
Sejak kecil Iris diasuh oleh adik dari ibunya yang baik hati, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. Sedangkan, orangtua kandungnya sudah lama meninggal karena sebuah tragedi yang sebenarnya tidak bisa Iris ingat, karena umurnya sat itu masih tiga tahun.
Melihat rumah megah dengan fasilitas kelas atas, membuat Iris tak henti berdecak kagum, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa sekarang ada tugas yang harus segera diselesaikannya.
Mengantar kopi pada seorang Tuan yang bernama Damar Pramudya Arjuna. Iris tahu nama lengkapnya karena di setiap foto yang terpajang di beberapa sudut ruangan, namanya terpampang di sana.
Iris mengetuk pintu beberapa kali, hingga suara di dalam sana mempersilahkannya untuk masuk. Ternyata pintunya memang tidak di kunci.
“Selamat pagi, Tuan.” Iris menunduk hormat, dia tidak bisa melihat wajah tuannya kearena posisinya membelakangi, menghadap ke kaca jendela.
“Telat dua puluh menit,” suaranya terdengar berat dan seksi. “Bereskan barang-barangmu dan pergi dari rumahku, sekarang juga. Aku tidak suka dengan pelayan yang tidak patuh!”
Iris melotot, bagaimana bisa dia belum ada satu hari bekerja.
“Maafkan saya Tuan, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini …” balas Iris dengan nada memohon. “Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
Damar agak terusik dengan suara lembut yang asing di telinganya itu. Ah, baru dia ingat semalam dirinya memecat pelayan pribadinya.
Tubuhnya berbalik untuk melihat sosok pelayan barunya. Alisnya mengerut, melihat gadis mungil yang memiliki kulit seputih susu dan mata yang jernih kecoklatan, khas orang pribumi.
Tanpa sadar Damar merasa terpesona, baru kali ini dirinya melihat gadis lokal, yang bukan hanya cantik tetapi juga menarik.
“Siapa yang membawamu ke sini?” tanya Damar seraya melangkahkan kakinya, suaranya berubah lembut, hilang sudah kemarahannya tadi.
“Tuan Satria,” balas Iris dengan waspada karena tatapan yang diberikan tuannya itu sama seperti pria hidung belang di rumah bordir.
Damar tertawa. “Tuan? Jangan memanggilnya Tuan, dia di sini sama sepertimu hanya seorang pesuruh.”
“Maaf, Tuan saya tidak tahu.”
“Berapa umurmu?”
“20 tahun, Tuan.”
Masih sangat muda, batin Damar bersuara.
Mata Damar tertuju pada kaki mulus milik Iris. “Di mana sepatumu?”
“Saya meninggalkannya di luar.” Iris melangkah mundur, saat jaraknya dengan Damar semakin menipis.
__ADS_1
Gadis ini sangat polos, gumam Damar.
“Why, apa kamu takut denganku?” tanya Damar sambil tersenyum begitu manis, berharap iris akan takluk. “Kau harus tau, bahwa menjadi pelayanku bukan hanya melayani kebutuhan makananku tetapi semuanya, termasuk di sana,” tunjuk Damar pada kasur king sizenya.
Iris meneguk ludah, memegang erat nampan yang sedari tadi di pegangnya. Rasa trauma di rumah bordir itu kembali menyerang ingatannya.
“Ma-“
Damar sudah mengungkung tubuh Iris, gadis itu tidak bisa keluar kemanapun. “Bagaimana kalau kita mulai sekarang? Rasanya aku tidak berselera lagi mencicipi kopi buatanmu, karena tubuhmu lebih menggoda.”
Iris menahan napasnya, sepertinya semua pria itu mata keranjang!
Brush!
Kopi yang ada di nampan, sengaja Iris tumpahkan tepat di bawah perut Damar, hingga membuatnya menjerit kesakitan.
“Apa kamu sudah gila?” ucap Damar menahan rasa sakit yang semakin menjalar. “Kamu mau mati!”
Iris menatap tajam pada Damar. “Jangan sekali-sekali berkata kurang ajar terhadap perempuan manapun, karena bukan lagi air panas yang akan saya tumpahkan tetapi saya akan memotongnya menjadi beberapa bagian!” ancam Iris membuat Damar bergidik ngeri saat membayangkannya.
“Hei, jangan kabur kamu!” bentak Damar, karena tidak memungkinkan untuk berlari. Damar mengambil ponselnya lalu menghubungi pengawalnya.
“Jangan loloskan gadis yang tadi keluar dari ruanganku, bawa dia kembali ke sini, cepat!”
***
Iris mencoba memberontak saat para pengawal di rumah menemukannya, saat hendak kabur lewat pintu belakang.
Rasanya, Iris sudah salah mengambil keputusan. Jika dia tahu pemilik rumah ini sama bejadnya dengan orang-orang itu, dia pasti berpikir berulang kali untuk ikut dengan Satria.
Tubuhnya di dorong ke hadapan Damar yang duduk di kursi kebanggaannya, tatapannya penuh ketidaksukaan.
