Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Empat


__ADS_3

"Daddy!"


Damar yang tengah membaca buku sambil menikmati semilir angin sore itu, menengok pada sosok gadis berusia 6 tahun yang datang menghampirinya.


"Elea! Daddy sangat rindu padamu!" Damar merengkuh anaknya ke dalam pelukan, lalu menciumi pipinya gemas.


Sudah hampir seminggu, Damar ditinggalkan oleh Keuda anaknya untuk liburan ke rumah sang adik, yang berada di luar kota.


"Elea juga, sangat merindukan Daddy!" balas gadis yang bernama Eleanor Shaqueena.


"Apa Om Dylan memperlakukan kalian dengan baik? Dia tidak sibuk pacaran atau mengabaikan kalian kan?"


Dylan, sang adik yang berdiri di belakang itu mendengus. "Boro-boro ada waktu untuk pacaran. Kedua anakmu itu sangat-sangat nakal! Mereka bukan hanya merusak isi rumahku, tapi sering membuat masalah dengan anak tetangga. Apalagi si Elea. Huh, dia sudah seperti preman! Bagai singa yang dilepas dari kandang, pulang-pulang pasti ada korban!"


"Om Dylan jangan bohong sama Daddy. Elea nggak pernah jahat sama orang lain, kok," balas Elea dengan wajah sedih.


"Astaga, masih kecil tapi dia sudah pintar berakting! Bagaimana nanti kalau sudah besar, pasti jadi ratu drama!" Dylan menggelengkan kepalanya, sudah kapok membawa serta dua keponakannya itu ke rumahnya.


"Nah!" Dylan menunjuk pada anak kakaknya yang lain. Dia bernama William Shaquille atau yang sering dipanggil, Willi.


Anak itu sudah duduk di tempat Damar, bahkan membulak-balik buku yang tadi di baca oleh ayahnya.


"Tanya saja pada Willi, dia adalah saksi mata dari semua sikap buruk Elea! Ayo Willi jelaskan pada daddy-mu agar Elea dihukum!" balas Dylan penuh dendam. Meskipun dihadapinya adalah anak kecil, tetap saja ayahnya itu harus tau kelakuan anaknya.


Willi menatap Dylan datar. "Tidak ada yang harus dijelaskan, adikku tidak nakal."


Mata Dylan melebar, lalu menatap sang kakak yang menatapnya tidak terima. "Hanya gara-gara mereka berulah dan merusak barangmu! Beraninya kamu memfitnah anakku!"


Dylan meneguk ludahnya saat melihat Damar yang menurunkan Elea dari pangkuannya dan bersiap memukulnya dengan tongkat bisbol.


"Bukan Elea yang harus aku hukum, tapi kamu Dylan!"


"Kak, sumpah aku tidak berbohong! Elea itu nakal, Kak!" balas Dylan sembari berlari menjauh.


"Jangan kabur kamu! Dasar adik tidak tahu diri!"


Mereka jadi main kejar-kejaran, membuat Elea yang melihat itu tertawa keras, bahkan dia mulai berjingkrak heboh agar ayahnya itu mengalahkan om-nya.


"Tangkap Om Dylan, Dad! Jangan sampai dia lolos. Willi liat mereka seperti Tom and Jerry!"


Sedangkan, Willi yang memang memiliki sifat bertolak-belakang dengan adiknya hanya menatap datar.


"Itu sama sekali tidak lucu."


Elea melengos tidak peduli dan terus berteriak girang.


Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Iris yang sedang mencabuti rumput yang letaknya tidak jauh dari posisi tempat duduk Damar.


Namun, yang menyebalkan Iris tidak menggunting rumput dengan gunting besar, melainkan menggunakan gunting kuku.


Dia harus melakukan pekerjaan aneh ini sebagai hukuman hanya karena dia membuat kopi yang terlalu panas.


Bukankah, hukuman Damar itu di luar nalar? Butuh berapa hari bahkan bulan, Iris menyelesaikan semua ini?


"Apa kamu gila?"


Iris mendongkak, menatap anak tuannya itu menatapnya kebingungan. Ingin rasanya Iris berteriak, bukan aku yang gila tapi ayahmu!

__ADS_1


Belum Iris menjawab, Willi sudah berjalan mengambil sebuah gunting rumput lalu memberikannya pada Iris.


"Ini gunting untuk memotong rumput, kalau yang kamu pegang gunting untuk memotong kuku," jelas Willi seperti sedang mengajarkan pada anak kecil yang belum tahu apapun.


