
"Daddy, aku bisa terlambat sekolah. Apa kita tidak bisa berangkat sekarang?" rajuk Elea gadis kecil dengan rambut kuncir dua itu mulai kesal.
"Tunggu sebentar lagi, kita harus menunggu Mommy," balas sang kembaran dengan nada tenang di bangku paling belakang.
Mata Elea membulat menengok pada abangnya. "What? Mommy? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa kamu memanggilnya Mommy? Kamu harusnya tahu Willy, dia hanya pembantu kita. Oh, No! Mana suaranya jelek sekali. Daddy, please aku tidak mau punya Mommy sepertinya!" tatapan Elea kini mengarah pada Damar yang berada di sampingnya, pria itu hanya terdiam dengan tatapan dingin.
"Daddy harusnya menikah dengan Tante Imelda yang seorang aktris atau Tante Grace yang cantik itu, mereka cocok dengan Daddy." Elea masih belum terima Iris menjadi ibunya.
"Apa salahnya Mommy Iris? Dia adalah ibu pertama yang kita punya dan satu-satunya wanita yang Daddy bawa pulang ke rumah, lalu di nikahi. Bukankah, itu berarti mereka saling cinta? Bukan begitu Daddy?" tanya Willy.
Damar memejamkan matanya, entah dia harus menjelaskan apa pada anak-anaknya, hanya saja dia tidak mungkin memberikan alasan yang sebenarnya. Mereka masih kecil dan tidak akan mengerti.
"Toh, ini adalah hari pertama kita menjadi keluarga lengkap. Bisakah kamu berhenti mengeluh, Elea? Kamu sangat cerewet, pantas tidak ada yang mau berteman denganmu di sekolah."
Elea cemberut lalu memeluk lengan Damar mengadu. "Daddy Willy mulai lagi."
Damar tersenyum mengusap rambut Elea berniat menenangkan. "Willy minta maaf pada adikmu sekarang. Haduh, kasihan sekali putri Daddy ayah ini? Apa benar kamu tidak punya teman, sayang?"
"Bukan mereka yang menjauhi Elea Daddy, tapi Elea sengaja. Daddy dan nenek kan selalu bilang kita harus memilih teman yang benar-benar satu level dengan kita."
"Pintar sekali anak Daddy ini!" balas Damar sambil mengusap gemas pipi tembem Elea.
Pemandangan itu disaksikan oleh Willy yang hanya bisa menghela napas. Dari dulu, anak kecil itu memang beranggapan bahwa ayahnya pilih kasih. Dia sangat hangat pada Elea, sedangkan pada dirinya dia terkesan abai. Apalagi, Willy harus selalu mengalah dengan adiknya.
Tidak lama setelah itu, kaca mobil di ketuk, muncul Iris yang sudah berganti dengan dress biru senada dengan kemeja milik Damar. Mereka memang berniat mengantarkan Willy dan Elea sekolah, setelah itu Damar akan membawa Iris ke perusahaannya. Damar merasa perlu memperkenalkan statusnya, setidaknya dia bisa memanfaatkan status ini untuk menunjukkan pada rekan kerjanya bahwa kini kehidupannya sangat sempurna.
"Kenapa lama sekali? Kamu tidak tahu, anak-anak bisa terlambat?" tanya Damar dengan nada datar, dia hanya sekilas melihat pada Iris.
Sementara Iris menunduk seraya meminta maaf, dia duduk di samping Willy. Iris sangat gugup, karena dia tidak menyangka Damar akan mengajaknya.
Mobil membelah jalan raya, ditemani Elea yang terus berceloteh hal random yang ditanggapi oleh Damar dengan hangat.
Berbeda dengan Willy yang tampak enggan dan berwajah suram, dia tidak sibuk membaca tetapi malah mengamati jalanan lewat jendela mobil.
__ADS_1
Ada apa dengan Willy?
***
Setelah dari sekolah Elea dan Willy, mobil langsung menuju perusahaan milik Damar.
"Saat masuk ke perusahaan, tampilkan senyum paling ramah dan jangan membuatku malu. Ah, satu lagi jangan membuat kesalahan," pesan Damar saat mereka sudah sampai basemant.
"Baik Tuan."
