rambutku yang rapih dan nyanyikan sebuah lagu!" perintahnya.
Iris mengigit bibirnya tiba-tiba gugup. Bagaimana ini, dirinya tidak pandai bernyanyi.
Iris berdehem beberapa kali, memeriksa suaranya.
Meski agak kesusahan mengambil nada, dia tetap menuruti perintah Elea. Menyisir rambutnya perlahan dan penuh kelembutan.
Iris mulai menyanyikan sebuah lagu, tetapi baru di bait pertama anak itu malah berteriak.
"STOP!"
"Suara saya sangat jelek, ya?" tanya Iris takut anak itu mengadu pada ayahnya.
__ADS_1
"Aku sedih karena teman-temanku sering bercerita tentang ibu. Mereka selalu ditemani tidur dan dinyanyikan. Sementara, aku tidak bisa karena hari-hariku hanya ditemani oleh para pelayan. Saat keinginanku terwujud yaitu memiliki ibu."
"Kenapa suaramu jelek sekali!" bentak Elea membuat Iris tersentak. "Telingaku rasanya mau pecah!"
Gadis itu melepas sisir yang dipegang oleh Iris, lalu beranjak dari duduknya dan merebahkan diri di kasur, sepertinya marah.
Astaga, apa ini salah Iris sepenuhnya? Suaranya memang sudah ditakdirkan seperti ini.
"Non Elea jangan marah. Kita ulangi lagi, yuk!"
"No! Aku sudah tidak berminat, kamu pergi dari sini! Bilang pada Daddy, aku ingin ibu yang punya suara yang indah, bukan suara bebek sepertimu!" katanya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Kini Iris tahu dari siapa sifat sombong dan tidak sopan Elea. Kelakuan ayahnya saja tidak jauh beda. Menyebalkan sekali!
Terpaksa Iris keluar dari kamarnya dan beralih pada kamar William, yang berada di sampingnya.
Beda dengan kamar Elea yang serba berwarna. Kamar Willi didominasi dengan warna gelap. Daripada Elea, mainan Willi lebih sedikit.
"Kenapa tuan muda belum tidur?" tanya Iris melihat anak itu yang sedang membaca buku di meja belajarnya. "Apa Tuan sedang membaca buku dongeng?"
Anak itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak suka dongeng, karena semua itu hanya imajinasi."
"Lalu, apa yang Tuan baca?"
"Aku sedang belajar membaca buku bisnis milik ayah."
Iris menelan ludahnya, bagaimana bisa anak sekecil itu penasaran dengan topik berat? Bukankah lebih bagus dia tumbuh sesuai umurnya?
"Sudah malam, sebaiknya Tuan muda tidur," ucap Iris mengambil buku itu.
Willi menatap Iris datar, tidak ada penolakan apapun. Anak itu sangat penurut, dia menarik selimutnya sebelum memejamkan matanya dia berkata sesuatu.
"Temani saja Elea, dia lebih membutuhkan keberadaan seorang ibu."
"Baik, Tuan muda."
"Jangan panggil aku Tuan Muda, panggil saja Willi. Panggilan Tuan muda hanya untuk pelayan. Kamu sekarang sudah menjadi ibuku."
"Baik Willi," balas Iris agak ragu.
"Satu lagi, sebelum tidur. Apa aku boleh memanggilmu Mommy?"
Hah?
Hati Iris berdegup kencang, entah dari nadanya tersirat sebuah pengharapan.
"Yasudah, kalau tidak boleh," lanjutnya karena tidak mendapati tanggapan apapun dari Iris.
"Kata siapa tidak boleh. Boleh, kok!" balas Iris sembari tersenyum. Untuk urusan Damar, biarlah nanti yang terpenting Willi senang.
Tangannya terangkat untuk mengelus rambut hitam milik Willi. "Sekarang, Willi tidur, ya."
"Siap, Mommy."
Meski agak geli di telinganya karena masih muda tetapi sudah memiliki anak yang lumayan besar. Iris merasa keharuan melingkupi hatinya. Seolah sikap Willi, adalah obat dari rasa sakit yang ditorehkan ayahnya dan kembarannya.
__ADS_1
Setidaknya, ada yang menerima keberadaannya.