Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Tiga


__ADS_3

Damar melangkahkan kakinya ke ruang makan, di mana semua hidangan sudah tersaji di sana. Alisnya mengerut, melihat wanita paruh bayah yang berpenampilan glamor itu duduk di kursi, dengan tangan melambai ke arah Damar.


“Ternyata mama masih ingat punya anak?” sindir Damar, biasanya kedua orangtunya itu sibuk dan tidak pernah ada waktu untuk mengunjungi anak-anaknya, bahkan sejak Damar kecil, dia terbiasa diurus oleh pelayan.


“Damar, mama datang harusnya disambut dengan kecupan. Kok, kamu malah berbicara seperti itu, mama bukannya tidak perhatian tetapi sibuk dengan kerjaan,” balas mamanya tidak terima.


“To the point, apa tujuan mama datang ke sini?”


“Ish, ternyata Kamu masih belum berubah,” sang mama mengambil sesuatu dari tasnya, lalu memberikan pada Damar.


"Ini ada beberapa data dan foto wanita yang akan berkencan dengamu seminggu ke depan. Mama sudah memilihnya dari yang baik, sampai yang paling baik. Mama rasa kamu akan suka.”


Damar menghela napas, lagi-lagi mamanya itu bertingkah sesukanya. “Ma, sudah aku. bilang. Aku tidak mau dijodohkan!”


“Damar … sampai kapan kamu hidup sendiri? Daripada kamu membuang benihmu pada orang-orang rendahan, mending kamu pilih salah satu di antara mereka yang bisa dijadikan istri. Toh, bukan hanya kamu yang perlu, tapi kedua anakmu juga mereka pasti ingin punya seorang ibu!” omel Ratna, yang hanya ingin anaknya itu bisa hidup normal dan tidak asal pilih bercinta dengan wanita yang seharusnya jadi pelayan.


“Mereka tidak butuh ibu, karena aku sebagai ayahnya sudah cukup untuk mereka, sampai saat ini pun mereka tidak pernah mengeluh dan selalu tercukupi.”


Ratna menggelengkan kepalanya. “Pokoknya, mama pengen tahun ini kamu menikah dengan salah satu dari mereka," tunjuknya pada dokumen yang bahkan belum dibuka oleh Damar.


“Aku tau, ini pasti bukan hanya soal ibu untuk anak-anak, mama ingin aku menikah agar bisnis yang mama kelola semakin besar kan?” tanya Damar seketika merasa marah.


“Kata siapa? Mama hanya ingin kamu memilihkan istri yang terbaik untuk kamu, Damar. Tentu dari keluarga yang bibit, bebet dan bobotnya jelas."


Damar membuka dokumen itu dan melihat satu-persatu yang ada di sana, senyumannya berubah muak. Semua data wanita itu mengarah pada anak pengusaha kaya raya, selebritis dan juga anak pejabat. Sudah jelas, mamanya itu sedang merencanakan perjodohan bisnis.


Damar melemparkan dokumen itu pada mamanya, lalu beranjak dari duduknya.


“Damar, kamu mau kemana?”


“Aku sudah tidak berselera untuk makan."


Ratna hanya bisa mendelik kesal. "Apa kamu tidak kasihan pada mama yang sering menjadi bahan omongan teman-teman, karena punya anak tampan tapi sampai saat ini masih lajang. Mereka bahkan berpendapat, kamu tidak suka perempuan!"


"Ah, mama tau. Apa kamu masih mengharapkan kesembuhan wanita gila itu?" tanya Ratna dengan gigi bergemeletuk. "Jangan harap, karena sampai kapanpun. Mama tidak akan pernah setuju!"


Damar mendengar ucapan ibunya, tetapi dia memilih abai dan berjalan kembali menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas.


***


Berperilaku baiklah pada Tuan Damar, jangan sampai buat dia marah lagi. Lupakan soal kemarin. Tenang saja, Tuan Damar mudah bosan, beberapa minggu ke depan, dia pasti akan memecatmu dengan sendirinya.