"Di luar rumah kamu tidak boleh memanggilku Tuan, ciptakan citra yang baik. Aku tidak suka mereka bergosip buruk tentangku."
Tidak suka rumor? Iris berdecih dalam hati. Bu Mirna saja banyak bercerita kalau di mata orang lain citranya sudah buruk karena sering mempermainkan wanita. Apa dia tidak sadar?
"Baik."
Iris akan menjadi istri penurut, dia salah mengeluarkan kata-kata. Sudah dipastikan tanduk merah bersarang di kepalanya, dan Iris sudah kenyang dengan hinaan Damar yang merendahkannya. Iris akan cari aman.
"Aish, kenapa masih diam di mobil? Pencet tombol di sampingmu, maka pintu akan terbuka! Kamu tidak melihat tadi Willy melakukannya? Jangan seperti orang dungu. Kamu juga harus belajar menjadi seorang istri yang pintar!" kesal Damar tiba-tiba karena melihat Iris yang celingukan bingung dan tetap duduk di tempatnya.
"Sabar, Iris. Kamu pasti kuat," batinnya menyemangati. Iris tersenyum sambil merapikan penampilannya.
Masih dengan raut wajah kesal, Damar berjalan di depan Iris menuju lift.
Iris terkesiap merasa tidak menyangka dirinya akan mengunjungi gedung mewah milik miliarder.
Ini pertama kalinya Iris mencoba menaiki lift, karena meski di rumah Damar sudah memakai lift untuk naik ke lantai atas, Iris belum berani mencobanya. Dia selalu takut terjebak dan tidak bisa keluar, apalagi dirinya melek teknologi.
Iris berdiri di samping Damar dan memperhatikan pria itu memencet tombol yang berisi angka.
Iris mengepal tangannya saat lift mulai terasa bergerak. Beberapa detik awal masih aman, tetapi tiba-tiba terjadi goncangan yang membuat Iris refleks berteriak lantas memeluk tangan Damar, ketakutan, tatapannya terpejam.
"Aku tidak mau mati muda, ya Tuhan tolong aku."
__ADS_1
Sedangkan Damar semakin kesal, tangannya menghempas kuat tubuh Iris yang menempel padanya.
"Kamu yang mengatakan tidak mau ku sentuh! Beraninya memeluk lenganku!" balas Damar dengan kejam. Pria itu memencet tombol darurat dan mengabaikan Iris yang panik.
"Ada apa dengan liftnya Tuan? Apa masih bisa diperbaiki? Kita masih bisa keluar kan?" racau Iris.
Glep.
Lampu lift mati, membuat Iris semakin ketakutan. Gadis itu mulai menangis, tangannya meraba-raba lengan Damar berharap bisa menjadi pegangan, tetapi beberapa kali dihempaskan.
Iris tidak bisa ditempat sempit dan gelap, dia punya phobia.
"Tolong ..."
"Aish, siapa yang memperkerjakan tukang tidak becus ini? Bukankah harusnya sudah diperbaiki? Awas saja aku akan pecat kalian semua!" gumam Damar tidak menanggapi keseriusan kondisi Iris yang mulai sesak napas.
"Tu ... an Damar ..."
"Kamu bisa diam tidak, huh? Aku sedang mencoba menghubungi orang di luar! Jangan membuatku semakin kesal!"
Tidak lama kemudian, lampu kembali hidup, begitupun dengan pintu lift yang terbuka. Iris terduduk di lantai lift dengan mata sembab. Sedangkan Damar melengos sambil berkata dingin.
"Cepat bangun, aku tidak mau mereka berpikiran aku menikah dengan gembel."
Deg.
Iris menatap punggung pria itu dengan hati yang berdenyut sakit.
_Kenapa, aku harus bertemu dengannya, Tuhan?_
"Cepat bangun Iris, atau pintunya akan tertutup. Ck, bisa tidak satu kali saja, kamu jangan memubuatku kesal?" tanya Damar sambil menengok ke arah Iris, kakinya menahan pintu lift agar tidak tertutup. Tatapannya menghunus tajam.
Iris buru-buru bangun dan mengusap air matanya, lalu berjalan mengekor di belakang Damar.
__ADS_1
"Maaf," balasnya dengan nada lirih.
***