Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Sebelas


__ADS_3

Iris merasa terusik dengan sebuah tangan yang mendekap tubuhnya. Pelukan itu terasa menyesakan padahal dia ingat sekali yang di sampingnya adalah Willi.


"Anaa ..."


Tunggu, ini bukan suara Willi. Iris lantas membuka matanya lebar-lebar.


Huh. benar saja yang di lihatnya bukanlah Willi, melainkan wajah Damar. Kemana perginya anak kecil itu? Tatapan teralih pada jam besar yang berada di sisi lemari, ternyata sudah pagi.


Pelan-pelan Iris mencoba melepaskan tangan Damar, tetapi tidak berhasil karena tangan pria itu semakin menarik pinggangnya.


Iris berdecak, apa dia sedang pura-pura tidur dan mengambil kesempatan? Rasanya Iris begitu muak dengannya.


Namun, mendengar nada lirihnya menyebut nama seseorang membuat Iris terkesiap.


"Jangan pergi ..."


Apa dia sedang bermimpi?


"Tuan?" ucapnya penuh kehati-hatian.


"Tetap di sini, aku sangat merindukanmu, Ana," bisiknya.


Ana? Nama itu tidak begitu asing di telinga. Ah! Iris baru ingat bukankah dia wanita yang di temui Damar waktu itu.


Iris terdiam menatap Damar yang masih memejamkan matanya. Dia menjadi penasaran, bagaimana masalalu pria ini. Apa Ana adalah ibu dari kembar sekaligus mantan istrinya? Kenapa juga wanita itu harus di rawat di rumah sakit jiwa?


Entah, berapa menit berlalu Iris terlarut dengan pikirannya. Tiba-tiba tangan Damar mengendor, diamembuka matanya. Lalu menatap Iris dengan mata melotot.


"Argh! Kenapa kamu ada di sampingku? Kamu pasti sedang mencari kesempatan dalam kesempitan! Gadis yang licik!"


Iris tidak salah dengarkan? Seharusnya dia yang berkata seperti itu!


"Loh? Bukannya Tuan yang memelukku lebih dulu sampai rasanya dadaku sesak. Mungkin Tuan tidak menyadarinya tapi aku merasakannya," bela Iris tidak mau disalahkan terus.


"Aku? Memelukmu?" Damar menggelengkan kepalanya. Tetapi melihat posisinya yang sangat memungkinkan karena kini kakinya bertumpu di kaki Iris. Ya, tidak bisa dihindarkan bahwa dirinya yang memeluk Iris.


Dalam sekali hentakan Damar kembali menarik pinggang Iris, dan merubah posisinya hingga kini berada di atas Iris. "Memangnya apa salahnya aku memelukmu? Aku sudah membayarmu satu miliar dan memberi gelar terhormat menjadi seorang istri dari pria kaya raya. dan, biar aku beritahu satu poin. Damar Arjuna tidak pernah salah."


Iris meledeknya dalam hati. Dasar tua bangka menyebalkan!

__ADS_1


"Baiklah, aku mengalah. Tapi biasakah Tuan melepaskanku. Aku harus bersiap-siap mengantar Willi ke sekolah," ucap Iris mencoba keluar dari Kungkungan Damar. Namun, semakin berusaha justru membuat tangan Damar semakin kuat.


Pria itu malah memandangi Iris dengan tatapan tidak bisa diartikan. Semakin di amati, Damar berpikir dia mirip sekali dengan Ana.


Ditatap seperti itu membuat Iris kelimpungan, jantungnya berdetak kencang. Apa-apaan ini? Tidak, Iris harus bisa mengendalikan pikiran dan hatinya. Dia tidak boleh terjebak dengan pesonanya.


Tangan Damar terangkat mengusap pipinya dan menyelipkan rambut Iris ke telinga. Senyuman manisnya terpancar. Sungguh, Iris tidak suka tatapan dan senyuman itu. Jantungnya semakin menggila.


"Tua-n, sa-"


Cup!


Iris tersentak, matanya melotot. Tanpa aba-aba, Damar langsung menutup mulutnya dengan bibirnya. Lalu, perlahan mulai memainkan lidah.


Lakukan sesuatu Iris, jangan diam saja! Hatinya memperingati, tetapi tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan.


Damar memejamkan matanya, sangat menikmati kelembutan bibir Iris. Entah, kenapa gadis di hadapannya ini terlihat lebih menggoda saat bangun tidur. Wajah polosnya, argh Damar tidak bisa menghentikannya.


Sekelebat bayangan Ana menghiasinya, Damar malah membayangkan tubuh yang berada di bawahnya adalah wanita itu, bukan Iris. Ternyata kerinduan itu begitu membuncah.


"Ana ..." ucapnya lirih.


Damar tidak sedang bermimpi, tetapi kenapa dia menyebut nama itu lagi? Kenapa dengan hatinya, Iris merasa sedikit sakit.