Kalimat itulah yang dilontarkan Satria pada saat Iris hendak meminta bantuannya, membuatnya mau tidak mau datang ke kamarnya seraya membawa nampan berisi makanan.


Bu Mirna-kepala pelayan-menyuruhnya untuk memberi makanan pada pria itu, karena pagi tadi dia absen sarapan.

__ADS_1


"Ternyata selain c*bul, pria tua itu juga manja. Apa dia anak kecil, yang apa-apa harus disiapkan?" gumam Iris sebelum mengetuk pintu.


Tetapi kali ini tidak ada sahutan apapun, membuatnya terpaksa membuka pintu tersebut dengan perlahan.


Hal yang pertama dilihatnya adalah ruangan penuh buku. Rak-rak berjejer rapih, seperti sebuah perpustakaan. Lalu di ujung yang bersisian dengan jendela, ada satu meja kerja dengan kursi beroda.


Iris menggelengkan kepalanya, yang paling membuatnya takjub adalah desain ruangannya. Ia yang tidak terlalu suka membaca itu pasti bakal betah kalau ruangannya senyaman ini.


"Ehem!"


Seolah kembali menapak bumi, Iris tersadarkan oleh suara itu. "Saya bawakan makanan kesukaan, Tuan," ucapnya sambil mencari-cari di mana keberadaan Damar.


Seperti melihat dua orang yang berbeda, Iris tidak bisa berkedip saat pria berkacama yang sedang membawa buku itu menghampirinya.


"Kenapa dia jadi tampan?"


Damar yang sengaja menebarkan pesonanya itu tersenyum tipis, melihat gadis kecil yang sekarang berada di hadapannya yang mungkin sedang terpesona.


"Aku tau, aku tampan. Jadi, tutup mulutmu, aku tidak mau sampai air liurmu itu mengotori lantai yang sudah ku beli dengan harga mahal."


Iris lantas menutup mulutnya yang tanpa sadar terbuka. Tidak mau mencari masalah meskipun Iris kesal, dengan kesombongannya itu. "Maaf, Tuan ..."


"Wow, mana mata yang kemarin menatapku dengan sangat berani? Dan mulut mungil yang mengataiku itu? Apa nyalimu sudah menciut?" ucap Damar menatap Iris dengan wajah meledek.


Iris hendak pergi dari ruangan itu. Namun, suara Damar membuatnya menghentikan langkah.


"Kata siapa kamu boleh pergi?"


"Apa Tuan membutuhkan bantuan?"


Damar mengangguk, saat membalaskan dendam. "Aku ingin kamu membereskan buku-buku yang ada di sana. Dan, waktunya hanya sampai makanku selesai," tunjuk Damar pada rak ujung yang kosong dan semua bukunya berada di lantai dengan keadaan berantakan.


Mata Iris melebar. Ia yakin, sepertinya buku-buku itu bukan karena lemarinya jatuh, tapi sengaja dilempar sembarangan ke lantai. Tuan Damar pasti sengaja ingin menyiksa tubuhnya!


"Kenapa masih diam, cepat kerjakan! Kalau kamu tidak menyelesaikannya sesuai waktu, ada hukuman yang sudah menunggu," titah Damar, dia mulai memakan makannya dengan lahap.


Melihat itu, Iris buru-buru berlari dan mengerjakan pekerjaannya. "Baik, Tuan."


Damar yang melihat tubuh kecilnya bergerak kesana-kemari itu merasa bahagia.


"Itulah, resikonya! Sudah miskin, tetapi beraninya menolak perintahku!"


***


"Aduh, sakit banget pinggangku!" eluh Iris, dengan hati-hati dirinya duduk di kursi yang berada di taman belakang, bersembunyi dari Damar yang mungkin kini sedang mencarinya.

