Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Lima Belas


__ADS_3

Iris terbangun dari tidurnya dan merasakan seluruh tubuhnya sakit, apalagi di bagian sensitifnya. Ah, mengingat tentang kejadian kemarin membuatnya sungguh sakit. Tuan Damar bukan hanya membuat luka fisik, tetapi dia juga melukai harga dirinya. Apa serendah itu Iris di matanya? Sampai dia tega memfitnahnya?


Tangannya menyingkap selimut dan mengetahui bahwa dirinya sudah berpakaian lengkap.


Siapa yang mengganti bajuku? Apa itu Tuan Damar?


"Kamu ternyata sudah bangun," ucap seseorang membuat Iris lantas mendongkak.


"Bu Mirna?"


Bu Mirna yang baru masuk itu tersenyum seraya membawa nampan berisi makanan.


"Tuan Damar menyuruhku untuk membawakan sarapan untukmu. Ah, ya! Aku sudah bisa menebak. Kalian pasti sudah melakukannya? Bagaimana rasanya?" tanyanya. Iris baru melihatnya se-sumringah ini. "Apakah milik Tuan Damar besar?"


Iris memutar bola matanya, muak dengannya yang terlalu frontal. "Maaf Bu, tapi itu bukan hal bahagia yang bisa aku ceritakan. Yang jelas dia itu binatang, aku sangat membencinya!"


"Iris!" tegur Bu Mirna. "Jangan keras-keras, kamu mau di gantung hidup-hidup, Tuan Damar bisa mendengarnya!"


"Aku tidak peduli!"


Bu Mirna berdecak, menurutnya Iris itu terlalu naif. Dia harusnya menikmati ini. "Baiklah, sepertinya keadaan hatimu sedang tidak baik-baik saja. Jadi, sekarang makan dahulu lalu bersihkan dirimu. Tuan Damar, Tuan Muda Willi dan Nona Elea sudah menunggumu di bawah. Kalian sepertinya akan jalan-jalan."


"Selamat untuk gelar barumu, kamu sudah resmi menjadi Nyonya Damar," ucap Bu Mirna ikut senang. Setidaknya, dia punya nyonya yang kini bisa dijadikan teman yang benar-benar teman. Bu Mirna tidak akan sungkan meminta bantuannya nanti.


"Tunggu!" balas Iris menghentikan langkah Mirna yang hendak keluar.


"Ada apalagi?"


"Terima kasih sudah menggantikan baju dan mengobati luka di kakiku, Bu."


Bu Mirna menyerngit. "No! Itu bukan aku."


"Lalu siapa?" Tidak mungkin Tuan Damar kan?


"Satu-satunya orang yang datang ke sini saat malam tadi, setahuku hanya Tuan Damar. Jadi itu pasti dia."


Iris menggelengkan kepalanya. "Orang seperti dia? Tidak mungkin."


Bu Mirna mengangkat bahunya. "Aku tidak bisa berlama-lama, banyak yang harus aku kerjakan. Nikmati saja harimu, Nyonya baru."


Maafkan aku Iris


Iris jadi teringat dengan suara yang berbisik itu yang dia kira hanya mimpi. Jadi betulan Tuan Damar? Dia benar merasa bersalah?


Iris menggelengkan kepalanya, lalu memejamkan matanya. Tidak mungkin, dia tidak mungkin punya hati nurani! Dia hanya binatang berbentuk manusia!


***

__ADS_1


"Daddy, kita mau ke mana, sih?" tanya Elea yang pagi-pagi sudah dibangunkan padahal hari ini waktunya bersantai di rumah, dia tidak perlu ke sekolah untuk belajar.


"Rahasia."


"Ih, Daddy!" Elea yang sedang duduk di ruang keluarga itu cemberut. "Jangan main rahasia-rahasiaan!"


"Turuti saja perkataan Daddy, apa susahnya?" balas Willi yang berada di sampingnya, anak itu cuek membaca buku.


"Willi masih marah pada Elea?"


"Menurutmu? Kamu bahkan belum meminta maaf pada Mommy."


Elea berdecak lalu menatap Damar hendak mengadu. "Dad-"


"Betul kata Willi, Elea harus minta maaf pada Mommy."


Willi yang mendengar itu mendongak, agak shock. "Kepala Daddy tidak apa-apa kan?"


"Daddy baik-baik saja," balas Damar sembari tersenyum, membuat Willi juga ikut tersenyum.


"Syukurlah! Berarti Daddy sudah berubah! Itu berarti Daddy masih mencintai Mommy!"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Damar yang sedang menyesap kopi itu tersedak. "Ah-ya ..." Kali ini tersenyum dipaksakan. Demi Willi senang, dia mengiyakan.