Saat tubuhnya kembali terkendali, Iris mencubit punggung pria itu dengan keras hingga Damar berteriak kencang dan berpindah ke samping.


"Argh! Apa-apaan kamu ini, Iris! Berani sekali mencubitku!"


"Maafkan saya Tuan. Saya harus mengatakan Willi ke sekolah dan satu hal lagi, saya bukan Ana," ucap Iris seraya berjalan cepat menghindari Damar.


Sedangkan Damar tampak kesal. "Aish, Damar b*doh, kamu sendiri yang bilang tidak akan menyentuhnya! Tapi, kenapa sampai lepas kendali?"


***


Iris berjalan menuju kamarnya, tangannya mencoba untuk menghapus jejak bibir Damar yang terasa masih menempel. Iris tidak rela first lovenya diambil oleh orang yang bahkan tidak mencintainya, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Dia akan menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi dalam hidupnya.


Ya, hanya satu tahun. Setelah itu Iris akan pergi dari rumah ini, setidaknya sampai uang dari hasil kerjanya terkumpul.


Tangannya membuka pintu, betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati wanita paruh bayah duduk di sisi ranjang dengan tatapan tajam. Iris pernah bertemunya satu kali, bukankah dia adalah ibu dari Tuan Damar. Sejak kapan dia datang?

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu ..."


"Bu? Ibu? Siapa yang kamu sebut ibu? Dasar pembantu tidak tahu diri! Kamu pikir, kamu bisa bersanding dengan anakku? Aku mungkin bisa membiarkan Damar tidur dengan wanita yang dia mau, tapi untuk menikah big no! Tidak ada sejarahnya orang miskin masuk dalam keluargaku!" cerocosnya tidak suka.


"Maaf-"


Ucapan Iris kembali di potong, dia tidak diberikan kesempatan untuk berbicara. "Tidak perlu minta maaf. Sekarang kamu hanya perlu memberitahuku, berapa yang kamu mau! Aku tidak peduli mau kamu istri sah atau apapun itu, tetap aku tidak sudi menerimamu sebagai menantu!"


Bukannya merasa sakit hati, Iris malah merasa ada harapan untuk kabur. Jika dirinya di bantu olehnya, pasti akan lebih mudah. Bahkan, tidak perlu menunggu satu tahun. Sekarangpun Iris bisa terlepas dari Damar.


"Satu, satu milyar. Aku butuh uang itu untuk menebus harga yang telah Tuan Damar berikan pada pamanku, ib-eum maskudku nyonya. Apa nyonya bisa menyiapkan uang itu secepatnya? Sejujurnya aku juga ingin pergi dari rumah ini. Tuan Damar memang kaya raya, tetapi dia terlalu kejam dan sombong."


Ratna agak bingung, ternyata semudah itu membujuknya. Dia kira mereka akan berdebat panjang seperti di film-film. "Bagus, aku akan segera menyiapkan uangnya tapi tepati janjimu untuk keluar dari sini!"


Iris mengangguk, senyumannya melebar. "Siap nyonya!" katanya sambil menghambur ke pelukan ibu Damar. "Terima kasih sudah mau membantuku!'


"Aish, lepaskan! Kamu bau sekali, kulit sehatku bisa terkontaminasi bakteri busukmu!" balas Ratna sambil mendorong tubuh Iris. Namun, tidak membuat Iris tersinggung.


"Cepat kemasi barangmu dan segara pergi dari rumah ini sebelum Damar menge-"


"Aku sudah tau, Mama." Bersamaan dengan pintu terbuka, Damar berdiri seraya melipat tangannya di dada. "Iris tidak akan pergi kemanapun."


"Damar?" Raut wajah Ratna berubah panik.


"Sudahku bilang jangan mencoba ikut campur lagi di kehidupanku, Ma. Aku sudah besar dan berhak memilih!" Nada suaranya terdengar kesal. "Apalagi datang sampai sepagi ini! Dan kamu, Iris!" tunjuknya pada Iris yang juga kesal karena tidak jadi kabur.


"Jangan coba-coba pergi, karena sejauh apapun kamu mencoba menjauh. Aku akan mengejarmu!"


"Damar, kamu sebenarnya kenapa? Apa bagusnya pembantu ini?" tanya Ratna prustasi. "Tidak berbeda dengan dulu, kamu selalu memilih wanita yang jauh di bawah kita. Sadar Damar, sadar! Dia tidak akan bisa menghasilkan keuntungan! Dia hanya akan menghabiskan uangmu!"


"Aku tidak peduli, yang jelas Iris tidak boleh kabur! Sebaiknya Mama keluar dari rumahku! Aku tidak suka Mama ada di sini!"


"Dasar anak kurang ajar! Kamu sangat menyakiti hati Mama."


Damar tidak memperdulikan mamanya, lalu menarik tangan Iris dan berbisik. "Sepertinya, aku harus memberimu hukuman, Iris."


Seketika membuat Iris merinding.


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment ya guys biar makin semangat nulisnya, hehe.


__ADS_2