Tentulah, Iris merasa harga dirinya runtuh. Seharusnya Willi memberitahu ayahnya. Dia yang membuatnya terpaksa melakukan hal konyol ini.


"Terimakasih." Iris tidak mau mengumpat di depan anak-anak.


"Aku baru melihatmu, apa kamu pelayan baru?"


Iris mengangguk.


"Bekerjalah dengan baik, supaya Daddy tidak memecat pelayan lagi. Aku sudah pusing, harus menghafalkan nama-nama pelayan Daddy," kata Willi, membuat Iris hanya bisa membatin dalam hati.


Andai kamu tau, Willi. Aku ingin sekali dipecat, hiks.


"Willi, sedang apa disitu? Sini! Daddy sudah menangkap Om Dylan! Ayo kita menyusul mereka!" teriakan dari Elea membuat Willi menengok dan berlari meninggalkan Iris yang lantas duduk di tanah dengan penuh penderitaan.


***


"Orang kaya emang beda, tempat pakaiannya aja hampir ngalahin kamarku."


Baru kali ini Iris melihat kamar yang memiliki pintu rahasia, dan di dalamnya terdapat banyak lemari khusus aksesoris, baju-baju, sepatu dan lainnya. Ia rasa, tuan Damar tidak perlu berbelanja karena semua sudah tersedia di kamarnya.


Ya, Iris sudah kembali pada rutinitasnya, dan meninggalkan pekerjaannya di kolam renang. Masa bodoh, dengan rumput yang belum kelar digunting itu, karena ada tugas yang harus diselesaikan dengan segera, sebab Friska-salah satu pelayan senior di rumah ini- memberitahunya bahwa Iris harus membereskan baju-baju milik Tuan Damar yang sudah selesai di laundri.


"Kamu sangat cantik ..."


"Jangan memujiku seperti itu, mari kita lakukan sekarang. Aku sudah tidak tahan."


"Baiklah, aku juga tidak tahan menyentuh tubuhmu yang menggoda ini."


"Kali, ini aku ingin melakukannya di bathroom."


Mendengar percakapan dari arah luar itu, membuat Iris menghentikan kegiatannya, tidak menyangka Tuan Damar akan beristirahat di kamarnya secepat ini. Padahal Friska mengatakan bahwa dia sedang berada di luar.


Iris mulai panik. Apalagi, saat gagang pintu tertekuk ke bawah, yang menandakan Tuan Damar akan masuk ke ruangan tempatnya berdiri.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kebingungan.


Sebenarnya, dia bisa saja pergi. Namun, bagaimana kalau mereka sedang dalam keadaan tel*njang. Bukankah, lebih baik Iris bersembunyi dan tidak melihat apapun.


Kakinya melangkah cepat ke arah ruang ganti dan bersembunyi di sana. Tidak lama setelah itu, dua manusia dalam keadaan berhasrat itu masuk.


Damar menggendong perempuan seksi dan cantik itu dengan senyuman lebar, agar hasratnya tetap tersalurkan dia menyewa perempuan dari rumah bordir untuk memuaskannya malam ini.


Entah, kebiasaan buruk ini sejak kapan bersarang di tubuhnya, yang jelas inilah cara Damar melampiaskan rasa kesepiannya.


Setiap berhubungan dengan perempuan manapun hanya satu sosok yang dibayangkannya, yaitu Anastasia. Perempuan yang menjadi separuh hidupnya.


Anastasia, adalah perempuan tercantik yang pernah Damar temui. Hanya saja kisah mereka terhenti, karena Ana mengalami sebuah kejadian yang membuatnya trauma hingga harus di rawat di rumah sakit jiwa.


Sudah banyak usaha yang Damar lakukan, untuk membuatnya sembuh, tetapi tidak ada perubahan, dia sudah kehilangan jiwanya sendiri.


"Ana ..." panggilnya seraya mengendus lehernya, tangan nakalnya mulai membuka kancing baju perempuan itu hingga tampak dua buah dada yang menonjol. "Aku sangat merindukanmu, sayang."


"Namaku Alina bukan Ana," koreksi perempuan itu sedikit tidak terima karena Damar salah menyebut namanya.

__ADS_1


Namun, Damar menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli, karena yang aku bayangkan adalah Ana, kekasihku. Kamu diam saja, jangan banyak bicara. Aku sudah membayarmu mahal."


Meskipun, agak kesal Alina tetap menuruti dan menikmati kegiatan penuh dosa itu bersama Damar. Mereka mulai saling *******.


Sementara di dalam ruangan, Iris menutup telinga menggunakan kedua tangannya, agar tidak mendengar ******* dua sejoli yang memuakkan itu.


