
Damar mengelus wajah wanita seksi di bawahnya dengan tatapan penuh nafsu. Tanpa banyak kata, dia menyobek bajunya hingga terlihat dua gunung tanpa penghalang apapun.
Senyumannya melebar, di balik kemelut pekerjaan dan masalah yang tengah dihadapinya. Bermain di ranjang masih menjadi kegemarannya, dia tidak peduli dengan statusnya yang sudah menjadi seorang suami.
Napas mereka sama-sama memburu, saat Damar mengecup dua gundukan itu. Sedangkan, tangan wanita itu meremas kuat rambutnya. ******* demi ******* keluar, hingga mereka sudah berada di fase paling tinggi, ingin saling memasuki.
"Ayo, lakukan sekarang, Tuan ..." ucap wanita bayaran itu dengan lirih.
Damar hendak menyingkap roknya, tetapi ponselnya terus berdering. Meraung-raung seolah meminta Damar menghentikan aktivitas ranjangnya.
"Si*alan, siapa yang berani menggangguku!" balasnya kesal.
Mendengar dering itu tidak juga berhenti, seketika dia tidak bernafsu lagi. Damar berdiri dan mengabaikan wanita itu, lalu mengambil ponselnya.
"Ada apa Tuan?" Wanita bernama Eriska itu ikut terbangun dan merapikan pakaiannya, merasa kecewa karena tidak jadi disentuh oleh tuan kaya raya. "Apa ada masalah?"
Sementara, Damar berdecak kesal saat melihat nomor itu tidak terdaftar di ponselnya.
"Halo, Tuan Damar yang terhormat," suara disebrang sana terdengar begitu angkuh.
Tunggu, telinganya terasa tidak asing dengan suaranya.
"Untuk apa kamu menelponku Andreas!" Ya, Damar yakin itu pasti dia.
"Datang ke rumahku, dan lihat siapa yang sedang bertamu. Dua anakmu dan ibu barunya, haha. Bukankah, lebih lengkap jika kamu ikut juga? Kita harus merayakan ini sekalian family time."
Rahangnya mengeras. Masih teringat jelas bagaimana kelicikan keluarga Andreas yang selalu mencoba menjatuhkan keluarganya. Mereka itu bermuka dua, mungkin adiknya Dylan tidak bisa melihat itu karena sudah terlalu cinta dengan adiknya Andreas. Tetapi, Damar tahu semua kebusukannya.
Dengan dia muncul kembali merecokinya hidupnya, Damar tahu Andreas sedang memulai lagi aksi balas dendamnya. Apalagi dulu Damar hampir membuat keluarganya bangkrut. Namun, hal itu bukan karena kesalahannya tetapi karena mereka yang terlalu serakah dan licik.
"Jangan mencoba membohongiku!"
"Datanglah ke sini, dan lihat buktinya. Eum, tampaknya Elea sangat menikmati bermain dengan Arsen. Sepertinya keluarga kita memang ditakdirkan untuk bersatu. Bagaimana menurutmu menjadi calon besan juga tidak terlalu buruk, bukan?"
Damar mengepalkan tangannya. Dia tidak mau percaya tetapi saat Andreas mengirimkan sebuah video yang benar membuktikan mereka ada di sana. Darahnya mendidih, entah dia tidak mungkin marah pada anak-anaknya. Namun, satu gadis itu. Dia pasti yang membawa mereka ke sana.
"Loh? Tuan mau ke mana? Kita bahkan belu-"
"Hubungi Satria dan minta padanya bayaranmu!" Damar mengambil jasnya, lalu keluar dari hotel dengan terburu-buru.
"Iris, apa hobimu memang membuatku marah?"
***
Iris masuk ke dalam rumah besar itu dengan takjub. Melihat foto-foto yang berada di dinding dengan ukuran besar, potret keluarga yang sangat bahagia. Andreas, fotonya saat remaja tertampil. Iris meniliknya dengan jelas, dia sangat mirip dengan kakaknya. Hidung, bibir, mata, senyumannya bahkan tahi lalatnya yang berada di pipi.