"Daddy!" sentak Elea yang sepertinya kecewa. "Daddy, tidak sayang lagi dengan Elea?"


"Lagian, Daddy hanya memintamu meminta maaf pada Mommy. Begitu saja sudah menyimpulkan Daddy tidak menyayangimu. Dasar manja," celetuk Willi malah menambah panas suasana.


"Sudah anak-anak, jangan bertengkar. Daddy jadi pusing."


"Willi yang memulai, Daddy!"


"Aku hanya memintamu minta maaf pada Mommy."


"Kalau Elea tidak mau bagaimana!"


"Dasar keras kepala!"


Hal itu terus berlanjut, Damar hanya bisa menghela napas dan memijat kepalanya. Padahal dia mengumpulkan mereka berdua pagi-pagi di sini untuk mengajak ke taman hiburan. Jika, begini apa acaranya akan batal?


"Mommy!" ucap Willi lalu tersenyum senang, dia menghambur ke pelukan Iris. "Mommy tidak apa-apa kan? Kemarin Daddy tidak melukai Mommy?"


Iris yang sudah memakai pakaian rapih berupa dress berwarna biru dengan manik-manik lucu. Dengan tubuhnya yang mungil, Iris terlihat imut. Dia bahkan terlihat seperti anak pertama Damar.


"Mommy baik, apa Willi sudah makan?" tanya Iris.

__ADS_1


Sebenarnya, Iris tidak ingin berhadapan dengan Damar karena begitu muak dengannya. Namun, dia tidak bisa mengecewakannya. Sebab, Bu Mirna sudah mengatakan bahwa anak itu sudah menunggunya untuk jalan-jalan.


"Sudah, Willi makan banyak karena hari ini Daddy mau memberi kejutan pada kita!"


"Wah, benarkah?"


Willi mengangguk. "Oiya, ada sesuatu yang mau Elea katakan pada Mommy."


Elea melototi Willi.


Sedangkan Willi tidak peduli, dia menarik tangan Iris untuk mendekat pada anak perempuan Damar.


Damar hanya memperhatikan mereka tanpa mau mengganggu.


Iris tersenyum tulus, dia mengesampingkan hal kemarin sebab dia mengerti Elea hanya perlu diarahkan. Karakternya masih bisa dirubah.


"Apa yang mau Elea katakan pada Mommy?"


Elea mengalihkan tatapannya tidak mau menatap Iris, ke-gengsiannya pasti turun dari sang ayah.


Iris mengusap lembut kepala Elea, lalu mengarahkannya agar menatap matanya.


Mata Elea meredup. Mulutnya terbuka. "Elea minta maaf," cicitnya dengan suara pelan.


"Untuk?"


"Untuk yang kemarin. Elea yang salah."


Iris mengangguk. "Sudah Mommy maafkan, kok."


"Tuh, sudah! Dia, eum maksudku Mommy. Elea sudah minta maaf!" balas Elea seraya menatap Willi jengkel.


"Bagus! Kata Bu Guru, berani berbuat harus berani bertanggung jawab!"


Elea meledek dengan memainkan bibirnya. "Elea tidak suka dengan Willi, dia itu sok pintar!" bisiknya pada Iris.


Iris hanya tersenyum, lalu tangannya merapikan jepitan Elea yang miring.


"Masalah selesai! Sekarang, kita berangkat!" ucap Damar akhirnya bersuara.


"Let's go!" Willi begitu gembira, sedangkan Elea masih belum ceria.


"Ayo!" Iris menggenggam tangan Elea. Baru dia sadari kalau mereka memakai baju yang sama. Ah, apa Bu Mirna sengaja menyiapkannya? Sedangkan, baju Willi dan Damar juga sama. Meski hanya kaus dan celana jeans pendek. Apa mereka sedang berakting menjadi keluarga yang bahagia?


Iris menuntun Elea dan Willi untuk masuk ke dalam mobil. Sementara, Damar sudah siap membukakan pintu di samping kemudi yang hanya dilewati oleh Iris tanpa kata. Iris memilih duduk di bangku belakang bersama anak-anaknya.


Damar yang lagi-lagi mendapat penolakan itu hanya mencoba menyabarkan diri.

__ADS_1


Bahkan selama di perjalanan, hanya Iris, Elea dan Willi yang meramaikan suasana. Tanpa memperdulikan Damar yang sudah persis seperti sopir mereka.


Sekali lagi, Damar mencoba sabar. Toh anak-anaknya juga tampak bahagia.


__ADS_2