Iris berdecak, kenapa mereka tidak langsung masuk ke kamar mandi, supaya Iris bisa langsung pergi dari sini.


Matanya melirik ruangan kecil yang hanya tertutup gorden. Dia berharap, Damar tidak menyadari keberadaannya.


Namun, sepertinya takdir belum berpihak padanya. Tiba-tiba suara ******* itu terhenti, dari bayangan gorden Iris melihat ada yang mendekat. Tanpa sadar dirinya menggigit bibir cemas.


"Jangan ke sini, aku mohon," doanya dalam hati.


Bayangannya semakin besar, itu berarti dia semakin mendekat.


Srek!


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Damar dengan nada marah, ternyata dugaannya benar bahwa ada orang selain dia dan Alina, di sini.


Iris menelan ludahnya, dia lantas mengalihkan tatapannya ke arah lain, melihat Damar yang dalam keadaan bertelanjang dada membuatnya gugup.


"Saya sedang membereskan pakaian. Maaf kalau saya sudah mengganggu waktu, Tuan." Iris berdiri dan hendak berlari keluar.


Tangan Damar dengan cepat mencengkram lengan Iris.


"Sial, sudah aku bilang jangan masuk ke ruangan tanpa izin dariku!" bentak Damar, paling tidak suka ada yang menganggu kesenangannya.


"Saya hanya diberitahu oleh Friska untuk membereskan baju, Tuan," balas Iris seraya menunduk.


"Jangan membuat alasan, aku tau niat busukmu! Kamu sengaja ingin mengintip kegiatanku dan merekamnya kan? Setelah berhasil mendapatkannya, kamu pasti akan menyebarkannya ke seluruh dunia! Dan membuatku malu!" Pikiran Damar sudah buruk duluan.


Iris menggelengkan kepalanya, melihat air muka Damar yang memerah seketika membuatnya takut, dia menyeramkan.


"Maaf, Tuan, saya benar-benar tidak melakukan apa yang Tuan tuduhkan," bela Iris.


"Jangan bohong, berikan ponselmu padaku sekarang!"


Karena Iris hanya diam saja, Damar mengambil ponsel Iris secara paksa, lalu melemparkan ponsel yang sudah ketinggalan zaman itu ke lantai.


Iris menatap ponselnya dengan nanar. Bukan soal harga, tetapi Iris mendapatkannya penuh perjuangan, dia mengumpulkan sisa uang jajan sekolahnya hanya untuk membelinya. Dan, ponsel itu satu-satunya benda berharga yang bisa dia pertahankan setelah kejadian di rumah bordir itu. Tapi dengan seenak jidat Damar merusaknya.


Iris mengambil kepingan yang sudah terpecah belah dengan sedih.


"Baru ponsel bututmu yang aku rusak! Belum tubuhmu! Sudah aku bilang jangan main-main denganku, Iris!" Untuk pertama kalinya tangan Damar bersarang di kepala Iris, menoyornya beberapa kali.


"Dasar pembantu bodoh, tidak berguna! Jangan harap bisa melawanku! Seharusnya, orangtuamu bisa mengajarkan agar tidak jadi gadis bodoh!"


Iris mengepalkan tangannya, ingin sekali menangis dan berteriak keras. Dia sudah tidak betah tinggal di sini. Damar selalu memperlakukannya dengan buruk bahkan Iris bergerak sedikitpun di matanya sudah muncul api kemarahan.


Ditambah saat mendengar kata orangtua keluar dari mulut Damar membuat Iris mendongkak, air matanya meluncur tanpa disadari. Bagaimana bisa Iris di didik oleh orangtuanya, sementara mereka berdua sudah tenang di surga.


"Saya tidak keberatan Tuan hina, tapi jangan bawa nama orangtua saya! Mereka tidak bersalah."


"Kata siapa mereka tidak bersalah? Seharusnya, mereka membuang anak tidak berguna sepertimu!" Damar masih dalam emosinya. "Kamu hanya bisa menjadi pelayan rendahan, tidak bisa membuat bangga kedua orangtuamu!"


"Daripada Tuan semakin sok tau dengan kehidupan saya mending tutup mulut rapat-rapat! Tuan tidak lebih baik dari saya, setidaknya meski hanya pelayan saya masih punya hati, etika, dan tidak pernah mencampuri urusan orang lain!" balas Iris menatap benci pada majikannya itu. Tidak mau mendengar perkataan menyakitkannya lagi Iris memilih pergi, mengabaikan Damar yang memanggil namanya dengan marah.

__ADS_1


***


__ADS_2