Lalu, matanya tertuju pada anak kecil yang bernama Arsen. Iris yakin, jika ibunya masih hidup dia bisa menjadi saksi bahwa betapa miripnya mereka berdua saat kecil.
"Mommy!" tegur Willi yang merasa aneh dengan tingkah laku Iris. "Kita datang ke sini untuk menjemput Elea. Jangan-jangan Mommy juga terpincut dengan ketampanan Om Andreas? Huh, tidak Mommy ataupun Elea. Kalian sama saja!" kecemburuan itu begitu jelas. "Kasihan Daddy, padahal walaupun sudah tua. Dia masih cukup tampan."
"Eh, tidak kok. Kamu salah paham."
"Lalu, kenapa Mommy melihatnya sampai sejelas itu?"
"Hah? Itu? Mommy merasa dia mirip seseorang yang sangat Mommy kenal."
"Siapa?"
Tidak mau Willi semakin penasaran, Iris mencoba pokus dan mengalihkan pembicaraan. "Mending kita cari Elea, katanya dia ada di ruang bermain."
Mereka sampai di ruangan yang sudah persis seperti Playground. Di sana Elea sibuk bermain seluncuran dan tertawa. Selama tinggal di rumah Damar, baru kali pertama melihat anak itu sesenang ini.
"Dia hanya tertawa dengan Arsen," gumam Willi pelan saat melihat kembarannya. Lantas berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Ayo pulang!"
"Willi kenapa kamu di sini? Elea masih mau main! Elea juga sudah izin pada dia!" tunjuknya pada Iris.
"Kamu mau Mommy di marahi Daddy, ayo pulang!"
"Elea tidak peduli, biarkan dia dimarahi dan diusir. Elea ingin menginap di sini!"
"Elea!"
"Jangan berteriak!"
"Dasar keras kepala! Kamu selalu begini!"
"Apa masalahmu, Willi? Kamu iri padaku?"
"Aku tidak pernah iri, tapi bisakah kamu menuruti perintah Daddy untuk tidak bermain dengannya?"
"Memangnya, Arsen kenapa? Dia baik padaku, Willi! Tidak seperti kamu, yang tidak pernah ajak Elea bermain!"
Mendengar perdebatan dua anak itu, Iris buru-buru melerai.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Kalian berdua saudara, apa tidak malu dengan Arsen," ucap Iris sambil melirik Arsen yang menatap mereka tidak mengerti.
"Dia yang selalu mengajakku bertengkar!" balas Elea dengan tajam. "Ayo, Arsen kita main lagi."
Elea menarik Arsen ke sisi lain, menjauh dari keduanya. Willi ingin mengejar tetapi dihentikan oleh Iris.
"Sudah tidak apa-apa."
"Tap-"
"Kita tunggu Elea sampai tenang lalu mengajaknya pulang."
"Benar kata Mommy-mu, Willi. Jangan khawatirkan Daddy-mu. Kami sudah berbaikan, kok," celetuk Andreas yang baru masuk seraya membawa beberapa makanan dan camilan. Willi yang merasakan aura jahat dari Andreas itu menatapnya tajam.
"Baiklah kalau Mommy mau tetap di sini, aku tunggu di mobil!"
"Loh?"
Willi berlari secepat kilat, sedangkan Iris kembali dibuat bingung.
"Willi bisa sendiri, dia sudah sering datang ke sini untuk menemani Elea walaupun hanya di mobil." Andreas menenangkan.
"Ah, iya."
"Aku tidak tahu Damar sebegitu marahnya denganku hanya karena kesalahpahaman kecil, padahal dulu kami sempat akrab," ucap Andreas seraya menyesap tehnya. "Oiya, saat di perusahaan. Bagaimana kamu bisa tahu nama anakku? Kalau tidak salah dengar, kamu menyebut nama Arsen kan?"
Dia masih ingat.
Iris mengangguk cepat. "Arsen adalah nama kakakku yang pergi karena diadopsi oleh orang lain. Aku menyebutnya kemarin, karena kalian sangat mirip. Tapi, rasanya itu mustahil. Kakakku tidak mungkin ada di Jakarta, karena terakhir kabarnya mereka membawanya ke Papua."