__ADS_1


Dia benar-benar ingin membalaskan dendam. Ya, mustahil bagi siapapun bisa merapikan rak berisi ratusan buku hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit. Entah, apa yang akan Damar lakukan setelah ini, yang jelas Iris ingin beristirahat terlebih dahulu.


Tiba-tiba sebuah nampan berisi makanan dan minuman di letakkan seseorang, tepat di samping Iris. Senyumannya melebar, siapa gerangan orang yang baik hati ini? Kenapa dia bisa tahu, kalau dirinya sedang kelaparan?


"Terima kasih."


"Cepat makan dan kembali ke ruanganku," balas suara yang kini sudah tidak asing di telinganya.


Iris melihat punggung pria yang mulai menjauh itu, dia menjerit kesal. "Argh! Kenapa aku harus bertemu dengan manusia tidak punya hati seperti dia, sih! Tuhan, tolong kabulkan doaku. Semoga dia jatuh miskin!" ucap Iris yang merasa terzolimi itu.


"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak."


Iris kembali mendongkak dan melihat wanita paruh bayah yang mungkin usianya berada di pertengahan lima puluh.


"Tuan Damar itu sebenarnya orang baik."


Baik apanya? batin Iris tidak terima.


"Oiya, kamu bisa memanggil saya Bi Nani, satu-satunya pelayan paling tua di sini. Saya sudah berkerja sejak Tuan Damar masih sangat kecil. Saya sudah memperhatikanmu dari kemarin dan baru ada waktu untuk mengobrol."


Mendengar itu. Iris tersenyum dan menunduk hormat. "Saya Iris, Bi. Pelayan baru Tuan Damar."


"Saya sudah tahu, kamu kemarin membuat heboh dan menjadi topik hangat di rumah ini. Baru kamu, loh, yang berani pada Tuan Damar dan menurut saya itu suatu hal baru dan bagus!" balas Bi Nani sambil mengacungkan jempolnya sembari tertawa.


Iris tidak merasa tersanjung dipuji seperti itu. "Eum, kalau boleh tau. Apa Tuan Damar memang kejam dari dulu?"


"Tuan Damar itu, dibilang baik, dia baik karena sangat mensejahterakan semua pekerjanya. Tapi, dia juga tidak baik, karena punya kebiasaan buruk yaitu sering bercinta dengan perempuan yang berbeda."


Iris menyimak dengan seksama penuturan Bi Nani.


"Nah, Tuan Damar tidak memilih perempuan dari kalangan atas dia lebih memilih seorang pelayan yang menurutnya orang rendahan. Tuan Damar juga tipe orang yang gampang bosan. Dia bisa sampai tiga kali dalam sebulan berganti pasangan," lanjut Bi Nani.


Iris bergidik, sudah seperti makan saja sehari tiga kali. "Apa dia tidak takut terkena penyakit?"


"Namanya orang punya uang, pasti sudah mempersiapkan kemungkinan itu. Biasanya sebelum memperkerjakan pelayan istimewanya, Satria sudah menjamin bahwa perempuan yamg dibawanya itu sehat dalam segala sisi."


"Tapi tetep aja, Bi. Namanya penyakit kan bisa tidak terdeteksi. Mau di punya gedung bertingkat, uangnya di mana-mana. Semoga suamiku nantinya nggak punya masalalu se-bejad Tuan Damar!" Iris semakin jijik pada Damar.


Bi Nani tertawa. "Jangan seperti itu, Iris. Nanti kalau doanya berbalik padamu. Dan, ternyata jodohmu adalah Tuan Damar, bagaimana?"


"Ish, jangan dong Bi. Masih banyak loh pria yang jauh lebih baik dari dia di dunia ini," balas Iris memberengut, tanpa sadar makanan yang diberikan oleh Damar itu sudah tidak tersisa.


"Yah, harus kerja lagi," balas Iris malas, mau tidak mau beranjak dari duduknya dan bersiap untuk kembali ke ruangan Tuan Damar yang terhormat.


***

__ADS_1


__ADS_2