“Ternyata kamu mau main-main denganku, ya!" Rasa sakit di alat vitalnya itu sudah agak mereda, dia jadi bisa berjongkok.
"Kamu cantik, tapi sayang sekali bertingkah di luar batas, padahal kalau patuh aku akan memberikan semua yang kamu minta.”
Iris berdecak. “Sekaya apapun Tuan, jika tidak bisa menghargai perempuan untuk apa? Lebih baik Tuan bertobat, dan bercermin baik-baik! Liat, kulit Tuan mulai keriput dan menua! Perbanyak-lah amal bukan dosa!”
Damar menatap Iris tidak percaya, lalu bertanya pada pengawalnya yang tertunduk seperti menahan tawa. Baru kali ini ada orang yang blak-blakan membicarakan kejelakan tuannya.
__ADS_1
“Apa dia seorang ahli ceramah? Beraninya, menasehatiku!” katanya sambil melotot, tangannya teranggkat hendak menampar Iris tetapi langsung diurungkan. “Sial, kalau bukan perempuan sudah aku hajar sampai babak belur!”
Merasa harga dirinya sudah jatuh, apalagi sampai dikatai sudah keriput, padahal umurnya masih di pertengahan tiga puluhan. Damar menghela napas mencoba sabar, lalu dia kembali menatap Iris kali ini menampilkan senyuman termanisnya, masih mencoba.
“Apa kamu tidak terpesona padaku? Banyak wanita di luaran sana yang mengantri, ingin merasakan ada di ranjang yang sama denganku. Mereka bilang aku seperti pangeran yang tampan dari negeri dongeng,” ucap Damar dengan percaya diri, membuat Iris seketika tertawa dengan kerasnya.
“Maaf, Tuan. Menurut saya kata pangeran tidak cocok, sebab diluaran sana masih banyak pria muda yang rupawan dan tentunya menghargai perempuan. Saya yakin, kalau Tuan adalah orang miskin, pasti tidak akan ada yang mau,” ledek Iris puas.
Damar kebakaran jenggot, ada api yang keluar dari kepalanya. Dia merasa terhina. “Setelah mengatakan itu, kamu pikir bisa selamat?"
"Saya tidak takut, karena kita sama-sama manusia yang masih memakan nasi," balas Iris, di matanya tidak ada ketakutan. Dia sengaja membuat Damarr marah, dengan begitu dia pasti akan segera mengusirnya jauh-jauh.
"Jangan coba-coba untuk kabur, karena aku akan menunjukkan bagaimana cara kerja seorang pelayan di rumah megahku ini,” bisik Damar seraya tersenyum tipis.
"Kenapa kalian masih diam, bawa dia ke gudang yang berada dekat dapur! Ruangan itu akan menjadi kamarnya, mulai hari ini!" perintahnya pada pengawalnya.
Iris sudah tidak bisa ke mana lagi, dia sudah salah memilih lawan.
***
Damar menyesap cerutunya dengan nikmat, setelah menghadapi gadis yang ternyata bernama Iris itu, dia lantas memanggil Satria untuk meminta penjelasan, kenapa bisa-bisanya dia salah memilih perempuan yang akan dijadikan pelayan pribadinya. Meski, cantik tetapi dia jauh sekali dari kriterianya.
“Gadis itu sudah mempermalukan harga diriku dan itu karena kamu tidak becus bekerja!” Membayangkannya saja membuat Damar kembali marah dan tidak terima.
Satria menunduk. “Saya membawanya karena dia terjebak di rumah bordir, Tuan. Tadinya saya akan menugaskanya di bagian dapur. Tetapi sepertinya Bu Mirna salah tanggap, dia mengira Iris adalah pengganti pelayan yang sudah Tuan pecat. Maaf atas kelalaian saya. Saya akan segera mengusir Iris dari rumah ini,” jelas Satria panjang lebar.
“Dan, secepatnya mencari pelayan lain yang sesuai keinginan Tuan.”
Damar melemparkan rokoknya ke arah Satria. “Tidak perlu mencari lagi, karena dia yang akan melayaniku!”
“Eum, gadis itu bahkan sudah merendahkan Tuan-“ Satria tidak yakin, Iris akan menurut terlebih setelah mendengar cerita tadi pagi dari beberapa rekan kerjanya.
“Kali ini aku akan memaafkanmu, Satria. Tapi ada satu hal yang harus kamu cari yaitu latar kehidupan gadis itu. Aku ingin infromasi tentangnya sudah ada jam delapan malam.”
Satria melirik jam dinding, untuk menuju jam delapan hanya tersisa waktu setengah jam. Apa dia bisa menemukannya secapat itu?
"Jangan lelet, cepat bekerja! Atau aku akan memecatmu!”
“Baik, Tuan!” Buru-buru Satria keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Damar Pramudya Arjuna, bukan hanya terkenal pecinta perempuan tetapi dia juga sangat otoriter dan menyebalkan.
Jika bukan karena uang, Satria sudah lama berhenti dari pekerjaan yang melelahkannya ini.