"Wah? Benarkah? Semirip apa kami?"
"Mirip, bahkan anakmu juga mirip sekali dengannya sewaktu kecil."
"Aku jadi penasaran, kamu punya fotonya?"
Iris menggelengkan kepalanya. "Semuanya raib karena kebakaran, satu-satunya yang aku punya tentangnya hanya kenangan di sini," tunjuk Iris ke otaknya.
"Eum, kalau boleh tahu orangtuamu. Bagaimana kabarnya?"
"Mereka meninggal lebih dulu karena kecelakaan saat aku kecil."
__ADS_1
Andreas menatap Iris dengan iba. "Aku turut berduka cita. Ah, Untuk menghilangkan rasa rindu, kamu bisa menganggapku sebagai kakakmu. Ya, tentunya kita juga bisa sering bertemu. Mana ponselmu, aku akan memberikan nomor. Kita harus saling berkomunikasi."
Mata Iris membulat tidak percaya, ternyata Andreas memang sebaik itu. Teringat bahwa dirinya tidak memiliki benda canggih itu, Iris menggaruk tengkuknya. "Aku tidak punya ponsel."
"Benarkah? Ck, apa Damar tidak membelikan istrinya benda sepenting itu? Percuma saja kekayaannya."
"Bukan karena itu, aku memang belum sempat membelinya."
"Yasudah, beritahu aku kalau kamu sudah memiliki nomor. Oiya, kita belum berkenalan secara resmi." Andreas mengadukan tangannya untuk dijabat. "Andreas."
"Iris."
"Salam kenal Iris."
Iris tersenyum, lalu melepaskan jabatannya.
"Ayo, di minum."
"Terimakasih."
Belum Iris mengecap minuman itu, sebuah suara menggelegar membuatnya tersentak hingga membuat gelas itu pecah.
"IRIS!"
Iris menoleh melihatnya berdiri dengan pandangan tajam, membuat Iris lagi-lagi merinding. Dia sudah membuat kesalahan besar.
Sementara, Elea juga berlari pada Damar dengan raut wajah ketakutan dan tiba-tiba mengadu.
"Daddy ini bukan salah Elea, tapi salah dia! Dia yang mau datang ke sini dan berkenalan dengan Om Andreas."
Deg.
Iris tidak percaya Elea akan mengatakan hal itu.
Iris menggelengkan kepalanya. "Ti-"
"Apa kamu mau menyalahkan anakku? Dasar wanita tidak tahu diri!" Damar berjalan ke arah Iris tetapi langsung di halangi oleh Andreas. Iris mundur, lalu meringis saat kakinya sepertinya menginjak pecahan kaca.
"Jangan kasar, dia tidak bersalah, Damar. Bersikaplah lebih bijak, Elea hanya ingin bermain dengan Arsen," bela Andreas yang membuat Damar semakin emosi.
"Urusi saja masalahmu sendiri, sia*lan! Jangan campuri urusan keluargaku!"
Hap!
Tangan Damar mencengkram tangan Iris, lalu menyeretnya dengan kuat hingga Iris berjalan tidak seimbang. Iris mengigit bibirnya menahan rasa sakit.
"Ak-"
"Aku tidak perlu penjelasan apapun, yang aku lihat tadi sudah membuktikan semuanya. Sok polos padahal binal, kamu sengaja menggoda Andreas agar bisa kabur dariku kan?"
Iris menggelengkan kepalanya.
"Cepat masuk!" Iris masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Elea dan Willi.
Sedangkan, Willi melihat Mommy dikasari itu merasa kasihan.
"Ini semua gara-gara kamu!" bentaknya pada Elea yang juga menunduk takut. "Apa kamu tidak kasihan pada Mommy? Huh? Sudah aku bilang jangan main dengan Arsen. Daddy tidak menyukainya!"
Bukannya menjawab, Elea malah menangis kencang. Membuat Willi semakin emosi.
"Terus saja menangis! Kamu pasti akan dibenci semua orang, tidak akan ada yang mau berteman dengan anak jahat! Begitupun aku!" ucap Willi sebelum memilih diam dan berpikir untuk menyelamatkan mommy-nya.
*****
__ADS_1